
Hai hai para kesayangan yanktie, sehat semua kan? Bagaimana puasa kalian sampai hari ini?
Terima kasih sudah selalu setia mengikuti cerita sederhana ini. Kenapa yanktie selalu menyampaikan terima kasih untuk yang selalu setia membaca dan memberi like saat kalian selesai membaca bab cerita ini? Karena ada notif siapa aja yang kasih like.
Hahha, mas Abbhie tahu ya daddy nakal ke mommy, jadi mas Abbhie juga ikutan marah Sekarang kita ikutin terus keseruan bab ini. Selamat membaca!
Yanktie mohon sehabis baca bab langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….
Maturnuwun.
--------
“Duduk sini sama daddy dan Om ya, kita main pesawat. Anto mengajak Abbhie untuk duduk di sofa panjang dengan Robby dan dia yang akan memegangi botol infus. Dia tak rela Dini bermain bertiga dengan Robby dan Abbhie.
“Mau. Atu mau tama Papa dan Om.” Jawab Abbhie. Dia seakan mengerti mommynya sedang marah dengan sang daddy. Dan dia menjadi pembela mommynya.
“Ok, sini sama papa,” Steve mengerti kemauan keponakannya.
“Pinter bangeet sih. Ini anak nomor berapa Nto?” tanya Robby.
“Nomor 3.” Balas Anto sambil duduk mepet dengan istrinya.
“Mama dahar duluan Ma, Mbak Warni juga makan duluan. Itu tadi papa Steve sudah beli makan malam.” Dini mempersilahkan mama makan lebih dulu. Dia mengambil satu sterofoam dan menyerahkannya ke Anto. Namun Anto tak menanggapinya.
“Steve, By, makan gantian ya?” Dini minta ijin ke dua sahabat suaminya untuk makan lebih dulu.
“Iya kalian makan aja duluan.” balas Robby yang sedang asyik bermain dengan Abbhie.
“Kapan lo punya junior By?” goda Steve.
“Pengennya yang instant gini ada enggak?” tanya Robby malah menggoda Steve.
“Hahaha, elo enggak tahu penderitaannya gue dan Anto saat ngidam.” Steve mengingat kembali saat dia ngidam dulu.
Sementara Dini membuka sterofoam makan malam yang Steve beli. Ternyata berisi nasi dan ayam panggang kecap. Makanan seperti itu tentu tak enak bila menggunakan sendok. Dini mencuci tangannya dengan sabun lalu dia menyuapi Anto makan dengan tangan, tidak menggunakan sendok. Buat Steve dan mama, yang dilakukan Dini adalah biasa. Mereka sering melihat itu dimana pun. Memang seperti itulah Dini. Selalu perhatian pada orang yang dikasihinya. Namun tidak bagi Robby. Dia sejak tadi berpikir, ‘Di depan banyak orang saja Dini begitu perhatian pada Anto. Bagaimana bila tak ada orang? Andai dia masih diposisi pasangan Dini. Harry terlalu bodoh membuang berlian seperti dia.'
__ADS_1
“Nambah ya?” tawar Dini, saat satu porsi makanan yang dia suapi sudah hampir habis.
“Cukup,” jawab Anto lirih. Dia masih sedih karena dia masih merasa Dini sangat diam. Dini menuntaskan menyuapi Anto hingga habis. Lalu dia segera mencuci tangan dan mengambil menu jatah makan Abbhie. Dia beralih mendekati anaknya yang sedang bermain dengan Robby dan Steve. “Kalian berdua makan dulu sana. Biar Abbhie makan dulu denganku dan daddynya.”
Anto mengambil tiang infus, dia meletakan botol infus yang sejak tadi dipegang Steve. “Ayo mas Abbhie maem dulu. Mau disuapi mommy atau daddy?” tanya Anto.
“Daddy.” jawab Abbhie. Anto menerima makan Abbhie dari Dini. Dan Dini mengambilkan gelas minum Abbhie. Mereka berdua mendampingi Abbhie makan malam.
“Anak nomor dua cowoq atau ceweq?” tanya Robby penasaran.
“Cowoq juga,” jawab Anto. Dini memang membatasi interaksi dengan Robby. Dia tak ingin Anto cemburu. Walau sedang kesal terhadap suaminya, Dini tak ingin memanfaatkan Robby. Dia malah sengaja menarik diri.
“Wah, lo belum punya anak ceweq dong,” timpal Robby lagi.
“Punya lah, sulung gue kan ceweq,” jawab Anto cepat. Baginya Amora adalah anaknya. Tak pernah sekali pun dia membedakan ketiga anaknya.
*‘Wah, gue salah ngomong. Gue lupa anaknya Harry kan ceweq,’ *batin Robby. “Oh iya, ya, gue lupa. Siapa namanya. Gue pernah liat dia dulu pas reunian. Waktu lo belum jadian ama Dini ya?” Robby mengulas Amora.
“Wah, pas reunian boro-boro udah jadian. Dia punya niatan ama gue aja enggak.” Anto mendramatisir situasi saat itu sambil melihat Dini yang sedang memberi obat pada Abbhie.
“Gue enggak nyangka, cinta lo berdua begitu kuat dan Allah memberi jalan kalian buat bersatu,” gumam Robby tapi sedikit keras sehingga semua bisa jelas mendengarnya.
“Udah, lo enggak usah bahas mereka. Lo sendiri kapan nikah?” goda Steve.
“Mbak Warni bersiap ya, ikut papa Steve aja. Tadi Ibu sudah bilang eyang buat nemani anak-anak di rumah.” Dini menggendong Abbhie dan bersiap mengelap badan putranya dan menggantikan bajunya karena akan tidur malam. “Itu barang yang Ibu minta bawa besok pagi,biar simbok siapkan ya?” Dini menunjuk kertas di meja pada mbak Warni.
Steve dan Robby pamit bersamaan. Steve harus mutar mengantar mama dan mbak Warni terlabih dahulu. Dia mengajak Robby menemaninya dan berjanji mengantar sohibnya itu ke hotel.
***
“Sebenernya gue pengen sekali aja ngobrol ama Dini sebentar. Gimana caranya ya? Ada ganjelan yang pengen gue selesaikan sebelum gue nyesel seumur hidup gue karena enggak buka fakta ini ke dia. Gue enggak pengen dia nginget gue sebagai seorang yang tidak jujur dan enggak bisa dipercaya.” Robby mengungkapkan niatnya ke Jogja selain memang ada tugas kantor, namun dia ingin bicara dengan Dini. Mereka nongkrong di lesehan kopi klotok tempat fenomenal dekat rumah Anto. Berada di utara tembok stasiun Tugu.
“Kalau emang begitu tujuan lo, lo bisa minta ijin ama Anto. Kita kan kenal dia bukan sehari dua hari. Kita kenal dia sejak SMA, bahkan kalau lo malah sejak TK. Jadi kalau lo bicara jujur ama dia, dia malah ngehargain elo. Dari pada lo ngumpet-ngumpet nemuin Dini. Kan tanpa ijin Anto, gue yakin Dini enggak bakal mau ngobrol berdua ama siapapun. Itu prinsip Dini, yang gue tahu sejak gue jadi adik iparnya. Dia selalu jaga kepercayaan suaminya. Padahal Anto sama sekali enggak melarang.” Jelas Steve tentang pasangan kakak iparnya itu. Sari dan Steve menjadikan pasangan itu rule model dalam membina rumah tangga. Banyak pelajaran yang mereka serap dari kelakuan kakak mereka.
“Gimana rasanya jadi adik ipar teman sendiri?” tanya Robby penasaran.
__ADS_1
“Ama Anto sedikit demi sedikit gue bisa anggap dia kakak, bergeser dari rasa persahabatan kita dulu. Gue akui emang dia super bijak dan pola pikirnya lebih sering dewasaan dia dari gue yang tiga tahun lebih tua dari dia. Tapi kalau ke Dini, perasaan gue enggak bisa berobah. Gue tetap sayang ama dia sebagai adik seperti dulu. Gue enggak bisa menghormati dia sebagai kakak. Yang pasti gue makin sayang ama dia.” Steve menjawab pertanyaan Robby. Mereka menyeruput kopinya perlahan.
Robby setuju pendapat Steve. Anto memang super bijak dan pemikirannya jauh ke depan. Dia tahu, faktor itulah yang membuat Dini jatuh cinta pada temannya itu. Walau saat itu wajah Anto tidak bisa disebut dapat mengalahkan wajah macho milik dia, Leo, Harry atau Steve.
***
Sepulang para tamu, Dini bersiap akan tidur. Dia kembali ke titik diam. Abbhie sudah tidur sejak tadi sebelum eyangnya pulang. Dini mematikan beberapa lampu ruangan agar agak temaram. Karena dia dan keluarganya memang tidak terbiasa tidur dengan lampu terang. Dini membaringkan tubuhnya dan menarik selimut. Memang ada satu bed untuk penunu di ruang rawat VIP rumah sakit itu.
“Jangan tidur dulu Mom. Kita harus bicara.” Anto melarang istrinya tidur menyisakan persoalan antara mereka.
Nah lhooo, mas Anto mau ngomong apa ya?
-------------------------
Hiks hiks, yanktie aja sebagai author ikutan sedih karena mas Anto di cuekin mbak Dini.
Terima kasih sudah selesai membaca bab ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.
Salam manis dari Jogja
Sambil nunggu yanktie update bab baru esok hari, coba deh mampir ke karya teman yanktie yang super keren ini, ga bakal nyesel baca ceritanya, judulnya STUCK MARRIAGE karya TYATUL
Season 1
Rencana menyelamatkan diri dari musuh keluarganya membuat Ariana Delta terjebak dalam ikatan pernikahan dengan seorang sopir taksi bernama Alex Bara.
Setelah terbiasa hidup bersama membuat benih benih cinta diantara mereka tumbuh.
Ariana dan Alex memiliki rahasia yang tak diketahui masing masing. Hingga kebenaran terungkap, apakah keduanya tetap bisa saling mencintai?
Season 2
Menceritakan kisah anak pertama Ariana dan Alex siapa lagi kalau bukan Albian Ivander Bara dengan segala pesonanya.
__ADS_1