CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
136 PERTEMUAN KETIGA MENCARI KEPASTIAN


__ADS_3

Halloooooooooo……..


Leo menjawab undangan Risye, dia tak gentar bila memang Risye tidak bersedia menerima keinginannya untuk langsung meresmikan hubungan singkat mereka. Gimana kelanjutan kisahnya? Ikutin terus di bab ini ya


Yanktie mohon sehabis baca BAB langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….


Maturnuwun.


-------------


Leo banyak menjawab pertanyaan ayah Risye, yang pastinya ingin tahu, teman yang di bawa oleh putri tunggalnya niatnya apa dan bagaimana kehidupannya. Selain Gilang memang Risye tak pernah mengajak teman laki-laki main ke rumahnya. Setelah selesai sarapan, Risye mengajak Leo duduk di halan belakang rumahnya yang asri, disana ada gazebo yang berisi bantal bantal bulat dalam jumlah cukup banyak. Di tengah gazebo ada meja kecil pendek. Rupanya di gazebo biasa duduk lesehan dengan bantal.


Risye bingung bagaimana memulai pembicaraan dengan Leo, padahal di benaknya banyak yang ingin dia bahas. Namun belum ketemu memulai dari mana? “Aku bingung mau mulai bicara dari mana,” Risye mulai membuka percakapan serius mereka setelah sejak tadi mereka hanya duduk diam.


“Ya bilang aja enggak perlu ragu, aku akan menerima apa pun keputusanmu koq,” jawab Leo santai.


“Aku boleh tanya, apa alasanmu mengajak berhubungan serius sedang kita baru dua kali bertemu dan sama-sama tidak tahu latar belakang masing-masing,” tanya Risye.


“Seperti yang aku bilang saat itu. Usia kita bukan remaja yang masanya pacaran. Dan banyaknya pertemuan bukan tolok ukur kita bisa menjalin hubungan serius atau tidak. Latar belakangku sepintas sudah aku kasih tahu, dan latar belakangmu aku sudah tahu sebagian dari Dini. Jadi kalau kamu enggak keberatan, kita langsung menikah, dan kita pacaran setelah resmi menjadi suami istri,” jawaban panjang Leo membuat Risye makin bingung.


“Tapi sifatku kan kamu belum tahu, apa enggak akan menyesal kamu minta orang yang tidak kamu kenal karakternya?” Risye masih berargumen.


“Aku cuma tidak suka dengan pembohong! Selain sifat itu aku masih bisa memaafkan dan mengerti kekurangan yang ada. Karena sikapku pun banyak buruknya. Yang penting kita bisa saling mengerti dan mau melengkapi,” jelas Leo.

__ADS_1


“Menikah itu enggak gampang Yo, kita harus mempersiapkan mental kita menyatu dengan dua keluarga besar, bukan hanya antar kita berdua,” Risye masih sulit menerima pemikiran Leo yang terlalu menganggap semua hal bisa di atasi dengan mudah. Sementara dia dengan pemikiran njelimetnya tentu tak bisa menerima begitu saja.


“Intinya begini aja. Aku tanya maumu apa ngajak aku bicara kali ini?” tanya Leo langsung ke pokok persoalan. Karena kalau mengikuti pola pikir Risye, apa yang akan dia bahas tak akan pernah terucap. “Kamu mau kita menjalani penjajagan, atau kamu menolak? Nanti setelah kamu jelas menyatakan kemana tujuannya baru kita bahas hal lain.”


Risye yang di todong seperti itu oleh Leo langsung gelagepan. Dia sadar, karakter Leo sangat tegas dan mendominasi dirinya yang selalu penuh pertimbangan dan ragu-ragu. Dulu Gilang selalu menuruti apapun yang dia mau tanpa membantahnya. Risye suka dengan sifat tegas Leo yang dia yakini akan membimbingnya ke arah yang lebih baik.


“Aku menerima kamu,” Risye menjawab lirih tanpa ragu namun malu.


“Ok, sekarang kamu ikut aku. Aku akan pertemukan kamu dengan kedua orang tuaku. Aku akan perlihatkan bagaimana keluargaku agar kamu tidak meraba dan salah sangka,” Leo langsung mengajak Risye untuk pergi ke rumahnya. Sebelum meninggalkan rumah Risye, Leo mengirim pesan pada papanya minta di siapkan makan siang bagi temannya.


“Kamu enggak pa-pa kan naik motor?” tanya Leo saat mereka akan meninggalkan rumah Risye.


“Enggak pa-pa koq,” jawab Risye. Walau dia model, naik motor bukan halangan baginya.


Leo menyesal tadi berangkat naik motor, karena udara siang ini sangat terik. Dia pikir tidak akan membawa Risye keluar rumah. Namun dia tidak ingin menunda sesuatu yang baru dimulai. Dia selalu ingin bergerak cepat namun tetap dengan perhitungan yang cermat.


“Pa, ini Risye, calon istriku,” Leo langsung memperkenalkan Risye sebagai calon istrinya pada papanya. Pak Peter menerima uluran tangan Risye, menariknya untuk masuk ke pelukannya. Risye tentu kaget menerima sambutan hangat seperti ini. Memang ibunya asli Menado, namun karena sejak kecil sang ibu biasa di Cimahi, maka ibunya lebih ke adat Sunda mengikuti garis suaminya, ayah Risye.


Mereka berbasa basi sebentar, lalu pak Peter meninggalkan Leo dan Risye di ruang tamu. Leo memperlihatkan Risye foto-foto yang berada di dinding ruang tamu. Ada bu Sandra dan pak Peter beserta tiga anaknya. Ada foto Harry, Dini dan Amora bayi. Semua Leo jelaskan. Leo juga menjelaskan mengapa mama dan Vionne sakit agar Risye tidak kaget melihat kenyataan kehidupannya. “Inilah hidupku, sekarang kamu sudah tahu, silahkan kamu mau lanjutkan terima kondisiku atau tidak. Kalau soal materi, aku tidak punya pendapatan lain selain gaji yang aku terima dari kantorku. Aku yakin gajiku cukup memberi nafkah keluargaku untuk hidup tidak berkekurangan walau tidak dalam kemewahan.”


“Den, di panggil makan siang,” seorang asisten rumah tangga memberi tahu Leo untuk makan siang.


Risye berjalan di belakang Leo, di meja makan dilihatnya pak Peter dan seorang gadis muda yang sedikit pucat sudah duduk terlebih dahulu. “Kenalkan, ini adikku Vionne,” Leo memegang bahu Vionne dengan lembut.

__ADS_1


“Hai,” sapa Risye, namun Vionne hanya melihat sekilas lalu langsung menunduk.


“Jangan berkecil hati, dia memang hanya seperti itu bila bertemu dengan orang baru,” pak Peter menjelaskan pada Risye kondisi putri bungsunya.  Dengan sabar dia mengambilkan Vionne nasi dan lauknya, baru dia mengambil untuk dirinya sendiri.


Risye mengambilkan nasi untuk Leo. “Segini?” tanya Risye dengan seulas senyum. Leo yang baru pertama kali diambilkan nasi oleh seorang perempuan yang berstatus calon istri tentu kaget. Namun dia segera sadar dan menjawab. “Sedikit lagi.”


Risye menambahkan sedikit nasi, dia mengambilkan lauk sedikit karena tidak tahu apa kesukaan Leo. Dia bertekad habis makan akan saling tukar info makanan kesukaan, warna kesukaan dan lain-lain.


Sehabis makan, Leo mengajak Risye berkenalan dengan mamanya yang juga baru selesai di suapi makan oleh perawatnya.


“Hallo Ma. Sudah selesai makan?” tanya Leo sambil duduk di sebelah kursi mamanya. Sejak bangun tidur pagi, suster akan mengajak mama keluar kamar untuk berjemur. Setelah itu mandi dan akan di bawa ke ruang televisi. Tidur siang sampai menjelang malam mama tidak akan berada di kamar papa. Hanya tidur malam saja papa membawa istrinya ke kamar. Tidur siang mama biasanya memilih berbaring di sofa depan televisi. Dia akan marah bila di arahkan tidur d kamar.


Mata bu Sandra melihat Leo selintas, lalu dia kembali menatap lurus. Leo meminta Risye duduk di kursi sebelahnya. “Ma, ini Risye, dia calon istri Yo. Yo berharap Yo bisa menikah dengan restu mama. Leo meletakan telapak tangan Risye diatas punggung tangan mamanya. Sekarang dua tangan bersatu dalam genggaman Leo. Tak ada reaksi bu Sandra, Risye membawa tangan bu Sandra dan mengecup punggung tangannya.


***


 --------------------


Terima kasih sudah selesai membaca BAB ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.


Sambil nunggu yanktie update, kita baca cerita menarik milik teman yanktie ini ya, judulnya  SAHABAT JADI NIKAH  karya ZAFA. yang menceritakan tentang perjodohan anak SMA


Ceritanya seru abis.

__ADS_1


------------------



__ADS_2