
Leo tau, Anto menyuarakan isi hatinya lewat lagu yang dia minta Steve menyanyikannya itu. Dia tau temannya itu masih belum bisa melepaskan cintanya pada kakak iparnya. Dia tau itu dengan pasti, karena dia sendiri saja yang baru taraf suka, belum bisa melepaskan bayang-bayang Dini sejak dia SMA. Apalagi yang mencinta sangat dalam seperti Robby dan Anto.
“Yo, nanti gue mau ngobrol sebentar, bisa?” pinta Anto. Leo hanya menganguk sambil memberi tanda jempol saja, dia tau Anto pasti akan menanyakan khabar Dini dan Harry.
Sehabis meeting pertama, maka mereka tinggal bertiga, Steve, Leo dan Anto. Waktu maghrib tiba, Anto ijin sholat dulu, kepada 2 sobatnya yang non muslim itu.
Sehabis sholat Anto langsung to the poin aja “Gimana khabar Dini? Jujur gue lost kontak ama dia setelah dia kasih tau habis akad nikah. Gue jaga jarak karena ga mau dia dimarahin ama lakinya kalau ketemu gue, selain itu juga gue jaga hati gue biar ga jadi debu.” kata Anto menghisap rokoknya dalam-dalam. Leo kaget Anto merokok, karena sejak dulu dia tau Anto sangat anti rokok.
“Sejak kapan lo ngerokok?” tanya Steve lebih dulu, haha dia juga heran atas perubahan yang terjadi pada sobatnya ini.
“Sejak gue liat Dini terakhir kali, sejak dia keluar dari rumah gue sehabis kasih tau dia sudah akad nikah ama Harry, gue hancur sehancur-hancurnya, padahal gue yang saranin dia nikah karena dia hamil, tapi saat itu terjadi gue ga bisa terima.” jelas Anto.
“Gue bingung harus bilang apa, gue bingung harus cerita dari mana soal Harry dan Dini” tukas Leo.
“Ada apa dengan mereka? Mereka fine-fine aja kan?” kejar Steve. Dia tau kasus Harry diamankan di Sentiong, karena sepupunya tinggal disana, jadi dia dengar cerita itu, namun ga tau kisah selanjutnya. “Gue tau waktu kasus Sentiong” lanjut Steve.
“Kasus Sentiong, ada apa?” tanya Anto kaget.
Akhirnya Leo menceritakan badai rumah tangga Dini dan Harry secara lengkap. Dia juga memberitahu sebelum Harry tertangkap Dini sudah meminta papanya untuk menyuruh Harry mengajukan gugat cerai, namun sampai saat ini belum karena Harry keburu ketangkap, sedang Dini sibuk dengan kuliahnya. Leo yakin sehabis wisuda beberapa bulan lalu, Dini pasti sudah mempersiapkan gugatannya, kemarin Dini juga menundanya menanti hasil sidang pengadilan Harry.
“Masih berapa lama lagi dia didalem?” tanya Steve mewakili keingintahuan Anto.
“5 bulan lagi” jawab Leo.
“Gue boleh minta no HP Dini? Buat prepare aja, gue ga akan hubungi dia kalau ga urgent” jelas Anto, dia ga ingin Leo atau Steve curiga. Leo memberikan no HP Dini untuk di save oleh Anto dan Steve. “Tadi dia lo masukin di kepanitia’an ga Yo?” Mereka memang panitia kecil, ketua sekretaris dan bendahara. Itulah sebabnya mereka masih ngumpul bertiga.
__ADS_1
“Belum sih. Lo ada usulan dia dimasukin jadi panitia? Mau jadi sie apa?” lanjut Leo.
“Gue pribadi ga pengen dia dimasukin jadi panitia, takut ada gosip, kasihan dia lagi seperti itu. Tapi ga tau pendapat Steve” kata Anto memberikan pandangannya.
“Gue setuju ama elo Nto, kasihan kalau jadi beban karena gosip. Kita yang tau ya wajib kasih support lah ke dia, kita kan pernah deket ama dia” sahut Steve.
Sambil bicara, Leo malah men dial no HP Dini. Ga lama sambungan telpon tersambung. Leo memberi tanda diam, meletakkan telunjuk di mulutnya. “Hallo Din, sibuk?” tanyanya saat Dini mengangkat telponnya.Leo sengaja memasang speaker agar Steve dan Anto bisa mendengar percakapannya dengan Dini.
“Ga Yo, habis cuciin kaki Amora, mau bobo dia, nih dia minta ngomong ama lo” kata Dini.
“Hallo cantiknya Om, mau bobo ya?” sapa Leo pada keponakannya yang sudah berusia 3 tahun lebih itu. “Sudah sikat gigi?” lanjutnya lagi.
“Om ain sini, Moya anen” jawab Amora.
“Ya nanti om kesana ya, sekarang Amora bobok dulu, kasih HP nya ke bunda karena om mau bicara dengan bunda dulu” balas Leo. Anto dan Steve tersenyum mendengar suara gadis kecil yang tadi Dini sebut bernama Amora.
“Bener, om ga bohong” sahut Leo. “Met bobo sayangnya Om, kasih HP ke bunda ya sayang” bujuk Leo
“Kenapa Yo” sapa Dini.
“Din, kita teman-teman Rawasari mau bikin reuni, tadi sore baru aja pada ketemuan buat bikin planningnya. Tadi juga sudah terbentuk panitia sementara, lo mau ga jadi panitia?” tembak Leo, membuat Anto dan Steve membelalak matanya seakan menegur Leo mengapa malah menawarkan Dini menjadi panitia.
“Kayaknya gue ga bisa deh Yo, lo tau kan gue akan sibuk dengan urusan cerai gue, belum lagi transisi mau pindah ngajar” jawab Dini.
“Ayolah Din, lo kan paling hebat kasih ide buat acara, dan paling teliti kalau jadi panitia, mau ya..ya..ya..”bujuk Leo. “Eh tunggu, lo mau pindah kemana?” cecar Leo.
__ADS_1
“Sementara ini jangan Yo, gue bantu non formal aja, ga usah masuk di kepanitiaan ya, kapan kalian ketemuan lagi, kasih tau gue aja, semoga gue bisa datang” janji Dini.
“Ok, nanti gue kabarin lagi kapan kita ketemuan. Tapi lo belum jawab lo mau pindah kemana?” desak Leo.
“Soal pindah, nanti aja gue kasih tau pas kita ketemuannya, sekarang belum pasti sih dimana penempatannya” jawab Dini.
“Siip, eh ada yang mau ngomong ama elo nih, kangen berat katanya” Leo memberikan HP nya pada Anto, namun Anto menggelengkan kepala sambil menggoyangkan tangan memberi tanda tidak. Ga enak dengan Dini, maka Steve yang mengambil HP dari tangan Leo.
“Hallo sayangku, masih inget ga ama pacarmu yang ganteng ini” goda Steve.
“Siapa ya, agak kenal suaranya, tapi gue lupa” sahut Dini. “Sammuel atau Jack ?” tanya Dini.
“Ya ampuuun sayangku, koq jahat gitu sih melupakan kekasihmu ini?” goda Steve. Leo dan Anto senyum-senyum mendengar candaan itu.
“Haaaa Steveeeeee” teriak Dini dari ujung sana. “Apa khabar lo? Kangeeen tau ....” lanjut Dini lagi
“Gue juga kanget berat ama elo, makanya gue langsung punya ide bikin reuni ini. Lo beneran mau bantu kan, jadi panitia kan?” kata Steve seakan ga tau persoalan yang sedang dihadapi Dini saat ini.
“Sorry Steve sayangku, gue lagi ga bisa jadi panitia, tapi gue janji akan datang di pertemuan selanjutnya dan gue kasih pendapat gue deh besok pas kita ketemuan.”
“Janji ya sayangku. Muah muah deh buatmu. Daaag” kata Steve menutup telpon. Sejak dulu memang mereka memanggil sayang dalam sapaan mereka. Teman-teman yang mengenal mereka tau, sehingga ga aneh atau cemburu. Dini memang supel dan mudah membuat siapapun jatuh hati padanya. Namun sejak dulu Steve yang seumuran Harry, atau 3th lebih tua dari Dini, sadar mereka berbeda agama, oleh karena itu sejak awal dia membentengi dirinya untuk tidak jatuh cinta pada gadis pujaan banyak pria tersebut.
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini, maz Anto deg-deg an ga ya dengar suara Dini?
Ikutin ceritanya di bab berikutnya yaa
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote serta komennya
Inget pesan yanktie, jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya