
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini, akhirnya resmi sudah lamaran maz Anto ke jeng Dini. Di bab ini kita ikutin senewennya Dini menjelang hari pernikahannya ya. Tapi jangan hanya baca, kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 juga dong..
Inget pesan yanktie, jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya
-------------
“Bobo dia Nto?” tanya mami basa basi melihat Anto masuk menggendong Amora.
Dini mengikutinya dari belakang menunjukkan kamarnya, serta membukakan pintu kamarnya. Di bukanya sepatu Amora saat Anto menidurkan putri kecil mereka. Mau digantikan baju ga mom?” tanya Anto.
“Iya dad, tolong ambilkan tissue basah dan piyamanya sekalian ya,” pinta Dini
Dini membasuh badan Amora agar tidak lengket sehingga dapat tidur dengan nyenyak, “Tu dad, tinggal jatah daddy pakaikan dia piyama, mommy taruh baju kotor Amora ke belakang” kata Dini meminta Anto yang memakaikan Amora piyama.
“Mbak ini baju kotor Amora, lalu tolong toto dahar (atur makanan di meja) deh” pinta Dini pada ART maminya. “Mami sudah dahar?” tanya Dini kepada maminya.
“Sudah … mana Anto?” tanya bu Dyah.
“Lagi makein Amora baju, habis di lap biar ga rewel bobonya,” jawab Dini, lalu menuju kamarnya ingin mengajak Anto makan malam. Tadi di jalan dia ga mau berhenti untuk makan karena ga mau ganggu Amora yang sudah tertidur.
“Sudah maz? Kita maem dulu yok,” ajak Dini.
“Maz maunya maem kamu, dari tadi kan kamu jahat ke maz” Anto berkata sambil menarik tangan Dini sehingga Dini terjatuh dalam dekapannya.
“Ma ... “ belum sempat Dini berkata mulutnya sudah tertutup mulut Anto. Memberontak seperti apapun Dini ga akan menang, akhirnya dia pasrah dan malah membalas serangan Anto. Cukup lama mereka memuaskan keinginan memeluk dan mencium kekasih hatinya, lalu Anto menyudahinya, karena sadar mereka belum halal untuk bermain lebih jauh.
“Ayo kita maem” kata Anto sambil menyerahkan sisir pada Dini, karena dia lah yang menyebabkan rambut Dini berantakan.
***
__ADS_1
Dini menyalami pak Peter yang sedang menyuapi bu Sandra, tatapan bu Sandra kosong, dia tidak mengenali Dini.
“Amora ga ikut Din?” tanya pak Peter.
“Dini tinggal di rumah mami pa, kasihan kalau di bawa ke rumah sakit. Gimana perkembangan mama?” tanya Dini tulus.
“Statis Din, kemarin kami sudah sepakat besok mama kami bawa pulang saja, karena obat tidak membuat perubahan signifikan, jadi akan kami rawat di rumah saja, akan lebih irit, kita akan bayar 1 orang perawat yang menemani saat kami semua kerja. Sebentar lagi Leo dan Harry akan datang menyelesaikan biaya administrasi. Selanjutnya kami focus pada kesembuhan Vionne. Vionne sudah agak lumayan lebih baik, dia sudah ada reaksi terhadap suara terutama suara Ferry. Jadi tiap hari Harry atau Leo mengunjungi Ferry di lapas hanya untuk telepon ke papa, nanti Ferry akan bicara pada Vionne. Bila Ferry yang bicara Vionne akan menggangguk atau menggeleng, kadang bersuara “YA” namun bila orang lain yang bicara dia sama sekali ga meresponnya.
“Papa sudah makan? Jangan sampai papa ga memperhatikan kondisi kesehatan papa sendiri” kata Dini. “Ini tadi kami bawa makan siang, papa makan dulu ya,” bujuk Dini pada mantan mertuanya itu.
Harry datang saat Dini memberikan papanya makan siang, dia trenyuh, perempuan baik itu masih saja menghormati dan menyayangi papanya. Dia semakin menyesal telah membuang mutiara di tangannya itu. “Udah lama bro?” tanyanya pada Anto yang duduk di sofa.
“Baru aja,” jawab Anto sambil memberikan salam pada Harry. “Harr, langsung makan aja bareng papa” Dini menawarkan kotak nasi yang dibawanya pada Harry.
“Bukan nolak rejeki, tapi aku baru aja makan sebelum masuk sini,” kata Harry.
Leo datang saat pak Peter sudah selesai makan. “Udah selesai administrasinya, sore ini atau besok udah bisa pulang, karena nunggu resep obat dari dokter dulu” Leo menerangkan prosedur membawa pulang mamanya.
Harry yang mendengarnya langsung menepuk bahu Anto tulus, “Selamat ya bro, semoga SAMAWA” dia lalu berdiri dan mengulurkan tangannya pada Dini, “Selamat ya Din, semoga langgeng dan bahagia selalu.”
Pak Peter pun langsung memeluk Dini erat, “Kamu anak papa, sampai kapanpun kamu anak papa, papa pasti merestui kalian, semoga papa sehat dan bisa hadir diacara kalian ya?”
“Selamat ya bro, akhirnya kalian bersatu juga,” ucap Leo pada Anto.
“Itulah jodoh,” jelas papa Peter, “Biar bagaimanapun kita menghambatnya, pasti akan ada jalannya untuk bersatu. Namun bila ga jodoh, biar bagaimana kita keras memaksakan untuk bersatu, pasti akan terpisah.”
|***
Anto bersikeras mengantar Dini ke bandara siang ini, namun karena waktu mepet dengan meeting akhirnya dia hanya bisa menemui 2 kekasih hatinya di bandara saja.
__ADS_1
“Doain ade sukses bulan ini ya maz, ujian semester di kampus, bikin soal dan koreksi ujian semester siswa di sekolah, ditambah lagi persiapan pernikahan kita, kalau ade nanti sering cepet marah, maz ingetin ade ya, ade ga pengen kita bersitegang karena banyaknya yang harus kita cari titik temunya” pinta Dini saat Anto memeluknya ketika dia pamit.
“Kita sama-sama saling mengingatkan ya de, maz juga kan banyak tekanan. Tutup buku akhir tahun, ngadepin masalah pengadilan, jauh dari anak istri itu beban buat maz. Pengennya tiap pulang kerja ada kamu buat berbagi cerita. Maz pesan kamu jaga kesehatan dan jangan cepat marah ke Amora, jangan pelampiasan emosi kamu lempar kemanapun. Ok?” balas Anto pelan, sungguh berat rasanya dia melepas kepulangan Dini kali ini.
Dini hanya mengangguk, dia mencium punggung tangan Anto lalu membaliknya dan mencium telapak tangan Anto. Anto memeluk Dini kembali dan mencium puncak kepalanya “Amora salim daddy dulu” perintah Dini. Anto mengulurkan tangannya pada Amora agar putri kecilnya itu mencium punggung tangannya, lalu Anto membalik tangannya agar Amora mencium telapak tangannya. Anto tau, mencium tangan seperti ini hanya berlaku untuk kedua orang tua serta suami saja, tidak untuk orang tua lainnya. Bila Dini sudah mulai melakukannya, artinya Dini sudah menghormatinya sebagai imamnya.
Semua soal yang akan di serahkan kepada panitia ujian semester telah Dini serahkan via TU disekolah. Tugasnya berkurang 1, sehabis ini dia harus koreksi hasil ujian lalu menyerahkan nilai kepada wali kelas masing-masing. Hari ini Dini menyebar undangan pernikahannya, masih 3 minggu dari jadwal, namun dia takut ada yang terlupa.
Semalam Steve datang ke rumahnya dan memastikan dia akan berangkat bareng Dini tanggal 20 Desember pagi. Namun dia baru akan kembali ke Jogja 3 Januari karena dia akan menghabiskan libur akhir tahun di Jakarta.
Dini mulai menjalani ujian semester di kampusnya. Waktu pernikahannya semakin dekat dan dia semakin nervous. Dini makin cengeng, dia merasa selalu ingin menangis dipelukan Anto.
Seminggu menjelang menikah Dini semakin senewen. “Assalamu’alaykum kekasih hatiku,” sapa Anto malam ini.
“Wa alaykum salam maz,” jawab Dini.
“Koq lemes gitu, kenapa lagi? Malam ini please jangan nangis lagi ya, jangan nervous gitu dong,” bujuk Anto, karena tiap hari Dini selalu menangis, dia super sensitive, kalah orang PMS.
“Maz ga suka ya aku nangis, ya sudah ga usah telepon,” jawab Dini lalu dia memutus hubungan telponnya. Di non aktif kannya HP nya agar Anto tidak menghubunginya lagi. Dini tau Anto ga akan menghubungi lewat nomor rumah karena akan berisik dan mengganggu semua yang sudah tidur
***
------------
Wah jeng Dini bener-bener senewen yaaa…
Biar ga penasaran ikutin ceritanya di bab berikutnya yaa, udah mau habis koq.
Ini cover cerita KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR yang mengisahkan perjalanan cinta Sari adiknya maz Anto, dengan bang Steve ya
__ADS_1