CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
CUMA


__ADS_3

Yanktie sampaikan SELAMAT MEMBACA


Akhirnya khusus untuk besok Dini meminta Harry menjaga Amora di rumah, toh Harry besok tidak ada jadwal pendaftaran atau apa pun di kampusnya. Sedangkan pekerjaannya sangat fleksibel waktunya karena dia hanya marketing freelance saja. Dan Dini juga tidak lama, karena hanya isi KRS, belum mulai kuliah.


***


Harry sukses menjaga Amora siang tadi, dia bilang Amora anteng. Tentu saja itu prestasi yang patut diapresiasi.


Malamnya Dini mulai merasa galau, nanti kalau perkuliahan sudah dimulai lalu bagaimana dengan Amora? Apa dia berhenti kuliah aja? Sayang banget pikirnya, dia baru selesai tiga semester karena semester ke empat kemarin dia cuti. Dia tidak mau berhenti kuliah, tapi di sisi lain dia tidak tega ninggalin princessnya.


Dini merasa Harry tidak memikirkan kesulitannya ini. ‘Dia enggak sadar atau masa bodoh ya? Dasar alien enggak peka,’ maki Dini dalam hati. Dia jadi uring-uringan sendiri karena ketidak pekaan suaminya.


“Kamu kenapa Yank, dari tadi koq semua yang Ayah kerjain selalu salah menurutmu?” tanya Harry setelah tidak betah sejak tadi mendengar Dini ngomel tanpa kejelasan.


Selain masalah kuliah, sebenarnya Dini juga kesal karena sering mencium bau rokok di baju Harry setiap dia pulang kerja. Dini menduga Harry mulai kembali merokok, yang menurutnya sangat merugikan karena sekarang mereka sudah harus mulai membeli susu formula untuk Amora, bukankah sayang uang yang dibakarnya dengan cara membeli rokok?


“Aku enggak suka kamu mulai merokok lagi” jawab Dini tegas.


“Itu cuma sesekali koq yank, dan lebih banyak dikasih teman aja” kilah Harry santai.


“Kalau hanya sesekali, enggak akan seperti itu bau bajumu. Dan lagi kalau dikasih teman ya bilang saja kamu sudah berhenti merokok. Apa kamu malu atau kecewa kalau dikatain banci karena enggak ngerokok? Apa lebih penting anggapan teman-temanmu dari pada aku dan Amora?” sengit Dini.


“Ayah tau, Ayah selalu salah di matamu,” jawab Harry menjengkelkan.


“Jangan langsung menyerah gitu. Bilang sejujurnya, kamu mulai beli rokok lagi kan?”  cecar Dini.


“Iya, sesekali” jawab Harry pelan.

__ADS_1


Dini sangat kesal mendengar perkataan Harry, apa Harry benar-benar enggak mikir panjang bila uang yang dia belikan rokok bisa ditabung untuk membeli sussu anaknya?. “Kamu enggak mikir. Sedikit uang yang kamu jajanin rokok itu bisa di akumulasikan untuk beli sekaleng suusu Amora?” tanya Dini.


“Kamu egois, kamu tau aku enggak pernah beli novel? Enggak pernah jajan coklat atau ice cream lagi demi menghemat. Bahkan sejak menikah aku enggak pernah beli sepotong baju pun demi Amora sejak dia di kandunganku,” sengit Dini lagi.


“Aku tau selama ini aku enggak menghasilkan uang karena aku enggak kerja, oleh karena itu aku simpan erat semua uang yang kamu berikan. Tapi bukan berarti uang yang kamu pegang juga bebas kamu gunakan se enaknya, kamu juga harus bisa menghemat,” lanjutnya.


“Apa aku salah bila focus utamaku saat ini Amora?” Dini bertanya di sela isaknya.


“Aku akan berhenti kuliah. Aku akan cari pembantu yang enggak menginap dan aku akan mencari kerja!” jelas Dini lagi tanpa jeda dan tanpa memberi kesempatan Harry untuk bicara.


“Udah ngomelnya?” akhirnya terdengar suara Harry setelah lama Dini diam.


“Fine, Ayah kembali ngaku Ayah salah. Ayah enggak mikir panjang soal suusu dan semua kebutuhan Amora. Ayah akan stop kembali,” janjinya cepat.


“Dulu, aku pernah bilang, keterpaksaanmu bekerja, keterpaksaanmu berhenti mabok, keterpaksaanmu berhenti main perempuan, keterpaksaanmu berhenti merokok akan ada batasnya, kamu pasti akan kembali pada kebiasaan itu bila kamu melakukannya tidak ikhlas.” cetus Dini mengingatkan Harry tentang perkataannya saat mereka baru menikah dan pindah kerumah kontrakan ini.


Harry diam terpaku mendengar kata-kata terakhir Dini. Dini tahu Harry mulai tertekan hidup susah versinya. Karena dia sekarang terpaksa bertanggung jawab pada dua nyawa. Belum lagi tekanan segera selesai kuliah agar bisa segera mencari pekerjaan yang lebih baik. Dan juga tekanan keluarga besarnya yang meminta mereka tinggal bersama keluarganya, sejak tahu Dini akan kuliah lagi. Dini sadar suaminya sosok yang lemah. Bukan lemah fisik tapi lemah pendiriannya. Ditekan sedikit Harry akan goyah!.


Dini tahu bila Harry mau kembali hidup di bawah atap orang tuanya dia tidak  perlu kerja keras, hanya cukup kuliah dan masih bisa bersenang-senang merokok, beli narkoba tanpa perlu bingung uang dari mana karena uang saku mingguannya lebih dari cukup untuk semua kebutuhannya itu.


Dini tau semua itu akan Harry dapatkan, karena sekarang saja dia masih sering mendapat jatah yang diberikan mamanya secara sembunyi-sembunyi karena Dini melarangnya. Dini ingin Harry belajar mandiri, dia ingin Harry belajar bertanggung jawab. Dini ingin Harry menjadi pemimpin keluarga yang tangguh.


Mami serta bapaknya Dini juga masih sering kasih uang, tapi selalu dia simpan untuk kebutuhan mendadak yang Amora butuhkan nanti. Punya anak kecil harus ada dana cadangan, itu prinsip Dini. Itulah sebabnya setiap dikasih uang Dini tidak pernah gunakan untuk kebutuhan sehari-hari melainkan langsung dia simpan ditabungannya.


“Yank, koq kasar begitu ngomongnya? Apa aku enggak boleh salah? Apa aku enggak bisa jadi Ayah yang baik untuk Amora?” rajuk Harry.


“Bisa, asal kamu mau pakai otakmu sedikit aja!” jawab Dini kesal.

__ADS_1


“Jangan bertindak tanpa pemikiran panjang, umumnya laki-laki bertindak dengan logika, tapi kamu?” tanya Dini menggantung.


“Cuma karena aku merokok kamu sekasar itu?” tandas Harry kali ini.


“Ya, sekarang CUMA merokok, habis ini apalagi? Kalau semua kamu anggap cuma, perbuatan lainnya akan terus kamu lakukan tanpa rasa bersalah, tanpa pikir panjang.”


“Awalnya cuma minum dikit karena enggak enak ditawari teman, selanjutnya akan mulai mabok lagi. Awalnya cuma sekedar kongkow lama-lama akan kembali bersentuhan dengan perempuan genk mu itu.”


“Awalnya hanya sentuh tangan, lalu lanjut elus lengan, awalnya hanya cium pipi selanjutnya cium bibir dan akhirnya kembali bergelut di ranjang kan? Semua itu berawal dari cuma!  Sadar enggak sih?” jerit Dini kalap karena Harry selalu menganggap semua hal itu sepele.


Amora menangis, mungkin dia kaget karena suara bundanya yang semakin keras. Dini  berlari ke dalam dan bergegas menyusuinya agar Amora kembali tidur. “Princessnya Bunda kaget ya? Maaf ya cintaku, suara Bunda kekerasan ya?” bisik Dini sambil menepuk-nepuk pahanya pelan.


Sehabis Amora kembali tidur, Dini mengambil HP nya, sekarang baru mulai ada HP sebagai alat komunikasi. Masih jarang yang memiliki karena masih barang mewah dan sangat mahal, tapi Dini memaksakan diri membelinya karena rumah kontrakan mereka jauh dari wartel dan tidak ada telpon rumah.


Di charge nya HP-nya karena tadi seharian di luar rumah HP nya menjadi lowbat. Dini menggunakan uang tabungannya untuk memiliki benda mahal ini.


Dini berpikir keras mencari solusi persoalan penjaga Amora, dilihatnya jam, baru jam sembilan malam, dia berharap maminya belum tidur. Dihubunginya nomor telepon rumah maminya.


“Assalamu’alaykum,” suara papi terdengar di ujung sana.


========================================= 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2