CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
164 SALAH UCAP LAGI


__ADS_3

Hai hai para kesayangan yanktie, sehat semua kan?  Bagaimana puasa kalian sampai hari ini?


Terima kasih sudah selalu setia mengikuti cerita sederhana ini. Kenapa yanktie selalu menyampaikan terima kasih untuk yang selalu setia membaca dan memberi like saat kalian selesai membaca bab cerita ini? Karena ada notif siapa aja yang kasih like.


Cepat sembuh ya mas Abbhie. Maem yang banyak biar infusnya cepat dibuka. Sekarang kita ikutin terus keseruan bab ini. Selamat membaca!


Yanktie mohon sehabis baca bab langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….


Maturnuwun.


--------


“Ayok Dadd, bukain baju Abbhie biar basuh dulu badannya.” Dini memberitahu kalau kebutuhan mandi Abbhie sudah siap. Anto perlahan membuka baju Abbhie. Agak sulit di tangan kiri karena ada botol infus. Mereka bekerja sama membasuh badan Abbhie serta memakaikan baju ganti. Sehabis mandi tugas Anto yang menyuapi Abbhie, sementara Dini bersiap untuk berangkat kerja. Andai tak ada ujian skripsi tentu dia bisa minta ijin. Dini sarapan dengan pelan, dia memperhatikan Abbhie sudah selesai makan dan minum obat. Saat ini putranya sedang bermain dengan mainan miliknya yang dibawakan mbak Warni.


Terdengar nada panggil di ponsel Dini. Suaranya pelan karena memang Dini tak ingin mengganggu sekitar dengan nada panggil dari ponselnya. Kalau sedang memberi kuliah dia gunakan getar saja. Terlihat caller id adalah mas dhar. “Ya, assalamu’alaykum mas. Apa khabar?” sapa Dini saat menerima panggilan seniornya saat d kampus dulu..


“Wah saya enggak bisa, kalau mau bisa bertemu di rumah sakit saja. Bungsuku sedang di rawat.” Jelas Dini. “Oke, jam besuk sore, nanti saya kirim alamat rumah sakitnya ya.”


Anto melihat ekspresi istrinya. Dia tahu yang menghubungi adalah mantan ketua HMJ yang dulu pernah dekat dengan Dini. Anto tak habis pikir, mengapa sejak kemarin mantan-mantan istrinya berseliweran di depannya? Sedang dia tak pernah punya mantan. Sejak remaja dia tak pernah pacaran karena sama sekali tak pernah tertarik dengan gadis lain selain Rahdini Mustika. Dini yang merasa diperhatikan Anto langsung memalingkan wajahnya dan menatap Anto dalam-dalam. Dia mendekati suaminya dan mencium pipinya sekilas. “Kalau aku berniat buruk, tentu aku enggak janjian disini, ada suamiku yang cemburuan. Bisa ganggu CLBK ku.” Bisik Dini. Dia terkekeh sambil memakai sepatunya. Dini mencari kunci mobilnya, dia salim pada suaminya tercinta.


Saat itu gantian Anto yang mencium pipi Dini sambil berbisik. “Buka blokiranku, kalau enggak, malah aku lebih sibuk dengan selingkuhanku.” Dini langsung mencubit perut suaminya.

__ADS_1


“Sakiiiit Mom, serius sakit!” keluh Anto. Cubitan Dini di perutnya sangat sakit.


“Kalau tahu aku nyubit pasti sakit, ya jangan bikin marah.” Cecar Dini. Dia tak main-main mencubit dengan cara menjepit lalu memutar sehingga pasti sangat sakit.


“Iya maaf. Daddy ‘kan cuma becanda. Enggak bakal ada selingkuhan koq.” Jawab Anto memastikan.


“Aku enggak suka. Aku paling takut dengar itu. Daddy ‘kan tahu.” Dini sangat marah, bercanda dia biasa, namun kalau sudah bicara tentang selingkuh dengannya, harus hati-hati. Karena Dini paling anti dengan perselingkuhan.


“Iya … iya, daddy mohon maaf. Daddy salah bercandanya.” Anto baru sadar dia melakukan kesalahan. Anto sedih karena Dini pergi kerja dengan wajah cemberut akibat marah dengan candaannya barusan.


***


Moya dan Arya rewel, mereka ingin nengok Abbhie di rumah sakit. Namun tentu hal itu tidak diijinkan. Maka eyang mereka sibuk membuat resep kue kering lalu mereka di suruh mencetaknya. Semua dilakukan  bu Rahma untuk membuat kedua cucunya lupa mencari orang tuanya yang sedang menjaga Arya. Bu Rahma membiarkan mereka bereksperimen yang penting tidak terlalu rewel minta ke rumah sakit. Dia sendiri jadi tidak bisa lagi nengok Abbhie. Dia sudah berniat akan ke rumah sakit saat kedua cucunya sekolah esok hari.


Dini pulang langsung ke rumah lebih dulu. Dia butuh skripsi yang dia bimbing dan beberapa materi lain. Tentu tak bisa meminta simbok mencarikan barang-barang itu. Dia bergegas menyalami mertuanya dan berkata hanya pulang untuk ambil bahan materi serta baju kerja dua hari ke depan. “Maaf, Ma. Aku enggak bisa lama. Kasihan Maz Anto dan Abbhie.” Dini ambil materi yang dia butuhkan dan berbincang sebentar dengan Moya. Kebetulan saat itu Arya sedang tidur siang. Sehabis ganti pakaian Dini segera berangkat, dia juga membawakan makan siang bagi Anto, dirinya sendiri serta mbak Warni. Namun Dini berharap Anto bisa keluar beli makan siang, atau menyuruh mbak Warni beli.


“Mbak, nurut sama Eyang ya. Mommy dan daddy terpaksa bobo di rumah sakit nemani adik Abbhie. Dia di infus, kalau malam juga masih rewel jadi Daddy atau Mommy enggak bisa sendirian jaga. Dari pagi yang jaga mbak War dan daddy karena mommy harus ngajar. Mommy minta mbak Moya ngerti ya sayang? Mbak Moya ‘kan bukan anak kecil lagi. Tapi karena belum 12 tahun, mbak Moya belum boleh nengok. Itu ketentuan rumah sakit.” Dini memberi pengertian pada anak sulungnya.


“Iya, eyang dan papa Steve tadi sudah kasih tahu. Tadi papa telepon sama eyang. Aku bicara ama papa. Papa bilang sebelum usia 12 tahun tidak boleh menengok orang sakit.” Amora memang cerdas. Tadi Steve memang menghubungi mertuanya, dia menanyakan apakah mama mau menengok Abbhie lagi tidak hari ini. Kalau mama mau ke rumah sakit, tentu dia akan mengantarnya.


***

__ADS_1


Dini sampai di rumah sakit sudah lewat waktu makan siang. Sudah pukul 15.04. Namun dia sendiri belum makan. Dini langsung meletakkan semua bawaannya. Dilihatnya Abbhie sedang terlelap. “Sudah makan Mbak?” tanya Dini pada mbak Warni sambil mencuci tangan dengan sabun. Dia lihat Anto sedang terbaring di sofa. Mungkin tadi dia sedang menonton televisi tapi tertidur saking lelahnya.


“Sampun, Bu. Tadi Bapak beli makanan saat habis dipanggil dokter.” Jawab mbak War, dia membuka kotak makan agar uapnya keluar, karena simbok membawakan makanan yang masih panas. Bisa cepat basi bila tidak segera di buka.


“Ya wis, sekarang semua baju kotor di beresin, mbak bisa pulang naik taksi ya. Besok pagi kesini seperti tadi. Karena besok dan lusa Ibu masih ada ujian skripsi.” Dini meminta mbak War berkemas. Kasihan asistennya tentu tak bisa relax selama di rumah sakit. Dini langsung makan siang. Dia tak ingin sakit, walau sejujurnya dia malas makan, namun dia memaksa agar makanan bisa ketelan.


‘Ibu, sudah hari gini aja belum makan siang. Andai Bapak tahu pasti akan ditegur. Untung Bapak sedang tidur. Mereka memang pasangan serasi dan saling menyayangi. Tak seperti  mantan suamiku. Kere tapi hobby selingkuh.’ mbak War membatin melihat Dini terlambat makan siang. Dia ingat mantan suaminya, tak punya pekerjaan tetap, tapi punya istri tiga. Maka dia minta cerai. “Ini sampun Bu,” mbak War sudah rampung membawa semua baju kotor serta tempat makan kotor. Dini memberikan uang untuk naik taksi. Lalu mbak War segera pulang.


“Kamu telat makan Mom?” Anto terjaga karena tanpa sengaja mbak War menutup pintu agak keras sehingga dia bangun.


----------------------


Terima kasih sudah selesai membaca bab ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.


Salam manis dari Jogja


Sambil nunggu yanktie update bab baru esok hari, coba deh mampir ke karya teman yanktie yang super keren ini, ga bakal nyesel baca ceritanya, judulnya  AKU TIDAK JELEK   karya  PIPIH PERMATASARI


Karena kecorobohan Aku yang berani mengungkapkan perasaannya terhadap Pimpinan Intern group membuat Aku di tolak mentah mentah, dihina sampai didorong masuk ke dalam kolam renang oleh seorang Juna Prakasa dan kekasihnya Olin Puspita. Aku pikir dia sama menyukaiku karena sudah berbuat perhatian lebih, ternyata dia hanya memanfaatkanku karena otakku pintar dan cerdas.


Akankah pembalas dendaman Aleena dan Veri berhasil membuat Juna berlutut dan menyesalinya?

__ADS_1



__ADS_2