
Anto menghubungi Yadi untuk menyelesaikan urusan administrasi pembayaran biaya rumah sakit. Setelah semua selesai, Dini langsung membawa mobil Anto ke rumah maminya. Dia tau Anto sudah sangat merindukan Amora, namun ga ingin Amora dibawa ke rumah sakit, karena ga baik untuk kesehatan Amora.
“Assalamu’alaykum” sapa Anto saat tiba di rumah orang tua Dini.
“Daddy … udah cembuh?” tanya Amora saat sudah dalam dekapan Anto.
“Kebiasaan kayak mommy nih, ga jawab salam dulu kalau ada yang dirasa lebih penting” kata Anto menyindir Dini.
Dini mencubit lengan Anto, “Namanya juga kangen” bela Dini.
Sehabis makan siang Dini meminta Anto untuk tidur dikamarnya, namun Anto bersikeras ingin pulang saja “Ga enak ah tidur disini, wong rumahku dekat, maz pulang aja ya, nanti habis maghrib maz jemput kamu buat kerumah Bapak di Cilandak” kilahnya.
“Maghriban disini aja ya, biar cepet berangkatnya, biar ga kemaleman” pinta Dini.
“Atau kita berangkat jam 5 aja? Biar maghriban di Cilandak?” usul Anto.
“Ya gitu juga boleh” jawab Dini. “Amora ga usah dibawa ya maz, nanti ga bisa ngomong serius ke Bapak kalau ada dia.”
“Iya, biar dia ga cape juga” kata Anto lalu dia pamit pulang untuk beristirahat
***
Sehabis sholat maghrib lalu dilanjut makan malam Anto menyampaikan tujuannya datang. “Maaf Pak, saya dan Dini datang untuk memohon doa restu, kami ingin serius membina rumah tangga.”
“Bapak dan ibumu senang kalian akan serius, semoga kalian bisa melangkah seirama dan tidak berpisah ditengah jalan. Belajarlah dari kegagalan, jangan sampai tersandung lagi” nasihat Bapak.
“Insya Allah pak” jawab Anto dan Dini hampir bersamaan.
“Memang rencananya kapan kalian akan menikah?” tanya Bapak.
“Dini maunya sesudah selesai kuliah, sekitar 8 bulan lagi“ sahut Anto.
“Lalu maunya kamu?” tanya ibu.
__ADS_1
“Kalau saya sudah sejak setahun lalu ingin nikah bu, Dini nya aja yang nolak” sahut Anto.
“Bapak minta dipercepat Din” titah Bapak tegas. “Pernikahan pertamamu Bapak tidak tahu, kamu datang saat sudah menikah dan sudah hamil. Walau hamil bukan karena kesalahanmu namun Bapak sedih karena ga bisa jadi wali nikahmu. Sekarang mumpung Bapak masih diberi umur, Bapak minta segerakan pernikahanmu, kalau bisa besok pagipun gapapa” lanjutnya.
“Bapak jangan ngendiko gitu, insya Allah Bapak sehat terus. Tapi insya Allah Dini akan percepat, tapi ya ga besok pagi juga. Libur semester ini ya? 2 bulan lagi” jawab Dini sambil menggenggam tangan Anto. Dini sangat takut bila ini adalah permintaan bapak yang terakhir.
“Bapak tunggu kepastianmu nduk” senyum bapak tersungging saat Dini memutuskan akan menuruti permintaannya.
“Njih pak” sahut Dini lirih.
“Aku koq takut maz” kata Dini di mobil saat perjalanan pulang ke Rawasari.
“Kamu ga yakin ama maz?” tanya Anto.
“Bukan soal maz, tapi soal bapak. Aku koq jadi berfirasat buruk mengingat bapak sudah semakin sering sakit” Dini menjelaskan firasatnya.
“Semoga ga terjadi hal buruk. Lusa kan semua ngumpul, gimana kalau kita bahas hal ini sekalian? Mumpung kamu juga belum balik ke Jogja kan?” usul Anto.
“Iya boleh maz, ade ga keberatan. Kalau maunya maz kita nikah gimana?” pancing Dini.
“Ade setuju ama calon imam ade maz!” jawab Dini yang langsung diberi apresiasi berupa kecupan dipipinya oleh Anto.
“Tapi sehari habis nikah kita pulang Jogja ya de?” pinta Anto.
“Kenapa?” tanya Dini.
“Enakan ngabisin waktu di Jogja daripada di Jakarta” balas Anto.
***
Esoknya Dini dan Anto mulai mempersiapkan segala sesuatunya, waktu mereka yang mepet bisa bersama membuat mereka harus gerak cepat. Pagi ini mereka ingin cari kebaya untuk ijab kabul serta cincin pernikahan juga beberapa serah-serahan serta perias pengantin. Soal undangan, serta acara lain biar nanti mereka serahkan pada orang tua saja, yang penting cincin dan kebaya harus pilihan Dini sendiri.
Lelah namun sangat menyenangkan kerja keras mereka hari ini. selain ulang tahun Amora, besok mereka akan memberi kejutan soal pernikahan mereka, harapan mereka semua lancar tanpa kendala.
__ADS_1
***
Hari ini Anto masih belum masuk kerja karena masih dapat istirahat dokter. Tugasnya hari ini mengasuh Amora, karena Dini akan memasak tumpeng. Dini juga meminta Anto menghubungi Steve, Leo serta Harry mengabarkan tentang ulang tahun Amora yang diselenggarakan sore sepulang kerja.
Steve yang rencananya pulang ke Jogja subuh tadi agar bisa langsung ke kantor, terpaksa mengundur kepulangannya saat kemarin Sari memberitahunya ulang tahun Amora akan diselenggarakan sore ini.
Karena hari ini Steve sudah ga ngantor, maka sejak jam 2 dia dan Sari sudah lebih dulu tiba dirumah Dini.
Jam 4 sore Sari meminta Steve menjemput mamanya,dia sedang tanggung menghias tumpeng bersama Dini.
“Besok jadi pulang ke Jogja mbak?” tanya Sari ambil mengatur irisan telur dadar diatas tumpeng.
“Maunya gitu de, tapi belum dibeliin tiket ama maz, aku mau beli sendiri ga boleh. Liat malam ini aja” jawab Dini.
“Sudah rampung semua nduk?” tanya bu Rahma yang baru aja datang.
“Sampun ( sudah ) ma” jawab Dini mendekati calon mertuanya “Tanganku reget ma, ga salim ya” kata Dini mencium kedua pipi bu Rahma. Dini mengatakan ga bisa salaman dengan calon mertuaanya karena tangannya sedang kotor.
Akhirnya satu persatu yang diberi tahu sudah datang, semua adalah keluarga kecuali Steve, yang statusnya masih calon keluarga. Harry dan Leo datang dari kantornya masing-masing hampir berbarengan. Papa Peter ga bisa datang, dia masih konsen kerja dan sepulang kerja ke rumah sakit mengurusi istrinya.
Ga ada pesta hura-hura, hanya memanjatkan doa untuk kesehatan Amora. Seperti biasa Dini meminta Harry photo bertiga dengan Amora, dia ingin bila kelak Amora dewasa memiliki kenangan dengan ayahnya.
Sore ini Amora mengenakan kaos putih bertuliskan I love mom & dad dengan warna tulisan kuning kunyit dengan rok blue jeans. Sedang Dini menggunakan kaos putih bertuliskan mommy dengan warna tulisan merah dengan celana blue jeans. Dan Anto juga berkaos putih bertuliskan daddy dengan warna tulisan biru dongker dan menggunakan celana blue jeans.
Anto meminta Harry berphoto dengannya dan Amora. Pose yang diatur Steve sangat memukau. Anto dan Harry duduk bersebelahan dengan wajah hampir berhadapan, senyum mengembang di bibir mereka dan Amora berdiri di tengah-tengah mereka melingkarkan tangan mungilnya di bahu daddy dan ayahnya dengan ekspresi Amora tertawa lepas.
Karena beberapa kali terdengar suara geludug, Harry dan Leo pulang terlebih dahulu, alasannya takut kehujanan.
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini, senang ya ngelihat Harry dan Anto yang bisa bersikap dewasa dan ga gontok-gontokan. Memang banyak koq yang seperti mereka, hanya biasanya di novel dibuat mantan menjadi musuh, biar rame. Yanktie mah anti main stream deh.
Ikutin ceritanya di bab berikutnya yaa
Jangan lupa like dan vote serta komennya
__ADS_1
Inget pesan yanktie\, jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul ***KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR *** ya