CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
39 BUKAN KAPASITASKU MEMAAFKANMU


__ADS_3

Pagi ini sipir memanggil, ada yang berkunjung katanya. Gue malas, karena selama ini yang datang hanya mama, mama dan mama saja. Pernah sekali mama datang dengan Vionne, tapi selebihnya hanya mama sendirian, papa dan Leo benar-benar tak perduli lagi ke gue. Itu memang salah gue, terlebih Leo yang selama ini selalu mensupport gue untuk kembali benar namun selalu gue tentang. Adik gue itu memang selalu baik, sekarang dia sudah terlalu kecewa sejak gue menyakiti Dini untuk kesekian kalinya.


Gue dibawa keluar oleh sipir untuk menemui tamu, gue teramat kaget melihat wajah manis yang selalu gue rindu ada didepan mata gue. Seakan tak percaya, benarkah dia pujaan hati, apa gue ga sedang bermimpi?


Dini mengambil tangan gue untuk cium tangan, oh my God, dia masih sesantun ini ? Tak terasa gue menangis melihat dia datang hari ini, lebih-lebih melihat perlakuannya ke gue.


Wajah cantik yang sangat gue rindukan hampir selama 3 bulan perpisahan kami. Gue tarik tangan mungilnya saat dia mencium punggung tangan gue, gue ingin bisa lebih dekat, gue ingin memeluknya dengan erat namun gue coba tahan untuk saat ini, gue takut dia menolak,  gue cium keningnya dengan meja yang memisahkan kami. Gue bisa mencium aroma tubuh dan parfumnya yang selama ini sudah menjadi candu buat gue.


“Gimana khabarmu?” tanya Dini, dia duduk disebrang gue “Aku bawain ini, semoga kamu suka” lanjutnya sambil menyerahkan kotak makan dan sebotol juice jambu yang gue pastikan itu buatannya.


“Kamu sehat kan bund, Amora sehat? Ayah kangen” kata gue sambil memperhatikan badannya yang sedikit berkurang bobotnya, gue merasakan dia sedikit kurus saat ini. Apa dia menderita karena ejekan orang-orang yang tahu suaminya dipenjara? Pasti dia menderita karena kelakuan gue. Gue semakin merasa bersalah padanya.


“Alhamdulillah Amora sehat, dia sudah lancar jalan, sudah bisa nyanyi dan ini photo tumpengan ultahnya minggu lalu” jawab Dini sambil menyerahkan beberapa photo terbaru Amora. Gue terima photo-photo itu, gue lihat cantiknya bidadari kecil gue,  gue pandangi wajah innocent nya, gue lihat tawa bahagianya diphoto tersebut. Gue dekap photo itu sambil gue bayangin mendekap tubuh gemuknya. Tak bisa gue bendung air mata ini, gue merasa sangat berdosa pada gadis kecil gue itu. Gue sangat merindukannya.


Sosok mungil inilah yang membuat gue berkesempatan mempunyai keluarga kecil bahagia. Karena kehadiran Amora diperut Dini membuat gue pernah hidup teratur dan bertanggung jawab. Gue rindu masa-masa itu. Maafkan ayah nak, sehingga ga bisa mendampingimu saat ini.


Gue beranikan bertanya pada Dini : “Boleh ayah minta sesuatu?” sambil gue genggam jemarinya diatas meja.


“Silahkan aja, tapi aku belum tentu bisa mengabulkannya” jawabnya datar, gue bisa merasakan kalau permintaan gue akan ditolaknya, namun tetap akan gue ajukan permintaan gue, terlepas dia akan mengabulkannya atau tidak.

__ADS_1


“Ayah mau minta maaf, dan ayah minta kita kembali seperti dulu” gue memohon padanya sambil menatap mata beningnya yang dulu merupakan momok untuk gue tatap. Gue paling takut melihat hujaman matanya.


“Sepertinya hal ini ga perlu dibahas lagi, kamu sudah tau jawabannya. Ingat waktu kita mau nikah, aku sudah bilang ga akan nolong saat kamu jatuh lagi dan ga akan maafin kesalahan kamu bila kamu kembali ga benar” jawabnya lugas walau lirih, namun jelas terdengar.


“Ingat waktu kamu bilang cuma memulai merokok, aku bilang sehabis rokok pasti kamu akan kembali ke narkoba dan perempuan karena kamu ga pernah tulus meninggalkan semuanya, sekarang terbuktikan? Kamu sudah ga jujur, aku temuin ******, lalu bau alkohol dan bau rokok. Kalau saat kamu dapat tekanan, kamu cerita ke aku, kamu share semua kesulitanmu, tentu kita bisa cari solusi sehat bersama. Tapi kemana kamu saat tertekan? Kamu cari pelampiasan sendiri, kamu cari jalan keluar sendiri dengan minum dan narkoba” keluhnya.


“Aku menyesalkan saat itu. Saat kamu ga jujur padaku dan lari dari kesulitan dengan jalan yang salah” jawabnya setajam pedang menikam jantungku. Pupus sudah harapanku mendapat pengampunan darinya. Ini memang kesalahanku. Ini memang kebodohanku.


“Bukan aku ga mikir tentang masa depan Amora, tapi aku sudah finish, sudah final pemikiranku tentang kelangsungan rumah tangga kita. Sejak aku tau kamu dan mami merencanakan pesta dibelakangku, aku merasa kamu sudah menjadikanku keset kaki. Aku merasa sudah dianggap sampah oleh suamiku sendiri. Dan sejak saat itu, kamu sudah mati di hatiku” dia menghela napas sejenak.


“Apalagi mami malah mendorongmu untuk kembali berhubungan dengan Sarah dan Sarah dengan bangganya cerita didepan semua orang kehangatan pergulatan kalian di ranjang, itu titik balikku. Jadi please jangan berharap lagi. Keputusanku bukan karena kamu sudah jadi napi, tapi jauh sebelum sekarang.” lanjut Dini.


“Aku sudah minta papa memberitahukanmu soal gugat cerai, tapi karena posisimu saat ini seperti ini, biar aku yang mengajukan gugat cerai. Aku harap kamu tau, ini aku lakukan karena tindakanmu, bukan karena status napimu. Oh ya satu lagi, aku juga tau malam saat ditangkap kamu sedang berbuat mesum dengan pelacurkan? Haha serendah itu aku dimatamu, sehingga digantikan oleh pelacur, itu tak termaafkan. Sorry” jelas Dini sinis.


Gue diam mendengar kata-kata terakhir Dini, bahkan saat itu guepun tidak tau siapa perempuan yang making love ama gue, yang gue tau gue mabok dan ada perempuan yang mendekat lalu memegang juniorku sehingga dia terbangun, dan tentu saja harus segera gue lepas peluru gue, gue ga perduli dengan siapa gue  akan melakukannya.


“Forgive me please” gue sangat malu padanya karena ga bisa memanage emosi dan libido gue.


“Saat ini bukan kapasitasku untuk memaafkanmu. Aku sudah mengikhlaskan semua yang terjadi, aku mengikhlaskan aku akan menjadi janda saat usia seperti sekarang. Yang harus kamu mintakan maaf adalah pada Amora, anakku itu akan kehilangan sosok ayahnya, apa pernah kamu pikirkan? Jangan karena hal itu lalu kamu mengusulkan agar tidak usah bercerai demi Amora. Kalaupun tidak cerai, dia akan tetap tersiksa karena kamu bukan ayah yang baik untuknya, karena permasalahannya bukan ada atau tidak ada kamu disisinya melainkan adalah perilaku kamu yang sangat tidak baik untuk perkembangannya kelak” jelas Dini menjawab permohonan maafku.

__ADS_1


Perih ….


Gue merasakan sangat perih saat mendengar Dini menyebutkan kata anakku, bukan anak kita saat membicarakan Amora. Dini benar-benar sudah menganggap gue tidak ada. Gue merasakan luka dihati disiram alkohol, sangat perih.


“Waktu berkunjung habis!” seru penjaga memberitahukan para pengunjung untuk segera pulang.


***


“Aku pamit dulu, jangan lupa ini dimakan” kata Dini pamit sambil menyodorkan bawaannya tadi, Dini kembali mencium tangan Harry. Harry mencium kening istrinya, dan disempatkannya pula mencium kedua pipi istrinya sebelum terakhir dia lama mencium puncak kepala Dini sambil menangis. Dia melihat Dini berbalik badan dan menjauh dari dirinya.


***


Simak terus lanjutan cerita ini di bab selanjutnya ya


Makasih yanktie ucapkan buat yang selalu setia baca kisah ini


Jangan lupa kasih like dan vote serta komen ya


Salam manis dari Jogja

__ADS_1


__ADS_2