
Esok paginya Shinta segera bersiap, MUA yang akan meriasnya sudah datang padahal baru jam 8 pagi dan acara akan dimulai jam 11 agar selesai acara pas dengan jadwal makan siang.
Shinta mengenakan kebaya hijau lumut, warna kesukaannya, ibunya pun memakan kebaya serupa dengan warna yang lebih tua, sedang keluarga Anto akan memakai kebaya dengan warna senada dengan bu Gita.
***
Dirumahnya Anto melihat kemeja yang harus dia gunakan hari ini, kemeja polos berwarna hijau sangat muda dilapis dengan jas hitam dan dasi salur hijau tua. Sebenarnya dia ga suka warna ini, tapi dia tetap memakainya tanpa protes. Dia akan melaksanakan kewajibannya berbakti pada ibunya.
Padahal kalau dia menolak pun mamanya ga akan marah, karena ini bukan perjodohan dari mamanya. Dia pikir biarlah dia berkorban, toh dia sudah tak punya keinginan untuk mencintai seseorang lagi. Dia pikir sebagai perempuan Shinta tidak mengecewakan, cukup cantik, terpelajar, dan supel. Hanya semua itu ga sebanding dengan cinta kecilnya. Seperti Dini yang mendapatkan pasangan yang bukan typenya, Shinta juga bukan type Anto. Gadis ini ga suka baca, ga suka musik dan puisi, ga suka elektro, ga suka camping. Hobby Shinta nge mall, dandan dan makan, hobby yang ga disukai Anto maupun Dini.
Anto dan keluarganya datang ke rumah Shinta sesuai dengan jadwal yang disepakati. Anto tercengang dengan kondisi yang dia rasa sangat berlebihan, baru lamaran saja sudah pasang tenda dan meja prasmanan penuh saung, apa keluarga Shinta mengundang banyak orang? Sedang rombongan keluarga besar Anto saja ga sampai 20 orang. Rasanya kalau hanya 2 keluarga besar, ga perlu pasang tenda. Rumah Shinta sudah cukup luas, paling sewa sedikit kursi bila dibutuhkan. Anto kecewa dengan gaya hidup keluarga calon istrinya ini. Sekali lagi dia membandingkan dengan keluarga Dini yang selalu bersahaja walau ga berkekurangan, malah bisa dibilang sangat kaya.
Mama Anto juga kaget akan persiapan yang dibuat oleh calon besannya, dia ga nyangka akan seperti ini. “MasyaAllah, mewah sekali mereka mempersiapkan acara lamaran, bagaimana nanti dipernikahan?” desisnya.
Ternyata Rina mendengar kata-kata mamanya. “Kemaren ga bilang akan seperti ini ma?” tanyanya.
“Engga, mereka hanya kasih seragam lalu bilang acara akan dimulai pukul 11 jadi kita diminta sudah ada disini pukul 10.45. Kalau tau akan seperti ini mending kita minta bertemu di rumah makan aja, cukup 2 keluarga inti seperti acara lamaranmu dulu” sahut mamanya. Ini terlalu berlebihan, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik dan tidak disukai Allah” bisiknya pada putri sulungnya. “Lamaran pakai seragam aja mama sebenarnya sudah ga suka. Mereka terlalu ngatur, terlalu dominan. Semoga Anto ga tunduk dengan keluarga besar istrinya nanti” lanjut mamanya.
“Jadi inget Dini dan keluarganya ya ma” bisik Rina pada mamanya.
Prasetyanto POV
Aku ga punya rasa was-was ataupun gugup apalagi bahagia menjelang hari pertunanganku besok. Entah ama nama perasanku saat ini. bahkan saat kenaikan kelas saja ada rasa yang berbeda untuk menyambutnya. Saat kuliah dulu, saat semester baru aku pasti punya sensasi rasa tersendiri menyambut hari baru. Namun menyambut acara lamaranku besok aku ga merasakan sesuatu yang special sama sekali. Hatiku sudah beku. Aku sudah tak memiliki cinta untuk lawan jenisku. Cintaku sudah menguap sejak Dini menikah hampir 5 tahun lalu, saat aku di semester terakhir kelas 4 STM.
Ku ambil gitarku, teman setia bila aku gelisah, kupetik nada untuk lagu The way you look at me dari** christian bautista** ( cari ya lagunya biar tau perasan Anto saat ini seperti apa ).
No one ever saw me like you do
All the things that I could add up too
I never knew just what a smile was worth
But your eyes say everything
Without a single word
'Cause there's somethin' in the way you look at me
It's as if my heart knows
You're the missing piece
You make me believe
That there's nothing in this world I can't be
I never know what you see
__ADS_1
But there's somethin' in the way you look at me
If I could freeze a moment to my mind
It'll be the second that you touch your lips to mine
I'd like to stop the clock make time stands still
'Cause, baby, this is just the way
I always wanna feel
'Cause there's somethin' in the way you look at me
It's as if my heart knows
You're the missing piece
You make me believe
That there's nothing in this world I can't be
I never know what you see
But there's somethin' in the way you look at me
I don't know how or why
All I know is it happens every time
'Cause there's somethin' in the way you look at me
It's as if my heart knows
You're the missing piece
You make me believe
That there's nothing in this world I can't be
I never know what you see
But there's somethin' in the way you look at me
The way you look at me
Kubayangkan tatapan mata Dini yang ga pernah lepas dari ingatanku. Tatapan saat dia terluka dengan tragedy di lapangan basket, tatapannya ketika berada dipelukan saat kami baru aja melakukan first kiss kami, tatapan sedihnya saat dia lapor dia sudah menikah, dan tatapan marahnya saat aku ingin selalu berada disisinya dengan menjadi adik iparnya. Semua tatapannya selalu membuatku ingin memeluknya.
__ADS_1
Aku merindunya, sangat merindunya. Seperti apa kondisinya saat ini, anaknya umur berapa ya, mungkin sekitar 3 tahun lebih, karena terakhir ketemu dia baru hamil 3 minggu. Anaknya perempuan atau lelaki ya? Apa dia gapapa saat melahirkan?
Oh tuhan aku sangat merindunya, masihkan dia milikku?
Kembali kupetik gitarku, kuingat lagu lawas milik Koes Plus, aku kembali
Masihkah kau kumiliki
Aku rindu aku rindu
Akan pasti aku kembali
Sabarkanlah kau menanti
Hanya engkau pilihanku
Hanya aku kekasihmu
Risau jangan di hatimu
Seperti doaku slalu
Dengarkanlah rintihanku
Rintihan dalam hidupku
Salamku tetap milikmu
Kekasihku kekasihku
Masihkah kau kumiliki
Aku rindu aku rindu
Akan pasti aku kembali
Sabarkanlah kau menanti
Ku simpan kembali gitarku, aku ga ingin mama mendengar aku bermain gitar dengan lagu yang akan membuatnya tau kalau aku merindukan Dini. Kucoba untuk tidur, walau terlampau sulit. Kucoba membuka buku cerita detektif untuk membuat mataku lelah sehingga cepat tidur.
***
Pagi-pagi kulihat mama dan mbak Rina sibuk berdandan, sementara kulihat Sari hanya menyisir rambut seadanya tanpa sanggul seperti mama dan mbak Rina. Mereka mengenakan kebaya hijau dengan warna agak berbeda, warna kebaya mama lebih tua daripada warna kebaya mbak Rina dan Sari. Bagiku ketiga wanita ini sangat cantik, terutama mama, ga pernah aku bosan memandang wajah teduhnya. Namun tetap ada satu wajah yang kurindu, wajah kekasih kecilku yang sekarang menghilang di sapu badai.
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini. mau tunangan koq galau tho Maz? Koq malah wajah mbak Dini sih yang dibayangin?
Ikutin ceritanya di bab berikutnya yaa
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote serta komennya
Inget pesan yanktie, jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya