
Sesudah acara makan malam di lembur kuring, komunikasi Harry dengan keluarganya, terutama mamanya semakin intensif. Komunikasi yang tadi nya tertutup dan sembunyi-sembunyi sejak peristiwa pengusiran pun kembali lancar karena Harry membuka pintu lebih dulu dengan cara mengundang saat acara syukuran wisudanya, yang versi mamanya itu bukan syukuran.
Tanpa Dini tau, Harry sering ditelpon saat jam kerja, dan yang Dini tau kadang Harry juga menerima telpon saat di rumah. Tapi bila Dini tahu Harry mendapat telpon dari mamanya, Harry hanya bilang mama tanya khabar Amora, karena kangen. Harry ga pernah ngeluh atau cerita permintaan atau perintah mamanya terhadap dirinya kepada Dini. Semuanya dipendam sendiri.
Malam ini mama kembali telpon, kali ini Harry bilang besok diminta datang ke Kramat, tanpa Harry memberi tau alasan pemanggilan mereka yang sebenarnya, Harry hanya menyampaikan oma dan opa kangen Amora.
***
Esoknya jam 10 pagi mereka sudah sampai di Kramat, di rumah keluarga Harry. Amora sedang tidur di jok belakang dipangku mbak Yanti. Karena kepandaian Dini mengelola uang, mereka bisa membeli mobil second, tentu saja ditambah uang penjualan motor Dini dan motor Harry. Hanya mobil tua, tapi Dini bersyukur atas semua yang didapatnya.
“Boboin dikamar aja Har, perintah Leo saat melihat Amora tertidur pulas digendongan ART nya. Dini mengantar mbak Yanti untuk meletakkan Amora di kamar, dan meminta mbak Yanti tetap disana untuk mengawasi agar Amora ga jatuh.
Setelah basa basi tanya khabar akhirnya mama mertua Dini bicara ke pokok persoalan, dia meminta Dini hadir besok Selasa malam di acara kebaktian syukur atas kelulusan Harry. Dini diam ga menjawab sepatah katapun. Harry merasa akan ada bom meledak malam ini dirumahnya nanti.
Mama Harry memberi tahu mereka juga sudah menyewa organ tunggal, sudah pesan catering serta sewa tenda pula. Dini hanya berpikir, selama ini kalau acara keluarga, mereka ga pernah sewa tenda, dan rumah ini cukup menampung para saudara yang hadir, kalau pasang tenda tentunya bisa diartikan acaranya kan besar-besaran kan, apalagi pakai sewa organ tunggal, karena kalau hanya butuh live musik, anggota keluarga mereka lebih dari cukup yang memiliki kemampuan bermain musik dan bernyanyi, siapa yang ga tau sih suara emas suku Ambon?
“Harr, kamu sudah hubungi photographer yang mami bilang kemaren kan?” tanya mama mertua Dini.
“Sudah” jawab Harry cepat tanpa sadar membuka kedoknya kalau Harry terlibat dalam acara besar ini.
“Kamu sudah telpon semua keluarga kan?” tanya mama lagi.
__ADS_1
“Sudah koq, semua yang di data sudah Harry telpon” jawab Harry.
Dini bangkit berdiri. “Maaf saya mau lihat Amora” kilahnya untuk meninggalkan mereka semua.
Sebelum masuk kamar, Dini lebih dulu ke kamar mandi, dia menangis disana, ga sangka Harry melakukan perbuatan yang menikamnya dari belakang. Bukan soal pesta besar, tapi soal kejujuran Harry. Ini sama saja perselingkuhan, batinnya. Dia dibodohi tanpa tau apapun yang Harry kerjakan dibelakangnya. Puas menangis, Dini mencuci wajahnya lalu ber wudhu karena sudah masuk waktu dzuhur. “Mbak, tas mukena saya tadi diturunin ga?” tanya Dini pada mbak Yanti.
“Ini bu” jawab mbak Yanti ambil menyerahkan tas kepada Dini.
“Makasih ya mbak, mbak makan dulu gih, biar nanti bisa gantian lagi jaga Amora” sahut Dini.
Saat selesai sholat, Dini melihat Amora sudah duduk menantinya selesai melipat mukenanya. Sejak bayi Amora memang ga akan menangis bila bangun tidur ada orang di pandangannya. “Hai, putri kecil udah bangun ya?” sapa Dini manis. “Kita pipis lalu maem yok” ajak Dini pada Amora, dituntunnya si kecil ke arah kamar mandi.
“Wah cucu opa sudah bangun ya” sapa papa mertuanya yang lebih dulu melihat saat Amora keluar dari kamar mandi.
“Duduk sini samping opa ya, bunda ambil maem dulu” perintah Dini sambil mendudukkan Amora disebelah papa mertuanya.
“Au..hua hua hua” tangis Amora, dia masih terbawa kantuk karena baru bangun tidur. “Ah..Ah..” teriaknya memanggil ayahnya agar menolongnya.
Harry bergegas menghampiri putri kecilnya, membopongnya lalu menciuminya, dibisikinya kata-kata manis agar Amora diam “Princess ga boleh nangis gitu dong, nanti ga cantik, bunda kan cuma mau ambilin maem” katanya sambil menciumi pipi anaknya. “Kalau ga diam juga, ayah ga mau gendong ya?”
Seakan mengerti kata-kata ayahnya, Amora berangsur-angsur menghentikan suara tangisnya. Ga lama Dini datang dan mulai menyuapi Amora sambil selalu merangsang Amora untuk berinteraksi apapun, kali ini Dini menyuapi sambil menyebut nama-nama jari. Untuk sebagian orang mungkin anak yang belum berumur setahun itu terlalu cepat diperkenalkan sesuatu, tapi Dini ga merasa demikian, tiap makan atau menyusui Amora pasti diberitahu hal-hal baru. Soal yang sederhana misal warna baju yang mereka kenakan saat itu.
__ADS_1
Saat itu tetiba mama mertuanya menghampiri sambil membawa tas baju. “Din, ini baju Amora untuk hari Selasa. Harusnya sih pas ukurannya, karena yang pilih model serta warna dan ukurannya kan Harry waktu kemarin belanja dengan mama”
“Oh iya ma, makasih” jawab Dini tersenyum manis sambil memandang ke arah Harry yang kebetulan sedang berpaling ke arahnya karena mendengar namanya disebut oleh mamanya.
Kuat Din, kuaaaaat, batin Dini. Kamu ga boleh tumbang disini. Kamu harus tegar, lanjutnya sambil menahan sesak didadanya.
Harry langsung menunduk dan melanjutkan makannya saat melihat mata istrinya yang menikamnya namun bibir istrinya menyungging senyum manis bak madu. Harry hafal, lebih baik Dini marah daripada Dini diam. Harry merasa salah, karena ga pernah bisa menolak perintah mamanya. Dia merasa salah karena ga bisa mengambil sikap tegas. Dan Harry sangat menyesal kenapa saat dia tertekan dia melarikannya kembali ke hal-hal yang tak disukai Dini yaitu minum dan main perempuan. Dia pikir dengan menyalurkan emosinya pada perempuan ****** diluar sana pikirannya bisa sedikit ringan.
Setelah Amora selesai makan, dan Harry juga selesai makan siang, Harry menyuruh Dini makan, dia yang akan menjaga Amora. Dimeja makan Dini nyapa Leo yang duduk disebelahnya, “Gue mau kita ceritaan habis makan ini” bisik Dini, dijawab anggukan oleh Leo.
***
Dini melihat Harry dan mamanya serta Amora sedang diayunan diteras depan. Papa sedang menonton TV entah acara apa. Dini duduk di kursi ruang keluarga yang menghadap ke teras sehingga siapapun yang masuk akan terlihat olehnya dari jauh. “Yo, apa selama ini Harry sering kesini buat urus pesta besok” tanya Dini pada Leo..
Leo menghisap rokoknya dalam-dalam baru menjawab “Gue ga perlu jelasin, lu tau semua dari fakta tadi kan. Apa gunanya lo tanya ke gue hal yang udah jelas gitu” jawab Leo sarkas. Dia sendiri ga ngerti kenapa Harry ga bisa jadi laki-laki dewasa kalau udah didepan mama mereka, Harry selalu jadi anak laki-laki penurut, malah seperti kerbau dicocok hidungnya. “Gue capek bertindak jadi abangnya Harry sejak dia kecil. Dari dulu gue yang harus buka mata dia buat ngebantah maunya mama, tapi dia tetap aja begitu” Leo kembali mengisap rokoknya dalam-dalam.
Simak terus lanjutan cerita ini di bab selanjutnya ya
Makasih yanktie ucapkan buat yang selalu setia baca kisah ini
Jangan lupa kasih like dan vote serta komen ya
__ADS_1
Salam manis dari Jogja