CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
61 PAMIT


__ADS_3

61 PAMIT


Anto melihat HP nya dan mencari data panggilan agar jawabannya lebih akurat. “Jam 13.42 pak” kata Anto sambil memperlihatkan layar HP nya kepada polisi tersebut


“Saya rasa keterangan yang disini sudah cukup. Apa bisa kita melihat kardus yang diminta korban untuk dibawa ke kamarnya di rumah bu Gita?” tanya polisi tersebut


“Bisa pak, mari kita kesana bersama” jawab bu Gita.


“Saya juga akan ikut, bapak mohon standby disini sampai saya kembali” kata Anto pada bapak mertuanya. Karena ga mungkin Shinta ditinggal tanpa ada yang menjaga, takutnya saat dokter mencari keluarga pasien tidak ada yang bisa dihubungi


***


Polisi beserta Anto, ART, dan bu Gita membuka pintu kamar Shinta dan melihat kardus yang dilakban terletak di meja belajar Shinta, sebelum membuka polisi membuat photo barang bukti terlebih dahulu


Di dalam dus terdapat semua ijasah Anto, surat-surat kepemilikan rumah, 2 BPKB mobil dan BPKB motor Anto, album2 photo, kunci mobil milik Shinta dan kunci motor Anto, surat nikah serta 1 amplop tertutup rapat yang ditujukan pada Anto dan bu Gita


“Mohon suratnya di buka pak” perintah polisi kepada Anto. Antopun mengikuti perintah polisi tersebut, membuka amplop serta mengeluarkan isi surat


Assalamu’alaykum wr wb


Mas Anto dan ibu


Maaf, Shinta pamit melalui surat, Shinta ga mampu pamit sambil memandang ibu dan mas Anto. Shinta teramat malu dan sangat malu


Mas Anto, maaf kalau rumahmu hancur, Shinta berani melakukan ini setelah lihat ternyata rumah yang kita tinggali bukan rumah kontrak, melainkan rumah milik pribadi mas Anto, andai ini rumah kontrak tentu Shinta akan mengambil jalan lain misal menabrakan diri di jalan tol atau jalan lainnya


Maafkan Shinta yang membuat mas harus terikat pernikahan konyol ini, Shinta mencintai mas, Shintapun ga tau kalau sudah ada janin diperut saat kita nikah, jadi saat itu Shinta bukan menjebak mas agar bertanggung jawab terhadap bayi yang entah milik siapa ini.


Shinta sangat malu, itulah sebabnya Shinta ga ingin membuat anak ini menjadi beban mas nantinya, walau ini bukan anak mas, Shinta yakin mas tetap akan menyayanginya.


Semua surat berharga, ada di dus ini sedang barang berharga lainnya seperti kamera milik mas dan lain-lain ada di lemariku, sudah Shinta bawa sedikit demi sedikit sejak seminggu lalu.

__ADS_1


*Semoga setelah ini mas bisa hidup bahagia, sekali lagi maafkan Shinta yang telah membuat mas kecewa


Ibu, Shinta minta maaf yang teramat dalam karena telah membuat ibu kecewa dan malu terhadap keluarga mas Anto atas kejadian kehamilan ini*


Shinta teramat malu bu, Shinta ga ingin ini terus berlanjut


Mohon ibu dan bapak memberikan ganti rugi atas kerusakan yang Shinta bikin di rumah mas Anto yang sengaja Shinta bakar. Shinta tau membangun dan mengisi lagi rumah itu tetap ga akan sebanding dengan sejarah yang mas Anto miliki karena dia membangun rumah itu dengan tabungannya sendiri sejak pertama bekerja, namun setidaknya kerugian materilnya bisa kita ganti untuk mengurangi kerugian immaterilnya. Shinta tau pergantian itu akan ditolak mas Anto, tapi Shinta mohon penggantian itu harus dilaksanakan agar Shinta bisa sedikit tenang


Sampaikan sungkem Shinta untuk bapak


Sekali lagi maaf kan Shinta yang mengambil jalan ini


Shinta


Bu Gita menangis histeris setelah Anto membaca surat itu dan menyerahkannya pada bu Gita agar membacanya sendiri


Polisi kembali membuat photo barang bukti surat tersebut


“HP saya di tas mbok, saya telpon bapak dari kamar Shinta saja” kata bu Gita cepat. Di telponnya nomor suaminya yang sedang menjaga Shinta di ICU. “Assalamu’alaykum pak, ada info baru kah” tanya bu Gita pada suaminya


“Shinta kritis” jawab suaminya


“Ibu kesana sekarang” kata bu Gita sambil kembali menangis. “Nto, Shinta kritis!” katanya lirih


“Ya bu, ayok kita kesana, ibu mau bareng saya atau dengan pak Budi?” tanya Anto sambil membawa dus yang terletak di meja belajar Shinta, dia mengamankan surat-surat berharga, takut tercecer saat dia tidak ada


“Ibu dengan pak Budi saja” jawab bu Gita


Di mobil Anto menghubungi Steve, Sari serta mas Imron, mengabarkan kondisi Shinta saat itu


***

__ADS_1


“Lo dimana? Masih di pengadilan agama?” tanya Anto saat sambungan telpon nya ke Steve terhubung.


“Engga, baru masuk mobil, udah pisahan ama Dini. Ada apa bro?” tanya Steve


“Shinta kritis” sahut Anto


“Lo telpon adek lo suruh siap di depan kampus biar gue ga kelamaan, gue jemput dia di kampus lalu langsung ke rumah sakit” sahut Steve cepat. Tadi saat Steve menghubungi Sari gadis itu baru saja selesai mata kuliah dan ingin pergi ke perpustakaan lebih dulu


Tanpa basa basi Anto langsung menutup sambungan telponnya dengan Steve dan memencet nomor Sari. “Assalamu’alaykum de” sapa Anto pada Sari


“Wa alay’kum salam, kenapa mas?” jawab Sari


“De, Shinta kritis, Steve minta kamu sekarang tunggu dia di depan biar dia ga lama nunggu kamu, dia sudah on the way ke kampusmu. Mas langsung matikan ya, mau mengabari yang lain” kata Anto tanpa menunggu jawaban adiknya


Sari yang baru akan keluar dari ruang kuliahnya menuju perpustakaan segera berbalik arah menuju parkiran. Sari sampai di parkiran berbarengan dengan mobil Steve yang memasuki area kampusnya. Sari langsung membuka pintu mobil Steve tanpa menunggu Steve turun untuk membukakan pintu


“Hallo, koq cepet bang, katanya tadi baru selesai di pengadilan agama” kata Sari sambil masuk mobil.


“Anto telpon pas abang mau masuk mobil, tadinya mau pulang dulu ambil baju ganti sambil nunggu kamu ke perpustakaan” jawab Steve. “Kita ga mampir makan, kita belikan aja 4-5 porsi makan siang di café depan rumah sakit ya? Gimana? Anto juga pasti belum makan, karena tadi dia dan polisi ke rumah Shinta” kata Steve


“Perkembangan tentang kebakaran apa bang?” tanya Sari


“Tadi Anto cuma bilang dia on the way  ke rumah Shinta karena saat sebelum kebakaran Shinta nyuruh ART bawa barang ke rumahnya, habis itu dia belum cerita lagi, kayaknya trus dapat telpon tentang kondisi Shinta jadi dia langsung balik ke rumah sakit” jawab Steve


“Bang, beli makan didepan aja, itu lebih enak daripada yang di café depan rumah sakit” tiba-tiba Sari meminta Steve untuk berhenti di rumah makan sunda. Steve menepikan mobilnya sesuai permintaan Sari dan mereka turun. Sari memesan 7 kotak makan dan 7 es lemon tea serta juice Alpokat untuk dirinya dan juice sirsak untuk Steve


“Sambil nyetir minum juice nya bang, untuk ganjel biar ga kosong perutnya" perintah Sari sambil memberikan gelas juice yang sudah diberi sedotan kepada Steve. Steve ga memegang gelas itu, hanya mengarahkan sedotan ke mulutnya serta meminumnya sedikit lalu menyudahinya. “Nanti lagi” kata Steve


“Janji habiskan sebelum sampai rumah sakit ya” sahut Sari. Steve hanya menganggukan kepalanya tanpa menjawab


Di parkiran rumah sakit  Sari kembali menyodorkan gelas juice pada Steve. “Habiskan sebelum turun” perintahnya

__ADS_1


__ADS_2