
Dini berdandan sangat tipis, sehingga kesan natural membuat nya lebih menampilkan inner beautynya, sedang Amora tersenyum manis di gandengannya. Sejak semalam Dini mengajari Amora tidak boleh ribut dan diminta duduk manis di sebelahnya tanpa menghampiri daddy nya. Dini dan Amora menggunakan batik tulis berdasar ungu, kembaran dengan batik yang digunakan Anto.
Semua yang hadir melihat kedatangan Amora dan Dini yang melenggang berdua kedalam ruangan karena dek Rari dan dek Retno hanya mengantar ke ujung ruangan saja, semua terpaku akan kecantikan Dini dan kagum karena Amora bisa tenang mengikuti arahan Dini.
Dini duduk di sebelah bapak. Setelah dia dan Amora duduk Dini mengangguk kecil pada Anto, mengisyaratkan agar Anto mulai bicara. Anto masih bengong, terpesona terhadap keanggunan cinta kecilnya bercampur kagum pada kepandaian Amora yang bisa menempatkan diri pada situasi semi resmi seperti saat ini.
“Nto, mulai” bisik pakde Jarwo sambil menggamit lengan Anto, agar sadar dari keterpukauannya.
Mami, papi serta mama hanya senyum-senyum saja melihat kegugupan Anto. Kalau mimpin rapat koq ga nervous gini ya? batin Anto merasakan kegugupannya kali ini, bahkan berdiri di forum internasional saat meeting pun dia lancar aja aja mengemukakan pendapat dengan bahasa Inggris. Ini di forum keluarga, sudah kenal dan akrab semua, mengapa jadi deg-deg an gini?
“Assalamu’alaykum. Saya memang bukan pria terbaik, masih sangat banyak pria baik di luar sana, tapi saya berupaya menjadi terbaik untuk Rahdini Mustika Wonoyudo, perempuan special yang bisa membuat saya ingin selalu meniupkan puisi cinta disetiap helaan nafas saya. Perempuan kuat yang bisa membuat saya merasa lemah jika disisinya, namun juga perempuan lemah yang membuat saya selalu ingin melindunginya. Ijinkan saya Prasetyanto Soekarso meminang cinta kecil saya, cinta yang tumbuh sejak kami SMP” kata-kata Anto membuat semua hadir terpana, karena Anto mengatakan tanpa teks, keluar dari hatinya.
“Piye Din?” tanya bapak.
“Prasetyanto Soekarso, anda memang bukan pria terbaik dari semua pria yang pernah datang mengetuk pintu hati saya, namun saya tau anda berupaya menjadi yang terbaik untuk saya. Saya bukan seorang gadis yang bisa melenggang cantik sendirian ke catwalk yang anda sediakan, saya seorang ibu dari gadis kecil di sebelah saya. Gadis kecil yang membuat dunia saya hanya terfocus padanya. Saya bersumpah, siapa yang bisa menerimanyanya itulah yang akan bisa mendampingi hidup saya kedepannya. Ternyata anda tidak hanya menerimanya, namun anda malah mencuri hatinya melebihi cinta anda pada saya. Anda bisa demam panas dingin bila merindukannya, tapi itu tak pernah anda alami jika anda rindu pada saya.”
“Prasetyanto Soekarso, anda berhasil menopang saat saya goyah, anda berhasil menghapus airmata saya saat saya terpuruk, namun saya tidak ingin cintamu seperti pelangi. Walau indah namun hanya bertahan sesaat. Saya ingin cintamu seperti udara, sederhana, tak terlihat wujudnya namun selalu setia disetiap hela nafasku.”
Dini terdiam sebentar, menarik napas panjang, lalu melanjutkan lagi ….
“Prasetyanto Soekarso, saya Rahdini Mustika Wonoyudo, bersedia menerima permintaan anda untuk mendampingi anda dalam menapaki langkah kita kedepannya” demikian jawab Dini pasti.
Anto dan Dini memperlihatkan kepandaian mereka mengolah kata walau dalam situasi mendesak, mereka seperti sedang adu kepiawaian saat membuat puisi. Mereka yang hadir hampir bersamaan mengucap Alhamdulillah saat Dini menyatakan menerima lamaran Anto
__ADS_1
Selanjutnya pakde Jarwo merinci kapan acara pernikahan yang akan mereka adakan kepada Bapak.
Saat pakde Jarwo sedang berbincang dengan Bapak, Anto melihat putrinya menatapnya tajam seakan ingin berlari padanya. Anto mengembangkan tangannya, mengisyaratkan agar Amora menghampirinya, Amora melihat Dini, namun Dini sedang tidak melihatnya maka Amora menggamit tangan Dini agar melihat kearahnya. Dini menoleh, dia melihat Amora menunjuk Anto dengan dagunya. Dini tersenyum melihat sepasang kekasih di depannya. Dini menganggukan wajahnya, tanpa menunggu lama Amora langsung turun dari kursinya lalu berlari kearah Anto, dia langsung memeluk Anto dan berbisik : Daddy, ay lop yu. Dia merasa tertekan sejak tadi bisa melihat daddynya namun tidak bisa menghampirinya.
“I love you babe, I love you very much” sahut Anto sambil terus mengecupi pipi putrinya. Bu Dyah dan bu Rahma secara bersamaan menghapus air mata disudut mata mereka.
Tak ada tukar cincin di acara lamaran mereka, hanya doa bersama yang mereka panjatkan agar acara pernikahan yang hanya tersisa 5 minggu lagi bisa berjalan lancar dan sukses.
Sehabis makan siang dan ramah tamah semua tamu pamit pulang kecuali Anto. Dia dan Dini serta Amora akan pulang sore nanti belakangan. Mbak Inah saja sudah pulang lebih dulu ikut mobil bu Dyah.
***
“Besok pagi bisa temani aku ke RS Mitra Jatinegara ga maz?” tanya Dini saat di mobil. Saat ini Amora sudah tertidur dalam pangkuan Dini. Anto menggenggam tangan Dini dengan tangan kirinya.
“Kamu tau kan, aku pasti bisa, kenapa nanya gitu? Kamu tau my love, cinta itu sederhana, sesederhana saat kita memberi senyuman meskipun kita menderita, sesederhana saat kita memberikan maaf meskipun kita terluka dan sesederhana saat kita memberikan perhatian walaupun kita terabaikan. Sederhana namun sangat berarti besar dalam hidup kita” jelas Anto.
“Yang jago gombal tu kamu cinta, maz serius kagum dengan kata-katamu tadi saat mbalas pinangan maz” Anto mengelak dibilang jago gombal.
Dini terkekeh, “Nge balas tukang gombal ya ga bisa dengan kata-kata pasaran kan? Bisa kalah pamorku nanti.”
“Masih aja ya ga mau kalah,” sahut Anto.
“Bukannya itu salah satu poin kenapa maz jatuh cinta padaku? Karena keras kepala dan ga mau ngalah?”sahut Dini
__ADS_1
“Stop ya kata-katamu itu, bikin gemes, ini di mobil dan maz lagi nyetir, ga bisa nyium kamu,” balas Anto
Hahahahha Dini merasa aman menggoda Anto, dia melepas tangannya dari genggaman Anto, dia mainkan bibir Anto dengan jari telunjuknya serta memasukan telunjuk nya ke mulut Anto.
“Kamu ternyata jahat ya de, udah resmi dilamar baru deh memperlihatkan jahatnya” Anto sangat kesal digoda Dini saat ini, di Rawasari mereka ga punya privacy room, gimana bisa ******* bibir Dini?
“Jadi nyesel nih ngelamar aku?” goda Dini.
“Nyesel pake bangeeeet, kenapa ga dari dulu maz lari ke bapak biar langsung disuruh nikah,” balas Anto.
“Kamu jangan keluar dulu, biar aku yang buka pintu dan Moya aku aja yang gendong masuk rumah,” perintah Anto saat mereka tiba di rumah orang tua Dini. Dini ga membantah, karena memang agak sulit keluar pintu mobil sambil menggendong bocak enduth ini. Anto membukakan Dini pintu mobil lalu dia mengambil alih Amora.
“Bobo dia Nto?” tanya mami basa basi melihat Anto masuk menggendong Amora.
Dini mengikutinya dari belakang menunjukkan kamarnya, serta membukakan pintu kamarnya. Dibukanya sepatu Amora saat Anto menidurkan putri kecil mereka. Mau digantikan baju ga mom?” tanya Anto.
“Iya dad, tolong ambilkan tissue basah dan piyamanya sekalian ya
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini, akhirnya resmi sudah lamaran maz Anto ke jeng Dini.
Biar ga penasaran ikutin ceritanya di bab berikutnya yaa, udah mau habis koq.
Jangan lupa like dan vote serta komen dan bintang 5 nya
__ADS_1
Inget pesan yanktie, jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya