
Yanktie sampaikan SELAMAT MEMBACA
Kuletakan gelas berisi air sirop sirsak kesukaannya. “Makasih Maz,” langsung diteguk sedikit minuman itu sebelum kutawari untuk meminumnya.
“Hari Jum’at pagi kemarin Ade sudah menikah,” katanya sangat pelan sambil menunduk.
Walau ucapannya sangaaaaaaat lirih tapi jelas aku dengar suaranya dan aku mengerti arti kata-katanya. Ada rasa sedih bercampur bahagia. Sedih karena gadis kecilku sudah resmi menjadi milik orang lain dan semakin jauh dari gapaian tanganku.
Namun bahagia karena dia tidak lagi terombang ambing dengan masalah kehamilannya. Ku lihat dia terus menunduk, sosok yang aku cinta dan akan selalu aku cinta itu semakin dalam menunduk tanpa mau memandangku lagi.
Tak ada suara apa pun sesudah itu, lama dalam diam, akhirnya dia mengangkat wajahnya, kutatap manik matanya yang sendu.
“Kamu sudah jadi istri orang De, kamu kesini suamimu tahu engga?” tanyaku. Aaakau taak ingin Harry memarahinya karena dia menghampiriku. Walau bagaimana pu dia akan dianggap salah. Karena statusnya telah menjadi istri orang.
“Semalam Ade bilang pulang kuliah mau ketemu Maz. Hari ini dia kuliah siang, pagi katanya mau cari kerja Maz,” jawabnya.
“Maz enggak tau mau bilang apa, Maz juga enggak mau ucapin selamat atas pernikahanmu,. Yang Maz tau, apa pun kondisinya kamu sudah punya imam. Patuhi imammu ya, jangan bohong apa pun padanya. Karena bila suatu saat nanti Maz jadi imam pun, Maz enggak akan membohongi istri Maz. Karena Maz enggak ingin dibohongi. Belajar yang benar ya De,” kataku untuknya.
“Ok, Ade pamit ya Maz,” jawabnya, entah mengapa dia tidak ingin berlama-lama lagi di rumahku seperti biasanya.
“Tunggu sebentar De. Maz izin pacaran dengan Vionne ya?” kataku, menyampaikan pemikiranku selama ini. Niat ini sudah aku pikirkan sejak tahu kehamilannya. Memaang ini langkah antisipasi yaang aku ingin tempuh bila Dini menikah dengan Harry.
Aku ingin selalu berada dekat dengan dia, jalan satu-satunya aku akan menjadi adik iparnya. Akan sangat mudah itu terlaksana, karena Vionne adik bungsu Harry sejak dulu menunjukkan rasa sukanya padaku tapi aku tak menggubrisnya karena dihatiku hanya ada satu nama : Rahdini Mustika!
“Maz enggak mabok kan? Enggak salah ngomong kan?” reaksinya saat mendengar pernyataanku tadi.
__ADS_1
“Aku enggak mabok De, aku serius ingin jadi adik iparmu, agar selalu bisa di dekatmu,” jawabku jujur tentang motivasiku mendekati Vionne.
“Lakukanlah Maz, kalau itu maumu. Tapi sejak itu terjadi Maz sudah bukan siapa-siapa buatku. Ade enggak akan kenal dengan seseorang yang bernama Prasetyanto Soekarso!” jawabnya sambil berdiri. “Assalamu’alaykum,” lanjutnya sambil berlari keluar gerbang dan langsung naik bemo yang kebetulan pas berhenti didepan rumahku.
Aku terpaku. Semarah itukah dia sehingga mengatakan tidak akan kenal dengan diriku lagi? Padahal ide untuk menjadi adik iparnya sudah kupikir sejak tahu Dini hamil oleh Harry. Oh my God, apa yang aku harus lakukan kini?
Lalu aku harus gimana lagi? Kusebrangi jalan raya didepan rumahku, kebetulan rumahku berada di tepi jalan raya. Kubeli rokok di toko depan rumah dan kucoba menghisapnya. Kulakukan hal yang paling Dini benci : merokok!
Padahal di sekolah, dengan semua temanku laki-laki dan hampir semua teman merokok, aku masih bisa tak tergoda, entah kenapa sekarang aku memulainya. Apa ini karena hatiku yang teramat sakit mendengar dirinya sudah resmi menjadi milik orang lain?
PRASETYANTO END POV
Sesuai kesepakatan Harry dan Dini, hari ini mereka pindah ke rumah petak yang mereka sewa per bulan. Mami papi dan kakak-kakaknya tidak bisa lagi komplain karena ini adalah keputusan yang sudah bulat.
Dini bersikeras ingin hidup mandiri, mereka tak bisa intervensi lagi. Kemampuan Harry dan Dini memang hanya sewa rumah petakan bulanan bukan tahunan, karena mereka tidak ingin ada bantuan dari siapa pun. Harry mulai kerja sebagai free marketing di suatu toko alat elektronik. Dia kerja sambil kuliah.
Sampai saat ini dia juga tidak ngalamin ngidam yang membuat harus mendapatkan sesuatu yang tak lazim, baby memang pengertian pada bundanya. Harry mulai terbiasa memanggil baby juga, karena selama ini dia menyebutnya anak kecil, dede atau anak ayah. Usia kandungan Dini sekarang sudah dua bulan.
Mbak Sashi mengatur makanan di meja kecil ruang tamu Dini. Rumah petak ini hanya terdiri dari los panjang 3 x 10 m saja yang di sekat menjadi ruang tamu, kamar serta ruang belakang yang berfungsi sebagai dapur dan bersebelahan dengan kamar mandi super kecil.
Sehabis makan nasi bungkus para tukang langsung pamit ikut dengan mobil bak yang mami sewa.
“De, Mami enggak lama ya, Papi pulang hari ini,” kata mami, Dini tahu hari ini papi pulang dari dinas ke kota Lampung.
“Iya Mi, makasih sudah dianterin sampe sini.” Dini tentu bersyukur maminya masih mau membantunya pindahan sehingga dia tak terlalu lelah.
__ADS_1
“Yang sabar ya De, semua harus ikhlas dijalanin,” kata mbak Sashi sebelum masuk taksi.
Dini masuk rumah, dan mengangkat piring kotor untuk di bawa ke ruang belakang. Di letakan di meja dapur karena dia belum membeli alat cuci piring serta sabun cuci piring. Hal sepele seperti itu belum terpikir olehnya.
“Kamu jangan kecapean Yank, duduk dulu aja, aku pasang seprei dulu sebentar ya,” kata Harry sambil mencari dus bertuliskan sprei, kordeyn dll. Memang semua mereka tulisi agar saat mencari tidak serabutan buka biar tak bingung.
Dini tidak menggubrisnya, malah membuka dus berisi pakaiannya dan mulai menyusunnya di lemari.
“Yank, bisa enggak sih denger dan turutin perintahku,” kata Harry sambil memeluk pinggang Dini dari belakang. Entah mengapa, sudah lima minggu pernikahan Dini masih belum bisa membuka hati pada Harry , walau dia akui Harry sudah berubah 180 derajat.
Harry meletakan dagunya di pundak Dini. Dini cepat menepis tangannya dan menjauh dari laki-laki itu lalu dia beranjak ke ruang depan dan duduk di kursi rotan. Harry ikut duduk di sebelahnya, dipegang dagu istrinya dan dihadapkannya ke wajahnya.
“Mau sampai kapan kamu enggak anggap aku De? Aku sudah mengaku salah, aku sudah berupaya berubah, semua hal buruk sudah aku tinggalkan. Aku sudah cari kerja untuk hidup kita. Apalagi yang harus aku lakukan agar kamu mau menerimaku?” keluhnya lirih sambil menantap mata Dini sendu.
“Kamu memang jauh berubah Harr, tapi itu semua kamu lakukan terpaksa! Kamu lakukan karena kamu kepaksa bertanggung jawab terhadap baby dan aku. Kamu terpaksa melakukan semua itu, bukan karena kemauan tulusmu,” jawab Dini sambil membalas tatapan mata suaminya.
“Right honey, aku melakukannya terpaksa! Aku terpaksa berhenti mabuk karena aku ingin jadi suami yang baik bagimu. Aku terpaksa berhenti merokok karena aku tak ingin baby enggak sehat. Aku terpaksa kerja untuk memberi nafkah kamu karena aku ingin yang terbaik untuk anak dan istriku. Apa itu salah?” keluhnya meninggi masih sambil memegang dagu perempuan hitam manis itu.
Dini merasakan jemari yang memegang dagunya mengeras, sehingga dia sedikit meringis merasakan sakit akibat cengkeraman tangan itu.
====================================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta