CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
AYUN DISCO


__ADS_3

HAPPY READING


“Yank” kata Harry ragu saat Dini selesai mengecup bibirnya sekilas, terlihat binar dimatanya. Semudah itukah merubah luka menjadi bahagia?


Sekarang Harry yang menciumi Dini, bukan sekilas dan bukan hanya sekedar kecup. Ciumannya menuntut dan bibirnya nakal bergerak kesemua bagian wajah Dini. Dini pasrah menghabiskan sisa malam dengan penuh kehangatan.


***


Semester baru sudah mulai berjalan. Jadwal kuliah Dini padat. Hari Senin, Selasa dan Rabu dia kuliah mulai jam delapan pagi hingga jam empat sore. Kamis dia hanya kuliah hingga jam sepuluh pagi, sedang Jum’at dan Sabtu dia libur.


Karena belum dapat tenaga kerja untuk menjaga Amora di rumah, maka terpaksa setiap Senin pagi Dini menitipkan Amora di rumah mertuanya. Mereka menginap hingga hari Kamis. Kamis siang Dini pulang ke rumahnya hingga hari Minggu. Dini tak mau pindah ke rumah mertuanya karena dia tetap ingin mempunyai waktu bertiga dengan keluarga kecilnya.


Kamis ini Dini sudah sampai kampus, tapi ternyata dosennya tak hadir karena berhalangan. Dini yang sekarang sudah bukan gadis yang bebas lagi, begitu jam kosong dia tidak nongkrong dikampus seperti saat dia masih single dulu. Sekarang jam kosong dia langsung ngibrit pulang untuk menemui little princessnya


“Lo enggak jadi kuliah?” sapa Leo yang kebetulan baru aja mau pergi kuliah saat ketemu Dini didepan rumahnya.


“Enggak ada dosen, tau gini tadi gue enggak berangkat,” sahut Dini sambil masuk rumah.


Dini menuju kamar Harry yang mereka gunakan selama mereka nginap di rumah ini. Disana terdengar lagu disko yang cukup keras. Vionne sedang mengayun Amora dengan gerakan yang sedikit keras seperti sedang joget disko, tak seperti yang biasa Dini atau Harry lakukan. Tentu saja Dini kaget anaknya diperlakukan seperti itu. Dia yang biasa mengayun Amora lembut hanya bisa diam terpaku.


“Amora baru mau tidur ya Vi?” tanya Dini berbisik “Sini gue aja yang lanjutin” kata Dini sambil mematikan tape. Dibopongnya Amora dan diayunnya pelan agar bayi kecilnya tertidur.


Kamis adalah jadwal Dini pulang ke rumah sewanya, kali ini dia tidak menunggu Harry, dia pulang lebih dulu. Dan dia pun tidak telpon ke HP Harry atau kirim pesan di pagernya


Jam satu siang Harry tiba di rumah orang tuanya, ternyata dua kekasih hatinya sudah pulang terlebih dahulu. “Koq Dini enggak kasih tau gue ya dia pulang duluan, lo tau dia kenapa” tanya Harry ke Vionne yang sedang makan siang.


“Tadi dia enggak ada kuliah jadi masih pagi udah sampe rumah, dia bilang mau ngerjain tugas, bukunya enggak dia bawa, jadi dia pulang cepat,” sahut Vionne sambil terus makan.


Harry curiga, pasti terjadi sesuatu, kalau tak ada apa-apa Dini pasti akan meneleponnya, dan kalau Dini takut mengganggu, dia pasti akan kirim pesan ke pagernya.


“Gue balik ya, pamitin ke mami nanti kalau mami pulang kerja,” ujar Harry. Diapun segera meninggalkan rumah orang tuanya itu.

__ADS_1


“Lo enggak makan dulu?” Vionne santai bertanya pada kakaknya dengan sebutan lo. Di keluarga mereka memang kakak adik boleh ber elo gue, tak seperti di keluarga Dini yang selalu menggunakan anggah ungguh terhadap yang lebih tua.


“Ga lah, nanti gue makan dirumah aja,” sahut Harry sambil mengambil jacket dan ransel kuliahnya.


***


“Assalamu’alaykum, wuih anak Ayah baru selesai mimik ya?” tanya Harry ketika sampai rumah dia melihat Dini sedang menggendong Amora dipundaknya sambil menepuk-nepuk punggung Amora agar gadis kecilnya bersendawa. Harry tahu bila posisi seperti itu, artinya Amora baru selesai minum ASI.


“Kamu sudah makan Yank? Ni ayah beli gado-gado langganan kita lho,” lanjut Harry sambil mengecup kening Dini dan kening Amora setelah Dini mencium tangannya


Di meja kecil di ruang belakang Harry tak menemukan bekas makan atau bekas masakan, hanya dilihatnya mie instan yang belum dimasak, sawi dan baso yang belum sempat di simpan ke kulkas oleh Dini, mungkin istrinya berniat memasak bila Amora tertidur. Itu artinya Dini belum makan siang.


“Mau disiapin gado-gadonya? Mau dipotongin lontongnya?” tanya Harry, karena kebiasaan Dini bila beli gado-gado, lontongnya tidak dicampur dan dia beli lontong terpisah yang masih utuh.


“Yank, kenapa sih? Koq dari Ayah pulang Bunda diem aja?” tanya Harry lagi. Lelaki ini semakin yakin ada yang tak beres.


“Enggak apa-apa, Ayah makan aja duluan, nanti aku siapin sendiri kalau mau makan. Sekarang mau tidurin Amora dulu” balas Dini lirih.


“Ya udah, Ayah masih kuat koq nunggu sampai Amora bobo, kita makan bareng aja ya,” kata Harry sabar


“Tadi koq pulang duluan Bund? Koq enggak ngabarin Ayah?” pancing Harry agar ada komunikasi diantara mereka. Karena kalau tak ditanya Dini akan diam saja. Tak seperti biasanya.


“Lagi pengen naik taksi aja,” jawab Dini datar.


“Bosen ya naik motor, bosen panas-panasan ama Ayah?” pancing Harry.


“Jangan cari masalah. Jangan mancing ribut, aku enggak bilang gitu,” ketus Dini, karena dia tak bermaksud seperti itu. Dia berbalik badan memunggungi suaminya, tanpa sengaja dasternya sedikit tersingkap, memperlihatkan pahanya.


Harry mengelus paha Dini, dan mencium lehernya. “Ayah enggak mancing koq, Ayah juga enggak pengen bikin ribut. Yang mancing tuh Bunda lho, bikin Ayah pengen olah raga” lanjut Harry.


“Apaan sih, panas tau siang-siang,” kata Dini menepis tangan Harry.

__ADS_1


“Kan bisa langsung mandi Bund kalau kepanasan, please kasih ya,” bujuk Harry yang sudah mulai tak tahan.


“Enggak lagi palang merah,” sahut Dini beralasan.


“Kan belum tanggalnya Bund, masa udah dateng aja sih tamunya,” keluh Harry.


“Kalau enggak bisa ngecharge, ceritain aja deh alasan kenapa tadi Bunda pulang duluan?” pancing Harry lagi, kali ini dia berharap Dini mau terbuka akan persoalannya


Dini duduk dan memandang Harry, dia ingin serius bicara. “Aku enggak apa-apa, cuma lagi pengen aja pulang duluan, aku serius enggak apa-apa,” kata Dini menatap mata suaminya. Dia ingin Harry yakin kalau dia enggak apa-apa. Tak ada persoalan apa pun makanya dia bicara sambil menatap mata suaminya guna meyakinkan.


“Yank, walau kita nikah baru setahun lebih, tapi aku hafal sifatmu. Kalau kamu bilang enggak apa-apa. Apalagi kamu berupaya keras meyakinkanku kalau kamu emang baik-baik aja, itu tandanya ada something wrong. Please tell the truth.”


Kali ini Dini yang menarik nafas panjang. Dia menatap Harry dengan lekat, mencium pipinya sekilas lalu meletakkan wajahnya dileher Harry, menghirup bau suaminya untuk mencari kekuatan dan kedamaian.


Harry memegang wajah Dini dan menjauhkan dari lehernya agar bisa memandangnya, ada kesedihan disana. Namun entah mengapa Dini tak mau terbuka padanya.


“Kenapa sayank? Cerita dong,” pinta Harry.


“Jangan sekarang ya, aku mau tidur aja,” sahut Dini pelan.


“Ya sudah, sini bobok sambil Ayah peluk.”  Harry mendekap Dini. Dia tahu istrinya sedang sangat tertekan.


***


Minggu sore, Harry melihat Dini sangat resah, saat dia masuk ke rumah sehabis membawa Amora jalan-jalan sore, Dini baru saja menutup telepon. Entah dia bicara dengan siapa, Harry juga tak mau mendesaknya, sejak hari Kamis memang Dini belum cerita apa pun, namun komunikasi mereka tetap lancar.


=================================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2