
HAPP READING
Dini terbangun dengan rasa sakit teramat sangat di **** * nya. Pakaiannya acak-acakan dan kepalanya sangat pusing. Apa yang terjadi?
Dini melihat Harry duduk dipinggir tempat tidur yang dia tempati, laki-laki itu sedang merokok dan memandanginya tanpa bersalah.
Dini menjerit dan melempar bantal padanya. “Lo jahat! Lo ba-jing-an! Kenapa lo lakukan ini? Salah gue apa sampe lo tega begini?” tanya Dini marah sambil berteriak tapi berupaya tidak menangis.
“Salah lo banyak. Lo enggak cinta ke gue, lo enggak mau jadi pacar gue. Jadi satu-satunya jalan lo harus gue kerjain biar lo enggak bisa tinggalin gue,” sahut Harry santai.
‘Ini yang maz Anto prediksi, Harry memang bajingan, dia enggak peduli perasaanku, yang penting kemauannya tercapai,’ pikir Dini.
Dini membereskan pakaiannya. Dia melihat bercak darah di sprei. Jangankan berbuat tak sopan seperti ini, berciuman pun tak pernah dia lakukan dengan siapa pun sebelumnya.
Tapi sekarang selain daerah intimnya, dia merasakan bibirnya juga bengkak.
‘Apa tadi Harry melumat bibirnya sepuasnya?’ batin Dini. Dia harus segera pulang, sudah jam delapan malam, papi bisa marah kalau tau dia belum pulang selarut ini.
Dini segera keluar kamar dan mengambil tas kuliahnya di ruang tamu. Lalu langsung keluar rumah Reyhan. Tak dia temui mamang di depan rumah. Dini langsung pulang tanpa pamit. Harry? Laki-laki itu tak perduli. Jangankan menahannya dan membujuk untuk mengantarnya pulang, keluar kamar pun dia tidak.
Benar-benar ba-jing-an. Sesudah memperkosanya Harry tak peduli akan dirinya.
Masih dia tahan air mata ini agar tak jatuh selama di bajay tadi. Sampai rumah Dini langsung mandi dan mengurung diri di kamar.
‘Mengapa nasibku seburuk ini? Bukankah aku enggak pernah berbuat jahat ke orang lain, kenapa aku diperlakukan jahat?’ tanya Dini pada dirinya sendiri.
Di kamar baru Dini menangis sepuasnya. Dia tak tau akan cerita pada siapa? Mau ngadu ke siapa?
__ADS_1
Esoknya Dini kesiangan, baru bangun jam enam pagi padahal jam pertama praktikum anatomi hewan di mulai jam delapan. Bergegas mandi dan sarapan roti dia langsung kabur ke kampus. Memang Rawasari ke Rawamangun hanya sepuluh menit. Tapi dia harus sudah ada di ruang laboratorium pukul 07.30 untuk mempersiapkan semua bahan karena jadwal kelompoknya piket hari ini.
Untung tak terlambat, baru ada Nirmala dan Khariri, Yuli belum sampai, setidaknya dia tak bakal kena amukan teman kelompoknya.
Dini melalui hari-harinya dalam diam. Tak pernah dia ceritakan tragedi itu pada siapa pun. Beberapa kali dia atau Yuli melihat bayang Harry di kampusnya. Harry dan Dini beda universitas, jadi jelas tujuan Harry ke kampus Dini hanya untuk membayanginya.
Tiga minggu sejak hari naas itu Dini sering pusing. Dia pikir pasti kelelahan menjelang ujian semester.
Penasaran kenapa pusingnya tak sembuh-sembuh padahal sudah minum obat, Dini mencoba periksa ke poliklinik kampus, yang kebetulan letaknya dekat dengan ruang laboratorium. Dia beneran hanya sekedar iseng periksa mumpung dekat. Ditemani Yuli dia mendaftar konsul. Untung saat itu sepi jadi tidak lama antrinya.
Saat di panggil Dini tak berpikiran aneh, dokter memeriksa nadinya, dan bertanya : “Sudah nikah mbak?”
‘Kenapa dokter tanya gitu ya? Kenapa aku ngeluh pusing koq dokter tanya tentang pernikahan?’ batin Dini bingung.
“Belum Dok, pacar aja tidak punya,” jawabnya ringan. Karena memang itu kenyataannya.
“Mbak saya kasih surat rujukan ke rumah sakit ya. Langsung ke Obgyn saja, karena saya mendekteksi anda sedang hamil. Sementara untuk pusingnya saya kasih obat yang aman aja untuk bayinya,” terang dokter itu dengan sabarnya.
Dini diam dan tak bisa menjawab pertanyaan Yuli yang menyambutnya di depan ruang pemeriksaan. Yuli memang tak ikut masuk ruang periksa.
“Enggak apa-apa koq Uni. Hanya kecapean aja. Sudah dikasih obat pusing dan vitamin tambah darah oleh dokter,” jawab Dini. Dia masih bingung. Bagaimana bila memang dia benar-benar hamil seperti perkataan dokter didalam ruang periksa tadi?
‘Aku harus gimana? Aku enggak ingin menggugurkan bayi ini. Namun aku juga enggak akan minta pertanggung jawaban Harry. Tapi bagaimana menjelaskannya ke mami dan Bapak?’ Dini hilang akal buat cari solusi ini sendiri.
‘Tak mungkin aku cerita ini ke Maz. Harus bagaimana aku menghadapi hal ini?’ Sejuta tanya Dini batinkan.
Mereka berjalan pelan di trotoar kampus menuju ke kelas selanjutnya yaitu mata kuliah FISTUM ( Fisiologi Tumbuhan ). Ini mata kuliah paling serem untuk Dini semester ini. Tiap semester pasti ada matkul horor. Entah karena beratnya praktikum, dosennya killer atau banyak hal lain.
__ADS_1
Banyak mahasiwa tak lulus mata kuliah ini, jadi di kelasnya saat ini banyak senior yang terpaksa mengulang mata kuliah ini. Bahkan ada yang saat ini sudah mengulang dua kali.
Setiap proses pelajaran Dini selalu ambil posisi duduk di kursi belakang. Bukan buat ngobrol, tapi biar dia bisa lebih jelas menerima materi mata kuliah. Entah mengapa bila duduk di depan dia malah sulit menyerap materi yang dosen berikan.
Namun bila saat quis atau ujian Dini selalu ambil duduk di depan, biar tidak terganggu teman yang minta jawaban. Terserah mau dibilang pelit atau egois, tapi itulah prinsipnya, dia cape-cape belajar, ngapain ngasih ke orang lain.
“Uni, besok aku enggak masuk ya. Besok mata kuliahku hanya satu jam sepuluh, Ekologi, copyin catatanmu ya, kasih ke aku lusa” pinta Dini pada Yuli.
“Kenapa Din? Enggak biasanya bolos di mata kuliah dosen killer?” tanya Yuli bingung. Sahabatnya itu tak pernah membolos. Sekalinya akan mbolos malah dimata kuliah dosen killer.
“Aku ada perlu ke Bapak, mau ke kantornya, jadi harus pagi-pagi,” jawab Dini memberi alasan. Besok dia ingin ke rumah sakit yang jauh dari rumahnya. Dia tak ingin ketemu seseorang yang dia kenal dan melihat dia konsultasi ke dokter kandungan.
Esoknya Dini bergegas berangkat jam tujuh pagi. Semalaman dia memikirkan hendak kemana. Akhirnya dia putuskan ke RS Fatmawati di ujung Selatan Jakarta. Untungnya dia tidak mengalami morning sicknes seperti ibu hamil pada umumnya.
Dia tak mengalami mual-mual di pagi hari, hanya pusing di beberapa hari kemarin saja. Semoga saja diagnosa dokter di klinik kampus salah. Semoga dia tidak hamil, harapnya.
Serius dia takut saat menanti giliran di periksa. Dokter memeriksanya dengan seksama, dan menjelaskan bahwa dia memang hamil dengan usia kandungan 2 minggu.
‘Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Aku ingin teriak,’ kata Dini dalam hatinya.
Pulang dari rumah sakit Dini bingung mau kemana, dia berputar-putar Jakarta dengan bus, tak tentu arah, tanpa ingat makan. Sore baru dia berniat pulang. Tapi bukan langsung pulang ke rumahnya, dia malah langsung ke rumah Anto. Jam lima sore dia sampai rumah Anto. Ternyata yang dicarinya belum pulang. Dini menunggu sambil berbincang dengan mamanya Anto yang sibuk nyiram kebunnya.
\==================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta