
Dini keluar dari ruang rawat Anto, dia menuju mushola lalu nanti akan makan di kantin, dia ingin telpon ke rumah untuk tanya keadaan Amora, namun ternyata dia keluar ga bawa HP. Daripada balik ke ruang rawat Dini memutuskan pulang aja ke Rawasari, bisa makan, sholat serta sekalian melihat kondisi anaknya. Toh Rawasari-Rawamangun sangat dekat, ga butuh waktu lama untuk pulang pergi, pikirnya.
Sesampai di rumah Rawasari Dini makan dan sholat setelah menyapa Amora sebentar. Dini merasa sangat lelah, semalam tanpa tidur, lalu tadi baru tidur sekitar 1 jam saat akhirnya Anto terbangun. Masih dengan mukena Dini membaringkan dirinya dilantai ruang sholat, tanpa sadar dia terlelap.
Dini terbangun saat ART maminya hendak shalat Ashar. “Astagfirullah, aku ketiduran” kata Dini pelan. Dia segera wudhu dan melakukan sholat Ashar, lalu dia membawa baju untuk ganti besok serta jaket dan kaos kaki untuk dia tidur di rumah sakit malam ini. Bergegas dia menuju rumah sakit.
“Assalamu’alaykum” salamnya saat membuka ruang rawat Anto. Dini melihat bu Rahma sedang sholat sedang Sari ga ada didalam ruangan. Anto terbangun mendengar suara Dini. “Dari mana mom?” tanya Anto.
Dini menghampiri Anto, mencium pipinya lembut. Anto memeluknya erat, masih dalam pelukan Anto Dini cerita kalau dia ketiduran di kamar sholat rumahnya.
“Kamu kecapean ya gara-gara maz!” kata Anto.
“Ga koq, gapapa” kata Dini melepaskan pelukan Anto, dia inget di ruangan ini ada bu Rahma.
“Maaf ma bikin panik, tadi Dini ketiduran sehabis sholat” kata Dini saat bu Rahma selesai sholat.
“Mama ga panik, cuma nenangin orang panik aja” goda mama Anto.
Anto yang digoda ga ngebantah, karena tadi dia sampai mau minta buka infus agar bisa turun ranjang untuk mencari Dini.
“Ma, apa salah kalau saat ini Dini pengen jahat? Dini ga rela kalau perempuan itu bebas melenggang diatas penderitaan Dini” rajuk Dini pada calon mertuanya.
“Mau jahat gimana?” tanya bu Rahma seakan dia belum tau cerita tentang Puspita.
“Jadi gini ma, tadi aku tu minta ma maz buat dia ga mbatalin penangkapan perempuan itu dan tetap membiarkan polisi memproses kejahatan yang dia lakukan, karena tadi pagi polisi datang kesini ketemu Dini, dan ninggalin pesan buat maz tentang permohonan keluarga perempuan itu untuk berdamai”
“Maz sudah kasih tau belum keputusan maz ke kamu? Maz tau perasanmu, maz tau deritamu, apa maz mau kamu terluka? Kan engga. Prioritas maz kedepan tu kamu dan Amora, jangan ngambil kesimpulan sendiri” kata Anto kembali menarik bahu Dini dalam dekapannya.
__ADS_1
“Maz malu” bisik Dini, sambil berontak melepaskan pelukan Anto.
“Mama sependapat denganmu Din, mama juga ga rela kalau ambil jalan damai” sahut bu Rahma menenangkan Dini.
“Kita hadapi berdua ya saat mereka minta damai” bujuk Anto.
Sebelum maghrib Sari sengaja pulang, tadi dia lupa bawa perlengkapan untuk yang akan menunggu di rumah sakit. Barusan dia sudah telpon Steve untuk menjemputnya di rumah. Sari datang bersama Steve, dia membawa makan malam dan selimut untuk yang akan jaga malam.
“Hallo bro, betah lo disini?” goda Steve pada Anto.
“Gue mending liburan di Bumijo daripada disini” sanggah Anto.
***
Esok paginya saat jam besoek ruang Anto penuh dengan rekan-rekan Anto yang datang . Dini berkesempatan berterimakasih langsung pada pak Irhan, Yadi, Dendi, Rudi dan Afgan. Para staff Anto memanfaatkan diri berkenalan dengan calon ibu negara, karena Anto sering bilang akan ke Jogja untuk bertemu dengan ibu negara.
Setelah basa basi tanya khabar maka pak Hadi memulai pembicaraan serius. “Mas Anto, maksud kami datang kesini untuk menyampaikan permohonan maaf atas kejadian kemarin sore di café. Kami mohon mas Anto bisa berbesar hati memaafkan kesalahan Ita dan tidak memperpanjang persoalan ini mengingat kita bersaudara, karena biar bagaimanapun mas Anto kan menantu mbak Gita”
Dini yang duduk diantara Sari dan Steve sudah emosi, dia meremas tangan Sari, dan Steve memeluk bahunya seakan memintanya untuk bersabar.
Anto yang duduk bersandar di kasurnya tidak langsung menjawab, dia melihat mata mamanya, lalu diapun melihat mata Dini yang terlihat sudah mulai marah.
“Pertama-tama saya atas nama pribadi dan keluarga saya mengucapkan terimakasih atas kedatangan ibu serta paklek dan bulek kesini, entah itu datang emang mau mau mbesoek atau ada tujuan lain”
“Kedua, mengingat saya masih ingat status saya, saya itu pernah menjadi menantu bu Gita maka saya pribadi menyatakan dengan tulus memaafkan semua kesalahan Ita”
Ada banyak gumam ga puas dari beberapa yang hadir, Anto masih lekat menatap mata Dini.
__ADS_1
“Harusnya, …
Anto sengaja menghentikan kalimatnya sampai disitu, dia senyum pada Dini dan melihat mata mamanya.
“Harusnya kalau Ita punya sedikit pekewuh dan adab sopan santun diotaknya, dia tahu saya pernah jadi suami kakak sepupunya, harusnya dia punya rasa malu untuk menjebak saya. Jadi sekarang giliran saya yang minta maaf, karena saya ga akan berdamai untuk masalah ini. Saya ingin persoalan ini diproses hukum” lanjut Anto tegas.
“Jare ( katanya )sudah memaafkan Nto” sela bu Gita.
“Njih bu, secara personal saya memaafkan, tapi tidak secara hukum, karena bila saja staff saya tidak disana tepat waktu, saya akan kembali kena jebakan keluarga ibu! Saya akan terperangkap kedua kalinya” tukas Anto menikam bu Gita.
“Ita ga menjebak, dia bilang hanya berniat menolong kamu yang pingsan” kata Bu Murni keras.
”Itu versi Ita, ibu mau tau versi polisi dan dokter disini? Pak Irhan bisa jelaskan versi polisi dan apa keterangan Ita saat diinterogasi polisi?” sela Dini kesal.
Bu Gita serta bu Murni langsung melihat siapa yang bicara, Anto hanya tersenyum kecil melihat Dini yang sudah emosi.
“Monggo pak Irhan, kasih tau aja” Anto mempersilahkan pak Irhan bicara.
“Saya yang membawa bu Ita ke kantor polisi, tapi saya ga gegabah karena saya sekalian bawa sisa kopi dan roti yang dikonsumsi pak Anto saat bertemu dengan bu Ita, selain itu saya juga sudah menanyakan pembuat kopi, dia menerangkan sebelum kopi diantar bu Ita memberikan serbuk dari botol kecil yang dia keluarkan dari tas nya, dan botol itu juga disita polisi saat ditemukan di tas bu Ita. Dan tadi pagi polisi bertemu dokter mengklopkan penemuan polisi dengan hasil pemeriksaan dokter” jelas pak Irhan, lalu dia mengambil nafas sejenak.
“Saat diinterogasi, bu Ita cerita dia ingin membuat photo-photo tak sopan saat pak Anto pingsan, dia ingin membuat photo-photo itu nantinya bisa menekan pak Anto agar bersedia menjadi suaminya. Bila itu tidak berhasil dia akan menyebarkan photo-photo tersebut di kantor pak Anto dan dia juga akan membuat pak Anto bertekuk lutut padanya karena dia kan membuat dirinya seolah-olah hamil akibat perbuatan pak Anto sesuai photo-photo tersebut” lanjut pak Irhan.
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini, kira-kira bu Gita malu ga ya ke mantan menantunya? atau dia masih ngotot mbelainkeponakannya?..tungguin terus lanjutannya ya
Jangan lupa like dan vote nya ya
jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya
__ADS_1