CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
18 WELCOME MY LITTLE PRINCESS


__ADS_3

Yanktie sampaikan SELAMAT MEMBACA


“Mulai banyak jalan dan ikuti senam hamil agar Ibu dan Bapak bisa mempelajari pernapasan saat melahirkan nanti,” lanjut dokter tersebut.


Pulang dari rumah sakit Dini mampir ke rumah maminya. Dia hanya ingin digorengkan kerupuk udang yang bantat dan sedikit gosong. Sebenarnya itu bisa dia buat sendiri, tapi entah mengapa dia ingin dibuatkan oleh orang lain.


Harusnya sudah usia kandungan tujuh bulan keinginan Dini ini bukan masuk kategori ngidam kan? Karena Dini memang tak pernah ngidam seperti yang dialami para ibu saat hamil. Kadang ada yang diinginkannya, tapi tidak harus ada saat itu juga dan kalau tidak ada ya sudah, jadi Dini tidak ngerasa itu ngidam.


Sejak usia kandungan delapan bulan Dini mulai sulit tidur nyenyak, dia merasa serba salah posisi tidurnya. Bila sudah begitu dia akan menangis sepanjang malam. Harry dengan sabar akan mengelus punggungnya memberi rasa aman, bila dirasa agak enakan Dini akan tertidur.


Kakinya mulai bengkak sehingga dokter menyarankan untuk mengurangi konsumsi garam dimakanannya. Menjelang tidur Dini sering merendam kakinya dengan air hangat yang di beri garam.


Saat pertama melakukannya Dini mempersiapkan semua sendiri tapi malam berikutnya Harry yang mempersiapkan untuknya. Harry juga menunggu disisinya lalu mengeringkan kaki Dini dengan handuk kecil agar tidak kepleset bila kaki Dini basah. Dini mulai memberi apresiasi bila Harry melakukan hal baik, dia langsung berterima kasih sambil memeluk suaminya dan memberi kecupan dipipinya.


Hari ini jadwal kontrol ke dokter. “Sampai saat ini kondisi tetap stabil Bu, mulai saat ini kontrol menjadi tiap minggu ya, bukan dua minggu sekali karena sudah mendekati Hari Perkiraan Lahir ( HPL ). Vitamin jangan lupa diminum dan makin rajin senam hamilnya,” saran dokter.


Seminggu sebelum HPL Dini sudah mengungsi ke Rawasari. Karena disini lebih dekat ke rumah sakit, banyak orang, dan kalau pun papi tidak ada, lebih mudah dapat taksi karena lebih ramai jalan rayanya dari pada di daerah rumah tinggalnya.


Kalau di rumah sewaannya hanya ada motor, dan Harry baru sampai rumah saat maghrib, sehingga sejak pagi sampai sore Dini sendirian.


Tiap pagi sebelum berangkat kuliah Harry akan menemaninya jalan di halaman depan, tanpa alas kaki, Dini melakukan jalan bolak balik dibebatuan koral putih yang memang sejak dulu mami bikin untuk teraphy syaraf mami. Baru beberapa putaran perutnya serasa sakit.


“Sakiiiiiiiiit!” teriak Dini sambil memegang bawah perutnya.


Harry langsung membopongnya ke kursi teras dan teriak memanggil mami. Papi Iman yang sudah siap dengan baju kerjanya langsung lari dan membuka pintu gerbang. “Langsung bawa rumah sakit aja Harr!” titah papi tanpa menunggu respon mami yang malah bengong melihat kondisi anak bungsunya.

__ADS_1


Harry langsung membopong Dini ke mobil yang pintunya sudah di buka oleh papi, mami berlari ke dalam mengambil dompet dan tas baju yang sudah disiapkan Dini untuk ke rumah sakit saat melahirkan nanti.


Sesampai di rumah sakit Dini langsung di bawa ke ruang bersalin oleh perawat yang bertugas. Papi dan mami mengurus pendaftaran sementara Harry memegang tangan istrinya yang sudah berkeringat dingin sambil berjalan di samping brankar yang membawa Dini.


“Sakit Harr, sakiiiit!” keluh Dini.


“Sabar ya sayank, tunggu bidannya datang,” bujuk Harry, selesai di ukur tensi datang bu bidan memeriksa dan mengatakan belum bukaan lengkap, kalau bisa Dini masih di minta jalan untuk mempercepat pembukaan, tapi  Dini sudah tidak kuat bila harus kembali jalan.


Mami masuk dan mengantarkan sarapan untuk anak dan menantunya, karena pagi ini mereka memang belum makan. “Papi absent ke kantor dulu ya de, kan kata bu bidan masih lama lahirnya,” kata papi sambil mengecup kening Dini. Dia hanya menjawabnya dengan anggukan.


Sejak pagi hingga siang ini Dini menikmati sakit yang teramat sakit, ‘Ternyata ini yang mami rasakan menjelang lahirku dulu,’ batinnya


Sore jam empat ketubannya pecah, Dini sudah lemas karena sejak pagi menahan sakit. Dia kembali di bawa ke ruang bersalin. Di ruang ini ada dua bed khusus untuk melahirkan yang bentuknya berbeda dengan bed pada umumnya.


Bed sebelahnya sepertinya sudah selesai melahirkan namun kondisi si ibu kritis, dan tak lama terdengar jerit histeris dari salah satu anggota keluarga pasien tersebut. Tentu saja itu membuat Dini sangat takut. Dia meminta mami diperbolehkan menemaninya di dalam, tapi mami baru saja keluar untuk salat ashar, yang ada hanya Harry.


Perjuangan panjang Dini sukses dengan terdengarnya tangis bayi kecilnya. Ternyata dia bidadari kecil yang sangat cantik. Kulitnya merah, rambutnya tipis dan teriakannya mengalahi jeritan bundanya.


'Welcome my little princess AMORA BERNADHETA', nama yang Dini pilih untuk bidadari kecilnya yang mempunyai arti cintanya Harry, karena bernadheta di ambil dari nama Harry yaitu BENHARD LEONARD.


Pertumbuhan Amora membuat Dini sangat bersyukur, sejak lahir dia memang tidak rewel. ASI nya pun lancar. Saat ini si bulet sudah berusia tiga bulan.


Lima minggu lagi Dini akan kembali kuliah. Dini harus memperkenalkannya pada suusu formula. Tidak mau asal kasih, sebelum memulainya Dini berniat konsultasi dulu ke dokter anak yang menangani sejak Amora lahir.


“Yah, bulan depan aku mulai kuliah,” kata Dini semalam. “Besok bisa temani konsul ke dokter enggak buat konsultasi masalah suusu formula Amora” Dini bertanya ke Harry yang sedang mengayun Amora untuk menidurkannya.

__ADS_1


Sejak kelahiran Amora Dini memang memanggil Harry dengan sebutan Ayah, tidak bisa dengan yank atau panggilan mesra lainnya, karena memang dia belum mencintai sosok yang terpaksa menjadi suaminya itu. Buat Dini memang sangat sulit jatuh cinta pada orang lain. Dia bisa dengan mudah memberi simpati atau sayang, namun tidak untuk cinta.


“Di drop aja bisa enggak? Ayah ada ujian jam sepuluh, pulang ujian Ayah balik ke rumah sakit. Gimana?” tanya Harry pelan, takut mengganggu Amora dipelukannya.


“Kalau udah selesai duluan kabarin ke pager ya?” lanjutnya lagi.


Dini tidak menjawab, dia hanya mempersiapkan baju ganti Amora untuk ke rumah sakit besok. Tanpa kata, tapi itu artinya iya.


***


Sebelum ke dokter anak Dini sengaja daftar ke dokter kandungan terlebih dulu sehabis Harry berangkat kuliah. Dia pasang alat kontrasepsi diam-diam. Sehabis dia melahirkan mereka belum pernah berhubungan intim sehingga Dini tidak takut sudah ada bayi lagi di kandungannya.


Dini masih antri panggilan di dokter anak ketika Harry datang, Harry bingung mengapa belum selesai. Dini menerangkan tadi pas hampir giliran Amora di panggil, Amora malah buang air besar sehingga Dini mempersilakan pasien berikutnya masuk lebih dulu.


“Malah kebetulankan, jadi Ayah bisa tahu penjelasan dokter tentang kondisi Amora nanti,” jelas Dini. Dia memang tak memberitahu masalah memasang alat kontrasepsi pada Harry.


“Iya sih, princess maunya gitu ya, Ayah harus tau semua tentang kamu,” kata Harry sambil menggelitik pipi Amora dengan dagunya. Amora tekekeh merasakan geli bila ayahnya menggodanya demikian. Dini memandang keduanya dengan rasa yang sulit dia ungkapkan. Yang pasti Dini merasa bersyukur memiliki Amora.


====================================================================== 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2