CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
180 DIA ISTRI SIMPANAN


__ADS_3

Hai hai para kesayangan yanktie, sehat semua kan?  Bagaimana puasa kalian sampai hari ini? Kue lebaran sudah lengkap belum? Boleh dong kirim kue ke Sedayu-Jogja? hehehe


Terima kasih sudah selalu setia mengikuti cerita sederhana ini. Kenapa yanktie selalu menyampaikan terima kasih untuk yang selalu setia membaca dan memberi like saat kalian selesai membaca bab cerita ini? Karena ada notif siapa aja yang kasih like.


Wah tekad Harry sudah bulat ya, enggak ingin menikah lagi. Tapi semoga aja ada yang bisa membuat dia berubah pikiran. Jodoh ‘kan enggak ada yang tahu.  Semoga tidak bosan menunggu cerita selanjutnya ya. Sekarang kita ikutin terus keseruan bab ini. Selamat membaca!


Yanktie mohon sehabis baca bab langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….


Maturnuwun.


--------


“Sedihnya, Harry bilang ama gue, dia enggak niat nikah lagi,” Steve mengatakan apa yang Harry ucapkan saat mereka ngobrol berdua ketika mamanya meninggal.


“Iya, Dini juga cerita, Harry bilang ke dia, Harry enggak akan menikah lagi. Tapi kami tetap berdoa, dia mendapat jodoh terbaiknya,” balas Anto.


“Ke papa dia juga bilang gitu. Dia bilang sekarang mau hidup hanya untuk Amora,” Leo memperjelas keputusan Harry yang dia ucapkan ke papanya.


Larut malam baru Anto dan Dini bisa pulang. Setelah susah payah membujuk Arya dan Abbhie pulang. Mereka ingin menginap seperti Amora, yang menginap di Jakal karena ada dua kakak perempuannya. Memang Anto memberi izin Amora menginap, sehingga kedua jagoannya iri. Dini sudah bertekad besok ingin bangun siang, karena sedang libur tidak salat.

__ADS_1


***


“Bu, saya ingin konsultasi ini,” seorang mahasiswi mendatangi ruangan Dini, sesudah di persilakan masuk, mahasiswi beasiswa itu menyodorkan berkas yang ingin minta pertimbangan Dini sebagai dosen pembimbing akademis.


“Sebentar ya, saya selesaikan 2 halaman lagi,” jawab Dini ambil tetap serius dengan berkas untuk meeting fakultas yang akan diikutinya besok lusa. Sambil menunggu, sang mahasiswi memandang isi ruangan itu. Tak ada yang istimewa, karena ini ruang kantor. Tentu isinya hanya foto presiden dan wakil, lalu foto Dini pribadi saat Wisuda S2 dan S3. Namun Indri, demikian nama mahasiswi tersebut sedikit mengamati foto keluarga dosen killernya, yang terletak di meja kerja sang ibu dosen. Terlihat bu dosen dengan suami dan ketiga anak mereka. Di sana terlihat pria gagah yang pernah menjadi suami tantenya. Dia ingat saat itu masih SMP ketika tante Shinta menikah dengan om Anto. Kalau dia lelaki yang sama, mengapa ada putri yang sudah berumur sekitar 8 tahun hingga 10 tahun itu? Sedang tante Shinta baru meninggal 7 tahun lalu. Apa bu dosen istri tua suami tante Shinta? Kalau om Anto sudah punya istri sebelum menikah dengan tante Shinta, tak mungkin pernikahan mereka dibuat sangat mewah. Dan bisa tercium istri pertamanya. Apa sebenarnya bu dosen ini lah yang simpanan om Anto, dan baru di proklamirkan setelah istri sah nya meninggal. ‘Aku akan selidiki,’ jiwa julid Indri mulai kepo, dia akan mencari info tentang bu dosen yang ramah tapi sangat tegas, sehingga tetap saja oleh para mahasiswa dianggap killer.


***


“Din, aku mau bicara serius bisa?” tanya Tiara, teman akrab Dini sejak menjadi dosen. Tiara lebih tua setahun, tapi dia baru lulus S2 2 tahun lalu. Karena merasa seumuran, mereka berkomitmen tidak memanggil ibu di sapaan keseharian mereka bila tidak di saat pembicaraan formal universitas. Mereka sering makan siang bareng. Walau beda jurusan, tapi karena satu fakultas mereka lumayan dekat. Tiara dari jurusan matematika.


“Bisa aja, sebentar, ini sudah mau selesai, kita mau makan siang di mana?” jawab Dini santai.


“Sorry Din, apa rumors yang sekarang beredar itu benar?” tanya Tiara. Dia bingung, tak dibahas, dia yakin Dini tak tahu kalau namanya sedang jadi bahan pergunjingan. Dibahas, dia takut menyinggung harga diri sahabatnya ini.


“Rumors apa?” tanya Dini kebingungan. Dia jarang terlibat basa basi dengan teman sesama dosen. Karena dia cukup banyak pekerjaan. Sehabis dari kampus, dia akan langsung pulang mengurusi 3 kurcaci kesayangannya.


“Kalau aku ceritakan, kamu jangan marah ke aku ya. Aku cerita ini karena merasa aku sahabatmu.” Tiara langsung menyetop kata-katanya karena ibu kantin mengantar langsung makanan pesanan ibu PD II ini, biasanya kalau pesanan dosen yang antar adalah pegawai ibu kantin.


“Terima kasih Bu,” ucap Tiara sambil menerima uang kembalian.

__ADS_1


“Kamu jangan bikin aku penasaran. Kamu ‘kan tahu, aku  marah bila memang seharusnya marah. Aku selalu bertindak dengan logika koq,” jawab Dini masih tidak mengerti apa maksud pembicaraan Tiara kali ini. Mereka jarang membahas hal serius. Paling share masalah anak balita mereka saja.


“Di luaran sana, tersebar berita, awalnya kamu hanya istri simpanan suamimu, tapi sejak istri sah suamimu meninggal, kamu baru diakui secara umum oleh suamimu. Karena istri sah suamimu baru meninggal 7 tahun lalu, sedang usia Amora saat ini sudah 10 tahun.” Dengan terbata Tiara menceritakan rumors tak sedap yang ia dengar.


“Aku enggak perlu menceritakan apa pun untuk membela diri. Aku juga tak akan membeberkan apa pun padamu. Karena aku takut dinding ruangan ini bertelinga. Lalu nanti akan ada berita bantahan versiku yang hanya terdengar sepotong tapi dibuat menjadi lengkap. Aku menyerahkan padamu, mau percaya rumors itu atau tidak. Yang pasti hal itu tidak benar. Dan aku juga tak ingin membuka sejarah baik atau buruk orang yang sudah meninggal. Kalau aku mau, penyebar berita ini akan tertampar dengan fakta yang ada. Dan satu lagi aku pastikan. Apa pun yang kamu percayai, aku tak akan marah pada mu. Kamu tetap kawan baikku,” Dini langsung makan nasi dengan lauk sop iga yang dipesan Tiara.


Tiara mengerti, bahwa rumors itu tidak benar. Dia lebih mempercayai Dini. Dia salut Dini tak menceritakan bantahannya walau pun kepada dirinya sebagai teman dekat.


***


Anto bingung, Dini mengirim chat hanya emoticon menangis saja. ‘Ada apa Mom?’ Lama tak ada jawaban dari chat yang Anto kirimkan. Anto berpikir positif, istrinya sudah kembali sibuk di ruang kuliah.


Pulang kerja, Anto melihat istrinya biasa saja, tetap manis terhadap anak-anak mereka. Anto pun berupaya sabar hingga waktu mereka bicara menjelang tidur nanti. Dia seperti biasa sehabis mandi langsung memperhatikan ketiga anak mereka, hingga mereka tidur nanti.


---------------------


Terima kasih sudah selesai membaca bab ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.


Salam manis dari Jogja

__ADS_1


__ADS_2