CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
55 CINTA MAZ KE KAMU GA PERNAH BEROBAH


__ADS_3

55 CINTA MAZ KE KAMU GA PERNAH BEROBAH


“Ndak yayi, Moya naik eja”


“Hahhahahaaaa, kamu beneran anak bunda” tawa Anto


“Kenapa emangnya maz?” tanya Dini bingung


“Persis kamu kan, tukang manjat-manjat” jawab Anto


“Ih kamu tuh ya, malah ngeledekin ade” kata Dini tersipu


“Udah sore, maz pamit dulu ya, nanti pas ada waktu telpon aja buat janjian cerita”. Kata Anto pada Dini


“Moya, daddy pulang dulu ya, habiskan maemnya dan jangan naik-naik lagi biar ga jatuh. Salim dulu cantik” kata Anto sambil memberikan tangannya pada Amora. Amora mencium tangan Anto lalu memeluk wajah Anto yang sedang bersimpuh didekatnya. Anto mencium pipi Amora dengan gemas, mencium keningnya lalu mengusap puncak kepalanya


Anto berdiri dan memeluk Dini, mencium puncak kepalanya seperti dulu saat mereka masih dekat. Dini tidak menolak perlakuan itu, dia membalas pelukan sayang dari Anto. Saat itu Anto berbisik ditelinga Dini “Cinta maz kekamu ga pernah berubah de”


Dini segera melepas pelukan Anto, memandang Anto sambil mengernyitkan alisnya. “Dah pulang sana, ga usah ngaco” usir Dini


“Trust me” katanya sambil berjalan ke depan


“Tuh kan, barangnya sengaja ditinggal,” kata Dini sambil mengambil belanjaan Anto dan berlari kedepan mengejarnya. Tadinya dia ga niat mengantar Anto kedepan karena ga enak pandangan tetangganya, koq malah sekarang harus ngejar karena belanjaan Anto tertinggal.


“Maz” seru Dini sambil mengacungkan tas belanjaan Anto


Anto tersenyum menerimanya “Serius lupa de, ga sengaja. Abis maz ngomong serius, kamu nanggepinnya gitu” jawab Anto


“Dah sana ah” sahut Dini


“Assalamu’alaykum” kata Anto memberi salam sambil masuk ke mobilnya


“Wa’alaykum salam”

__ADS_1


***


Kali ini team inti akan melakukan pembicaraan lagi, namun Steve bersikeras harus ada Dini. Setelah mencocokkan waktu, akhirnya diputuskan mereka bertemu Jum’at malam di rumah Dini. Dini bukan ga mau ngumpul diluar, namun dia mencegah omongan buruk tentangnya bila dia keluar malam hari. Lagipula bila di rumah, dia masih bisa mengawasi Amora


Amora sangat senang ketika Om nya datang. Leo memang datang sejak sore, karena tau begitu Steve dan Anto datang pamornya dimata Amora akan kalah saing dengan kedua sobatnya itu.


Steve datang saat adzan maghrib. Dini ijin melakukan sholat dulu pada kedua tamunya. Selesai sholat Dini keluar keruang tamu membawa teh panas. Saat yang bersamaan Anto datang dengan pakaian kasual, rupanya pulang ke rumah mamanya dan sholat maghrib disana. Rumah mama Anto dan mami Dini memang hanya beda RT, itu sebabnya dulu Anto dan Dini kenal sejak kecil di lingkup yang sama. Amora yang sedang duduk manis dipangkuan papa Steve langsung lompat dan berlari sambil teriak “Daddy, Moya anen” teriaknya langsung memeluk kaki Anto


“Assalamu’alaykum” sapa Anto


“Wa’alaykum salam” jawab Dini


“Itum ayaaaaaaam” sahut Amora yang sudah berada digendongan Anto dan terkekeh geli karena Anto menciumi pipinya


“Hai bro” sapa Anto pada Steve dan Leo dan saling menempelkan kepalan tangannya. Dini yang baru meletakkan cangkir teh menghampiri Anto hendak bersalaman, namun Anto memeluknya dan mencium kening serta puncak kepala walau dia juga sedang menggendong Amora. Steve dan Leo yang melihatnya menjadi trenyuh. Harusnya mereka berbahagia dengan anak mereka pikir Leo.


“Bu, ditunggu ibu sepuh di meja makan” lapor ART yang tiba-tiba datang memberitahu Dini jadwal makan malam


“Masuk dulu yok, kita makan dulu baru nanti ngobrol. Besok kantor liburkan, jadi bisa santai sampai malam ngobrolnya.” ajak Dini pada ketiga tamunya


“Hehehe, bukan jadi ga enak ya Steve” sahut Leo


“Iyalah, jadi enak, rugi kan malu-malu, nanti malah malu-maluin” lanjut Steve sambil mereka berjalan masuk ke ruang makan


“Malam om, tante sapa Leo dan Steve berbarengan sambil mereka memberi salam pada kedua orang tua Dini


“Assalamu’alaykum” salam Anto sambil mencium tangan kedua orang tua Dini


“Wah Steve, Leo, lama ya ga kesini, ayo langsung makan” balas papi Dini ramah


“Wa’alaykum salam” jawab mami Dini “Amora kenapa digendong om Anto nak?” tanyanya pada cucu cantik tersebut


Dini meletakkan kursi makan Amora disebelah kursi yang akan dia duduki, agar dia mudah membantu anaknya saat makan nanti “Taruh sini maz” katanya menyuruh Anto mendudukkan Amora.

__ADS_1


“Eyang, ini daddy Moya, itu Om” kata Amora pada eyang putrinya sambil menunjuk Leo. “Ini juga Om sayang” balas eyangnya yang tidak tahu kalau Amora memanggil Anto dengan sebutan daddy


“Ini siapa?” tanya Dini pada Amora sambil menunjuk Steve


“Papa Tiv” kata Amora yakin


“Jadi gitu mi, Amora memanggil mereka masing-masing dengan sebutan yang berbeda,” jawab Dini menetralisir pikiran mami dan papinya agar tidak berprasangka yang tidak-tidak pada hubungannya dengan Anto disaat dia belum resmi pisah dengan Harry


“Ayah Amora siapa namanya?” lanjut Dini


“Yayah Ai, agi teja”


“See, dia juga tau siapa ayahnya, dan minggu lalu juga sempat ngobrol di telpon waktu Dini kesana” jelas Dini lagi


“Ayo ga usah ngobrol aja, kita mulai makan” kata papi Dini, dia tau Dini sedang ga baik moodnya karena maminya mendesak Amora memanggil Om pada Anto


Sesudah makan ART menggantikan baju Amora dengan baju tidur, sehabis Amora menyikat giginya. Sambil mengayun Amora yang mulai terkantuk2 dalam gendongannya Dini ikut diskusi team inti. Inilah yang membuat dia lebih nyaman ngumpul di rumahnya, ga buang waktu, bisa disambi ngurus anaknya. “Ade taruh Amora dikamar dulu ya” pamit Dini pada Anto


“Kita ga dipamitin?” goda Steve. Sementara Leo hanya nyengir aja melihat Steve cepat tanggap atas kejadian didepan matanya.


Akhirnya pembicaraan hari ini bisa clear juga.


“Yo, Steve, gue bisa minta waktu kalian sebentar ga?” tanya Dini


“Ini udah malem lho Din, gapapa emangnya masih mau ngobrol?” tanya Steve, sementara Leo dan Anto hanya mengangguk menyetujui pendapat Steve


“Gapapa, karena dirumah, dan bukan hanya berduaan. Kalaupun berduaan kan orang sekitar juga tau dirumah ini ada mami dan papi” sahut Dini pasti


“Ya udah, lo ada perlu apa? Ada yang Steve dan gue bisa bantu?” tanya Leo


“Gue pernah janji ke Anto, mau cerita masalah rumah tangga gue, tapi gue ga mau pergi keluar berdua, karena status gue belum resmi cerai. Karena lo berdua udah tau cerita hidup gue, maka sekarang gue mau cerita ke Anto disini, kalau kalian ga mau denger ya gapapa, kalian bisa tungguin sampai kami selesai ngobrol. Tapi kalau kalian nemenin kita, gue sangat berterima kasih, jadi jelas gue bicara fakta, bukan rekayasa, karena Leo saksi dari semua yang terjadi” sahut Dini


“Jadi, cuma maz yang belum tau?” tanya Anto, seakan dia belum tau sama sekali kecuali yang dibilang Dini minggu lalu kalau Harry dipenjara

__ADS_1


“Leo tahu karena dia langsung terlibat, sedang Steve tau bukan dari ade, tapi dari sepupunya” jelas Dini. “Kita kan lost kontak maz, lagian kalaupun ade punya nomor maz, ade ga akan hubungi maz, nanti malah ada tuduhan ade yang selingkuh, malah jadi ruwet. Kalau ade ga mikir panjang, gampang koq cari maz, tinggal datang ke rumah mama dan tanya nomor HP maz, pasti dapet kan? Maz sendiri sejak ade nikah ga cari tau nomor ade buat dihubungi kan? Padahal maz tinggal datang kesini buat tanya, kalau maz mau. Tapi itulah kita, ga mau orang berprasangka buruk tentang kita.” jelas Dini mulai berapi-api


__ADS_2