CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
109 AKU BOLEH GANTI PAYUNG?


__ADS_3

Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab.


Setelah mereka menikah, apa masih harus LDR lebih lama lagi?  Ikutin keseruannya yok.


Tapi jangan hanya baca …  kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.


Inget juga pesan yanktie, jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul  KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR  ya.


--------------------


“Mama jatuh cinta padamu sejak kamu datang nengok mama di rumah sakit saat mama kena sakit paru-paru basah. Sehabis kamu pulang mama tanya, koq ada teman maz yang nengokin, sedang saat itu kita masih kelas 2 SMP. Maz bilang mama sakit saat kita ngumpul kan, dan dari banyaknya teman-teman itu cuma kamu yang datang mbesoek mama. Tau cerita itu dari maz, maka mama langsung suka ama kamu, apalagi cuma kamu anak kecil yang mau berkebun dan nyoba resep masakan bareng mama. Maka dia nangis waktu maz cerita kamu terpaksa nikah. Ternyata feelling mama itu bagus banget, karena sampai saat ini anak perempuan kecil itu juga mikirin dia.”


Dini pun mengingat kembali saat dia dan teman-temannya sedang nyanyi-nyanyi di rumah mas Nomo, sebelah rumah Anto. Anto datang dengan wajah lesu dan mengatakan mamanya di rawat di rumah sakit. Dia langsung menanyakan rumah sakit mana dan ruangan apa, dan esoknya dia menengok tante Rahma yang sekarang menjadi mertuanya.


Saat ini Dini memikirkan bila Anto pindah Jogja, siapa yang akan mengurus mama? Bukankan lebih baik dia yang pindah ke Jakarta?


“Kalau Maz pindah Jogja, apa bisa kita bujuk mama tinggal disini?” tanya Dini. Dia suka tinggal di Jogja, dan dia juga lebih sreg Amora besar di Jogja, namun dia sedih bila mama tak ada yang menemani.


“Sejak maz pindah rumah saat menikah dengan Shinta mama punya keinginan pindah ikut mbak Rina, karena saat itu mama ga mau ikut maz dan Shinta, mama bilang aura Shinta menolaknya. Mama hanya menunggu Sari saja. Begitu Sari menikah dia akan ikut mbak Rina di mana pun mas Imron di tugaskan,” jelas Anto menjawab pertanyaan Dini.


“Tapi Maz, mungkin sekarang mama akan berpikir ulang. Bukankan istrimu bukan Shinta?” hati-hati Dini menanyakan hal ini.


“Maz akan tanyakan nanti ya ke mama. Sekarang kamu jawab soal maz ganti payung tadi,” desak Anto.


“Istikharah, hanya itu jawabannya Maz, karena perhitungan kita kan ga tau kedepannya. Walau kalau secara logika, ade senang bila kita menetap di Jogja” jawab Dini diplomatis.


Akhirnya setelah diskusi panjang dan sholat malam Anto memastikan akan mengambil tawaran yang di berikan pak Hermawan. Pagi ini dia mencoba menghubungi Direktur bank tersebut.

__ADS_1


“Selamat pagi pak Pras,” sapa pak Hermawan saat menjawab teleponnya. “Apa ada jawaban dari penawaran saya tempo hari?”


“Pagi Pak, maaf mengganggu. Kalau boleh tau, seandainya saya menerima tawaran Bapak, kapan saya mulai bekerja? Karena saya pun harus menyiapkan pengganti saya di kantor lama,” jawab Anto.


“1 Maret akan ada sertijab pak Pras, kalau Bapak menerima, maka awal Januari saya tidak perlu menjalankan misi mencari kandidat, Karena planningnya Januari akan ada penyaringan karyawan untuk menduduki kursi kosong itu,” tegas pak Hermawan.


“Baik Pak, saya siap. Dan kapan saya memberikan data administrasi saya?” tanya Anto


“Sampai 10 Januari saya masih holiday di Tokyo, 15 Januari kita ketemu di kantor saya Jakarta saja pak Pras.”


“Baik Pak, terimakasih dan selamat pagi,” kata Anto memutus sambungan telepon mereka.


Dini bahagia, artinya tak sampai 2 bulan dia LDR dengan Anto. nanti tinggal memikirkan masalah mama saja. Karena Anto sudah memastikan akan pindah ke Jogja maka Dini pun menghubungi papinya. “Assalamu’alaykum Pi, Papi sehatkan?” tanyanya.


“Wa alaykum salam, alhamdulillah kami sehat de. Kalian semua di sana gimana?” tanya papi.


“Din, rumah itu milikmu, papi sudah bayarkan bagian om-om mu, jadi itu full milik papi, karena full milik papi ya full milikmu. Ga perlu tanya atau ijin bila ingin membongkarnya. Atau kamu mau papi rubah akte kepemilikan atas namamu biar kamu ga ragu?”


“Jangan Pi, ga usah di ubah aktenya. Dini ga enak aja mau bikin kamar anak-anak, maka Dini ijin dulu. Tapi kalau Papi sudah bilang gitu ya wis, nanti Dini kasih tau maz biar dia atur kapan akan di renovasinya. Maturnuwun ya Pi. Assalamu’alaykum.”


***


“Maz kemaren pagi ade telepon papi, minta ijin mbobok kamar kita, untuk bikin pintu penghubung ke kamar sebelah. Kita bikin kamar Amora dan adiknya di situ. Gimana menurut Maz?”


“Kamu sudah minta ijin papi sebelum tanya maz dulu de?” Anto mengngernyitkan alisnya, dia tidak marah hanya bingung, buat apa Dini menanyakan hal tersebut setelah minta ijin ke mertuanya.


“Salah ya Maz? Maksudku tu kalau sudah positif dapat ijin dari papi, baru cerita wacana yang ade inginkan,” jelas Dini.

__ADS_1


“Ga ada salah atau bener cintaku, tapi sebaiknya kita diskusiin dulu baru minta ijin ke papi. Ga salah koq,” sahut Anto sambil memeluk bahu istrinya


“Kamu tu masih belum terbiasa punya suami, masih kebiasaan dengan kesendirianmu atau saat ama Harry, walau ada suami ga bisa di ajak rembug an, jadi masih sering mutusin sesuatu sendiri. Inget cinta, kita sekarang sudah bersama, ada maz di sisimu. Semua-semua di rembug dulu ya? Jangan putusin sendiri. Kemarin soal pindah kerja aja maz minta suaramu dulu kan baru kita putuskan? Maz juga mau nya hal lain seperti itu. Soal Amora pindah kamar atau nanti sekolah Amora dan semau hal kita bahas dulu ya?” bujuk Anto, dia tau sebelumnya Dini adalah wanita yang memutuskan segalanya sendirian, karena kondisinya seperti itu. Namun sekarang sudah berbeda, ada dirinya di sisi Dini.


“Trus apa kata papi?” katanya sambil membelai pipi Dini, dia ingin segera menuntaskan hasratnya pagi ini. mumpung Amora sedang bermain di kebun.


“Papi billang semua terserah kita, karena kata papi rumah ini mutlak milik ade, jadi ade ga perlu minta ijin papi lagi.”


“Kalau maz yang sekarang minta ijin boleh ga?” tanya Anto sambil tangannya bergerilya di tubuh istrinya. Tanpa menunggu jawaban, Anto langsung melakukan serangan untuk membuat adik buat Amora yang kamarnya akan di persiapkan Dini. Pikirnya lebih penting bikin penghuni kamarnya dulu daripada menyiapkan kamarnya.


“Cukup maz, sekali aja ya, kita siap-siap mandi dan sholat dzuhur yok, kasian anakmu kelamaan main sama mbak Inah,” kata Dini saat mereka selesai bertarung.


“Cape mom, daddy mandi belakangan aja ya, mommy duluan sana, apa mau mandi berdua aja?” tanya Anto. Dini tidak menanggapi ajakan Anto, dia bersiap mandi lalu menemani Amora makan.


Amora selesai makan ketika adzan dzuhur berkumandang, Dini sholat sendirian, dia tidak mau nunggu Anto yang masih tidur. “Moya bobo siang dulu ya,” perintahnya sambil mengajak Amora tidur di kamar depan yang dulu biasa di tempati Anto ketika mereka belum menikah.


“Bobo cama daddy,” rengek Amora. “Daddy cape sayangku, Moya bobo sendiri, nanti bangun bobo mommy kasih ice cream alpokat yang kemarin kita bikin ya?”


“Yeeeeay es klim, iya Moya mauuuuu,” pekik Amora. “Ayo sekarang kita bobo, baca doa sebelum bobo dulu.”


Sudah hampir jam 2 siang, Dini menuju kamarnya, ingin membangunkan Anto, karena waktu Dzuhur hampir habis. Ternyata Anto baru saja keluar kamar mandi dengan rambut basah masih menetes airnya. “Maz, rambutmu tu pendek lho, kenapa sih ga handukan kering sisan, biar ga netes-netes airnya?” sambil dia mengambil handuk di leher Anto dan memintanya menunduk agar Dini bisa mengeringkan rambut Anto.


-----------


Yuhuuuuuuuuuuuuuuuu, ga kerasa lho cinta kecilnya maz Anto akan berakhir, tapi biar ga penasaran ikuti ceritanya di bab berikutnya yaa, udah mau tamat koq. Sambil nunggu lanjutan kisah ini, enaknya baca cerita milik teman yanktie yang pastinya seru bangeeet..


Cek judul LOVE IS RAIN  karya author mama reni ya

__ADS_1



__ADS_2