CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
127 MENGAPA AKU BUKAN ANAK DADDY?


__ADS_3

Halloooooooooo……..


Kita masuk sesion dua ya, semoga masih setia mengikuti keseruan keluarga kecil Maz Anto dan mbak Dini.


Yanktie mohon sehabis baca BAB langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….


Sekarang hari Senin, vote nya kasih ke cerita ini daripada hangus ya/


Maturnuwun.


---------------------


Minggu depan Amora akan berulang tahun ke 10, dia sudah kelas 5 sekolah dasar. Sedang adiknya Arya berusia 4 tahun sudah duduk di taman kanak-kanak dan Abbhie berusia 2 tahun. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Dini tidak pernah mengadakan pesta untuk siapa pun yang berulang tahun di keluarga nya. Pada kesempatan kali ini jauh-jauh hari Dini mengabari Harry dan Leo serta mantan papa mertuanya untuk datang. Namun papanya bilang dia tidak bisa karena tak ada yang menjaga mama nya Harry. Namun Harry dan Leo menjawab mereka akan hadir.


Bu Dyah, mami Dini juga bilang akan hadir bersama anak menantu dan cucunya dari Jakarta.  Dini sudah membayangkan keseruannya bertemu mbak Sashi dan dan mbak Kiran serta jagoan-jagoaan mereka.


Dari keluarga Anto, mbak Rina mengatakan akan datang beserta Ajeng, Putri dan mas Imron ada kegiatan yang tak bisa ditinggal sehingga tidak bisa ikut berkumpul.


Dini juga mengundang Risye yang sekarang sering bertemu karena Risye bekerja sama dengan Sari. Risye menjadi penyalur dagangan Sari.


“Serius ya kamu dan Harry bisa datang?” Moya mendengar mommynya sedang berbicara di telepon. Harry … sosok yang sering Moya dengan, ada foto-foto dirinya sejak bayi dengan lelaki itu. Namun sosok itu tak pernah mendekatinya seperti opa dan om Yo. Lelaki itu seperti membentengi dirinya agar Moya tak bisa menjamahnya. ‘Apakah benar dia ayahku?’ batin Moya, dia sedih menjadi anak biologis laki-laki yang tak pernah menganggapnya ada!


Sejak mendengar ayahnya akan datang, Moya lebih sering termenung. Tentu saja Anto dan Dini melihat perubahan itu.


“Daddy liat ‘kan polah Moya tiga hari ini?” tanya Dini saat mereka sedang berdua di mobil, mereka sedang menuju penjahit langganan Dini. Sebulan lalu Dini membeli bahan dua  kaos berbeda warna, dan dia menjahitkan keduanya menjadi kaos yang akan mereka pergunakan, semua akan berbeda kombinasi coraknya, namun tetap terdiri dari dua warna itu.

__ADS_1


“Daddy memang lihat, dan beberapa kali daddy tanya ketika kami berdua, dia belum mau jawab. Sepertinya beban kali ini bersinggungan dengan daddy atau mommy karena dia tidak berani bercerita seperti biasanya. Kalau dia enggak suka ama metode gurunya ngajar, atau enggak suka ama tingkah temannya apalagi ama keusilan Arya, tentu dia akan langsung cerita tanpa ragu,” jawab Anto memberikan pemikirannya.


“Waduh, kok jadi berkaitan ama kita dadd? Apa dia ingin seperti teman-teman lainnya, pesta mengundang teman? Coba daddy selidiki. Anakmu itu kan lebih mudah kamu yang pancing daripada mommy.”


“Kereeen ya hasilnya,” Dini malah kaget mendapat aneka corak kaos belang dari dua bahan yang iseng dia beli. Mereka berlima akan pakai kaos itu dengan corak berbeda di kombinasi potongannya. Sengaja Dini tidak beli kaos jadi, karena pasti banyak juga yang pakai.


Kalau ingin seragam sarimbit batik tentu mereka akan mudah pesan pada Sari untuk membuatkan.


Anto sengaja mengajak istrinya makan empek-empek di luar, dia hanya ingin bicara berdua tanpa interupsi tiga kurcaci menggemaskan milik mereka. Karena bagi Dini, seberapa penting topik bahasan mereka, bila ada interupsi salah satu kurcaci, mereka harus mendahulukan menanggapi sang kurcaci. Bagi Dini attensi untuk anak adalah segalanya. Dia tidak ingin anak-anak merasa kehilangan. Tanpa dia sadari, attensi ini lah yang tidak diberikan Harry untuk Amora.


Dini berlaku seperti itu, karena sikap Bapak dan Ibu nya, walau Ibu bukan ibu kandung namun selalu memberi attensi apapun yang di butuhkan suami dan anak-anaknya. Dan bagi Bapak, Dini adalah kejoranya. Sikap ini yang Dini terapkan pada keluarga kecilnya.


Sebaliknya Harry adalah produk gagal Metropolitan! Mama dan papanya berpikir bila sudah memberi materi untuk anak-anak sudah cukup. Mereka tidak pernah bertanya apalagi diskusi apa keinginan anak. Mereka hanya memberi perintah, memberi larangan dan batasan serta menuntut anak-anak berprestasi dalam segala hal. Tak ada touch kasih sayang dari mereka untuk anak-anaknya, anak-anak tumbuh seperti pohon liar.


“Maunya mommy gimana? Kita bikin ulang tahun Moya seperti keinginannya, atau cukup kumpul keluarga aja?” tanya Anto saat Dini baru saja menyerahkan buku pesanan empek-empeknya.


“Nah itu, kan tadi juga daddy bilang, ini mungkin karena ada hubungannya dengan kita berdua. Bukan dengan teman-teman atau guru atau sekolahnya,” kilah Anto sambil membuka plastik bungkus kerupuk Palembang yang tersedia di meja.


“Kalau menurut mommy, kita enggak boleh nunggu Moya nemuin kita untuk buka suara, tapi kita harus duluan ngajak ngomong dia,” Dini memberi opininya.


“Daddy setuju bangat mom,” Anto mulai menuangkan kuah untuk empek-empek milik Dini. Setelah itu baru dia memberi untuk dirinya sendiri.


***


Dini dan Anto pulang setelah membuat kata sepakat akan bicara dengan Moya malam ini setelah semua anak masuk kamarnya masing-masing. Tak lupa mereka membeli banyak empek-empek mentah.

__ADS_1


Sore hingga malam mereka tetap memperhatikan Amora yang malas berinteraksi dengan adik-adiknya. Padahal biasanya dia adalah sosok penyayang, apalagi bila Abbhie yang mengajaknya bicara atau bermain. Saat ini Amora seakan membuat pagar antara dirinya dengan kedua adiknya.


Akhirnya Anto dan Dini mulai mengantar kedua jagoannya tidur, awalnya tentu Abbhie yang tidur lebih dulu, sejak tadi si bungsu memang sudah ngantuk. Mereka agak lama di kamar Arya, jagoan daddy mengajak cerita apa yang dia alami di sekolah. Tentu saja Anto dan Dini menyimak dan memberi perhatian penuh serta merespon apa yang Arya ceritakan.


Amora sudah masuk ke kamarnya sejak selesai makan malam tadi. Memang biasanya Anto dan Dini masuk bergantian atau bersama ke kamar Amora, tergantung mereka selesai dari kamar adik-adik Amora. Namun kali ini mereka akan masuk berdua agar bisa segera menuntaskan persoalan yang dihadapi putri kecil mereka.


“PR besok sudah siap Mbak?” Dini membuka pertanyaan malam ini. Dilihatnya Amora sudah terbaring di ranjangnya namun belum mematikan lampu besar.


“Sudah mom,” jawab Amora.


“Daddy dan mommy boleh bicara?” tanya Anto sambil menarik kursi belajar Amora ke dekat ranjang anaknya, karena Dini sudah duduk di sisi ranjang.


“Kenapa tanya gitu ke anaknya sendiri?” jawaban Amora terdengar ketus, walau lirih.


Anto dan Dini berpandangan sekilas, mereka menangkap ada nada tak suka saat Amora mendengar pertanyaan Anto, daddy dan mommy boleh bicara?


“Mommy merasa mbak Moya sengaja menjauh dari mas Arya dan de Abbhie, mommy juga melihat beberapa hari ini mbak Moya sedih. Apa ada kata-kata mommy atau daddy yang bikin mbak enggak suka? Atau mungkin mbak Moya punya keinginan yang mau disampaikan ke daddy atau mommy tapi mbak ragu buat bilang ke kami?” lembut dan lirih Dini menanyakan hal itu pada putri kecilnya.


Lama Amora terdiam, dia memandangi mommy dan daddy nya berganti-ganti. Dan tanpa kedua orang tuanya menyangka, keluar kalimat yang membuat hati gadis kecil itu galau.


“Mengapa aku bukan anak daddy?”


-------------


Nah lho, rupanya itu yang membebani pemikiran Amora. Bagaimana ya tanggapan Dini dan Anto. Ikutin kisah serunya di bab selanjutnya esok ya.

__ADS_1


Namun sambil nunggu yankti update, kita baca cerita menarik milik teman yanktie ini ya, judulnya RATU KETIBAN DUREN karya Mama Reni.



__ADS_2