CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
140 SAYA IBU KEKASIH ANDA!


__ADS_3

Halloooooooooo……..


Ada pemuja baru untuk daddy Anto. Gimana kelanjutan kisahnya? Ikutin terus di bab ini ya


Yanktie mohon sehabis baca BAB langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….


Maturnuwun.


-------------


“Siapa bilang aku usil?” Dini tak terima di katakan Moya menuruni sifat usil darinya. Namun Dini memang tidak menyangkal, Moya sangat usil, mungkin karakter Harry yang juga usil seperti dirinya tumbuh kuat pada genetik Amora. Dan Arya adalah duplikat Anto yang super diam dan pemikir. Sejak SMP Anto sangat sedikit temannya, karena dia tidak suka pecicilan seperti anak normal lainnya. Anto hanya diam mengamati dan berpikir. Sikap pemikirnya yang membuat Dini jatuh hati.


Sudah cukup larut, Anto mengajak anak dan istrinya pulang. Dia sangat puas melihat rona bahagia dari ketiga anaknya. Wajah mereka lelah namun bahagia.


***


Sudah cukup seharian ini Risye dan Leo keluar bersama. Baju pengantin sudah mereka dapatkan, cincin sudah siap. Esok mereka akan mencari gedung untuk resepsi. “Besok kamu siapin data untuk aku daftarkan ke gereja dan urus surat ijin ke RT dan sebagainya ya?” pinta Risye. Dia tidak menyangka, tak butuh 24 jam, jawabannya akan serius dengan Leo langsung dapat gerak realisasi tanpa berbelit. Baju pengantinnya sangat indah dan anggun tentu saja super mahal. Bukan hanya sekedar dia memiliki baju pengantin. Leo selalu menekankan pilih yang terbaik.


“Aku enggak mampir ya,” Leo hanya membantu mengambilkan belanjaan mereka, gaun pengantin tentu dengan sepatu dan juga cincinnya semua dia bawakan untuk disimpan Risye.


“Ok, see you tomorrow,” jawab Risye menerima barang yang Leo berikan. Leo menarik tubuh Risye untuk dia peluk sejenak dan diberikannya kiss di kening gadis itu. Risye terpana mendapat first touch dari calon suaminya.


“Yah, Bu aku mau bicara,” Risye langsung membuka cerita begitu dia memasuki rumahnya dengan barang belanjaan persiapan pernikahannya.


“Kamu belanja apa dan mau bicara apa?” tanya sang ibu dengan lembut.

__ADS_1


Risye duduk di ruang keluarga, dimana ayah dan ibunya sedang santai menonton televisi. “Minggu depan Leo dan papa nya akan datang untuk melamarku, dan bulan ini juga kami akan langsung menikah,” jelas Risye.


“Kamu bilang baru dua kali bertemu sebelum hari ini, apa kamu yakin neng?” tanya sang ayah.


“Di pertemuan kedua dia sudah meminta eneng buat serius. Tadi pagi eneng jawab eneng bersedia. Dan dia langsung menenalkan kondisi keluarganya. Kami berniat pacaran dalam pernikahan. Eneng enggak mau gagal lagi. Leo sama sekali belum pernah kenal perempuan dan dia tidak mencari pacar. Kalau eneng bersedia dia serius menikah, namun bila eneng tidak bersedia dia akan mundur,” Risye yang memang anak tunggal dan sangat dekat dengan kedua orang tuanya menjelaskan semua yang dia akan tempuh.


“Kamu yang akan menjalankan, kalau kamu yakin lakukannlah. Namun kalau kamu melakukan hanya karena di kejar usia dan keharusan menikah, maka tak usah. Karena bagi ibu kebahagiaan hidup bukan karena kamu menikah dan tidak disebut perawan tua, tapi kebahagiaan itu dirasakan hati.” Jawab ibu mensupport putri tunggalnya.


“Saat ini yang eneng rasakan baru taraf nyaman. Bohong besar kalau eneng sudah merasakan cinta, karena kami memang baru tiga kali bertemu. Tapi dari setiap kami bertemu, dia selalu mencari solusi bersama, bukan eneng dominan seperti saat dengan Gilang, atau dia lebih dominan.” Risye memperlihatkan cincin pernikahannya.”Ibu lihat, ini dia beli, kami diskusi untuk menentukan berdua. Gaun juga dia langsung beli dan ini lebih bagus dari gaun yang dulu eneng siapkan.”


“Baguuuuus bangeeet,” sang ibu terkagum-kagum melihat cincin dan gaun yang hanya dalam hitungan jam sudah berhasil di dapatkan oleh Risye dan Leo.


“Rencananya besok pagi kami mau ke gereja bareng, dan sesudah itu kami mau hunting gedung dan cattering. Jadi saat papanya Leo datang kami sudah punya semua yang dibutuhkan,” jelas Risye lagi. “Besok juga Leo akan bawa data diri untuk ayah daftarkan di RT sampai ke gereja.”


“Mamanya sakit, karena kasus yang dia alami. Dia tidak kuat menahan rasa bersalah sehingga mengalami gangguan jiwa,” jawab Risye tanpa ragu.


***


Minggu pagi ini keluarga Anto hanya berdiam di rumah karena semalam sudah rekreasi di alun-alun kidul. Dini sengaja hanya bermalas-malasan, dia menonton kartun menemani Abbhie. Sudah sejak Amora kecil, dia selalu mengawasi apa yang anak-anaknya lihat. Karena banyak film kartun yang juga tetap harus didampingi. Anak-anak belum mengerti mengapa Tom dan Jerry boleh saling memukul bahkan mencelakai sedang dia tidak boleh memukul pengasuh atau kakaknya. Itu pasti butuh bimbingan orang tua agar mereka mengerti apa perbedaan tontonan dengan kejadian real.


Arya sibuk dengan eksperimen merakit robot. Dan Amora menyelesaikan prakaryanya yang sengaja dia ulang agar lebih rapi. Daddy hanya memberi penilaian, bukan menyuruhnya mengulang. Amora yang berniat memperbaikinya. Semua keluar dari pemikirannya sendiri karena dia selalu ingin mendapat nilai terbaik. Anto yang sedang membersihkan mobilnya tidak mendengar sejak tadi ponselnya berdering. Dini melihat ada nomor baru yang tidak di save memanggil. Karena takut itu adalah nomor penting maka Dini segera menerima panggilan itu sambil dia berjalan menuju car port di rumah mereka. “Assalamu’alaykum,” sapa suara manja di ponsel Anto.


Dini langsung mengaktifkan loud speaker dan menggamit Anto untuk mendengarrkan siapa yang menghubunginya.


“Assalamu’alaykum,” kembali salam di lontarkan oleh penelpon karena Anto tidak menjawab. Anto menggerakan bibirnya tanpa suara, meminta Dini yang menjawab telepon tersebut.

__ADS_1


“Wa’alaykum salam,” jawab Dini lembut. “Dengan siapa ya?”


“Ini nomor telepon pak Anto kan?” suara manja itu berubah ketus.


“Benar,” jawab Dini lagi.


“Mengapa anda lancang menjawab telepon untuk kekasih saya?” tanya si penelpon dengan percaya diri.


“Maaf, anda kekasih anak saya?” jawab Dini, dia memposisikan sebagai mama Anto. “Anak saya sedang membersihkan mobil. Dan saya tidak akan setuju dia mempunyai kekasih yang tidak tahu sopan santun seperti kamu!” jawab Dini


“Maaf … maaf Bu … saya tidak tahu kalau Ibu yang mengangkat telepon saya untuk mas Anto,” jawab si penelpon tergugu.


“Anda tidak akan pernah tahu siapa yang angkat telepon, maka anda harus selalu sopan pada siapapun. Mulai sekarang jangan pernah hubungi anak saya lai, karena saya tidak sudi mempunyai menantu bar-bar seperti anda!” Dini langsung mematikan dan memblokir nomor tersebut.


“Koq bisa dia dapat nomormu Maz?” tanya Dini bingung. “Ulet bulu sekarang makin gatal aja ya, segala cara dia akan lakukan. Besok kalau ketemu dengan ketua yayasan beritahu juga kejadian ini dad,” Dini makin gemas akan perilaku anak-anak tak bermoral yang selalu ingin mendapatkan semua dengan cara instan.


“Daddy mana tahu dia dapat dari mana. Tapi nomor ponsel kan memang tertulis di kartu nama perusahaan. Mungkin dia dapat dari sana,” jelas Anto sambil mencuci tangan di keran.


“Apa ini yang semalam Daddy ceritakan? Siapa namanya?” selidik Dini.


“Lupa namanya Mom, kalau enggak salah namanya sama dengan Sari. Apsari siapa mbuh, dipanggilnya Ari. Daddy kan enggak ada urusan ama anak magang jadi enggak tahu persis data mereka,” jawab Anto lagi.


--------------------


Terima kasih sudah selesai membaca BAB ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.

__ADS_1


__ADS_2