
Hai hai para kesayangan yanktie, sehat semua kan? Bagaimana puasa kalian sampai hari ini?
Terima kasih sudah selalu setia mengikuti cerita sederhana ini. Kenapa yanktie selalu menyampaikan terima kasih untuk yang selalu setia membaca dan memberi like saat kalian selesai membaca bab cerita ini? Karena ada notif siapa aja yang kasih like.
Kasihan Abbhie harus di rawat. Semoga cepat sehat ya anak ganteng. Sekarang kita ikutin terus keseruan bab ini. Selamat membaca!
Yanktie mohon sehabis baca bab langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….
Maturnuwun.
--------
“Itu kamu, yang memang banyak punya mantan! Aku ini apa? Tidak pernah sekali pun punya pacar selain Dini. Aku nikah dengan Shinta juga bukan karena cinta dan tidak lewat pacaran. Dan Shinta sudah tidak ada. Mengapa Dini masih enggak percaya kalau sejak mengerti cinta, hanya ada nama dia di hatiku? Aku belum pernah sekalipun suka perempuan lain selain dirinya.” Sesal Anto, dia tak habis pikir sampai Dini semarah itu. Dini yang rasional sampai tidak mengabari saat anak mereka sakit. Itu artinya Dini sangat terluka. Anto tentu sangat takut Dini akan meninggalkannya. Mungkin mimpi tentang Dini meninggal hanya perlambang, kalau Dini akan meninggalkannya. Bukan jasadnya, namun hatinya.
***
“Ayo minum obatnya dulu, biar cepat sembuh dan infusmu ini dibuka om dokter. Kalau kamu enggak cepat sembuh infus ini enggak akan cepet di buka.” Dini memberi obat pada Abbhie. Mbak Warni sudah di minta bersiap membantunya menggantikan baju Abbhie. Karena ada infus, tentu memakaikan baju perlu trik khusus. Dini dan mbak Warni sudah rampung menggantikan baju Abbhie. Mereka juga mengatur agar tempat tidur kembali nyaman untuk ditiduri. Rupanya obat yang dikonsumsi Abbhie mempunyai side effect ngantuk. Tak lama sehabis minum obat, Abbhie tertidur. Dini segera merapikan ruangan dari remah snack yang dimakan Abbhie agar menghindari semut.
“Mbak, malam ini sepertinya Bapak bakalan nginep. Mbak Warni pulang aja diantar papa Steve ya, bawa baju kotor Abbhie dan saya nanti. Habis ini saya mandi biar baju bisa dibawa pulang. Besok habis Subuh kesini ya? Bawakan saya baju kerja, karena besok saya harus kasih ujian. Nanti saya telepon simbok, biar disiapkan apa yang besok di bawa kesini.” Dini bersiap mandi. Dia melihat sang mertua masih anteng menonton televisi karena sendirian tak ada teman bicara. “Tolong potongkan buah naga ya Mbak, habis mandi saya makan itu. Pengen kopi tapi kita belum bawa kopi sachet.”
Dini mandi dan berganti baju dengan baju santai. Dia juga membungkus sepatunya. Karena besok tentu sepatu yang digunakan akan senada dengan baju yang dia kenakan. Setelah merasa segar, Dini duduk dekat mertuanya sambil membawa buah naga. “Mama mau dipotongin buah enggak Ma? Ada pear, apel dan buah naga.” Tawar Dini. Tadi simbok memang membawakan beberapa buah selain buah naga yang mama bawa.
“Dari tadi mama sudah makan jeruk. Cukuplah.” Jawab mama tanpa memalingkan wajahnya dari televisi. Hehe mama kalau sudah serius nonton sinetron memang sulit dialihkan pandangan matanya.
***
Steve membenarkan kata-kata kakak iparnya. Dia berbeda bahkan sangat jauh berbeda dengan Anto. Anto hanya pernah satu kali jatuh cinta, dan itu hanya pada Dini. Wajar Anto sangat ketakutan Dini akan meninggalkannya. Sebaliknya dipihak Dini, banyak pria yang mendekatinya sejak dia SMA dan di kampusnya. Bukan karena Dini wanita modis, putih dan tinggi. Dini jauh dari gambaran itu. Dia mungil dan hitam manis. Namun dengan inner beauty yang sangat menarik. Siapa pun yang mengenal Dini pasti akan menyukainya. Entah sekedar ingin berteman, atau memang ingin memiliki. Dini teman bicara yang enak. Topik apa pun dari lawan bicara akan dia respon dengan baik. Saat mereka sedang bingung akan sikap Dini, ponsel Anto bergetar. Tertera id pemanggil adalah ‘RL baru’.
__ADS_1
“Siapa?” tanya Steve melihat id yang disimpan oleh Anto hanya seperti itu.
“Robby, nomor barunya.” Jelas Anto, sambil menggeser tanda terima di ponselnya.
“Hallo Bro, sudah di Jogja?” tanya Anto berupaya meredam kegalauan yang sedang dia rasakan.
“Sejak semalam gue sudah di Jogja, tadi udah mulai kerja. Malam ini bisa ketemuan?” tanya Robby.
“Gue dan Steve lagi di rumah sakit, bungsu gue dirawat. Kita ngobrol disini aja,” Anto memberitahu kondisinya saat ini.
“Wah sorry, gue enggak tahu. Kalau boleh tahu anak lo umur berapa? Ceweq atau cowoq? Dan lo sms alamat rumah sakitnya. Gue meluncur sekarang,” jawab Robby. Dia bergegas minta diantar ke rumah sakit dan minta mampir ke toko mainan terlebih dahulu. Itu sebabnya dia tanya usia dan jenis kelamin. Agar tidak salah beli mainan.
Steve membeli tissue basah dan juga makan malam untuk 6 orang. Dia juga membeli beberapa sachet kopi dan milo serta energen untuk yang sedang menunggu Abbhie. Mereka berjalan beriringan kembali ke ruang rawat Abbhie. Disana Dini sedang makan buah naga dan mama sedang asyik nonton televisi. Abbhie masih lelap karena pengaruh obat. “Ada perkembangan?” bisik Anto pada Dini. Dia duduk di sebelah istrinya di depan mama.
“Enggak. Barusan dokter datang bilang nanti malam atau dini hari akan ambil sample darah lagi. Mau lihat reaksi obat yang diberikan lewat infus dan oral.” Jelas Dini. Seperti terpaksa dia bicara karena ada mertuanya.
“Pak, ada yang cari,” mbak Warni memberitahu Anto ada tamu di luar ruangan.
“Selamat malam,” suara yang pernah akrab di telinga Dini menyapa dari balik pintu. Dini melihat sekilas. Ada sosok tinggi proporsional, hitam manis yang masuk ke ruang rawat. Ditangannya ada dua bungkusan. Satu dia serahkan pada mbak Warni. Sepertinya isinya makanan. Dan satunya masih dia pegang. Dia masuk semakin dalam. Steve menghampirinya dan memeluk sahabatnya itu. Antopun berdiri dan menghampiri tamunya. “Hallo Bro, enggak susah kan nyari ruangannya?” tanya Anto.
Robby memberi salam pada mama dan Dini. Dia terpesona melihat Dini yang makin terlihat mature dan makin cantik di usia sekarang. Dulu gadis yang dia pacari tidak seperti sekarang penampilannya. Usia dewasa makin membuat Dini mempesona. “Hallo By, apa khabar?” tanya Dini santai.
“Mommy.” panggil Abbhie lirih. Di terjaga. “Kenapa, mau mimik?” tanya Dini lembut, dia tadi langsung lompat menghampiri anaknya saat mendengar dia dipanggil.
“Mau.” Jawab Abbhie sambil menggeleng. Maksudnya tidak mau. Dini menggendong Abbhie, dia minta mbak Warni mengangkat botol infus. Anto yang melihat langsung menghampiri. “Gendong daddy aja ya?” ajaknya.
“Mau.” Lagi Abbhie menjawab sambil menggeleng. Dini membawa Abbhie ke sofa dan dia duduk disana.
__ADS_1
“Hallo jagoan, namanya siapa?” tanya Robby. Dia memandang anak kecil chubby itu. Dia membayangkan andai dulu, dia tidak merelakan Harry mendekati Dini, mungkin anak ini adalah anaknya dengan Dini.
“Abbhie.” Jawab Abbhie sambil menyembunyikan wajahnya kedada mommy nya.
“Wah, jagoan koq malu gitu?” goda Robby. “Om punya pesawat, mau main dengan om?” Robby membuka tas plastik, dan memperlihatkan kardus pesawat pada Abbhie.
“Mau.” Jawab Abbhie dengan mengangguk. Perbedaan tidak mau dan mau versi Abbhie memang dari gerak kepalanya.
“Duduk sini sama daddy dan Om ya, kita main pesawat. Anto mengajak Abbhie untuk duduk di sofa panjang dengan Robby dan dia yang akan memegangi botol infus. Dia tak rela Dini bermain bertiga dengan Robby dan Abbhie.
“Mau. Atu mau tama Papa dan Om.” Jawab Abbhie. Dia seakan mengerti mommynya sedang marah dengan sang daddy. Dan dia menjadi pembela mommynya.
“Ok, sini sama papa,” Steve mengerti kemauan keponakannya.
“Pinter bangeet sih. Ini anak nomor berapa Nto?” tanya Robby.
“Nomor 3.” Balas Anto sambil duduk mepet dengan istrinya.
-------------------------------
Hiks hiks, yanktie aja sebagai author ikutan sedih karena mas Anto di cuekin mbak Dini.
Terima kasih sudah selesai membaca bab ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.
Salam manis dari Jogja
--------
__ADS_1
Sambil nunggu yanktie update bab baru esok hari, coba deh mampir ke karya teman yanktie yang super keren ini, ga bakal nyesel baca ceritanya, judulnya AFTER DARKNESS karya SKYSAL