
Hai hai para kesayangan yanktie, sehat semua kan? Bagaimana puasa kalian sampai hari ini?
Terima kasih sudah selalu setia mengikuti cerita sederhana ini. Kenapa yanktie selalu menyampaikan terima kasih untuk yang selalu setia membaca dan memberi like saat kalian selesai membaca bab cerita ini? Karena ada notif siapa aja yang kasih like.
Kemari ada yang nanya kenapa koq updatenya pendek bangeeeeet, serasa belum puas udah habis ceritanya. Kemarin-kemarin yanktie agak kurang fit, jadi memang hanya menulis 500-600 kata saja untuk update tiap bab. Tapi sekarang sudah bisa kembali 1000 kata per bab koq. Semoga tidak bosan menunggu verita selanjutnya ya. Sekarang kita ikutin terus keseruan bab ini. Selamat membaca!
Yanktie mohon sehabis baca bab langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….
Maturnuwun.
--------
Vionne yang masih memendam rasa jadi tersipu, dia melihat Anto tetap saja pria yang dulu dia suka. Pria yang tak pernah memandangnya dengan rasa suka, membuat Vionne malah penasaran. Anto berbeda dengan semua teman Leo dan Harry yang selalu memandangnya penuh damba dan kagum. Itu alasan utma Vionne tergila-gila pada pria dingin itu. Bagaimana Anto mau naksir perempuan lain sedang sejak SMP cinta dan perhatiannya hanya untuk Rahdini seorang? “Eh, Yank, kenalin ini Anto suami Dini,” Vionne berupaya menutup kegugupannya dengan bergayut manja pada Ferry.
“Ferry,”
“Anto.”
***
“Suka?” tanya Anto, dia menatap istrinya dalam
“Suka bangeeeeeeeeet. Maz kan tahu sejak dulu aku suka kue tradisional.” Jawab Dini sambil mengunyah kerak telor panas yang baru Anto berikan padanya. Mereka sedang duduk berdua di Monas. Tadi sehabis dari gedung resepsi, Anto sengaja tidak langsung kembali ke hotel, tapi membawa istrinya ke Monas. Dulu saat mereka SLTA, Dini suka duduk di rerumputan Monas, di bawah pohon rindang dan bercerita apa pun. Mereka sering jajan gorengan yang saat itu lebih umum di pikul bukan di gerobak seperti saat ini. Pernah suatu kali mereka ke Monas masih pakai seragam masing-masing. Saat itu tanpa sengaja Dini baru turun dari bemo di muka jalan menuju rumahnya dan berpapasan dengan Anto yang mengendarai vespanya menuju rumah. Sama-sama pulang sekolah. Akhirnya sepakat jalan membuang kepenatan sehabis ulangan semester.
__ADS_1
Puas jajan di Monas, Anto mengajak istrinya kembali ke mobil. Tanpa tujuan, persis seperti ABG labil yang kabur dari rumah orang tuanya. Mereka keliling Jakarta hanya melihat banyaknya perubahan pembangunan di kota kelahiran mereka itu. Mereka berbincang menelusuri kota yang tak akan mungkin mereka lupa. Menyusuri daerah yang dulu sering mereka lalui. Anto juga sengaja mengelilingi taman Suropati, taman tengah kota tempat dia dan Dini bercerita bila tak ingin ada yang mendengar. Termasuk cerita ketika Dini hamil. Dini memegang erat tangan kiri suaminya. Dikecup jemari imamnya. Dia merasa bersyukur memiliki Anto dalam hidupnya.
“Kenapa? Ingat saat cerita kehamilan Moya?” tanya Anto saat merasa jemarinya dikecup lembut.
“Iya Maz, aku ingat saat itu. Aku bersyukur saat itu punya kamu tempat curhat segala gundahku. Dan bersyukur saat ini memiliki kamu sebagai imamku,” jawab Dini sambil memeluk erat lengan kiri suaminya dan disandarkannya kepalanya pada bahu kekasih masa kecilnya itu.
“Aku bersyukur sejak dulu mencintai kamu dan tak pernah berpaling pada siapa pun,” balas Anto sambil mengecup selintas kening istrinya. Dia tak bisa lama mengecup istrinya karena takut berbahaya bila hilang fokus saat sedang mengemudi.
“Aku juga sejak dulu hanya cinta ke Maz dan enggak pernah berpaling koq.” Dini mengemukakan perasaannya tak mau kalah. “Kalau pernah ada Robby, Harry dan mas Dhar, mereka dekat, tapi ‘kan enggak aku cinta seperti aku cinta ke Maz. Dan lagi aku pacaran ama Robby karena ditolak Maz! Kalau enggak ada kasus ‘dia adek gue’ aku ga bakalan pacaran ama Robby. Kalau enggak pacaran ama Robby, enggak bakal Harry minta aku ke Maz, kalau pun dia minta, Maz enggak bakal ngijinin aku buat Harry kan? Dan kalau enggak ada kasus itu, aku juga enggak akan lihat sosok dewasa mas Dhar buat gantiin Maz.”
Anto mendengar celoteh istrinya yang sedang ngomel jadi merasa bersalah. Dia tahu, semua yang dikatakan istrinya benar. Andai saat itu dia tak merasa malu mengakui Dini memang kekasihnya, tentu jalan berliku tak akan mereka lalui. Tapi mau bagaimana lagi, itu takdir mereka. Harus ada Moya sebagai awal mereka berpisah dan juga awal bagi bersatunya mereka ke jenjang halal. “Maz ngaku salah, karena itu kebodohan yang sampai kapan pun enggak akan Maz lupakan. Tapi itu juga takdir kita. Karena kesalahan itu kita punya bidadari kecil bernama Amora. Dia yang membuat kita berpisah, dan dia pula yang menyatukan cinta kita. Kalau ditanya apa Maz menyesal pernah mengatakan itu, jawaban Maz adalah IYA. Maz menyesal pernag berkata seperti itu. Namun di sisi lain Maz bersyukur akan keberadaan Moya, dia rizky yang patut kita jaga sepenuh hati,” telapak tangan kiri Anto memegang pipi kiri istrinya yang masih bersandar dibahunya.
“Sudah berapa kali Maz minta maaf soal itu ‘kan? Jangan pernah sesali lagi ya?” pinta Anto, yang dijawab Anggukan oleh Dini.
“Iya Maz ngerti. Semoga aja kita selalu bisa bersama hingga bia melihat anak cucu kita dewasa ya?”
***
Seminggu berada di Jakarta, bermain ke beberapa wahana anak-anak untuk membuka wawasan Moya dan Arya. Saat ini mereka sudah kembali ke rumah teduh mereka di Bumijo Jogja. Segala penat mereka lepas hari ini, hari Sabtu siang, mereka sengaja istirahat penuh. Besok pagi masih bisa sedikit beristirahat lalu sore mulai bersiap untuk kegiatan rutin di hari Senin.
Sabtu sore Sari dan Steve datang, dia mampir karena baru periksa hamil. Tentu saja kedatangannya membuat Anto dan Dini tak bisa melanjutkan tidur. “Kami kemarin ke rumah Opa, tapi kami juga bertemu di pestanya Leo.” Anto bercerita pada Steve, sementara Dini sedang membuatkan juice buah Naga yang dibawakan Sari. Dia juga menggoreng pisang goreng bagi adik-adik iparnya.
“Bagaimana kesehatan kandunganmu De? Sehat ‘kan?” tanya Dini. Di kehamilan kedua ini Sari terlihat lebih fresh, mungkin karena sudah pengalaman dan kehamilannya juga tidak rewel.
__ADS_1
“Sehat Mbak, sudah dekat HPL, sudah waktunya kontrol tiap Minggu,” jawab Sari sambil ngemil buah naga.
“Kemarin oma bilang minggu depan dia akan datang, dia ingin menemanimu saat melahirkan nanti,” cerita Dini.
“Iya, sudah sejak bulan lalu oma bilang, semoga aja cece nya ini mau menunggu kedatangan oma tuanya datang. Bukan keluar duluan sebelum oma tua datang,” balas Sari.
“Owh kalau dalam bahasa Menado mamanya oma disebut oma tua? Beda dengan Ambon ya, kalau di Ambon disebut oyang,” Dini jadi ingat panggilan untuk mamanya mantan mertua saat dia bersama Harry.
“Hehe, aku enggak tahu Mbak, aku kadang suka tanya Steve aja, agar enggak salah sebut,” jawab Sari, mereka berjalan ke teras belakang, karena para suami sudah duduk di sana.
“Anak-anak belum pada bangun, padahal biasanya hari gini sudah main ya,” cetus Harry sambil mengunyah pisang goreng hangat.
“Mereka terlalu cape, dan tadi tidur sehabis makan. Jadi anteng tidurnya, kalau perut lapar lalu tidur, pasti tidurnya enggak lelap,” Anto menjawab sambil ikut mencicipi pisang goreng buatan istrinya.
“Kemarin aku ngajak oma berangkat bareng aja, tapi oma bilang sayang sudah pesan tiket untuk 5 hari lagi. Padahal aku bilang bisa di cancel dan dipotong admin, oma tetap tidak mau,” Dini bercerita kalau sudah membujuk oma agar ada teman dalam perjalanan ke Jogja nanti.
“Iya, 5 hari lagi oma berangkat, kami juga sudah mempersiapkan semua yang akan oma butuhkan di kulkas. Dia pasti akan ribut bikin masakan bagi ibu habis melahirkan dan menyusui,” jelas Steve tentang perilaku ibu penggantinya itu. Dengan para keponakan saja oma paling sibuk bila ada yang melahirkan, lebih-lebih nanti untuk Sari, cucu berasa anak. Pasti oma akan heboh sendiri. Steve dan Sari sudah membayangkan itu sejak sebulan lalu saat oma bilang akan mendampingi Sari.
“Daddy …,” Moya yang bangun tidur langsung duduk di pangkuan Daddy nya dan memeluk tubuh heronya lalu kembali memejamkan matanya. Anto mengusap lembut punggung Amora agar kembali bisa lelap. Kadang memang begini kelakuan Amora, berjalan untuk pindah tidur.
------------------------------------------------
Terima kasih sudah selesai membaca bab ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.
__ADS_1
Salam manis dari Jogja