CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
113 PENGEN


__ADS_3

Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab.


Akhirnya Anto bisa merasakan punya istri hamil, gimana keseruannya? Ikutin terus ceritanya ya


Tapi jangan hanya baca …  kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.


Inget juga pesan yanktie, jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul  KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR  ya.


--------------------


Prasetyanto pov 


Aku memasuki kamar sehabis menidurkan Amora di kamarnya, kulihat wajah damai istriku yang terlelap pulas. Kupandangi wajahnya yang selalu saja membuatku jatuh cinta. Wajah cinta kecilku.


Kucium kening Dini lembut. “Met bobo cinta kecilnya maz, ga nyangka kamu bisa menjadi istri maz, I love you so much my sweet heart. Makasih kamu mau berkorban untuk hamil anakku,” bisikku di telinganya, aku ingin dia mendengar bisikanku di alam bawah sadarnya


Istriku menggeliat dan memicingkan mata, dia merentangkan tangannya seakan minta ku peluk. Memang sejak hamil dia maunya terus ku peluk,bahkan saat aku pamit berangkat kerjapun dia menangis karena sedih di tinggal.


“Gimana kita bisa LDR kalau tiap saat maunya di peluk gini?” kataku gemas sambil mengecupinya pipinya. Namun ternyata dia salah tangkap maksud ucapanku.


“Jadi Maz ga mau meluk ade, jadi pengennya kita LDR an aja, oke besok pagi ade balik sendiri ke Jogja,” isak tangis menyertai ambeg nya.


Aku sadar dia mulai tersinggung. “Ssttttt, siapa yang minta LDR? Siapa yang ga mau peluk?” kembali kuciumi pipinya, lalu merambat ke lehernya. Aku tahu Dini lemah kalau lehernya sudah di serang. “Maz cinta kamu de, maz yang ga mau LDR, maz juga maunya meluk kamu sepanjang hari, ada atau ga ada baby, kita menua bersama ya cinta kecilnya maz, jangan baperan gitu dong,” bujukku.


“Maz, pengen,” katanya tiba-tiba.


OMG, aku lebih pengen de, tapi kan dokter menyarankan kita ga berhubungan dulu, batinku.


“Dokter nyaranin kita ga melakukannya dulu mom, biar baby kuat dulu ya?” bujukku lembut, aku tidak ingin dia tersinggung atas penolakanku.


Namun dia marah, dia melepaskan diri dari pelukanku lalu membalikan tubuhnya memunggungiku sambil menangis. “Cintaaa, jangan sedih gitu dong, jangan nangis gitu. Maz juga kepengen, tapi kan kasihan baby,” bujukku.


“Maz ga sayang ade, Maz bohong, Maz ga cinta ade,” rajuknya di sela tangisnya, kupeluk dirinya dari belakang, kuciumi pipi dan perlahan kulakukan apa yang dia inginkan, aku tidak bisa menolak keinginannya yang memang juga keinginanku. Aku berupaya tidak menyakitinya. Akhirnya malam ini kami kembali bersatu memadukan cinta kami. Kalau ngikutin keinginan, tentu saja aku tidak cukup sekali, namun aku tidak tega terhadap istriku dan tak ingin menyakiti babyku.


Tengah malam HP ku berdering, kulihat nomor rumah Bapak, aku langsung berfirasat buruk. Kulihat Dini lelap tertidur sesudah keinginannya kupenuhi. Walau sekarang aku yang ingin nambah.

__ADS_1


Ku angkat teleponku, saat ini jam 02 dini hari, kalau tidak urgent  tak akan ada panggilan telepon jam segini.


“Wa’alaykum salam,” kujawab salam dari ujung telepon di sana.


“Nto, bapak kritis, gimana hubungi Dini ya, bapak pengen ketemu Dini, tadi ibu juga sudah mengabari mbak Kiran dan dan mbak Sashi, mereka akan meluncur segera, tapi yang di panggil bapak cuma Dini,” beritahu ibu padaku.


“Dini pas di sini bu, kami ada di Jakarta, sebentar Anto kasih tau pelan-pelan ya bu, karena Dini ga boleh stress, dia baru saja hamil dan kandungannya agak rewel,” jelasku. Jujur aku sendiri bingung, bagaimana membangunkannya dan menceritakan kondisi bapak saat ini?


***


Disinilah kami, di depan ruang ICU, menanti dokter mempersilahkan Dini bisa masuk. Tadi mbak Sashi dan mbak Kiran sudah masuk saat baru sampai, namun bapak semakin drop sehingga dokter langsung menangani dulu sebelum mempersilahkan Dini masuk.


“Din, bapak pamit yo nduk, jangan sedih dan janji ga nangis waktu nganter bapak. Semua peninggalan atas namamu kecuali jatah ibu, itupun ibu sudah bilang ga mau, dan akan di kembalikan untukmu bila ibu ga ada. Jatah mbak Sashi dan mbak Kiran sudah bapak berikan saat mereka menikah,” kata bapak pada Dini.


“Bapak jangan ngendiko (bicara) gitu, sekarang Dini sedang hamil, Dini pengen bapak tau kelahiran cucu bapak ini, dan Dini juga pengen bapak datang pas wisuda Dini nanti. Dan Dini ga mau janji ga nangis,” kata Dini sambil memegang tangan bapaknya, Anto memegang bahu Dini, dia memang mendampingi istrinya, dia takut Dini tidak kuat melihat kepergian mertuanya ini. Bapak tersenyum manis pada Dini, memejamkan matanya lalu alat indikator di atas kepalanya menunjuk grafik lurus.


Firasat Dini benar, bapaknya minta dia segera menikahkan Dini sebelum ajal menjemputnya. 2 bulan sejak menikahkan dirinya maka bapak meninggal.


***


Hari ini Dini dandan manis. Dia harus menemani Anto menghadiri sertijab di kantornya lamanya. Resmi sudah Anto menyerahkan jabatannya di kantor yang dia masuki sejak sebelum lulus kuliah. Sehabis pesta perpisahan di kantor Dini minta makan bakmi di gang kelinci. Dia memang sudah mulai jarang mual, apa lagi muntah, selera makannya pun mulai baik, namun masih sering ngidam seperti saat ini. Sampai di gang kelinci Dini hanya ingin melihat Anto makan.


Lusa Dini dan Anto akan pindah ke Jogja, hari ini Anto akan full packing dan besok akan mengirim barang-barangnya via Herona, sehingga saat mereka lusa sampai Jogja, barang juga sudah sampai.


***


“Senangnya bisa di kamar sendiri,” kata Dini begitu memasuki kamar tidurnya di Jogja


“Di Rawasari kan juga kamarmu sendiri mom?” tanya Anto.


“Ga tau, rasanya beda aja Maz, enakan di sini” jawab Dini sambil memeluk Anto dari belakang, Anto yang masih menjinjing koper tidak siap di peluk istrinya. “Maz baby minta di tengok,” bisik Dini.


Entah mengapa, sejak hamil libido Dini menjadi tinggi. Anto memberikan yang Dini inginkan, sehabis perang di siang itu Anto mengingatkan Dini untuk periksa kandungannya.


“Besok jadwal periksa baby ya mom. Sekarang masih Kamis, mommy mulai ngajar Senin kan?” tanya Anto.

__ADS_1


“Senin kan cuma upacara dad, enggak lah kalau diri upacara, masuk Selasa aja,” jawab Dini.


Anto masih punya waktu kosong 8 hari sebelum masuk kerja di kantor barunya. “Mau bikin kamar kapan Maz? Kalau kamar di bobok kan kita harus pindah kamar dulu biar ga kena debu,” kata Dini.


“Nanti maz hubungi tukang yang kemaren sudah papi telepon, dia bilang kan bisa kerja mulai hari ini, tapi karena kita baru pulang maz minta dia mulai kerja besok,” jawab Anto


***


“Bayinya sehat, detak jantungnya kuat,” kata dokter yang mereka datangi.


“Bisa tau jenis kelaminnya dok?” tanya Anto.


“Nanti pak, 2 atau 3 bulan lagi” jawab dokter. Dini memaklumi, suaminya anak STM, tidak dapat pelajaran biologi.


Di mobil Dini bertanya, “Kenapa pengen tau jenis kelamin baby?”


“Pengen mbeliin dia baju sesuai jenis kelaminnya, pengen beliin dia tempat tidur dan semua peralatannya sesuai jenis kelaminnya,” jawab Anto.


“Maz berharap dia berkelamin apa?” tanya Dini.


------------------


Yuhuuuuuuuuuuuuuuuu, ga kerasa lho cinta kecilnya maz Anto akan berakhir, tapi biar ga penasaran ikuti ceritanya di bab berikutnya yaa, udah mau tamat koq.


Untuk menggantikan novel ini nantinya, yanktie bakal rilis cerita baru berjudulIMPOSSIBLE LOVE


Ceritanya tetap sederhana, membumi karena bukan tentang CEO tajir melintir bertemu dengan gadis sederhana!


Ceritanya tentang seorang pemuda cukup mapan yang baru lulus kuliah di London lalu jatuh cinta pada mantan gurunya.


Mantan guru pasti lebih tua kan? Dan hebohnya lagi si mantan guru adalah janda anak 3 lho!


Bisa ga pemuda lajang itu ngedapetin kepercayaan mantan ibu guru yang sudah sangat terluka karena berkali-kali di selingkuhi mantan suaminya dulu?


Cari nanti begitu cerita CINTA KECILNYA MAZ tamat ya,

__ADS_1


ini covernya cerita berikutnya



__ADS_2