CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
HAMIL??


__ADS_3

Yanktie sampaikan SELAMAT MEMBACA


“Lo tahu Dini sekarang hamil, dan dia enggak pengen lo tahu. Dia enggak pengen bayinya punya ayah yang licik dan jahat kayak lo. Lo tahu sebelum siapa pun dia kasih tau, dia minta gue buat ngelindungin dia dari tangan kotor lo. Jadi niat gue kesini cuma satu, jauhi Dini mulai sekarang biar dia enggak tambah stress dan bikin kandungannya enggak sehat!”  jelasku geram.


Kulihat wajah paniknya, dia menunduk dan bergumam lirih, “Hamil?”


***


Dini kaget karena terbangun saat mendengar adzan subuh, biasanya sebelum adzan dia sudah bangun dan bersiap. Mungkin karena semalam dia tak bisa tidur maka dia kesiangan.


Masih ngantuk dilakukan kewajibannya di kamar, tidak di ruang salat keluarga. Lalu dia berpesan pada mbak Yam jangan diganggu karena ingin lanjut tidur lagi, dia bilang sedikit pusing dan tidak ingin di ganggu.


Namun jam sepuluh pagi mbak Surti mengetuk kamarnya, mengatakan ada tamu lelaki mencarinya.


“Mbak Yam kemana? Ade udah bilang enggak mau diganggu!” tegasnya pada mbak Surti. Dia sungguh marah permintaannya tak digubris.


“Mbak Yam ke pasar Paseban, disuruh mami buat ambil jahitan. Maaf, saya enggak diberitahu oleh mbak Yam tentang enggak boleh diganggu. Sekali lagi saya mohon maaf,” jelas mbak Surti. Tentu saja mbak Surti takut disalahkan. Tapi dia memang tidak dipesankan oleh mbak Yam soal itu.


Akhirnya Dini terpaksa ke depan untuk menemui siapa yang mencarinya pagi menjelang siang ini.


DEG…


‘Ngapain dia datang? Berani sekali, engga punya rasa malu atau bersalahkah dia? Semalam memang papi menyuruhnya memanggil orang ini, tapi aku sudah tegaskan tidak akan hubungi dia. Kenapa dia datang? Apa kebetulan aja? Atau Anto kasih tau dia?’


“Ada perlu apa?” tanya Dini datar sambil duduk di kursi sebrang tamunya duduk.


Tamunya menatap Dini dalam, lama terdiam tanpa bicara, kemudian dia hendak membakar sebatang rokok yang siap di tangannya.


“Maaf, kalau enggak mau bicara silakan pulang. Gue mau lanjut tidur!” kata Dini sambil berniat masuk ke dalam, sengaja dia lakukan itu. Sebenarnya mencegah orang itu merokok di depannya karena Dini tidak mau anaknya akan menghirup racun sejak dia dalam kandungan.


Harry menarik nafas panjang dan menarik tangan Dini untuk tetap duduk. Ya tamu Dini kali ini adalah Harry.


“Gue mau ngomong serius soal kehamilan lo” ucapnya pelan.


‘Dia tau aku hamil? Pasti maz Anto nih sumber utamanya, karena tidak mungkin papi dan mami yang baru tau tadi malam sudah mengabarinya. Huuh, awas aja maz, aku akan langsung labrak kamu nanti,’ pikir Dini.


‘Sekarang aku tunda dulu urusanku dengan maz Anto, focus dulu dengan mahluk alien didepanku ini,’ lanjut Dini lagi.

__ADS_1


“Mau ngomong apa? Gue pikir enggak ada hal penting yang perlu kita bahas kan? Gue enggak butuh lo buat anak gue!” tukas Dini tegas. Dia memang tak ingin lelaki ini menjadi suaminya. Dia tak ingin lelaki ini bertanggung jawab terhadap kehamilannya.


“Lo bisa enggak, ngomong enggak pake emosi. Bisa enggak lo ngedengerin gue dulu sebentar?” tanya Harry.


“Gue enggak emosi koq, dari tadi gue enggak marah dan enggak ngamuk, engga teriak juga kan?” balas Dini dengan datar. Sejak tadi memang dia tak memperlihatkan kemarahan. Karena yang dia rasakan adalah ji-jik melihat sosok menyebalkan didepannya ini.


“Gue tau gue salah, gue tau gue bukan laki-laki yang baik, tapi gue kecewa denger lo hamil bukan dari mulut lo sendiri, kenapa mesti dari orang lain?” sesal Harry penuh harap agar Dini bisa menjelaskan rasa ingin tahunya.


“Satu, gue enggak butuh lo sebagai figur yang bertanggung jawab atas kehamilan gue.”


“Dua, gue juga enggak pengen Anto cerita ke lo. Gue cerita ke dia sekedar share untuk cari solusi pemikiran yang jernih dari orang luar yang enggak terlibat langsung dengan permasalahan ini, pemikiran orang yang enggak terlibat langsung, pasti lebih bisa di andalkan dari pada pemikiran gue sendirian, yang sedang bingung. Just it.”


“Tiga, gue yakin, Anto enggak nyuruh lo kesini kan?”


“Jadi enggak perlu baper dan ngerasa kecewa, karena buat gue elo bukan siapa-siapa!” jelas Dini marathon.


Harry ingat, Anto memang tidak menyuruh dia datang menemui Dini, Anto malah melarang Harry mendekati Dini lagi.


“Jangan egois!” tukas Harry cepat.


“Lalu siapa yang akan jadi ayah bayi itu? Anto?” jawab Harry ikut meninggi.


“Gue enggak butuh siapa pun! Gue enggak punya niat menggugurkan kandungan ini tapi gue juga enggak butuh seseorang buat jadi ayahnya. Gue akan survive menjadi single parent buatnya” jawab Dini pasti.


“Rasanya cukup, silakan pulang deh!” usir Dini ketus. Sekarang dia sudah terbawa emosi karena Harry membawa nama Anto dalam persoalan ini.


“Kita belum tuntas!” jawab Harry tegas.


“Menurut gue udah koq. Keputusan gue udah bulat, gue enggak pengen elo atau siapa pun jadi ayah anak ini. Mau dituntaskan seperti apa lagi?” jawab Dini lagi.


“Gue pulang dulu, nanti malam gue dateng lagi ngadep ke bokap lo” jawabnya. Sambil berdiri, dipegangnya kepala Dini dan dikecupnya puncak kepala perempuan itu lembut.


Dini shock menerima perlakuan lembut dari Harry kali ini. Sampai Harry melajukan motornya keluar dari halamannya pun dia masih tidak bisa mencerna tindakan Harry tadi.


‘Oh My God, apa dia ketempelan jin sehingga bisa seperti itu? Tapi jin kan enggak bakal bertindak manis kan?’ Dini membatin heran.


***

__ADS_1


Tok tok tok, pintu kamar diketuk pelan. Walau pintu tidak ditutup tapi begitulah adab di rumah ini ketika para asisten rumah tangga ingin bicara dengan majikannya.


“Mbak, di panggil Bapak,” kata mbak Yam. Pembatu ini sore tadi habis disemprot Dini karena tak memberitahu pesan yang Dini sampaikan saat hendak pergi keluar.


“Kenapa Mbak?” tanya Dini. Tapi tak didengar jawaban dari mbak Yam. Mungkin perempuan itu langsung pergi.


‘Barusan di meja makan koq papi diam enggak bahas apa pun, kenapa aku masuk kamar langsung dipanggil? Ada apa ya? Jadi bingung sendiri.’


“Ya Mbak, sebentar Ade kedepan,” jawab Dini, entah mbak Yam mendengar atau tidak.


Dini menuju ruang makan, sudah tak ada orang, lalu ke ruang keluarga, lho koq kosong? Papi dimana ya? Papi tidak pernah bicara dengannya di kamar. Tak lama dilihat mbak Yam membawa nampan ke ruang tamu. “Bapak di depan Mbak, Mbak di tunggu di sana” jelasnya.


Dini melihat ada dua gelas kopi. Artinya papi sedang dengan orang lain. Dini masuk kembali ke kamarnya. Dia mengganti dulu hot pantsnya dengan celana training. Tak sopan terlihat tamu dengan celana pendek. Dirumah memang dia selalu menggunakan hot pants dan kaos saja.


UPS …


‘Alien itu beneran datang nemuin papi dan mami?’ Itu yang ada di benak Dini saat melihat siapa tamu yang disuguhi kopi oleh mbak Yam barusan.


“Sini Dek, duduk sini sebelah Mami” perintah mami Dini lirih.


Dengan ogah-ogahanan Dini membuang dirinya duduk di antara papi dan maminya, serasa pesakitan yang akan dijatuhi hukuman di pengadilan.


“Dek, ini Harry datang, mau melamarmu. Dia ingin jadi ayah bayimu!” jelas papi, entah apa yang sudah Harry bicarakan dengan kedua orang tuanya. Dini masih diam menunggu kelanjutan papi atau maminya menjelaskan langkah apa yang sudah mereka sepakati.


“Jadi …” mami memecah kebisuan.


“Hari Jumat nanti kalian menikah ya, di rumah teman Papi, tapi harus di Cisarua, karena syaratnya harus seperti itu untuk mendapatkan wali hakim untukmu, karena saat ini mami putuskan tidak ngabarin bapakmu dulu sampai semua selesai.”


======================================================= 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2