CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
50 AKU GA INGIN NANAM BENIH DILADANG YANG SUDAH DITANAMI ORANG LAIN


__ADS_3

“Janji ya sayangku. Muah muah deh buatmu. Daaag” kata Steve menutup telpon. Sejak dulu memang mereka memanggil sayang dalam sapaan mereka. Teman-teman yang mengenal mereka tau, sehingga ga aneh atau cemburu. Dini memang supel dan mudah membuat siapapun jatuh hati padanya. Namun sejak dulu Steve yang seumuran Harry, atau 3th lebih tua dari Dini, sadar mereka berbeda agama, oleh karena itu sejak awal dia membentengi dirinya untuk tidak jatuh cinta pada gadis pujaan banyak pria tersebut.


“Lo kenapa ga mau ngomong ama Dini” tanya Leo pada Anto, walau sejak awal dia tau Anto tidak akan terima, tapi dia sengaja melakukan hal tersebut untuk mengetahui sikap Anto.


“Lo tau kan, gue bilang ga akan hubungi Dini lebih dulu saat ini. Biar dia lebih tenang dan gue juga tenang, gue belum siap liat dia hancur untuk kedua kalinya. Gue takut gue yang nangis saat telpon ama dia” jelas Anto.


Hari ke 10 sejak menikah, hari ini hari Senin, Anto mulai masuk kerja sejak cuti menikahnya. Dia menyiapkan pakaiannya sendiri. Sesudah selesai bersiap dia menuju ruang makan, dilihatnya ada secangkir kopi dan setangkep roti dengan selai kacang yang Shinta siapkan untuk sarapannya. “Kamu kuliah jam berapa?” tanya Anto tanpa melihat pada istrinya, dia sarapan sambil membaca judul judul berita pada koran pagi yang dia pegang.


“Honey, apa aku ga begitu penting buatmu?” tanya Shinta, “Kamu ga pernah bersikap manis, ga pernah kasih attensi padahal yang aku tau dari cerita-cerita Sari kamu itu romantis. Kamu tanya ke aku tapi ga lihat wajahku.”


“Saya kurang apa? Kamu ingin saya nikahi, sudah saya nikahi kan?” tanya Anto. “Dari awal saya sudah kasih tau ga bisa kasih kamu cinta, dan kamu terima, attensi ga akan terjadi tanpa cinta. Kamu harus sadar itu” jelas Anto sambil berdiri. Dilipatnya koran dan dia bawa untuk dibacanya di kantor.


“Kopimu belum habis dan rotimu sama sekali belum kamu makan” protes Shinta pada suaminya.


Anto tak menjawabnya, dan Shinta pun ga salim pada suaminya di hari pertama Anto bekerja sejak mereka menikah. Anto semakin sadar dia telah salah pilih istri. Tapi dia punya prinsip menikah itu bukan untuk main-main, jadi dia ga akan sembarangan menyudahi pernikahan. Walau sampai hari ini dia belum pernah berniat melakukan hubungan suami istri dengan Shinta.


2 minggu lebih sudah Shinta menjadi istri Anto, hari ini Jum’at malam sehabis makan malam. Pengantin baru yang lain akan saling bermanja atau bercengkerama mesra, tapi tidak dengan rumah tangga mereka. Anto selesai mencuci piring, dia selalu melakukan semua pekerjaan yang belum dilakukan istrinya. Sehabis itu di ngelap meja dan menyapu lantai ruang makannya. Sesudah itu dia menghampiri Shinta yang sudah duduk manis di depan TV.


“Matikan TV, saya mau bicara” perintah Anto pada istrinya.


Shinta memandang Anto sebentar, lalu mematuhi perintahnya, dia matikan TV walau ga suka, karena dia ingin menonton sinetron kesukaannya.


“Saya pernah tanya jadwal kuliahmu, kamu ga kasih, tapi saya tau kamu selalu pergi keluar setiap saya berangkat kerja. Kalau kamu kuliah pagi, kan kita bisa bareng? Kalau kamu gengsi naik vespa butut saya, kita bisa naik mobil kan, saya ga mau naik mobil karena saya pergi sendirian, lebih nyaman dengan vespa, ga kejebak macet. Dan seminggu ini saya lihat menu masakan kamu beda dengan menu masakan saat saya masih cuti, saat saya ada di rumah. Dari mana kamu dapat lauk itu, saya yakin kamu ga beli melainkan dapat kiriman atau kamu ambil ke rumah ibumu kan?” tuduh Anto. Dia paling ga suka ada kebohongan apapun.


Shinta kaget mendapati suaminya tau kebohongan yang dia lakukan sesuai dengan arahan ibunya. Dia sangat takut, dia ingat 3 syarat menikah dengan Anto di hari pertunangan mereka.

__ADS_1


“Jangan diam, jawab pertanyaan saya” lanjut Anto, sambil menyalakan rokoknya.


“Aku ... aku ....”


Lama hening.


“Kamu tau konsekwensi kamu melanggar 3 syaratku kan? Dari awal saya bilang kamu harus mendengar kata saya, kamu harus bertindak sebagai istri kalau ga ingin saya memutuskan pernikahan kita. Tapi kamu ga dengar kata-kata saya, kamu ga patuhi ketentuan saya bahkan kamu membiarkan ada intervensi dirumah tangga kita, ini pilihan kamu kan untuk mengakhiri pernikahan ini?” tantang Anto setelah ga sabar menanti Shinta bicara. Sejak tadi dia sudah menggunakan kata ganti saya, bukan aku.


“Honey aku minta maaf” sahut Shinta sambil terisak.


“Maaf bila hanya dimulut itu ga ada guna, sejak kamu menyanggupi syarat yang saya minta, saya ragu akan ketulusan kamu. Apa saya bisa yakin saya laki-laki pertama untukmu? Atau malah dirahimmu sudah ada benih dari orang lain sehingga kamu mengejar status menikah tanpa pikir syarat yang saya ajukan teramat berat untuk kamu penuhi?” tuduh Anto lebih keras lagi.


Shinta bersimpuh dikaki Anto dan memohon maaf, dia meyakinkanAnto bahwa dirinya masih suci. Namun Anto sudah keras hati. Dia sudah curiga sejak awal, Shinta demikian mudah menyanggupi syarat yang ga mungkin Shinta lakukan.


“Kamu tau mengapa saya ga menyentuhmu sejak kita nikah?” tanya Anto namun lama ga ada jawaban dari Shinta.


DUUAAAARRRR!!!!!


Bom menghantam kepala Shinta, dia ga sanggup mengangkat kepalanya mendengar pengakuan Anto. Dia lemas dan tiba-tiba pandangannya gelap.


Anto menelpon ibu Gita mertuanya, setelah dia membopong Shinta kedalam kamar mereka. Ibu Gita segera datang kerumah anaknya. Tak lupa Anto menelpon kakak iparnya, suami mbak Rina untuk datang memeriksa Shinta.


Bu Gita datang berbarengan dengan Rina dan suaminya yang seorang dokter.


“Shinta kenapa de?” tanya Rina gugup.

__ADS_1


“Duduk dulu bu” sapa Anto sambil salim kepada mertuanya. “Duduk mbak, mas” ajak Anto pada kakaknya.


“Ga periksa Shinta dulu?”


“Biar mas Imron aja yang periksa, ibu dan mbak duduk saja di depan, aku bikinkan minum dulu ya,” balas Anto sambil mengajak kakak iparnya ke kamarnya, lalu meninggalkannya untuk membuat teh dan membawanya ke ruang depan sambil menunggu mas Imron selesai memeriksa.


“Gimana pa?” seru mbak Rina pada suaminya yang sudah selesai memeriksa adik iparnya. Suaminya duduk disebelahnya, meminum teh hangatnya lalu tersenyum.


“Selamat ya de, kamu bakal jadi seorang ayah” jelas mas Imron bahagia.


“Alhamdulillaaaaaah” seru mbak Rina dan bu Gita bersamaan. Mereka bertiga ga sadar Anto dan Shinta baru menikah 2 minggu saja.


Anto terdiam, wajahnya kaku, ternyata benar dugaannya, dia dijebak untuk hal yang tidak dia lakukan.


“De, koq diem, koq ga bahagia sih dapet rejeki cepet?” tanya mbak Rina, dia sadar dirinya kosong 1 tahun aja rasanya berat, karena mertuanya tiap bulan selalu tanya sudah hamil belum?”


Anto mengangkat wajahnya, menarik nafas panjang. Ditatapnya mertuanya dengan datar. “Kita tunggu Shinta sadar ya, dan aku minta ga ada yang bertanya apapun, apalagi kasih tau kehamilan ini padanya. Tunggu sampai aku selesai bertanya padanya” jawab Anto lirih.


“Diminum bu tehnya, sama ini martabaknya aku taruh sini, ibu sempet-sempetnya lho bawa martabak,” kata Anto.


 Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini, wowwwwwwwww ... kalaupun Anto pernah nyentuh, nikah baru 2 minggu ga mungkin udah jadi kan? Atau kalau udah jadi ya baru berumur seminggu kali ya?


Biar ga penasaran ikutin ceritanya di bab berikutnya yaa


Jangan lupa like dan vote serta komennya

__ADS_1


Inget pesan yanktie, jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul  KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR  ya


__ADS_2