CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
183 DITRAKTIR PIZZA


__ADS_3

Hai hai para kesayangan yanktie, sehat semua kan?  Bagaimana persiapan lebaran 2022 besok ( bagi yang merayakannya ). Sudah masak ketupat dan opor? Yankti enggak nolak kalau dikirimin lho.


Terima kasih sudah selalu setia mengikuti cerita sederhana ini. Kenapa yanktie selalu menyampaikan terima kasih untuk yang selalu setia membaca dan memberi like saat kalian selesai membaca bab cerita ini? Karena ada notif siapa aja yang kasih like.


Mbak Dini berani ya menyatakan pendapatnya di depan pak Rektor. Tapi emang harus begitu sih. Semoga tidak bosan menunggu cerita selanjutnya ya. Sekarang kita ikutin terus keseruan bab ini. Selamat membaca!


Yanktie mohon sehabis baca bab langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….


Maturnuwun.


--------


‘Kenapa lagi Mom?’ Anto mengirim chat pada istrinya. Membalas emoticon love yang Dini kirim. Namun tetap saja tak ada balasan dari pujaan hatinya itu.


“Aku dengar kamu tadi dipanggil pak Rektor?” tanya Tiara yang berpapasan dengan Dini saat pergantian jam mata kuliah. Tiara malah berbalik arah mengikuti Dini ke ruangannya, tidak jadi ke ruang dosen seperti tujuan awalnya.


“Iya,” balas Dini. Dia haus setelah jalan agak jauh dari rektorat ke fakultasnya. Tadi dia memang malas membawa mobil. Dini mengambil air mineral kemasan gelas yang dingin di kulkas kecil ruangannya. Dia juga memberikan segelas pada Tiara.


“Apa karena rumors itu? Atau tugas akademik?” tanya Tiara ingin tahu.


“Soal rumors,” balas Dini menggantung. Dia tahu sahabatnya ini pasti kepo mau tahu terusan cerita selengkapnya.


“Cerita dong, ih kamu bikin aku penasaran,” pinta Tiara, sesuai dugaan Dini, sahabatnya pasti kepo.


“Enggak gratis!” balas Dini sambil senyum usil.


“Ok, aku janji traktir kamu makan pizza,” Tiara menjawab tantangan Dini. Padahal pizza tidak mahal, dan mereka biasanya pesan juga pizzanya yang kecil untuk berdua karena kalau yang medium saja mereka enggak bisa ngabisin. Karena mereka lebih banyak makan salad saja di outlet pizza.


Dini menceritakan semuanya secara rinci. Tak ada yang ditambah atau dikurangi. “Gilaaaaaaaa …!” seru Tiara. “Aku enggak nyangka tindakan suamimu. Dan aku kagum kamu berani bilang begitu ke pak Rektor. Eh … emang kamu sudah tahu siapa pelakunya?” tanya Tiara.


“Aku mana tahu, aku aja baru tahu suamiku bikin laporan ke polisi karena info pak Rektor. Tapi dari kata-kata pak Rektor yang menyebut email ditujukan ke bagian kemahasiswaan, artinya pelakunya adalah mahasiswa. Karena kalau karyawan atau dosen tentu email tidak ke bagian kemahasiswaan,” Dini menjelaskan kebingungan Tiara. Dini bahkan tidak tahu kapan Anto menyelidiki kasus ini.


“Iya juga sih. Jadi enggak sabar nunggu info selanjutnya. Jadi kapan kita makan pizzanya?” tanya Tiara lagi.

__ADS_1


“Kapan aja, yang pasti jangan hari ini. Karena sekarang aku mau ke kantor suamiku,” Dini pun mengunci laci meja kerjanya dan bersiap pulang.


***


“Maz. Kalau aku ke kantormu masih keburu enggak?” tanya Dini, karena saat ini sudah pukul 16.10.


“Enggak lah Mom, kangen?” goda Anto. Dia sedang bersiap pulang.


“Ketemu di mpek-empek Ny Kamto yang biasa ya Maz,” pinta Dini tanpa menjawab pertanyaan Anto.


“Ok.”


***


Anto datang lebih dulu, dia tidak melihat mobil istrinya di parkiran. Dia langsung memesan empek-empek yang biasa Dini makan, juga untuknya. Tak lupa dia banyak membeli empek-empek yang belum digoreng, untuk dibawa pulang ke rumah dan dikirim ke Sari. Dini datang tepat saat pelayan mengantarkan pesanan Anto. “Wah asyiik nih, aku datang pas sudah dianter,” Dini duduk setelah mencium Anto.


“Kita ketemu di sini, saling cium, makan bareng, lalu pulang sendiri-sendiri. Nanti akan ada rumors apa lagi ya?” goda Anto.


“Aku tadi dipanggil rektor,” cetus Dini.


“Karena suamiku kirim email tentang pelaporannya!” balas Dini santai.


“Serius?” tanya Anto. Dia tak menyangka kalau tindakannya mengirim tembusan pelaporannya sampai ke rektor juga.


“Serius, makanya aku keseeeeeeeeel banget ama suamiku. Kenapa dia enggak ngasih tau tindakannya. Untung aku jago ngejawab pertanyaan pak rektor tadi,” Dini terus saja menyuap empek-empek kapal selam kesukaannya dengan kuah pedas. Anto makin gemas terhadap kelakuan istrinya.


“Maaf, Maz enggak mau kalau kamu diam aja diejek orang. Maz juga enggak rela namamu jadi jelek dengan rumors itu,” Anto memberi alasan langkah yang dia tempuh.


“Tapi harusnya ‘kan aku dikasih tahu. Bukan aku planga plongo enggak ngerti apa yang Maz lakukan. Kalau aku tadi enggak bisa ngomong ‘kan malah kelihatan aku cuma simpananmu doang!” balas Dini.


“Kalau kamu Mas kasih tau sejak awal, pasti kamu akan bilang, enggak perlu diperpanjang. Itu makanya Maz  juga mutusin nama Maz sebagai pelapor, karena Maz enggak mau sampai disuruh nyabut pelaporan atau ngurangin hukuman. Maz mau mereka dituntut seberat-beratnya tanpa ampun. Karena mereka sudah menghina istri dan anak Maz.” Anto pun berdalih mengapa dia ngotot melaporkan kasus ini.


“Kapan Maz melakukan penyelidikan? Dan dari tadi Maz nyebut kata ‘mereka’. Memang berapa orang pelakunya dan siapa saja?” tanya Dini sambil memegang tangan kiri Anto. Dia tak mau suaminya makin marah. Walau dia tahu suaminya marah bukan terhadap dirinya.

__ADS_1


“Sejak malam kita bicara, itu Maz langsung minta Jamal, ahli IT di kantor untuk menyelidiki awal rumors itu. Habis itu Maz menghubungi lawyer kantor untuk diskusi. Dan kemarin pagi Maz bikin laporan, siangnya kirim email ke kampus, bu Gita juga ke Steve. Pelakunya para mahasiswimu yang sedang susun skripsi dan ada yang dibawah bimbinganmu. Mereka tergabung dalam group chat berisi 7 orang. Sepertinya pagi ini surat panggilan untuk mereka sudah sampai ke alamat masing-masing karena Maz kirim lewat kurir kantor bukan pos. Malam ini bom meledak. Kita tunggu reaksi mereka besok pagi. Panggilan mereka itu lusa,” Anto menerangkan kronologis kerjanya.


“Kenapa kirim email juga ke bu Gita?” pancing Dini bingung.


“Pelaku utama adalah keponakan pak Hendro. Adik sepupu Shinta! Dia yang sedang bimbingan skripsi denganmu. Namanya Indria Prabawati,” jelas Anto.


“Anak itu ‘kan mahasiswi beasiswa karena kepandaiannya, bukan karena tak mampu,” Dini sampai kaget mendengar pelaku utamanya.


“Ingat, Maz enggak akan mengampuni dia. Maz mau dia di DO dari kampus dengan tidak boleh mendapat salinan nilai yang pernah dia tempuh. Sehingga dia tak akan mungkin bisa meneruskan kuliah lagi. Dia bisa kembali kuliah dari semester 1 di kampus lain.  Maz, terlalu sakit. Orang yang tidak tahu masalah pernikahan kita bisa menyebarkan kalau kamu adalah istri simpanan,” Anto sudah memberi peringatan pada Dini tidak akan memberi keringanan pada pelaku.


“Aku manut. Tadi di depan Rektor juga aku sudah menjawab seperti itu. Bahkan aku bilang walau saya harus di pecat sekali pun, saya tidak akan mau untuk mencabut pelaporan atau meringankan hukuman,” akhirnya Dini menceritakan semua yang dibicarakan dengan rektor siang tadi.


***


Sejak kemarin sore email yang masuk belum dibuka oleh bu Gita. Dia sedang shopping di Singapura dan baru kembali tadi pagi. Siang ini dia buka email dan tertegun ada email dari mantan menantunya berisi tembusan pelaporan yang melibatkan keponakan dari garis suaminya. Dia semakin tidak mengerti mengapa keturunannya senang melakukan hal memalukan dirinya dihadapan Anto?


“Pulang sekarang Mas, ada hal yang mau aku tunjukin ke kamu,” bu Gita langsung menghubungi suaminya yang sedang pijat refleksi diantar oleh Maman, asisten rumah tangga yang merangkap sopir suaminya. Pak Hendro pijat refleksi karena gejala stroke yang dideritanya.


-----------------------


Terima kasih sudah selesai membaca bab ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.


Salam manis dari Jogja


Novel terbaru yanktie sudah lulus seleksi lho, semoga sebentar lagi bisa kalian ikuti ceritanya.


TELL  LAURA  I  LOVE  HER  berkisah tentang Augustus atau yang biasa dikenal August terpuruk, dia merasa sangat bodoh membuang berlian dan menggantinya dengan kerikil. Dia mengkhianati Julia yang santun dan jujur. August bermain api dengan Aprilia dan berakibat April hamil. Dengan terpaksa dia menikahi April. Namun rumah tangga yang di jalaninya bagai neraka. April tak pernah menganggapnya sebagai suami. Perempuan itu tetap bebas pesta dan sering pulang pagi walau sedang hamil.


Saat putri mereka Novi, yang lahir bulan November sakit. Baru terkuak, Novi bukan putri August, karena golongan darah mereka berbeda.itu memacu August melakukan test DNA dengan bayinya itu. Hasil test menguatkan, bayi mungil nan malang itu memang bukan berasal darinya.


Laura adalah kekasih Tommy, mereka sedang bahagia, bulan depan akan menikah. Semua persiapan sudah mereka lakukan. Fix  95% persiapan sudah ready, sayang 2 minggu sebelum akad nikah, Tommy meninggal saat balapan mobil yang diikutinya.  Laura melarikan dukanya dengan menjadi tenaga relawan di panti asuhan khusus balita.  


Saat August sedang melakukan santunan di panti asuhan, August berkenalan dengan Laura yang menjadi tenaga pembimbing di sana. August tertarik dengan Laura, tapi Laura belum bisa menerima cinta baru.

__ADS_1


Akankah cinta August pada Laura bersambut? Atau August akan kembali mengejar cinta Julia?



__ADS_2