CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
103 A WEEK BEFORE THE WEDDING DAY


__ADS_3

Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini, di bab kali ini mbak Dini tambah senewen, sampai-sampai maz Anto ingin ke Jogja pakai karpet terbang. Simak terus ceritanya ya.


Tapi jangan hanya baca …  kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.


Inget juga pesan yanktie, jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul  KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR  ya


-------------


“Koq lemes gitu, kenapa lagi? Malam ini please jangan nangis lagi ya, jangan nervous gitu dong,” bujuk Anto, karena tiap hari Dini selalu menangis, dia super sensitive, kalah orang PMS


“Maz ga suka ya aku nangis, ya sudah ga usah telpon,” jawab Dini lalu dia memutus hubungan telponnya. Di non aktif kannya HP nya agar Anto tidak menghubunginya lagi. Dini tau Anto ga akan menghubungi lewat nomor rumah karena akan berisik dan mengganggu semua yang sudah tidur.


***


Di Jakarta Anto sebenarnya juga stress, dia memang pernah nikah normal, tidak seperti Dini yang menikah dadakan, namun saat itu Anto sama sekali tidak ikut mengurus perihal pernikahannya, dia hanya tinggal datang lalu duduk depan penghulu selanjutnya berdiri di panggung pesta. Jadi pengalaman kali ini juga pengalaman pertama yang membuatnya kalang kabut. Sekarang ditambah beban tambahan berupa keluhan Dini setiap hari. Dini selalu menangis bila mereka berbicara.


Sudah seminggu Dini seperti itu, Anto tidak marah dengan kondisi Dini saat ini, dia sangat mengerti. Dia hanya sedih karena tidak bisa mendekapnya untuk membuatnya tenang. Anto hanya bisa menghibur dan membujuknya dari jauh. Dan malam ini malah lebih fatal. Dini ngambeg menutup sambungan teleponnya dan mematikan HPnya pula. Andai dia punya karpet terbang, ingin rasanya dia langsung terbang ke Jogja kapan pun Dini membutuhkannya.


Sekarang Anto mati langkah, mau minta tolong Steve tidak mungkin, ini persis seperti saat Dini menghilang ketika Anto terbaring di infus, perasaan ketakutan kehilangan Dini yang membuatnya putus asa. Rasanya dia ingin teriak tapi takut ganggu mamanya. Dia sangat putus asa. Andai masih agak sore dia bisa cari tiket untuk langsung menyelesaikan persoalan yang mengganjal ini. Anto terus mencoba menghubungi Dini.


***


Dini meredam emosinya, dia juga tidak ngerti koq emosinya melebihi saat dia PMS. Dia menyesal tadi memutus telepon dan mematikan HP nya. Dia ingin mendengar Anto menghiburnya seperti biasa, dia ingin Anto menemaninya hingga dia tertidur. Sudah jam 11 malam, biasanya mereka sudah selesai bicara. Apa Anto sudah tidur ya? Apa Anto marah ya karena dia ngambeg. Dini ingat ketika dia tidak mendapat telepon dari Anto saat Anto pingsan karena di jebak Ita, Dini mengingat betapa dia sangat ketakutan kehilangan Anto. Dini juga ingat cerita Anto yang sangat ketakutan ketika dia tidak bisa di hubungi saat dia ketiduran karena kelelahan. Dini tidak ingin Anto panik, dia menyalakan HP nya, terlihat 16x panggilan dari nomor Anto.


“Maz” kata Dini saat Anto mengangkat telponnya. Anto diam tidak bicara, dia sangat bersyukur Dini menghubunginya lagi, dia masih sangat ketakutan bila malam ini Dini masih marah. Sejak tadi dia sudah berupaya mencari tiket terpagi untuk terbang ke Jogja.

__ADS_1


“Maz, jangan diem aja, maafin ade,” rajuk Dini/


“Bagus kamu telpon ke maz malam ini de, maz sejak tadi sudah bingung cari tiket malam ini atau besok pagi. Kalau ga dapat juga maz akan nekat berangkat sekarang juga naik mobil. Kamu tau ga maz sangat takut? Sadar ga de kamu bikin maz kalang kabut? Jangan egois dan berpikir cuma kamu yang tertekan, maz juga sama de, hanya maz ga mau ngeluh biar kamu ga makin down. Kalau maz ambil jalan pendek tanpa berpikir, kamu mau maz ngerokok atau bahkan mabuk? Please de, jangan egois, maz ngomong gini karena maz ga kuat ade tadi ga bisa di hubungi, kalau ga mikir kenyamanan orang serumah, mau rasanya telpon kamu ke nomor rumah atau nyuruh Steve gedor rumahmu. Please ya cinta, kita udah janji kita akan saling mengingatkan kan? Tinggal seminggu lagi lho de, kita pasti bisa ngadepin ini bersama ya?” cerocos Anto yang sudah tidak kuat menahan sesak di dadanya.


“Iya maz, ade sadar ade salah, makanya ade langsung telepon maz duluan. Ade juga pernah ketakutan kehilangan maz waktu maz sakit. Ade ga mau lagi ngerasa seperti itu. Maz maafin ade kan?” rengek Dini.


“Iya cintaku, sekarang kamu bobo ya, biar kamu fresh. Maz sangat mencintai kamu, jangan pernah bikin maz panik ya cinta,” kata Anto yang saat ini sudah tenang.


“I love you my husband” ucap Dini.


“Love you too my sweet heart,” kata Anto.


Hari ini Dini menyerahkan hasil ujian semester dan nilai harian siswa ke beberapa wali kelas yang dia ajar.


“Din, kapan ke Jakarta” tanya abang Ichwan Lubis, pria pendek gemuk ini merupakan salah satu walikelas 12.


“Abang tanya edamu, mau kah dia ketemuan abang di Jakarta, abang aja mikir bila kami nikah nanti bagaimana nasib kami kalau harus LDR terus. Karena dia ga mungkin ninggalin ibunya di Cimahi” jawab bang Ichwan.


“Abang yang usaha cari sekolah di sana lah, walau SMP kalau gaji minimal sama, ya ambil aja. Aku kan pindah Jogja karena ambil S2, jadi selesai S2 ya aku balik Jakarta bang, jadi setelah nikah hanya 6 bulanlah kami LDR. Jujur aku lebih suka tinggal di Jogja, tapi nanti suamiku susah pindah kerja, kalau harus mulai dari awal, sayang jenjang kariernya. Kalau ada bank bagus yang bisa terima dia seperti posisi sekarang sih pasti dia akan memilih tinggal di Jogja juga,” curhat Dini.


“Hayoo kalian ngerumpiin apa?” tanya E’i yang juga akan memberikan nilai ke Ichwan.


“Lagi ngerumpi, E’i adalah manusia paling kejam kalau ga datang ke nikahanku,” goda Dini.


“Yeee gitu, aku sudah janjian ama Wati dan bang Jason, akan nginap di rumah keluarga bang Jason daerah Cipinang Muara. Yang belum kasih kepastian malah abangmu ini, kata Herry meninju bahu Ichwan.

__ADS_1


“Abang lagi galau, belum dapat jawaban dari teteh Lilis,” kata Dini.


“Hahaha, kalian ini club LDR rupanya saling memberi info ya, aku aja ketinggalan info ini,” canda Herry yang biasa dipanggil E’i oleh Dini.


“Kamu masuk club apa? Club jomblo?” tikam Ichwan yang lagi keqi karena galau belum mendapat jawaban dari kekasihnya.


***


Besok ujian semester terakhir dan lusa pagi Dini akan berangkat ke Jakarta langsung menuju Cilandak.


Dini masih ga percaya dia akan menjadi istri pria yang selama ini dia cintai, first love nya, cinta monyetnya, kalau pinjam istilah Anto cinta kecilnya.


Semalam Anto dan Dini eyel-eyelan soal larangan bertemu sebelum menikah. Anto bersikeras menjemput Dini di bandara, namun Dini bilang ga boleh karena menurut adat mereka ga boleh ketemu. Sampai saat telpon di tutup belum ada titik temu tentang masalah ini, karena Dini maupun Anto ga mau bersitegang di hari-hari terakhir menjelang wedding day.


“Assalamu’alaykum cintaku. Gimana harimu tadi? Ujian tinggal besok kan? Kenapa ga besok malam aja langsung berangkat sih? Ga tau ya maz kangen berat” rengek pria gagah diujung sana yang berubah jadi kolokan seperti Amora.


“Wa’alaykum salam hubby, iya ujian tinggal besok, doain lancar ya?” sahut Dini.


“Kalau konsen penuh ke matkul pasti lancar koq, kalau konsennya ke maz ya ga lancar lah ujianmu,” goda Anto.


“Gimana ga ke maz, kalau aku sedang palang merah? Kasian yuniormu yang mengharap terlalu lama,” goda Dini.


------------------------


Wah jeng Dini bener-bener senewen yaaa…

__ADS_1


Biar ga penasaran ikutin ceritanya di bab berikutnya yaa, udah mau habis koq.


__ADS_2