
62 MENINGGAL
“Janji habiskan sebelum sampai rumah sakit ya” sahut Sari. Steve hanya menganggukan kepalanya tanpa menjawab
Di parkiran rumah sakit Sari kembali menyodorkan gelas juice pada Steve. “Habiskan sebelum turun” perintahnya
Sari dan Steve bergegas menuju ruang ICU, tak terlihat Anto dan bu Gita ruang tunggu ICU, hanya ada ayahnya Shinta. Sari memberi salam lalu menanyakan apakah Anto belum sampai kepada ayah Shinta
“Anto dan tante didalam” jawab Hendro ayah Shinta. “Ada mas Imron juga, dia pas lepas dinas pagi saat di telpon Anto” jelasnya lagi
“Om sebaiknya makan dulu, kita semua sedih memikirkan mbak Shinta, namun kita harus jaga kondisi agar ga drop, nanti pas tante dan mas Anto keluar kita gantian makan. Ini Sari sudah bawakan” kata Sari menawarkan makan siang yang di bawanya
“Iya om, kita makan duluan aja bertiga, nanti tante dan Anto makan begitu mereka keluar dari ruangan”
Saat mereka sedang makan Anto dan bu Gita keluar ruangan. Wajah bu Gita sangat tertekan. Sari bisa merasakan kesedihan teramat dalam, karena itu di letakkannya makannya dan dipeluknya bu Gita. “Yang sabar ya tante” hiburnya
“Saya tau tante sangat sedih, tapi coba paksa isi perut sedikit ya tante, tante harus kuat jaga mbak Shinta kan? Karena itu tante harus isi perut walau sedikit” bujuknya.
“Mas juga makan” perintahnya pada Anto, yang dijawab anggukan oleh kakaknya. Steve memperhatikan semua perilaku gadis kecil itu, ternyata dia bisa bijak juga ya, pikir Steve
“Gimana kondisi Shinta jeng?” tanya pak Hendro pada bu Gita
“Drop tapi masih stabil, tapi kalau ga ada perkembangan dokter minta pendapat keluarga untuk melepas alat-alat ditubuhnya mas” sahut bu Gita lirih
“Ya sudah, nanti kita pikir bersama, sekarang kamu makan dulu agar maagmu ga kambuh” bujuk suaminya
Bu Gita mengangguk sambil membuka kardus makan yang tadi diberikan oleh Sari, dan mulai memakannya sedikit-sedikit
Anto dan Sari baru saja selesai shalat Ashar di mushola rumah sakit saat perawat keluar dan memanggil ibu Gita “Ibu pasien Shinta?”
“Saya sus,” jawab bu Gita tergopoh mendekati suster tersebut
__ADS_1
“Pasien sadar dan meminta bicara dengan ibunya” terang suster, “Jangan lupa pakai baju khusus ya bu”
“Alhamdulillaaaah” semua yang hadir disana mengucap syukur karena Shinta bisa sadar, sejak dia masuk rumah sakit ini, semua berharap ini adalah pertanda baik untuk kesembuhan Shinta
“Ayo Nto, kancani” ajak bu Gita kepada menantunya
“Apa gapapa bu saya ikut masuk? Yang diinginkan Shinta kan ibu?” tanya Anto ragu “Ibu duluan aja, biar Shinta bicara dulu dengan ibu, nanti saya menyusul” lanjut Anto, dia merasa Shinta ingin bicara berdua dengan ibunya saja
***
Bu Gita masuk ke ruangan ICU, dia melapis bajunya dengan baju khusus ruang ICU, didekatinya anaknya yang terbaring lemah. Shinta melihat kedatangan ibunya, dia ingin mencoba menggapai tangan ibunya namun sulit bergerak
“Bu, maafin Shinta. Shinta bikin ibu malu dan susah” katanya tersedat dan lirih, namun masih bisa didengar jelas oleh ibunya
“Udah nduk, ga usah banyak bicara, ga ada yang perlu dimaafin, kamu bertahan ya, kamu pasti akan sehat lagi” hibur bu Gita sambil membelai tangan Shinta yang tidak terluka
“Shinta sudah ga kuat bu, Shinta mau pamit, maafin Shinta” Shinta bicara sambil tersendat
“Maaf bu, pak mohon mundur sebentar” kata suster untuk memberikan dokter menangani Shinta. Bu Gita menangis dipelukan Anto.
“Catat jam nya 16.27” kata dokter kepada perawat, untuk membuat surat keterangan kematian. “Maaf bu, pak. Pasien tidak dapat selamat, kami turut berduka cita” terang dokter tersebut.
“Shin, Shin, kamu kuat kan, kamu ga pergi kan,” rengek bu Gita menggoncang tubuh putrinya
“Sabar bu, kita harus ikhlas biar dia lancar jalannya” kata Anto memeluk ibu mertuanya. “Ibu duduk sini, saya keluar urus administrasi dan kasih tau bapak serta telpon rumah untuk menyambut jenasah Shinta” kata Anto memapah ibu mertuanya ke kursi dekat Shinta yang saat itu sedang di buka peralatan yang terpasang di tubuhnya
Anto keluar ruangan. “Pak, Shinta sudah meninggal tadi jam 16.27, bapak ada nomor pak RT di rumah?” tanya Anto kepada bapak mertuanya. Sari dan Steve kaget mendengar berita itu.
“Steve telpon teman-teman, de kamu telpon kerabat” kata Anto sambil menerima HP dari mertuanya yang menunjukan nomor telpon rumah pak RT di wilayah tempat tinggal mertuanya. Anto menelpon pak RT meminta bantuan untuk persiapan rumah duka
Sari dan Steve langsung memberi khabar pada rekan dan kerabat sesuai perintah Anto, mereka berdiri agak menjauh agar pembicaraan mereka ga saling mengganggu.
__ADS_1
“Bang, ade jemput mama dulu ya, abang mau di bawain apa? Ade mau sekalian ambil baju koko mas Anto” jelas Sari, dia ga ingin mamanya meluncur kerumah duka sendirian
“Pinjami abang baju koko dan peci Anto ajalah de, bawakan kami masing-masing 2 takut kotor” pinta Steve
“Itu aja?” Sari bertanya untuk memastikan
“Sepertinya cukup itu dulu deh” jawab Steve sambil jalan menjauh karena ada telpon masuk dari teman kantornya. Dan Sari mendengar Steve mengatakan belum sampai rumah duka, artinya penelpon bertanya tentang Shinta.
Sari bergegas meminta kunci mobil Steve untuk mengambil baju ganti serta menjemput mamanya.
Leo mendengar khabar duka dari Dini, namun dia masih di Singapore sehingga tidak dapat menemani Dini ke rumah duka saat itu. Steve yang sedang berjalan dengan Anto akan mengurus administrasi ke kantor rumah sakit menerima panggilan telpon dari Dini
“Hallo Yang, kenapa?” tanya Steve
“Bener Shinta meninggal? Barusan Sari telpon aku” kata Dini
“Iya, ni kami masih di rumah sakit mau urus administrasi dulu” jawab Steve, Anto disebelahnya yang baru saja menutup telpon, mendengar Steve sedang bicara dengan Dini meminta HP Steve
“Assalamu’alaykum de” sapa Anto yang langsung mengambil HP yang sedang dipakai Steve
“Wa alaykum’salam maz, koq pindah tangan HP nya. Turut berduka cita ya maz” jawab Dini
“Kamu ga usah ke rumah malam ini, kalau mau datang besok aja, tapi kalau ga bisa ya ga datang gapapa,” kata Anto
“Lho koq gitu maz? Aku lagi cari teman buat kesana, Leo masih di Singapore” jelas Dini
“Maz tau tujuan kamu telpon Steve, maka maz larang duluan, kamu ga usah cari teman berangkat, kalau mau datang ya besok aja, denger ga?” kata Anto tegas
“Maz.. ak ” belum sempat bicara Anto memotong kalimat Dini
“Jangan bantah de, Assalamu’alaykum” jawab Anto lalu memutus sambungan telpon, dan dikembalikannya HP kepada Steve
__ADS_1