CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
74 PASTI REPOTLAH, WONG KITA BARU KENAL


__ADS_3

74 PASTI REPOTLAH, WONG KITA BARU KENAL


“Jadi karena Amora nih, bukan karena mommy nya?” goda Steve


“Pastinya, kalau hal itu ga perlu dibahas, apalagi diperdebatkan” kata Anto memastikan. “Karena gue ke Bumijo, kami naik taxi ajalah, biar lo ga bolak balik, jauh juga kan dari sini” kata Anto


“Nah kalau ama elo, gue rela deh ga nganter” kata Steve. Dia ingin memberi kesempatan pada Anto untuk berdua dengan Dini lebih sering


“Aku beresin barang Amora deh, biar bisa langsung pamit” kilah Dini “Kamu pesenin taxi dong Steve, alamat sini apa?” tanya Dini.


“Ok, tenang aja, aku pesenin, kamu beresin barang Amora aja.” kata Steve


Ga lama taxi datang. Dini memasukan barang-barang di bagasi, saat dia kedalam ingin menggendong Amora, Anto sudah lebih dulu menggendongnya. Dini membukakan pintu agar Anto bisa masuk, dia pamit pada Steve dengan cara memeluknya. Sesudah itu baru dia masuk taxi duduk disebelah Anto


“Ke Bumijo njih pak” katanya pada driver taxi.


“Rabu pesawat jam berapa maz?” tanya Dini memecah kekakuan antara mereka.


“Enaknya jam berapa?” tanya Anto


“Lho, maz belum pesan tiket?” tanya Dini ga percaya


“Belum” kata Anto sengaja menggantung kalimatnya, dia ingin tau reaksi Dini


“Kenapa?” tanya Dini


“Jujur aku bahkan ga tau akan pulang kapan. Bisa malam ini, bisa besok pagi atau minggu depan” jawab Anto


“Itu ga menjawab pertanyaanku. Aku tanya kenapa, maksudku kenapa bisa ga tau pulang kapan, kan aneh, waktu berangkat dari Jakarta kan tau planning pulangnya kapan” sengit Dini menjawab pernyataan Anto tadi


“Huuh..” Amora ingin membalikan badannya

__ADS_1


“Ssstttt…ini dimobil sayang, bukan dikasur, diam sama daddy ya?” bujuk Anto. “Suaramu terlalu keras, bikin dia ga nyaman” kata Anto memperingatkan Dini


“Habis maz bikin kesel sih” kata Dini


Anto mencuri mengecup pipi Dini sekilas. “Jujur maz emang ga tau akan pulang kapan, karena maz mau cari kepastian sikapmu. Kalau maz tau sikapmu baru maz bisa tentukan pulang kapan” jawab Anto menjelaskan alasannya belum beli tiket


“Cuti maz sampai kapan?” tanya Dini


“Rabu harusnya sudah masuk” jawab Anto jujur


“Ya sudah, maz pulang besok sore. Biar hari Selasa bisa istirahat dirumah  dan hari Rabu sudah fresh masuk kerja” saran Dini


“Njih rumah depan itu pak” kata Dini mengarahkan driver agar berhenti didepan rumahnya, dia membuka dompet untuk membayar namun Anto sudah lebih dulu menyerahkan uang pada driver.


Dini membuka keluar dari taxi dan langsung lari membuka pintu rumah agar Anto mudah masuk menggendong Amora. “Mbak, barang di bagasi ambil ya, jangan ada yang ketinggalan, cek dulu” perintahnya pada pengasuh Amora yang tergopoh-gopoh mendatanginya. Dini berlari kedalam, membukakan Anto pintu kamarnya


Anto menidurkan Amora di kasur kamar itu, menepuk-nepuknya sebentar karena saat transisi dari gendongan ke kasur, Amora menggeliat. Anto memandangi kamar Dini. Kamar yang rapih, ada harum lembut lavender. Ada photo Amora dan Dini dalam pigura sangat besar, sepertinya itu photo baru karena lokasi back ground photo adalah ruang keluarga dirumah ini. selanjutnya ada 2 pigura berisi photo Amora sendirian, 1 ketika dia dengan tumpeng dan 1 lagi dengan pose telungkup 2 pigura itu mengapit pigura berisi photo Dini sendirian dengan toga kelulusannya. Puas mengamati kamar Dini, Anto keluar dan menutup pintu pelan-pelan


“Makasih ya maz” kata Dini saat keluar kamar. Dini menghindari pandangan buruk para ART nya, jadi saat Anto berada di kamar, dia ga mau ada disana. ‘Mau kopi atau teh?” tanya Dini


“Baju kotor dicuci sini aja maz, biar ga bau di ransel” kata Dini menawarkan jasa mencuci baju


“Ga usah lah, nanti ngerepotin” jawab Anto


“Pasti repotlah, wong kita orang baru kenal” sahut Dini kesal lalu masuk ke kamarnya


Salah lagi, kata Anto dalam hatinya, apa dia lagi PMS ya? Anto masuk ke kamarnya, dia bersiap mandi dan memisahkan pakaian kotornya, tentu saja CD ga akan dia berikan ke orang lain untuk dicucikan. Sehabis mandi Anto bersiap sholat, sambil membawa 1 kantong plastik baju kotornya keluar dari kamar.


“Anak daddy sudah bangun? Mau maem ya?” tanya Anto pada Amora yang sudah bersiap makan di meja khususnya


“Moya mau maem” jawab Amora sambil mengangguk-angguk

__ADS_1


“Baca doa sebelum makan dulu” tuntun Dini


“De, ini baju kotornya” kata Anto setelah Amora selesai berdo’a. Dini menerimanya dan membawanya kebelakang


“Iki langsung ditandangi yo mbok” kata Dini pada simbok, memintanya untuk disegerakan dicuci


Sehabis makan malam Anto bermain sebentar dengan Amora sementara Dini mempersiapkan bahan materi untuk dia mengajar besok. Dini merombak 1 ruang tanpa pintu menjadi ruang buku, rak-rak buku, sofa santai serta meja kerja dia atur di ruang itu, disana juga dia biasa bekerja mempersiapkan materi mengajarnya. Karena berupa ruang terbuka maka disini tidak ada AC, hanya menggunakan kipas angin besar. Sambil bekerja sesekali Dini melihat keberadaan Amora, bukan karena saat ini Amora sedang berbincang dengan Anto, melainkan memang tiap hari seperti itu. Dia ga ingin pekerjaannya bisa mengalihkan focus hidupnya. Selarik senyum tipis tergurat dibibir tipis Dini saat melihat Amora memasang wajah serius mendengarkan Anto membacakan dongeng untuknya.


“Udahan ya baca ceritanya, sekarang waktunya bobo” perintah Dini pada Amora. “Ndak mau” jawab Amora, mungkin dia merasa tanggung ceritanya belum tamat


“Besok daddy bacain lagi, sekarang kita sikat gigi dan basuh badan dulu lalu bobo ya?” ajak Anto. Tanpa drama berkepanjangan Amora pun mau lap badan sebelum tidur dengan mbak Inah, sedang Dini mempersiapkan piyama dan minyak kayu putih untuk digunakan Amora sehabis dari toilet nanti


***


Anto duduk diteras, sebenarnya dia ingin merokok, tapi sejak Dini mengambil rokoknya malam pertama dia datang ke Jogja, dia mengurangi kegiatan itu. Memang Dini tidak menyimpan bungkus rokoknya, saat dia mengambilnya dari meja diteras, Dini langsung meletakan di meja ruang tamu, sehingga malam itu Anto dan Steve langsung bisa melihatnya saat akan memasuki kamar tidur mereka. Anto bingung atas sikap Dini yang belum memberikan lampu hijau, sehingga membuatnya galau untuk mengambil keputusan kapan dia pulang ke Jakarta.


Dini datang ke teras membawa wedang jahe serta pisang goreng. Lalu duduk menemani Anto diteras. Dini yakin Anto ingin berbicara dengannya. “Ada yang mau diomongin?” tanya Dini


Sejak Dini datang ke teras, sampai saat ini Anto tak lepas memandanginya, makanya dia tau Dini bertanya namun ga berani menatapnya. “Kamu bicara ama maz, tapi ga liat ke maz sih” protes Anto


“Ga perlu liat juga tau, ade bicara buat maz, karena disini cuma ada kita berdua” sahut Dini enggan


“De..” kata Anto lalu diam, menunggu reaksi Dini


“De..” katanya lagi, Dini masih tak menoleh


“De..” Anto tetap mengulangi panggilannya.


Akhirnya Dini mengangkat wajahnya, ditatapnya mata laki-laki yang pernah jadi pujaan hatinya itu.


“pernah”???

__ADS_1


Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini


Jangan lupa like dan vote nya ya


__ADS_2