CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
99 DISKUSI MENENTUKAN TANGGAL


__ADS_3

Anto meminta Harry berphoto dengannya dan Amora. Pose yang diatur Steve sangat memukau. Anto dan Harry duduk bersebelahan dengan wajah hampir berhadapan, senyum mengembang di bibir mereka dan Amora berdiri di tengah-tengah mereka melingkarkan tangan mungilnya di bahu daddy dan ayahnya dengan ekspresi Amora tertawa lepas.


Karena beberapa kali terdengar suara geludug, Harry dan Leo pulang terlebih dahulu, alasannya takut kehujanan.


Amora sudah tertidur.


“Ma, Pi, Mi,” sapa Anto pada ketiga orang tuanya dan Dini. “Kemarin kami ke rumah bapak, dan bapak meminta Dini segera menikah. Oleh karena itu kami mohon doa restunya, kami akan menikah 2 bulan lagi saat Dini libur semesteran.”


“Alhamdulillah kalau kalian sudah menetapkan waktu pernikahan, apa ga repot karena itu artinya akhir tahun, tiket kamu wira wiri gimana Din?” tanya papi Dini.


“Memang kalian sudah netapkan tanggal?” tanya mami Dini.


“Belum mi, kami minta mama dan mami yang tentuin. Juga tentuin kapan lamaran ke rumah bapak” sahut Dini.


“Maunya kalian gimana?” tanya mama Anto.


“Kami niatnya akad nikah di Cilandak, besoknya selametan di sini dan ga ada acara ngunduh mantu. Sehari setelah selametan kami pulang ke Jogja,” jawab Anto tegas.


“Ujian semestermu terakhir tanggal berapa de?” tanya mas Teguh..


“Tanggal 19 Desember mas,” jawab Dini.


“Gimana kalau kamu akad tanggal 22 Desember dan selametan tanggal 23 Desember” saran kang Amir suami mbak Kiran.


“Bisa juga tuh de, tanggal 25 Desember kalian balik ke Jogja. Kalau pesan tiket dari sekarang pasti masih dapat koq” sahut mas Teguh optimis, dia semangat akhirnya adik ipar tersayangnya akan segera memulai hidup baru lagi.


“Gimana nduk?” tanya mama.


Dini melihat Anto, meminta pendapatnya, Anto mengerti arti tatapan calon istrinya : “Terserah kamu,” jawab Anto.


“Manut ma, Dini ikut yang terbaik aja,” jawab Dini.


Sampai malam pembicaraan itu berlangsung santai namun mantab. Mbak Sashi dan mbak Kiran ga ikut pembicaraan karena menjaga anak-anak mereka. Sedang Steve dan Sari sibuk membicarakan tentang hubungan mereka.


Besok hari Jum’at  dan Anto memutuskan mereka pulang ke Jogja dengan penerbangan siang, Anto akan sholat Jum’at di bandara saja. Sebaliknya Steve menunda kepulangan menjadi Senin pagi, karena kalaupun dia pulang hari Jum’at, toh Sabtu dan Minggu dia libur. Lebih baik liburnya buat pacaran di Jakarta.


***


“Ngantuk,” kata Dini saat mereka baru sampai di rumah.


“Bobo aja, nanti maghrib daddy bangunin,” kata Anto lembut. “Daddy nemani Amora main, dia baru bangun kan.”

__ADS_1


“Kangen bobo dipeluk,” bisik Dini.


“Mommy kolokan,” balas Anto juga berbisik.


“Kolokan juga ama calon suami sendiri, bukan calonnya orang, daripada yang daddy ajak kencan tu, kangennya ama calon suami mommy,” balas Dini.


“Yee daddy ga ngajak dia kencan, ngawur aja kamu tuh,” kata Anto sambil memijit hidung Dini.


“Sakit dad,” rajuk Dini.


“Jadi bobo ga, mumpung Amora ga ngerengek minta main ama daddy,” ajak Anto.


“Liat aja, sekarang aja mommy udah di duain ama Amora,” keluh Dini.


“Hahahaha, sesudah nikah mungkin di tigain di empatin ama adik-adiknya Amora lho mom,” goda Anto.


Akhirnya Dini tertidur dalam dekap hangat pria pujaan hatinya. Anto yang awalnya hanya akan ngeloni, ikut bablas tidur siang juga.


***


Pagi tadi Anto mengajak Amora jalan kaki ke stasiun Tugu. Dini enggan ikut karena sedang mendapat tamu rutin bulanan, dia di rumah membereskan lemari pakaiannya, dia akan mengatur baju Anto dalam kamar ini juga. Toh sudah lama Anto tidak pernah tidur di kamar depan. Mereka sudah lama tidur bersama, untungnya selama ini Dini masih bisa meredam emosi Anto, bohong kalau mereka bisa mulus tanpa raba dan hanya cium bibir saja. Beberapa kali Anto hampir tergelincir, dan sebaliknya kadang Dini yang menginginkan lebih dari hanya sekedar saling raba.


Flash back on


Anto baru saja selesai mandi dan Dini sudah menyiap kan baju ganti untuk berangkat ke kantor subuh ini.


“Mom, gimana ini?” tanya Anto sambil menunjuk lehernya.


“Daddy suka usilin mommy sih, kan mommy ga tahan, lagian waktu mommy isap daddy ga tau kan karena sibuk sendiri,” balas Dini.


“Sekarang gimana caranya nutupin ini, pagi ini daddy ada meeting dengan dewan direktur,” rajuk Anto.


Dini mengusap sedikit liquid concealer di noda merah yang terletak di leher Anto, itulah sebabnya benda itu Anto bawa di tasnya karena dia gunakan sampai bekas merah di lehernya menghilang.


Flash back off


Sehabis jalan-jalan, pulangnya Amora minta naik becak, dia minta daddynya menyanyikan lagu yang sering mommynya nyanyikan bila mereka naik becak. “Aduh daddy ga hafal sayangku, sekarang kita naik becak, nanti nyanyinya di rumah sama mommy ya,” bujuk Anto.


“Moya ndak mau, Moya mayah” kata Amora, ngambeg pada daddynya, dia bilang mayah yang artinya marah.


“Assalamu’alaykum, mom help me please. Ada yang marah sama daddy nih,” kata Anto mengadu ke Dini saat mereka baru saja sampai rumah.

__ADS_1


“Wa alaykum salam, siapa sih yang lagi ngambeg? Wah yang ngambeg ga usah di kasih ice cream deh dad?” goda Dini.


“Moya mau es klim,” sahut Amora cepat.


Anto dan Dini terkekeh melihat kelakuan putri mereka.


“Dad, pas Amora bobo siang kita ke Beringharjo ya, cari souvenir,” pinta Dini.


“Mommy gapapa? Ga sakit perutnya?” tanya Anto ragu.


“Insya Allah gapapa, tadi tu ga mau ikut jalan-jalan karena mindahin barang-barangmu ke kamar kita. Daddy juga udah lama kan ga pernah bobo didepan,” jawab Dini ambil senyum-senyum.


***


“Pengennya besok souvenir daddy bawa duluan, biar aku ga kebanyakan bawaan,” kata Dini sambil membayar souvenir yang mereka pilih. Mereka memilih 2 type souvenir, yaitu untuk akad nikah dan selametan.


“Memang mau dibawa kemana mbak?” tanya pemilik toko souvenir.


“Ke Jakarta” jawab Anto.


“Kami bisa kirim koq, free ongkir,” jelas si pemilik toko.


“Ya sudah dikirim aja deh biar kami ga ribet,” kata Dini. “Yang ini dikirim ke alamat Cilandak ya,” kata Dini ambil menulis alamat Bapak “Selanjutnya yang type ini dikirim ke alamat Rawasari,” jelasnya lagi.


“Bener selesai seminggu kan mas?” tanya Anto memastikan. Walau penikahan mereka masih 7 minggu lagi, namun dia ingin semua fix jauh-jauh hari.


“Insya Allah selesai, ini kan tercantum nomor telpon kami, masnya cek aja tiap saat untuk memastikan” jawab pemilik toko souvenir.


“Maz, buat lamaran kita mau pakai sarimbit ga?” tanya Dini.


“Kalau kita pake, pantes ga sih? Ade ga perlu pakai kebaya kan saat lamaran?” Dini lanjut bertanya karena dia ragu. Memang ini adalah pernikahan kedua bagi mereka berdua, namun waktu pernikahan pertama kan ga ada proses lamaran bagi Din dan Anto sama sekali ga tau soal lamaran karena semua didominasi keluarga bu Gita. Sehingga buat mereka ini adalah pengalaman pertama.


“Ada undang-undang yang mengharuskan perempuan yang di lamar pakai kebaya atau bikini ga de?” tanya Anto menggoda. “Udah kita pakai batik aja, maz kan juga ga perlu pakai jas” katanya memutuskan, dia jadi teringat lamarannya dengan Shinta yang diatur keluarga Shinta.


Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini, nah sudah tenang kan karena maz Anto dan mbak Dini sudah mulai menuju proses peng halal an hubungan mereka.


Biar ga penasaran ikutin ceritanya di bab berikutnya yaa, udah mau habis koq


Jangan lupa like dan vote serta komennya


Inget pesan yanktie, jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul  KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR  ya

__ADS_1


__ADS_2