CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
OBAT TIDUR??


__ADS_3

HAPPY READING


“Ya Ma, sebentar Mas keluar,” kataku menjawab seruan mama.


“Kenapa wajahmu jelek gitu De?” sapaku melihat penampilannya yang tidak seperti biasanya. Dia tetap cantik dengan celana corduroy coklat dan kaos cream, tetap tidak dandan, rambutnya dia biarkan terurai dengan jepit rambut sisir warna coklat di kanan kiri belakang telinga agak ke atas sedikit. Yang membuatnya beda adalah matanya sembab!


“Maz,” dia langsung berdiri dan memelukku erat. Tangisnya pecah dipelukanku. Kubalas pelukannya sambil memapahnya kembali duduk, kukecup puncak kepalanya. Setelah tangisnya agak reda, aku baru berani bertanya.


“Kenapa? Kalau kamu enggak cerita, mama keluar dikira Maz nyakitin kamu lho, barusan mama mau taruh minum aja enggak jadi karena liat kamu nangis gini,” lanjutku.


Mama emang tidak pakai jasa pembantu rumah tangga, kami bertiga sudah besar-besar. Kakakku, mbak Rina sudah hampir selesai kuliah, dan adikku Sari sudah kelas 1 SMA. Kami semua bertanggung jawab atas semua hal di dalam rumah. Itu sebabnya tadi mama yang antar minum untuk Dini.


Dini terperanjat mendengar mama melihatnya menangis dalam pelukanku.


“Harry masuk rumah sakit karena mencoba bunuh diri, dia OD mor-fin Maz,” jelasnya masih terisak.


“Bukannya kamu cerita dia sudah lepas semua kecuali rokok dan sesekali minum sedikit?” tanyaku bingung.


“Itulah, karena Ade pikir dia sudah normal, semalam Ade bilang mundur dari dia,” ceritanya. Lalu dia menjelaskan kronologi kejadian semalam sehabis mereka pergi ke pesta ultah teman Harry.


Aku senang, karena itu berarti Dini akan segera berbalik ke arahku, akan menjadi kekasihku. Namun bingung bila kejadiannya seperti ini. Tidak mungkin kan bidadariku ini akan tega dan tidak menaruh belas kasihan terhadap Harry. Aku hafal sifat tidak tegaannya. Oh my God, drama apa lagi ini?


Mengapa Dini harus tertekan seperti ini?


Akhirnya kami putuskan meluncur ke RS Persahabatan, tempat Harry dirawat. Disana hanya ada Leo adiknya Harry. Dia menceritakan kembali kisah yang sudah aku dengar dari Dini tadi. Harry belum sadar. Infus terpasang di tangan kirinya. Wajahnya sangat pucat.


Kami tidak lama disana. Sepulang dari rumah sakit aku belokan motorku ke warung bakso langganan kami. Aku tak pernah tanya mau kemana, karena aku akan memastikan mendapat jawaban : terserah Maz aja.


Kalau dia mau ke suatu lokasi, dia pasti akan kasih tau sebelum motor aku jalankan. Kami memang seperti itu, sudah saling tahu apa yang kami inginkan atau yang tidak ingin kami lakukan.


“Ade harus gimana Maz?” tanyanya pelan. Aku tahu dia merasa sangat bersalah. Tapi mau sampai kapan Harry mengikat Dini?


Aku hanya geleng-geleng, sambil menyeruput fan-ta merah. Aku masih tak percaya kalau Harry benar-benar ingin bunuh diri seperti yang dia pernah katakan pada Robby.

__ADS_1


“Aku enggak bisa berpendapat De, kamu yakin laki-laki seperti itu akan jadi imammu kelak? Belum lagi dia bukan muslim. Kalau sulit dilepas seperti ini, kamu harus berpikir panjang, karena bisa jadi kamu akan menikah dengannya. Bagaimana agama kalian nantinya?” jelasku setelah berpikir sejenak.


“Yang pasti, Ade enggak akan pindah agama Maz,” jawabnya pasti


“Ok, wait and see, yang pasti kamu harus mulai berpikir jauh. Maz akan selalu sabar nunggu kamu,” jawabanku. Entah sampai kapan aku harus menunggu.


***


PRASETYANTO END POV


Setelah delapan hari dirawat, akhirnya Harry boleh pulang. Delapan hari terbaring di rumah sakit Harry merindukan Dini. Dia tau dari cerita Leo, Dini pernah hadir satu kali saat dia baru masuk rumah sakit. Namun sesudah itu Dini tak pernah datang lagi.


Harry yakin, Dini sangat marah padanya. Dini sangat membencinya, itu membuatnya tambah ingin memohon maaf pada Dini, dia akan menyatakan langsung dia mencintai Dini.


Dini masih bingung untuk bersikap. Jelas dia tak mau terus bersama Harry, dan dia pun marah karena kerja kerasnya selama ini sia-sia kalau akhirnya Harry memutuskan kembali ke dunia kelamnya.


Beberapa kali Robby menemuinya untuk negosiasi, tetap tak dia gubris. Cukuplah buang waktu sia-sia selama ini.


***


Keluar kelas Yuli sahabatnya sejak hari pertama di kampus mengajak ngebakso. Dini suka dengan sahabatnya ini, Yuli anak sulung dari 7 bersaudara, ayahnya satpam di suatu bank, tapi dia tak pernah minder apalagi mengeluh. Dia tegar dan sangat pandai sehingga bisa kuliah karena beasiswa yang dia dapat.


“Din, itu Harry kan?” bisik Yuli di telinga Dini.


“Dimana Uni?” tanya Dini pelan, Dini memanggil Yuli dengan sebutan uni seperti adik-adiknya memanggil Yuli seperti itu.


“Di belakangmu. Jangan nengok kalau enggak mau ketemu. Dia ngerokok dan enggak lepas ngeliatin kamu dari tadi. Kenapa dia enggak nyamperin kita seperti biasa ya?” gumam Yuli heran. Karena setahu Yuli biasanya Harry langsung menghampiri mereka. Kadang ikut makan bakso atau ketoprak atau mie ayam dan gado-gado. Tidak seperti ini. Sejak tadi hanya memandang Dini dari jarak jauh.


“EGP Uni. Lanjut aja lah makannya. Kita jadi langsung ke pasar Senen kan cari katak buat praktikum ANHEW ( anatomi hewan ) besok pagi?” kata Dini pada Yuli, untuk melanjutkan aktivitas makan siang mereka siang ini. Habis ini memang mereka berniat membeli bahan praktikum.


“Jadi dong. Kalau enggak beli, di mana kita mau cari katak buat praktikum besok?” sahut Yuli cepat.


Sehabis makan mereka BSS ( bayar sendiri-sendiri ) lalu langsung menuju parkiran motor. Yuli memang membawa motor kalau kuliah. Rumahnya jauh di Kali Deres. Kalau naik bus terlalu lama.

__ADS_1


Mereka segera menuju ke pasar Senen, dan sekejap aja mereka sudah sampai tujuan. Yuli kalau bawa motor mirip pembalap. Dini sering menjerit dan memukul pundaknya agar Yuli agak pelan kalau mboncengin dia.


Mereka beli lima ekor katak karena empat kelompok lain titip untuk dibelikan bahan praktek. Saat akan pulang tak sengaja Dini lihat Harry di sudut parkiran.


‘Apa tujuannya membuntuti?’ pikir Dini.


Yuli menurunkan Dini di halte metromini yang menuju Rawasari, Dini tidak tega minta Yuli mengantarkannya sampai rumahnya. Karena berlawanan arah dengan rumah Yuli di Pesing, Kali Deres Jakarta Barat. Saat itulah Harry menghampiri Dini dihalte.


“Bareng gue yok. Gue anter lo pulang,” katanya ramah.


Tak enak terus menghindar, dan ingin menuntaskan semua masalah maka Dini ikut dengan lelaki itu tanpa berburuk sangka.


“Mampir ke rumah Reyhan sebentar ya, gue mau pinjem catetan buat di photo copy karena banyak bolos pas sakit kemaren,” kata Harry. Dia minta izin mampir kerumah kawannya didaerah Paseban. Yang memang terlewati kalau dari Senen menuju Rawasari. Jadi Dini pun tak keberatan.


“Ok enggak apa-apa,” balas Dini.  Dia pikir tak akan lama lah cuma pinjem catatan.


Sudah jam lima sore saat mereka sampai di rumah Reyhan di daerah Paseban, Dini baru dua kali bertemu Reyhan sebelumnya. Di Jakarta Reyhan tinggal sendiri karena orang tuanya di Bandung. Ada satu orang mamang yang menjadi ART sekalian driver dan tukang kebunnya. Pokoknya semua kerjaan di handle si mamang.


Di rumah Reyhan Dini numpang ke toilet sebentar karena sejak hunting katak tadi sudah pengen buang air kecil.


“Di minum dulu Din, gue ambilin buku yang mau di copy,” kata Reyhan menawarkan es teh manis yang di buatkan mamang.


“Yup, makasih Rey, tahu aja gue haus abis jalan di pasar Senen,” kata Dini langsung meminum es teh tersebut.


Dini tidak tahu kenapa, koq dia merasa ngantuk banget ya? Mana Reyhan lama banget ambil bukunya. Dia menyandarkan kepala nya ke jok kursi untuk rehat sebentar.


\=================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2