CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
79 DEMPULAN WAJAHNYA SEPERTI ASPAL NUTUP LOBANG JALAN


__ADS_3

79 DEMPULAN WAJAHNYA SEPERTI ASPAL NUTUP LOBANG JALAN


“Boleh, gapapa saya terima” kata Anto. “Assalamu’alaykum bu, apa khabar?” kata Anto pada mertuanya yang menghubunginya melalui nomor telpon kantor


“Wa alaykum salam, ibu dan bapak sehat. Ibu mau kita ketemu, kapan ya bisa nya Nto?” tanya bu Gita to the poin.


“Ada masalah apa bu?” tanya Anto. “Kebetulan saya lagi agak sibuk menjelang rapat tahunan” kata Anto menjelaskan kondisinya kali ini


“Tentang amanat Shinta, pembangunan kembali rumahmu” kata bu Gita


“Wah nanti-nanti aja gapapa bu, saya ga butuh cepat-cepat koq, kalau ga nikah kan juga rumah itu ga saya tempati” jelas Anto


“Ini kebetulan keponakan ibu seorang arsitek, ibu mau minta dia gambarkan denah rumah, karena itu rumahmu, kan harus ada kamunya. Dia orang sibuk jadi ibu mau minta waktunya biar kita bisa janjian” jelas ibu Gita


“Kalau gitu saya kasih 2 altenatif aja bu, nanti malam jam 7 atau lusa malam jam 7, lokasi saya ikut ibu aja” jawab Anto, dia ingin segera memutuskan pembicaraan dengan ibu mertuanya yang sangat dia ga sukai karena selalu intervensi hubungannya sejak Shinta mendekatinya. Perempuan ini licik, selalu ingin semua kehendaknya bisa dia capai walau dengan cara apapun.


“Ok, nanti ibu hubungi dulu arsiteknya, sesudah dia kasih jawaban, ibu akan menghubungi kamu lagi” kata bu Gita


“Di, nanti kalau bu Gita telpon, minta dia tinggalkan pesan aja ya, bilang saya sedang meeting” pesan Anto  ke sekretarisnya di sambungan telpon


“Baik pak” jawab Yadi


***


 Malam ini Anto hendak menemui bu Gita di restoran lembur kuring daerah Tebet, entah mengapa bu Gita memilih lokasi itu, Anto ga memikirkannya, sehabis sholat maghrib dia berangkat ke tujuan. Sesampainya disana dia melihat ada bu Gita, pak Hendro, lalu seorang ibu sebaya dengan bu Gita, serta seorang wanita muda.


“Assalamu’alaykum” sapa Anto sambil menyalami semua yang ada disana. “Maaf terlambat, apa sudah lama menunggu saya?” tanya Anto sambil melihat arloji di tangannya yang masih menunjukan pk 18.55.


“Wa alaykum salam” jawab yang hadir hampir serempak. “Enggak telat koq Nto, hanya kami memang sengaja sholat maghrib disini, karena jalan dari rumah kami kan macet” sahut bu Gita


”Mau minum apa Nto?” tanya bu Gita

__ADS_1


“Lemon tea aja bu” balas Anto


“Nto, kenalkan, ini bulek Murni, adik sepupu ibu yang tinggal di Magelang, waktu nikahanmu dia ga bisa hadir karena pas ga sehat, dan ini Puspita. Anaknya. Dia arsitek yang ibu bilang kemarin” kata bu Gita memperkenalkan 2 orang tamunya kepada Anto. “Nah itu paklek Hadi, dia barusan dari toilet” lanjut bu Gita lagi memperkenalkan seorang laki-laki yang baru ikut duduk di meja mereka


“Anto” kata Anto memperkenalkan dirinya sambil menyalami ketiga orang tersebut


Makanan yang sudah dipesan oleh bu Gita sudah lengkap datang. “Kita makan dulu yok, biar nanti pembicaraan tentang pembangunan rumah kita lakukan setelah makan aja” kata bu Gita mengajak semua yang hadir disana untuk segera  makan


Selesai makan Puspita menanyakan konsep yang akan dibangun ulang ditanah Anto yang masih banyak puing bekas bangunan lama rumahnya


“Maunya seperti apa untuk bangunan yang akan dibangun nanti mas Anto?” tanya Puspita ramah. Namun Anto merasakan nada yang tidak sewajarnya, seperti dibuat-buat


Anto langsung teringat Amora, maka dia minta rumah mungil minimalis dengan taman bermain yang cukup luas dengan kandang hewan yang agak luas dan besar untuk santai keluarga didalam kandang


“Saya ingin rumah minimalis, 3 kamar tidur dan 1 kamar pembantu lalu ruang keluarga yang besar selain ruang makan yang menyatu dengan dapur bersih, ruang baca yang tidak bersekat sehingga bisa mengawasi ke penjuru rumah, serta kandang hewan yang cukup luas dihalaman belakang yang bisa dibuat untuk anak-anak berkegiatan disana” rinci Anto tentang konsep yang diinginkannya. Saat membayangkan itu, dia mengkhayal keluarganya dengan Dini, Amora serta adik-adiknya kelak, pasti Dini butuh ruang buku karena dia dan Anto hobby membaca


“Seperti kandang burung di TMII maksudnya? Bisa banyak orang masuk?” tanya Ita, panggilan Puspita


“Panggil saya Ita aja mas, ga perlu nama lengkap saya” jawab Puspita dengan senyum menggoda


“Nanti kamu bisa buatkan dulu garis besarnya Ta, biar mas mu puas” kata bu Gita. “Dia lulusan terbaik ITB lho Nto, dan masih single” promo bu Gita


“Kami ga keberatan kalau kalian menyambung kembali ikatan kekeluargaan kita” kata bu Gita lagi


Anto miscall Steve dibawah meja. Ga lama Steve menelponnya balik. “Maaf, saya angkat telpon dulu, pamit Anto. Dia lalu berdiri agak menjauh untuk mengangkat telpon dari Steve


“Hallo bro, kemana aja lo?” tanya Steve


“Nanti gue telpon lagi. Makasih lo udah telpon gue sekarang” kata Anto langsung menutup sambungan telponnya.


Dia lalu kembali ke meja dan mohon pamit dari semuanya. “Maaf, ada berkas yang harus direvisi, saya diminta kirim email ke India untuk rapat tahunan. Saya pamit lebih dulu” kata Anto lalu bersalaman dengan semua yang hadir disana. “Assalamu”alaykum”

__ADS_1


***


“Hahahahha, ****** lo Nto. Ngadalin orang” tawa Steve saat Anto menceritakan mengapa tadi Anto misscall agar dia ditelpon oleh Steve


“Kayaknya tu nenek lampir ga kapok, dia mau njodohin gue ama keponakannya bro” sengit Anto menjaawab ejekan Steve


“Gapapa, cantik kan, mana lulusan terbaik ITB mantab kan?” kata Steve


“Gue yakin lo sama gue satu selera kan? Ga suka ama ceweq dempulan tebel kayak mau main wayang orang punakawan? Gimana gue bisa nilai dia cantik kalau dempulannya aja kaya aspal nutup lobang jalan” kata Anto


“Gila lo, lo kan ga pernah vulgar gini” kata Steve menyatakan keheranannya pada keterus terangan Anto kali ini


“By the way, lo pernah hubungi Dini atau main ke rumahnya?” tanya Anto


“Gue ga pernah telpon dia, apalagi main ke rumahnya, cuma hari Minggu kemaren aja ketemu dia di mall, lagi ngasuh Amora main di taman bermain, dia bilang habis belanja bulanan. Koq lo tanya gue, emang ga pernah telpon an lagi?” tanya Steve bingung


“Telpon gue ga pernah dia angkat sejak gue pulang dari Jogja. Walau gue pernah denger dia telpon an ama Sari


“Sampe segitunya tu anak?” tanya Steve ga percaya. Steve sangat bingung Dini bisa memperlakukan Anto seperti itu mengingat kedekatan mereka berdua selama ini. Steve makin yakin yang dikatakan Anto, Dini sangat trauma dengan ikatan pernikahan.


“Bro gue tutup dulu ya, gue dah sampe rumah nih, mau buka gerbang dulu. Thanks ya bro udah bantuin gue buat kabur dari perjodohan ga bermutu tadi” seru Anto


“Your welcome bro” balas Steve. Dia bertekad membantu Anto dan Dini bersatu, namun bagaimana caranya? Dia ga ingin menjadi pelangi bagi orang yang buta warna. Dia ingin semua yang dia lakukan sukses dengan hasil yang sesuai dengan keinginannya


***


Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini


Jangan lupa like dan vote nya ya


jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCURya

__ADS_1


__ADS_2