CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
73 SOMETHING – BEATLES


__ADS_3

73  SOMETHING – BEATLES


Disinilah mereka saat ini, duduk di tikar lesehan di alun-alun kidul atau yang biasa disingkat Alkid. 3 mangkok wedang ronde, 2 jagung bakar, 2 porsi sosis bakar sudah terhidang di meja mereka. Mereka bercanda ria, mengingat mereka baru saja melakukan ritual jalan dengan ditutup matanya. Ke Alkid tanpa mencoba ritual tutup mata rasanya ga afdol. Sedang asyik bercerita datang 3 orang pengamen ke meja mereka menyanyikan lagu titip rindu buat ayah dari ebiet g ade, belum selesai lagu itu Steve menyuruhnya berhenti. “Bisa ganti lagu ga?” pinta Steve


“Lagu apa mas” tanya si pengamen


“Minta **SOMETHING **dari beatles\, bisa?”  tanya Steve


“Bisa, tapi ga begitu hafal liriknya e mas” kata pengamen yang menjadi penyanyi dari mereka bertiga


“Soal lirik tenang aja mas, mbak e ini hafal seratus persen” jawab Steve, dia memang paling tau, sejak SMA Dini paling suka lagu itu, kalau bukan penggemar berat beatles ga akan tau lagu yang ga terlalu mencuat ini. Dini yang ditunjuk Steve malah jadi serba salah


“Wis mas, sambil duduk aja, kita nyanyi bareng” ajak Anto


Something in the way she moves


Attracts me like no other lover


Something in the way she woos me


I don't want to leave her now


You know I believe and how


Somewhere in her smile she knows


That I don't need no other lover


Something in her style that shows me


I don't want to leave her now


You know I believe and how


You're asking me will my love grow


I don't know, I don't know


You stick around now it may show


I don't know, I don't know


Something in the way she knows


And all i have to do is think of her


Something in the things she shows me

__ADS_1


I don't want to leave her now


You know I believe and how


( SOMETHING – BEATLES )


Lalu entah berapa lagu lagi mereka nyanyikan bersama, sebelum Steve kembali request lagu lawas dari The Mercys dengan judul Bilakah


“Wah malah ga tau mas” kata pengamennya


“Pinjam gitarnya mas” pinta Steve, ketika pengamennya memberikan gitar pada Steve, Steve menerimanya tapi diberikan pada Anto. “Mainin, lagu lo kan ini” katanya meledek Anto, mengatakan lagu bilakah menyuarakan isi hati Anto


Anto memainkan intronya perlahan sambil memandang Dini, yang dipandang menunduk lalu pura-pura mengaduk wedang rondenya


Bilakah


Bilakah saatnya


kita kan hidup


hidup bersama


tak kan berpisah lagi


tak kan terasa sepi


seperti saat yang


yang begini


kau selalu terbayang


kekasih aku rindu


bila kelak


kau dekat denganku


betapa senangnya hatiku…


Bilakah, bilakah


bilakah saatnya


kita kan hidup


hidup bersama

__ADS_1


tak kan berpisah lagi


tak kan terasa sepi


Seperti saat yang


yang begini…


Steve yang memang biasa menyanyi di café melantunkan suara emasnya. Steve menawari pengamen itu untuk memesan wedang ronde, tapi mereka menolaknya. Lalu Steve memberi mereka uang yang pastinya cukup besar untuk waktu yang mereka buang dimeja Steve.


Dini diam terpaku mendengar Steve menyanyikan lagu yang Steve bilang menyuarakan isi hati Anto. Masih mungkinkah mereka bersatu, sedang dia sudah punya anak? Dini menepis pikiran itu, dia ga mau berandai-andai, walau dia berpikir, apa tujuan Anto ke Jogja selain ingin menemani Steve dalam perjalanan pindah kota? Apakah Anto punya tujuan mendekatinya kembali? Mungkinkan  mereka masih bisa bersama?


***


Setelah hari Sabtu puas bermain di pantai Parang Tritis ( Paris ) maka hari ini sesuai jadwal Steve ingin Dini menemaninya belanja kebutuhan dapurnya. Dini membawa Steve ke Carefour, agar bisa sekalian membeli barang-barang diluar kebutuhan dapur


Dengan 2 jagoan menemaninya, Dini membebaskan pengasuh Amora di rumah. Mereka berbelanja semua kebutuhan lalu makan siang di food court. Selesai makan hendak menuju mobil Anto melihat toko pakaian anak-anak, dia menarik tangan Dini untuk masuk dan melihat-lihat. Anto memilih beberapa gaun juga setelan casual untuk Amora, walau Dini mencegahnya, namun tetap aja Anto mengukurkan baju yang dia inginkan ke badan Amora. “Sepatu ga usah maz, kemarin baru aja beli dan dia belum pakai” cegah Dini. Anto ga mendebatnya, cukup dia memaksakan membeli baju, kalau ditekan terus Dini bisa marah padanya.


Di Condong Catur ( Concat ) Dini mengatur barang-barang dapur ke lemari disana, yang perlu masuk ke kulkas dia masukankan kulkas. “Wah, serasa punya bini kalau gini” goda Steve pada Dini. “Lo jadi bini gue aja ya” lanjutnya lagi


“Siapa takut” balas Dini menggoda Steve


“Woiii bro, kalah telak lo, dia mau jadi bini gue” kata Steve pada Anto sambil terkekeh. Anto yang sedang menemani Amora makan ice cream juga tertawa mendengar canda mereka. Sesekali dia mengelap mulut Amora dengan tissue basah


“Habis ya, sekarang cuci tangan lalu bobo” kata Anto. Mess yang Steve tempati berupa paviliun kecil dengan 2 kamar dan garasi, tidak tergabung dengan mess induk yang seperti kamar kost. Mungkin karena jabatannya berbeda dengan para staff yang tinggal disana. Jadi bila yang menduduki jabatan kepala cabang sudah berkeluarga, maka mess yang diperuntukkan cukup memadai karena terdiri dari 2 kamar tidur selain dapur, ruang makan, ruang tamu dan garasi tadi


Anto mengajak Amora tidur dikamar tengah yang sudah dirapihkan Dini. Karena lelah dan kenyang, tanpa banyak penolakan Amora langsung terlelap. Anto keluar kamar, dilihatnya Dini sedang membuat pisang panggang untuk teman ngopi sore ini. Diperhatikannya wanita yang sudah mencuri hatinya sejak dia SMP itu, dia membandingkan Dini dengan almarhumah Shinta. Istrinya itu, sudah resmipun ga pernah mengambilkan nasi saat mereka makan bersama, apalagi bikin masakan. Ga kebayang bila benar Dini perempuan pujaannya itu jadi istri Steve. Ga kebayang dia harus kehilangan kesempatan untuk kedua kalinya.


“Udah bobo maz?” tanya Dini saat hendak membawa teh dan pisang panggang tabur keju keruang tamu, rasanya nge teh sore di meja makan koq ga pas. Di paviliun ini ga ada ruang keluarga, jadi TV pun diletakan di ruang tamu


“Udah, kecapean dia, jadi langsung bobo” jawab Anto


Steve yang masih sibuk dikamarnya, keluar begitu mencium aroma pisang panggang yang Dini bikin. “Baunya menggoda iman nih” celetuknya


“Ya udah, kamu nikmatin baunya aja ya” kata Dini sambil mengambilkan Anto pisang dipiring kecil


“Kamu tu bini durhaka tau, bukannya ngeduluin suaminya malah ngasih selingkuhannya duluan” goda Steve


“Aku pulang naik taxi aja ya, kamu ga usah anter” kata Dini ambil menyerahkan piring kecil berisi pisang bakar keju ke Steve


“Ya ga gitu juga kaleee, tetap aku anter,” kata Steve. “Lo nginep mana Nto?” tanya Steve pada Anto


“Sama aja sih, nginep Concat atau Bumijo, sama-sama ditinggal kerja” kata Anto. “Tapi di Bumijo masih lumayan ada Amora” lanjutnya lagi


“Jadi karena Amora nih, bukan karena mommy nya?” goda Steve


“Pastinya, kalau hal itu ga perlu dibahas, apalagi diperdebatkan” kata Anto memastikan. “Karena gue ke Bumijo, kami naik taxi ajalah, biar lo ga bolak balik, jauh juga kan dari sini” kata Anto

__ADS_1


Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini


Jangan lupa like dan vote nya ya


__ADS_2