
Halloooooooooo……..
Om Yo gercep bangeeeet, seru juga ya kalau ada cowoq prakti dan engga ribet seperti dia. Gimana kelanjutan kisahnya? Ikutin terus di bab ini ya
Yanktie mohon sehabis baca BAB langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….
Maturnuwun.
-------------
“Besok mau hunting gedung?” tanya Leo saat mereka baru saja keluar dari cafe menuju mall di Senayan.
“Boleh, jemput aku ya?”pinta Risye.
“Kamu ke gereja jam berapa?” tanya Leo.
“Aku ambil yang jam tujuh aja,” jawab Risye.
“Ok, kita berangkat ke gereja bareng, lalu langsung hunting gedung. Kamu bawa baju ganti ya biar enggak ribet saat hunting nanti,” Leo menyanggupi menjemput Risye pagi sekali. “Besok sehabis hunting, aku akan bilang ke ayah dan ibu kalau minggu depan aku akan melamarmu.”
***
“Mommy, barusan ayah tutup telepon,” suara renyah Amora menyambut Dini di muka pintu mobil saat dia baru saja turun dari mobilnya sepulang memberi kuliah. Dini bisa merasakan nuansa bahagia di suara putri kecilnya itu.
“Wah asyiiik ya mbak, ayah cerita apa?” tanya Dini merespon cerita anak perempuannya itu.
“Ayah bilang masih di kantor, dan tanya mbak sudah bikin PR belum. Ayah bilang jangan telat maem dan salat.” Amora melaporkan percakapan dengan ayahnya barusan.
“Mbak Moya ingetin ayah buat enggak telat maem juga enggak? Ayahmu kan juga malas makan,” Dini memancing interaksi Amora dan ayahnya.
“Ayah bilang tadi sudah maem di meeting, udah salat juga,” jawab Amora.
__ADS_1
“Besok-besok kalau ayah telepon suruh maem juga ya,” mereka pun bergegas masuk ke rumah karena mulai gerimis.
Dini langsung membasuh badannya dan berganti pakaian. Lalu dia segera ber metamorfosa menjadi ibu rumah tangga. Dia focus pada ketiga anaknya serta melepas semua atribut dosen. Dia perhatikan makan dan PR anaknya, dia perhatikan semua hal tentang perkembangan anak-anaknya. Sore dia mengawasi kedua jagoannya yang sedang bermain bola di halaman belakang dan Amora yang sibuk dengan prakarya menjahit tusuk feston. Dan sambil mengawasi ketiga buah hatinya, Dini tetap melakukan aktivitasnya sendiri yaitu berkebun.
“Cukup bermainnya, ayok kita mandi lalu maem dan langsung mulai belajar,” Dini meminta kedua jagoannya segera berhenti main.
Dini menyiapkan baju ganti kedua jagoannya sebelum kedua anak itu masuk kamar mandi. Dua jagoan itu akan sangat lama melakukan ritual mandi, karena mereka akan bermain air dan sabun terlebih dulu. Untuk itu Dini juga sudah mempersiapkan minyak kayu putih, akan dia oles di perut anak-anak sehabis mereka mandi.
“Assalam’alaykum,” sapa Anto di pintu kamar kedua jagoannya. Dia tahu mereka sedang mandi karena saat dicari di belakang tidak ada.
“Daddy … ,” pekik Abbhie si kecil saat mendengar salam dari ayahnya.
“Wa’alaykum salam,” jawab Arya santai sambil terus meniup gelembung busa sabun di tangannya.
“Ayo cepet mandinya, daddy tidak akan bacain cerita saat kalian mau tidur nanti malam kalau mandinya enggak cepat rampung,” Anto memberi tantangan pada kedua jagoannya. Dini yang sedang menggosok badan Abbhie hanya tersenyum mendengar tantangan Anto.
“Daddy, lihat!” Amora menunjukkan hasil karyanya yang sudah hampir selesai.
“Dad, tadi ayah telepon aku lho,” Amora mengadukan perbuatan Harry pada Anto.
“Iyakah? Ayah cerita apa saja?” tanya Anto, seperti Dini, dia pun melihat ada binar bahagia di mata putri kecilnya. Tak ada rasa cemburu pada Harry, Anto malah sangat berterima kasih karena Harry mau berubah untuk perkembangan jiwa anak gadis mereka. Mereka lanjut berbincang setelah Anto berganti baju kerja.
“Daddy, aku enggak bisa bikin ini,” lapor Arya tentang pekerjaan rumahnya. Dengan telaten Anto mengajarkan hingga terlihat semburat senyum tipis di bibir mungil Arya yang super duper dingin.
***
“Moya tadi cerita dia dapat telepon dari Harry,” Anto menyampaikan cerita Moya sore tadi.
“Iya, tadi aku baru turun mobil dia langsung lapor, dia bahagia banget ya dadd,” Dini mengulas cerita bahagia Amora sore tadi. “Syukur Harry mau berubah untuk Amora.”
Mereka terus bercerita tentang apa yang mereka alami hari ini di tempat kerjaan, sampai akhirnya Dini tertidur lebih dulu karena sudah lelah. Anto memandangi cinta kecilnya. Gadis kecil hitam manis yang sangat keras kepala. Gadis kecil yang harus melewati jalan berliku untuk menjadi miliknya. Dikecupnya kening Dini dan dia peluk tubuhnya untuk lelap bersama hingga pagi menjelang.
__ADS_1
***
“Gilang tadi calon suamimu? Kenapa kalian gagal nikah?” tanya Leo, mereka masih di perjalanan menuju mall Senayan.
“Ya, dia laki-laki pertama yang aku perkenalkan pada kedua orang tuaku. Dia seorang lawyer, namun bukan lawyer senior. Kami sudah menyebar undangan, sudah bikin baju pengantin. Dan sore itu kami baru selesai bayar gedung dan cattering. Saat kami sedang istirahat dan ingin pesan pizza, datang seorang perempuan yang menyerahkan surah hasil pemeriksaan serta test pack padaku. Dia bilang anak yang di kandung adalah anak Gilang.” Risye menarik napas berat, dia sangat terluka mengingat kejadian kelam itu
“Aku langsung mundur dan meminta mamanya memutus pertunangan kami secara resmi malam itu juga. Awalnya dia ataupun mamanya tak ingin pernikahan kami batal karena dia bilang hanya mencintaiku. Namun aku tidak ingin ada seorang anak yang tidak mempunyai ayah. Aku merasakan sakit, namun kurasa itu lebih baik dari pada aku mengetahui setelah aku menikah.”
Flashback on
Risye langsung pulang begitu mendengar pengakuan asisten rumah tangga Gilang yang mengatakan dia hamil anak tunangannya. Dia tinggal Gilang dan perempuan itu di restoran Pizza. Rasa bahagia sesaat saat selesai melunasi sewa gedung pernikahan dan cattering langsung sirna. Risye tak bisa menangis, dia hanya merasa sangat perih. Di rumah tanpa prolog apapun dia langsung mengatakan pada ayah dan ibunya agar bersiap, malam ini Gilang dan mamanya akan datang untuk memutuskan tali pertunangan dengan dirinya. Tentu ayah dan ibunya terkejut, namun mereka memaklumi saat mengetahui ada seorang perempuan yang butuh pengakuan dari Gilang.
“Selamat malam, saya dan Gilang ingin meluruskan persoalan yang terjadi,” demikian mama Gilang mengawali percakapan mereka malam ini. Gilang duduk di sebelahnya tertunduk.
“Apa masih ada yang bisa di luruskan bila dengan mata kepala sendiri Risye melihat perempuan itu menyatakan dia hamil anak Gilang dan Gilang tak membantahnya? Artinya Gilang memang melakukan perbuatan itu sehingga bisa ada bayi di dalam rahim kekasihnya itu kan?” Ayah Risye menjawab datar. Dia sungguh terluka putrinya mendapat musibah seperti ini. Dia tidak memikirkan malu karena undangan sudah tersebar dan kerugian materi karena sudah membayar semua persiapan. Dia lebih memikirkan bagaimana kebahagiaan anaknya saja.
“Dia bukan kekasih saya, cinta saya hanya untuk Risye,” bantah Gilang pelan. Namun semua jelas mendengar.
“Bukan kekasih koq bisa kamu hamili? Sebegitu rendahkah ahlakmu?” sekarang ibunya Risye yang tersulut emosi.
“Dia tukang cuci di apartemen saya. Saya baru pulang dan sedikit mabuk karena saya kalah di persidangan. Sampai apartemen saya kembali minum hingga subuh. Saat dia datang saya tanpa sadar memperkosanya. Saya hanya sekali itu melakukannya. Dan itu bukan berdasarkan cinta. Hanya karena pengaruh alkohol. Dan saya sangat menyesalkan kejadian itu. Sejak itu dia saya berhentikan dan saya beri uang pesangon cukup besar.
---------------------------------
Terima kasih sudah selesai membaca BAB ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.
Sambil nunggu yanktie update, kita baca cerita menarik milik teman yanktie ini ya, judulnya SUNGAI RINDU karya INGFLORA
Ceritanya seru abis.
------------------
__ADS_1