CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
100 HARI LAMARAN


__ADS_3

“Ada undang-undang yang mengharuskan perempuan yang dilamar pakai kebaya atau bikini ga de?” tanya Anto menggoda. “Udah kita pakai batik aja, maz kan juga ga perlu pakai jas” katanya memutuskan, dia jadi teringat lamarannya dengan Shinta yang diatur keluarga Shinta.


Akhirnya mereka hunting baju-baju sarimbit, namun selalu saja mereka cari yang ada buat ukuran Amora. Bukan hanya Dini yang selalu ingat tentang Amora, namun Anto pun sama demikian juga.


Saat melihat kemeja-kemeja kecil Dini tertarik, dia ingin membeli untuk ke 4 keponakannya. Dia juga membeli untuk Ajeng dan Putri serta sarimbit untuk mbak Rina serta Sari dan Steve.


“Maz ada alamat mbak Rina? Mereka ga datang kan pas lamaran besok?” tanya Dini.


“Ada alamat rumah dan kantor mbak Rina, kalau ga bisa ke mbak Rina bisa dikirim ke rumah sakit tempat mas Imron kerja. Mereka ga bisa sering-sering ambil libur, jadi mereka memilih datang pas kita nikah aja, gapapa kan?” tanya Anto.


“Baju seragam buat keluarga saat nikahan kita beli disini atau gimana maz? Kan kalau buat kebaya nya kita belikan bahan aja, jadi bisa pas di badan masing-masing kalau njahit sendiri” tanya Dini


“Ternyata nikah itu ribet ya de” kata Anto sambil tertawa. Biar sekalian lalu mereka memilih bahan kebaya yang senada dengan kebaya pengantinnya, ada gradasi warna untuk pembeda generasi.


Ga kerasa sudah sore saat mereka selesai belanja, Anto memutuskan sholat ashar dirumah saja, karena Dini juga ingin segera pulang untuk ganti pembalut.


***


Dini duduk di lantai kamarnya, dia memasukan bahan kebaya dan jarik bawahnya kedalam amplop besar yang sudah dia siapkan, lalu dia beri nama di setiap amplop tersebut agar di Jakarta nanti Anto ga bingung saat menyerahkan bahan tersebut.


Anto memeluk Dini dari belakang, “Istirahat dulu mom, nanti kamu sakit karena kecapekan.”


“Tanggung dad, tinggal punya Steve dan Sari serta bahan kebaya Ajeng dan Putri aja koq. Daddy kalau cape bobo duluan aja sana,” kata Dini, dia nyuruh Anto naik tempat tidur lebih dulu, namun dia menyandarkan kepalanya di dada Anto yang berada dibelakangnya.


“Akhirnya kita sampai dititik ini juga ya maz. Dari kita yang lugu, belajar bersama, berantem, camping, nyanyi bareng, tukeran puisi, tukeran novel, berpisah trus ketemu lagi” lamun Dini mengikuti perjalanan mereka sejak SMP.


“Sekarang udah ga lugu ya?” goda Anto menciumi leher Dini. Dini memegang kepala Anto yang berada di ceruk lehernya, meremas rambutnya. “Jangan sampai merah lho” cegahnya.

__ADS_1


“Hhhmmm” hanya itu jawaban Anto, dia sibuk eksplore bagian leher lalu turun ke bahu Dini.


“Ihh, jangan dimerahin,” tolak Dini.


“Kan ga di leher” jawab Anto seraya turun ke bagian dada Dini.


“Ade rampungin ini dulu ah, sana bobo duluan, jangan ganggu orang kerja,” kata Dini yang mulai ikut panas akibat aksi Anto. “Maz, kalau nanti pas nikah, ade pas kedatengan tamu rutin gimana?” tanya Dini.


“Emang pas tanggal merah de?” Anto langsung menghentikan serangannya.


Dini mengangguk-angguk : “Sepertinya sih gitu”


“Kayaknya mesti minta mas Imron obat penunda mens nih,” keluh Anto, Dini hanya terkekeh.


“Maz lupa kasih tau, tadi pagi pak Irhan telpon, besok maz di minta datang ke pengadilan de, sidang pertama nya Puspita,” kata Anto menceritakan dia terima telpon saat jalan-jalan dengan Amora.


“Bukannya besok jadwal maz ke kantor anak cabang?” tanya Dini, dia takut Anto lupa jadwal kerjaannya.


***


Sudah seminggu Anto kembali ke rutinitas kerja di Jakarta, Dini masih sibuk dengan jadwal akhir semester yang numpuk, baik jadwal ngajar maupun kuliah, ditambah lagi mbak Kiran minta bahan tambahan, dia ingin anak-anaknya pakai beskap seperti daddynya, sehingga Dini harus meluangkan waktu belanja bahan untuk 4 beskap kecil beserta jariknya, karena mbak Sashi pasti nanti juga akan ngiri bila Arra ga dipakaikan beskap.


Hari ini Dini berangkat ke Jakarta sepulang ngajar, dia ga ikut kegiatan MGMP agar tidak terlambat ke bandara. Steve sebenarnya ingin mengantar, namun Dini melarangnya, biarlah dia berangkat bertiga dengan mbak Inah dan Amora saja.


Dari bandara Jakarta Dini langsung ke Cilandak, karena acara besok pagi berlokasi di Cilandak.


“Sudah sampai rumah Bapak nih maz” lapor Dini pada Anto yang sejak tadi selalu memantau aktivitasnya. Dini tahu Anto grogi menghadapi hari lamaran besok.

__ADS_1


“Alhamdulillah, kamu istirahat ya, ni maz baru aja absent mau pulang, Moya gapapa kan?” selalu Amora lah focus utama hot daddy itu.


“Hati-hati ya cintaku,” pesan Dini pada Anto yang akan meluncur pulang.


***


Sejak pagi Dini sudah bersiap, dia berpesan pada mbak Inah, Amora di gantikan batiknya saat acara akan dimulai saja, biar ga kotor. Saat ini dia sedang memperhatikan Amora makan, dia mau Amora ga kekurangan perhatiannya walau dia sedang super sibuk sekalipun, nanti setelah Amora makan baru dia akan berhias.


Keluarga Anto dan keluarga Dini datang beriringan, mbak Sashi dan mas Teguh, mbak Kiran dan kang Amir, mami dan papi serta mama, Sari serta 2 pasang pakde dan bude nya Anto sebagai pengganti almarhum papanya serta Anto sebagai aktor utama hari ini tentu saja.


Memang lamaran Dini hanya dihadiri keluarga inti saja, tak ada kemewahan seperti saat lamaran Shinta dulu.


Pakde Jarwo kakak tertua papa nya Anto membuka pertemuan itu dengan memperkenalkan keluarganya, lalu dilanjut dengan pakde Sigit, kakak tertua mama Anto yang bertugas menyampaikan tujuan mereka datang pagi ini.


“Kami bermaksud meminang ananda Rahdini menjadi istri putra kami Prasetyanto. Semoga Bapak bisa menerima niat baik kami ini” begitu pakde menutup permintaannya pada bapaknya Dini.


“Saya sangat tersanjung atas berkenannya keluarga besar pak Sigit dan pak Jarwo rawuh ke gubuk kami ini, namun untuk masalah lamaran saya tidak bisa memutuskan menerima atau menolaknya, karena itu akan berpengaruh terhadap garis hidup anak saya ke depannya. Jadi untuk jelasnya silahkan nak Anto menanyakan kesediaan Dini secara langsung,” jawab Bapak pada pakde Sigit.


Anto yang diberi waktu untuk berbicara bingung, karena saat itu Dini belum berada di ruangan itu. Bapak yang melihat kebingungan di wajah calon menantunya tersenyum kecil lalu dia mengangguk pada dek Retno sepupu Dini.


Lalu Retno masuk ke dalam, mengabari sepupunya yang lain dek Rari untuk keluar mengapit Dini yang berjalan keluar menggandeng Amora.


Dini berdandan sangat tipis, sehingga kesan natural membuat nya lebih menampilkan inner beautynya, sedang Amora tersenyum manis digandengannya. Sejak semalam Dini mengajari Amora tidak boleh ribut dan diminta duduk manis di sebelahnya tanpa menghampiri daddy nya. Dini dan Amora menggunakan batik tulis berdasar ungu, kembaran dengan batik yang digunakan Anto.


Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini, maz Anto mau ngelamar siapa kalau jeng Dini ga keluar?


Biar ga penasaran ikutin ceritanya di bab berikutnya yaa, udah mau habis koq.

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote serta komen dan bintang 5 nya


Inget pesan yanktie, jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul  KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR  ya


__ADS_2