
“Fine, bukan hanya dia yang bisa emosi, aku juga bisa emosi! Aku merasa sudah diusir, jadi aku akan keluar dari rumah ini, ingat Amora masih dibawah umur jadi dia ikut aku. Terserah ayah mau bertahan disini, kita pisah mulai saat ini. Aku ga mau jadi benalu disini”
Dini bergegas membereskan semua barangnya dan Amora, di masukan dalam 2 koper yang dulu mereka bawa dan ga pernah dibawa kembali ke rumah sewa karena mereka rutin tiap minggu disini. Tapi saat ini dia akan meninggalkan rumah ini, jadi semua barangnya dia masukkan di koper. Dia juga mengambil semua peralatan Amora di dapur berikut baju kotor dan semua mainan Amora yang dia beli, yang dibelikan oma opanya dia tinggal.
“Yank, ayah ikut kamu, ayah ga mau pisah dengan kalian. Kalian adalah nafas ayah, please jangan pernah bilang kita akan pisah” rengek Harry ketika Dini masuk ke kamar membawa barang-barang Amora.
“Kamu ga salah bikin keputusan? Aku ga nyuruh kamu ngikutin kami lho ya, kalau sampai aku dengar aku yang ngajak kamu keluar dari rumah ini, aku yang ngajarin kamu membangkang pada mamamu, maka itu adalah titk penentuan kita bener-bener pisah!” jelas Dini.
Dia sudah bosan dengar dari beberapa sepupu Harry yang mengatakan mertuanya sering mengeluhkan Harry telah terhasut bujukannya. Hanya Leo yang tau bagaimana kelakuan Harry diluaran sebelum ketemu Dini karena Leo melihat sendiri kelakuan bejad kakaknya yang mamanya ga tau. Di rumah mamanya hanya tau Harry adalah anak manis dan penurut ga pernah membantahnya.
“Kalau kamu mau ikut aku, bereskan semua barangmu yang penting-penting, bawa ijasahmu lalu pasang lagi tempat tidurmu seperti sebelum Amora disini dan tulis surat buat mama sebelum kita pergi.” kata Dini lagi.
Dini keluar ke dapur, melanjutkan memasak bubur Amora yang sudah hampir matang sambil menggendong Amora. Dimandikannya Amora lalu disuapi sambil menunggu Harry menyelesaikan semua yang dia perintahkan tadi. Sesudah itu dia minta ART untuk menggendong Amora karena dia ingin mandi dan bersiap-siap pergi. Sesudah mandi dia melihat Harry sudah rampung di kamar, disiapkannya sarapan Harry beserta kopi agar saat selesai mandi Harry bisa langsung makan.
Karena barang yang akan di bawa sangat banyak maka sehabis sarapan Harry memanggil taxi. Sebelum berangkat Harry menuliskan surat buat mamanya yang isinya Harry melaksanakan perintah mamanya untuk keluar dari rumah itu dan Harry menegaskan Amora membawa nama fam Pelletimu karena dirinya, Harry rela ga pakai fam nya lagi agar Amora tidak dibebani dengan nama besar fam nya. Surat tanpa amplop itu dia lipat lalu diselipkan di kaca buffet depan kamar mamanya.
Di taxi Dini menelpon mbak Kirana, menanyakan tentang ART atau baby sitter karena dia ingin pindah rumah yang ada kamarnya agar bisa mempunyai pengasuh untuk Amora. Ga disangka kakaknya menawari Amora dititipkan aja di rumahnya selama Dini belum dapat rumah dan pengasuh untuk Amora.
2 hari sesudah pengusiran, Sabtu ini Dini dan Harry berencana cari rumah kontrakan yang ada 2 kamar agar bisa menampung pengasuh untuk Amora, mereka cari yang dekat dengan kampus Dini agar ga buang waktu bila harus pergi ke kampus. Amora sengaja dititipkan di rumah mbak Sashi karena kakaknya itu libur kerja ketika Sabtu. Dan tentu saja dia sangat senang dititipi keponakannya yang makin bulat saja.
__ADS_1
Habis maghrib baru Dini memutuskan rumah yang akan di kontraknya, untung dia ga bawa Amora, kasihan gadis kecil itu bila dibawa-bawa hunting rumah seharian. Dini memastikan besok akan pindah ke rumah itu karena hari minggu tentu kakak-kakak dan kakak iparnya bisa membantunya. Malam ini dia memutuskan menginap di rumah mbak Sashi agar Amora tidak kelelahan.
***
Wuuuiiiih akhirnya selesai juga beberes seadanya di rumah barunya. Sangat cape tapi Dini merasa puas. Saat ini keluarganya full di rumah barunya termasuk mbak Kiran dan jagoan kecilnya yang baru belajar panjat-panjat diusianya yang hampir 2 tahun.
Sehabis makan malam, satu persatu keluarganya pulang meninggalkan Dini, Harry dan Amora dirumah baru mereka.
“Besok Ayah ada kuliah?” tanya Dini saat mereka berbaring di kasur Amora. Sekarang dikamar mereka Amora memang diberi kasur sendiri di lantai sedang tempat tidur dipasang untuk Harry. Walau entah nantinya apa Harry mau tidur sendiri diatas ranjang.
“Cape bund, pengennya mbolos sekalian beberes rumah. Kalau bunda mau kuliah berangkat aja” sahut Harry.
“Aku masuk yang jam ke 2 ya, matkulnya berat, 6SKS. Dosennya killer pula, 10 menit sebelum bel dia sudah ada diruangan” jawab Dini.
“Ayaaaaah, jangan ganggu aku” kata Dini mewakili Amora. Harry terkekeh melihat respon Amora yang ga suka dia ganggu.
“Aaauuuuuu” jerit Dini sambil segera menutup hidung Amora agar bayinya segera membuka mulutnya. “Ayah sih diganggu, jadi marah dia, sakit banget tau digigit Amora” keluh Dini sambil meringis kesakitan akibat Amora menggigit ***********.
“Hahahhahaaaa..iya maaf ya anak cantik, ayah ga ganggu lagi deh. Lagian marah sama ayah koq bunda yang jadi sasaran?” kekeh Harry.
__ADS_1
Esok paginya Harry dan Dini focus beberes rumah barunya dengan sangat bahagia. Jangan harap bisa selesai dalam waktu seharian karena ada si kecil yang butuh perhatian penuh, selain itu Dini juga pergi kuliah selama 2 jam.
Sepulang kuliah Dini membawa nasi gudeg yang dia beli di warung nasi “Galunggung” di belakang kampusnya. Namun saat akan memasuki daerah rumahnya Dini melihat tukang rujak serut yang membuatnya sangat ingin membelinya agar siang ini ada yang segar-segar saat rehat beberes.
“Amora mau punya ade?” tanya Harry saat melihat Dini memindahkan rujak ke mangkok dari bungkusnya untuk dia simpan dulu di kulkas.
“Memang makan rujak itu indikasi perempuan hamil? Apa dulu waktu aku hamil Amora, aku suka ngerujak?” tanya Dini tanpa menjawab isi pertanyaan suaminya.
“Biasanya seperti itu kan?” pancing Harry lagi.
“Memang kamu sudah siap mental dan finansial bila kita tambah momongan?” pancing Dini ingin memastikan bagaimana pemikiran suaminya.
“Kalau mental sih sejak ada Amora di perutmu, ayah kan sudah siap jadi orang tua. Tapi kalau finansial rasanya koq belum ya. Walau ayah tau semua anak terlahir itu ada rizky nya, tapi kamu kan selalu bilang harus memberi yang terbaik untuk anak kita. Tapi kalau Allah berkehendak kita tambah momongan, kita mau bilang apa? Mbak Sashi yang sudah menikah 4 tahun aja belum dikarunia momongan. Masa kita diberi amanat mau kita buang?” jelas Harry.
Tumben nih bijak, pikir Dini. “Mental jadi orang tua satu orang anak tu beda ama mental orag tua dua orang anak, kita juga belum siapkan? Atau tepatnya aku belum siap. Kita harus adil bagi attensi dan perawatan buat dua orang anak yang berbeda usia, mungkin beda jenis kelamin jadi harus beda perlakuan. Ga segampang itu lah” jawab Dini.
Simak terus lanjutan cerita ini di bab selanjutnya ya
Makasih yanktie ucapkan buat yang selalu setia baca kisah ini
__ADS_1
Jangan lupa kasih like dan vote serta komen ya
Salam manis dari Jogja