CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
133 TEMBAKAN KILAT OM YO


__ADS_3

Halloooooooooo……..


Di sesion dua banyak cerita dari tokoh lain agar cerita enggak ngebosenin ya. Tapi tetap tidak akan ada polemik yang terlalu berat karena yanktie yakin banyak pembaca yang cari hiburan saat membaca novel. Kalau konflik terlalu berat nanti malah jadi beban pikiran bukan menghibur.


Yanktie mohon sehabis baca BAB langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….


Maturnuwun.


---------------


Paginya Steve membawa Leo ke butik sekaligus bengkel tempat usahanya. Hari ini Sari istirahat tidak berangkat ke butik, karena terlalu lelah. Dia tidak ingin kehamilannya bermasalah. “Wah kereeen nih usaha yang lo buka. Jadi enak ga tergantung ama orang lain ya, walau sekecil apapun kalau usaha milik sendiri emang lebih enak. Lo akan jadi inspirasi buat gue, gua akan berpikir usaha apa yang akan gue buka setelah modal gue cukup,” Leo takjub melihat usaha show room mobil yang di gabung dengan butik milik Steve.


“Kalau saran gue, lu terjun dibidang yang lu suka, itu akan lebih bagus,” Steve memberi gambaran pada sahabatnya itu.


“Nah itu masalahnya, gue banyak yang disuka, tapi enggak ada yang terlalu suka, jadi sulit memilih mau buka bidang apa,” cetus Leo. Leo tak bisa ngobrol lama pagi ini karena harus segera ke tempat pertemuan dengan kliennya. Steve menawarkan Leo membawa mobilnya karena Leo tadi berjanji usai pertemuan dia akan kembali ke show room guna membicarakan rencana buka usahanya. Namun Leo menolak karena takut terlambat bila dia bawa mobil sendiri di daerah yang belum dia kenal. Lebih baik dia memilih naik taxi. Steve tentu tak hilang akal, dia meminta seorang pegawainya untuk mengantar Leo dengan mobilnya.


Sehabis makan siang Leo sudah sampai di show room Steve kembali. Dia benar-benar terobsesi membuka usaha agar bis bebas dari rutinitas kerja kantoran. “Pertama lo harus tau sasaran bidik lho siapa, lalu bidang itu penuh enggak dan lokasi yang lu mau pakai bagus enggak. Misal usaha gue, karena butik ini sudah lumayan punya banyak konsumen, maka gue berani buka show room di sebelahnya. Ibaratnya gue nebeng ketenaran butik. Nah kenapa gue fokus di penjualan mobil second? Karena mobil baru jarang yang beli cash, orang banyak beli baru secara angsur. Tapi walau second gue sengaja upgrade dulu mobil yang gue beli, gue perbaiki body dan mesinnya, baru gue jual. Emang margin keuntungan jadi lebih kecil, tapi karena kepuasan pelanggan lalu dia akan merekomendasikan usaha gue ke kerabatnya. Itu pengalaman gue,” Steve memberitahu rahasia usahanya.


Mereka terus saja bertukar pikiran, hingga Steve mengajak Leo kembali ke rumahnya. Saat sampai di rumah Steve, Leo melihat ada Risye yang sedang bertamu. “Wah baru mau minta Papie bawakan pesanan Risye,” Sari menyesal terlambat menghubungi suaminya.


“Mamie sudah pesankan pada anak butik untuk menyiapkan pesanannya?” tanya Steve sambil mengecup kening istrinya.


“Baru aja Mamie pesankan,” jawab Sari.


“Ya nanti kalau sudah siap bilang pak Juno biar antar ke rumah ya,” dengan lembut Steve memberi solusi pada istrinya.


“Mau di ambil, ayok aku anter,” kembali Leo menawarkan diri membantu Risye.

__ADS_1


“Enggak perlu, biar nunggu pak Juno aja,” balas Risye yang hari ini sudah membawa mobilnya, karena mobil sudah keluar dari bengkel kemarin.


“Ris, ini bener ya list nya, barusan anak butik kasih laporan,” Sari memberikan list dari butiknya.


“Yup bener banget,” sahut Risye sambil memegang hape-nya melalukan proses pembayaran atas pembelian yang dia lakukan barusan. “Lunas ya Ri” kata Risye memperlihatkan bukti transfernya berhasil.


“Iya terima kasih ya,” balas Sari.


Sehabis makan malam Leo pamit akan kembali ke rumah Anto, dia cukup senang sudah banyak bertukar pikiran dengan Steve. “Sekarang aku yang nganter ya,” Risye menawarkan diri. Leo tidak menolaknya, namun dia minta dia yang membawa mobil. Tentu Risye tak keberatan. Dia menyerahkan kunci pada Leo. Leo sengaja berhenti di kopi klotok. Angkringan sepanjang tembok sisi Utara stasiun Tugu. Dia mengajak Risye duduk di lesehan yang sangat terkenal itu. “Besok aku pulang ke Jakarta … ,” Leo sengaja menggantung kalimatnya.


“Trus?” tanya Risye terpancing dengan kalimat tak selesai dari Leo barusan.


“Kemaren aku lancang tanya tentangmu ke Dini. Aku sendiri sama sekali belum pernah dekat dengan perempuan mana pun. Tapi saat ini, walau baru dua kali kita ketemu, aku memberanikan diri meminta kamu jadi pendamping hidupku. Kita bukan fase ABG yang ingin cari pacar,” tanpa ragu Leo mengucapkan lamaran tak resminya. Tentu saja Risye kaget. Baru dua kali bertemu langsung diminta jadi pendamping hidup tentu diluar dugaan.


Risye memandangi wajah Leo dengan bingung, dia belum bisa menjawab. Jangankan menjawab, berpikir akan dilamar saja enggak. “Aku … aku,” Risye terbata dan sulit menyelesaikan kalimatnya.


“Aku enggak minta kamu jawab sekarang. Kapan kamu siap, kamu bisa hubungi aku. Tak perlu harus ketemu ‘kan kalau buat ngejawab. Aku juaga enggak kasih batasan waktu kapan kamu harus jawab. Asal kamu tahu, kamu perempuan pertama yang aku minta jadi pendamping hidupku,” jelas Leo. Lalu Leo menceritakan soal latar belakang dirinya, dia ingin Risye tahu tentang dirinya langsung dari sumber utama. Bahkan Leo menjelaskan dia pernah suka dengan teman satu sekolah Risye saat SMA, anak IPS yang setiap hari berangkat bareng dengan Dini. Namanya Anita Lismarina, namun Leo segera menghentikan pendekatannya karena dilihatnya keluarga Anita sangat ketat terhadap agama. Leo tak ingin berpolemik masalah ke imanan. Maka dia segera mengubur rasa sukanya sebelum  tumbuh subur.  Leo juga memberi tahu apa yang dia sukai dan tidak sukai sebagai pertimbangan untuk Risye.


“Aku enggak pa-pa koq muter, kan enggak cape juga,” tolak Risye.


“Jangan lah, bisa heboh temanmu mewawancarai aku begitu lihat kamu yang ngantar aku kali ini,” jawab Leo tersenyum manis.


“Baiklah, besok pesawat jam berapa?” tanya Risye


“Pukul 17.50,” jawab Leo. Mereka pun berpisah setelah Leo mengambil berkas kerjaan dan baju kotor dari mobil Risye.


***

__ADS_1


Risye termenung dalam ruang keluarga di rumahnya, dia memikirkan permintaan Leo yang tiba-tiba. Dia tidak ingin salah langkah, namun dia juga tak ingin kehilangan peluang. Risye segera menghubungi Dini agar bisa mendapat gambaran yang pas.


“Malam Din, ganggu ya?” sapa Risye pelan. Dia tahu jam segini pasti Dini sudah tidak repot dengan para kurcacinya. Karena ini sudah lewat waktu tidur mereka.


“Enggak koq Ris, ada apa?” tanya Dini, dia sedang menyiapkan kopi dan teh jahe untuk suaminya dan Leo. Mereka masih diskusi tentang apa yang akan Leo buka untuk usaha setelah sejak kemarin Leo bertukar pikiran dengan Steve. Dan rencananya besok Leo pulang, maka malam ini Leo ingin dapat input lebih banyak dari Anto.


“Aku pengen tukar pendapat denganmu, kapan aku bisa ketemu?” tanya Risye. Karena bu dosen tentu waktunya tidak sebebas dia yang kerja mandiri.


“Besok siang jam 2 an aku udah free, gimana kalau kita nongkrong di rumah Sari, aku bawa siomay, kamu bawa apa gitu buat teman ngobrol. Tapi kalau kamu enggak pengen Sari tahu apa yang akan kita bicarakan, ya kita cari tempat lain. Asal jangan di rumahku, karena ketiga kurcaci kesayanganku akan mengganggu kita ngobrol begitu melihat aku ada di rumah.” Dini mengusulkan ketemuan di rumah Sari.


“Oke enggak pa-pa, kita ketemuan di rumah Sari aja,” Risye setuju usulan Dini.


***


------------------


 BAB ini sudah selesai, jangan lupa like dan hadiahnya


maturnuwun


-------------


Namun sambil nunggu yanktie update, kita baca cerita menarik milik teman yanktie ini ya, judulnya  TERJERAT RINDU MAFIA  karya FAIZ BELLZZ


Ceritanya seru abis.


Feiyaz dan Raynor dulu adalah pasangan kekasih, mereka terpisah ketika Raynor tidak menempati janji. Setelah lama tidak bertemu, mereka kembali di pertemukan dalam situasi yang cukup genting. Pertemuan mereka di Roma, ibu kota Italia itu menjadi awal hubungan mereka lagi

__ADS_1


------------------



__ADS_2