
77 SARIMBIT
“Yeee, siapa yang godain, wong lagi kesel karena rambut acak-acakan koq,” ketus Dini. Oh my God, rambut yang diacak-acak, kenapa hati yang berantakan? pikir Dini bingung.
“Emang di kampus kamu tepe-tepe gitu, sampe bilang pasaran turun? Kalau orang naksir mah ga perduli ama penampilan” kata Anto balik mencibir
“Ye sendirinya monyong gitu” kata Dini
“Karena aku monyong kamu tergoda mau nyium aku?” tanya Anto nakal
“Tadi pagi kamu sarapan apa sih maz, koq jadi mabok gini” kata Dini yang heran
“Hehehe, kalau karena sarapan, harusnya kamu juga ikutan mabok dong, kan sarapan kita sama” jawab Anto. “Ini kearah mana?” tanya Anto ketika sampai area UGM.
Dini mengarahkan Anto menuju gedung tempatnya kuliah hari ini
“Jam 4 maz tunggu disini ya,” kata Anto saat Dini akan turun
“Maz ga repot antar jemput ade” tanya Dini, ada rasa ga enak menyusahkan Anto saat ini
“Pasti repotlah de, wong kita orang baru kenal” jawab Anto sambil senyum-senyum nakal, mengingatkan kalimat Dini saat semalam saat Anto ga mau merepotkan Dini mencuci baju kotornya
“Au ah” kata Dini kesal karena digoda Anto, dia keluar dari mobil sambil mengucapkan salam “Assalamu’alaykum”
***
“Maz, ketoko Mirota batik di ujung Malioboro ya, aku mau cari batik buat mama dan Sari’ pinta Dini begitu duduk di mobil
“Assalamu’alaykum de, kaya Amora aja mesti diajarin ama daddy” goda Anto, karena begitu masuk mobil Dini ga mengucapkan salam
“Hehe, wa alaykum salam maz ku yang reseh’ jawab Dini
Mereka menuju jalan Malioboro menuju Mirota batik sesuai dengan request Dini tadi. “Amora ga ngerengek waktu maz berangkat?” tanya Dini
“Engga, maz bilang akan ngejemput kamu, dan nanti malam maz bacain dia cerita” kata Anto
“Iya, ade ga mbiasain ngebohongin dia, ga mbiasain pergi dengan cara nyimpeke, dia harus liat kita berangkat, jangan disimpeke, kebiasaan yang ga baik” kata Dini memberi tahu pola asuhnya pada Amora
__ADS_1
***
“Warna kesukaan mama dan Sari apa maz?” tanya Dini saat mereka baru saja sampai di lokasi parkiran.
“Mama dan aku sama. Sukanya biru. Sari sukanya merah” jawab Anto
“Emang ade nanyain warna kesukaan maz?” goda Dini
“Mulai deh” kata Anto membalas godaan Dini
“Maz, sebelum kita masuk, aku kasih tau ya, aku kesini mau beliin buat mama dan Sari. Jadi jangan coba-coba maz ngebayarin belanjaanku.” pinta Dini
“Ok, kita ga akan ribut disana, kamu bayar belanjaanmu yang buat mama dan Sari. Diluar itu aku yang bayar!” jawab Anto tegas sambil menggandeng lembut tangan Dini
Aduh aku salah ngomong, batin Dini. Didalam Dini jadi ragu ingin ambil baju untuk dirinya dan Amora, karena ga enak bila ditraktir Anto. padahal dia melihat ada baju kembaran untuknya dan Amora
“Maz, aku ambil ini ya, kembaran ama Sari, beda warna aja” beritahu Dini, karena ga enak, bajunya akan dibayari oleh Anto
“Makanyaaaaaaa, ga usah kamu bayar yang punya mama dan Sari juga maz akan bilang ke mereka baju-baju itu dari kamu, kamunya aja yang suka aneh. Ambil aja yang buatmu. Mbak Rina ga kamu ambilkan juga? Nanti kalau dia komplain gimana?” tanya Anto
“Nyogok biar diterima jadi adik ipar gitu?” goda Anto, “Ga perlu sogokan juga pasti diterima koq, sebaliknya walau seisi toko kamu beli, kalau dia ga suka ya tetap ga suka” jawab Anto memastikan semua keluarganya tetap menerima Dini saat ini.
“Ambil ini mau ga?” tanya Anto menunjuk baju sarimbit ( baju pasangan untuk suami istri dan anak, tapi umumnya untuk suami istri ) yang tadi sudah dilirik oleh Dini
“Kita mau pakai kapan? Ga ada momennya ya percuma, keburu Amora ga cukup” jawab Dini tanpa pikir panjang
“Ya sudah, ambil yang pasangan aja, bajuku ditinggal disini aja ga perlu aku bawa ke Jakarta, jadi nanti kita pakai disini. Trus yang kamu kembar dengan Amora juga ambil, nanti kalau emang sudah kekecilan setidaknya yang kita berdua kan masih bisa kita pakai
Akhirnya Dini mengambil sepasang sarimbit berwarna coklat, dan sarimbit yang dengan anak perempuan berwarna dasar merah. Terlihat rona bahagia diwajah Anto saat melihat Dini mengambil sarimbit yang dengan anak, dia membayangkan mereka bertiga menggunakan batik itu.
***
Hari Selasa sore sehabis pulang kantor Steve datang ke rumah Dini, dia akan menginap agar bisa mengantar Anto ke bandara, dia ga ingin Dini kerepotan, padahal bila ga ada Steve Dini akan mengantar Anto dengan mobil, kan berangkat bisa Anto yang nyetir, pulangnya dia langsung ke sekolah, ga ribet dan ga ganggu jadwal ngajarnya.
Saat Dini menyiapkan makan malam Steve berbisik pada Anto : “Gimana hasil perjuangan lo?”
“Ditolak dengan manis” jawab Anto meringis
__ADS_1
“Serius?” tanya Steve ga percaya
“Soal ginian gue ga bakal bohong. Rupanya dia trauma berat, tugas lo bikin dia kembali normal” kata Anto masih berbisik “Nanti kita diskusiin saat ga ada dia” lanjut Anto
Sehabis makan malam dan Amora tidur, Anto, Dini dan Steve duduk di ruang keluarga. “Tidur cepet maz, biar besok ga kesiangan” perintah Dini ke Anto
“Ya ampuuuuuun de, kayak kita anak kecil aja. Itukan emang jam bangun subuh lalu berangkat, masa kita kesiangan sih? Kan emang jam rutin kita bangun” kata Anto menepis kekhawatiran Dini. “Lagian kalau kesiangan kan asyik, malah perpanjang waktu disini” lanjutnya menggoda Dini
“Kamu seriusan ambil S2 Din?” tanya Steve
“Iya, pengen jadi dosen, kan harus ada akta V” jawab Dini pasti
“Keren nih sohib gue, eh sorry, keren kamu Din” kata Steve meralat ucapannya
“Kamu dikantor ga gue elo kan Steve? Koq masih aja sering salah sih?” tanya Dini
“Kebiasaan Din, dikantor pakai anda dan saya lah, masa iya pakai elo gue, di Jakarta aja engga, apalagi di Jogja” jawab Steve
“Ga ngebayangin bapak Steve mimpin dikantor” kata Dini sambil senyam senyum
“Galak dia de, kemaren habis antar kamu kuliah kan maz ke kantornya mau pamit. Maz lihat tu dia lagi ngomel-ngomel” lapor Anto
Dini terkekeh mendengar Steve bisa serius dan galak, karena sejak dia kenal saat SMA, Steve terkenal sebagai sosok yang kalem namun humoris
“Ga galak lah, tapi tegas” sanggah Steve ga diterima disebut galak oleh Anto “Kamu ga tau kan pacarmu itu di kantornya? Cuma ramah ama satpam dan tukang parkir doang, ama yang lain dia jutek banget” kata Steve memberitahu Dini kelakuan Anto di kantornya
“Pacarku? Ngaco aja kamu, kemaren katanya kamu suamiku, gimana sih?” canda Dini mendengar dia disebut pacarnya Anto
“Hhaahhaaahahahaaa” Steve tertawa ngakak sementara Anto hanya senyum kecut mendengar Dini menolak disebut sebagai pacarnya, namun dia juga langsung meralat kata-kata Steve
“Siapa bilang dia pacar gue? Dia tu calon nyonya Prasetyanto” kilah Anto cepat. Membuat Dini menunduk malu
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini
Jangan lupa like dan vote nya ya
jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya
__ADS_1