
85 TEMUI PACARMU DULU SEBELUM DIA NGANTUK
“Belum, hanya saya ingin menyerahkan langsung data ini” kata Puspita menunjukan gulungan kertas rancangannya
“Tinggalkan identitas anda bu” jawab petugas sambil menyiapkan kartu tanda pengunjung kepada Puspita. “Dilantai 4 ya bu, nanti disana tanya aja ruangan beliau”
Dilantai 4 Puspita menanyakan petugas ruangan Anto. “Sebentar mbak, saya laporkan ke sekretaris pak Anto dulu ya. Silahkan duduk dulu mbak” jawab petugas itu ramah
Tak lama datang seorang laki-laki muda menghampirinya. “Maaf, dengan ibu siapa dan dari mana bu? Serta apa keperluan ibu ingin bertemu Pimpinan cabang?” tanya orang tersebut
Wow ternyata Anto punya jabatan tinggi disini, pikir Puspita, tanpa warisan perusahaan bude Dyah saja, rasanya hidup dengan dia ga akan berkekurangan, pikirnya lagi. “Saya Puspita pak, saya arsitek pribadinya, mau diskusi tentang planning pembangunan rumahnya” jelas Dini
“Baik bu Puspita, biasanya bapak ga mau persoalan pribadi dibahas jam kerja, kalau ibu berkenan bisa meninggalkan berkas ibu agar diperiksa bapak, atau ibu menghubunginya diluar jam kantor” jawab sekretaris Anto yang tertulis name tag didada Supriadi
“Saya ga akan menyita waktunya lebih dari 15 menit, mohon agar saya bisa bertemu” desak Puspita
“Maaf bu, kebijakan bapak seperti itu. Silahkan ibu menghubungi di luar jam kerja saja.” tegas pak Supriadi kembali
Puspitapun terpaksa mengalah dan pamit pulang, kali ini dia ngalah, dia akan meminta budenya agar dia bisa bertemu dengan Anto berdua. Bagaimanapun caranya dia harus mendapatkan tambang emas ini. Penolakan ini makin menguatkan keinginannya menaklukan Anto
“Bagaimana?” tanya Anto pada Yadi
“Sesuai pesan bapak tadi, saya minta menghubungi bapak diluar jam kerja saja
“Ok makasih” jawab Anto “Bagaimana tiket ke Jogja besok pulang kerja, sudah kamu pesankan?” tanyanya
“Sudah pak, tiket kembalinya hari Senin pagi kan Pak?” tanya Yadi memastikan
***
Sudah pk 19.30, kenapa Anto belum absent ya pikir Dini. Biasanya pk 19.10 -19.15 dia sudah telpon menghubungi Amora. Apa dia sakit ya? Apa aku harus telpon dia lebih dulu? Dini galau memikirkan Anto yang telat menghubunginya. Kalau sampai jam 8 belum telpon, biar aku akan telpon dia lebih dulu, batin Dini lagi
__ADS_1
Pk 19.40 HP nya berdering, dia mengangkatnya namun sengaja menunggu orang yang telpon bicara lebih dulu. “Assalamu’alaykum cinta, koq tumben ga langsung kasih salam duluan?” tanya Anto
“Wa alaykum salam, maz kenapa? koq tumben telat telpon?” tanya Dini tanpa menjawab pertanyaan Anto
“Kangen ya? Khawatir? Kalau kangen, kalau khawatir, bukain pintu dong” kata Anto
“Maksudnya? Maz disini?” tanya Dini sambil berjalan ke pintu depan ruang tamunya. Dibukanya pintu dan dilihatnya sosok yang dia khawatirkan. Anto memeluknya erat, mencium puncak kepala seperti biasa, namun kali ini ada bonus mencium bibirnya sekilas
“Maz, ngawur” cubit Dini di perut Anto
“Kangen cintaku” kata Anto berbisik
“Ya tapi kan ga pantas kalau ada yang liat” jawab Dini
“Kalau ga ada yang liat boleh ya” kata Anto sambil mengedipkan matanya nakal
“Udah cepet ketemu pacarmu dulu sebelum dia ngantuk” kata Dini sambil mengambil tas punggung Anto untuk disimpan di kamar yang biasa Anto gunakan
Amora langsung berbalik dan memeluk Anto erat. Anto menciumi pipi dan kening Amora tak henti-henti. “Kiss daddy dulu dong, daddy kangen ama Moya” pintanya. Amorapun melakukan permintaan daddynya. Hujan muah keluar dari bibir sexynya. “Hahahaaaa basah kehujanan nih muka daddy” kata Anto terkekeh bahagia diberi ciuman Amora
“Daddy bawa martabak, Moya mau?” tanya Anto saat melihat simbok menghidangkan martabak dan wedang jahe
“Nda mau, Moya tenyan” jawab Amora
“Wow, sudah tau kenyang ya anak daddy. Kamu makin nggemesin aja sih,” kata Anto kembali menciumi Amora. Daddy lihat buku tulis Moya dong?” pinta Anto pada Amora
“Mbak, butu tuwis” pinta Amora kepada pengasuhnya. Sementara Dini menyerahkan selembar tissue basah pada Anto untuk menghapus liur Amora di wajah Anto
Amora dengan bangga memperlihatkan hasil coretannya pada Anto. Anto memperhatikan dengan seksama buku yang Dini siapkan untuk Amora, gambar yang ada hanya berupa bentuk sederhana bulat, kotak, elips, segitiga, tanpa tambahan sekat atau apapun. Lalu Amora diminta mewarnai yang ada didalam bentuk tersebut. Konsep sederhana tentang bentuk, warna dan pengenalan di dalam serta diluar juga melatih motorik tangan. Anto takjub akan pola asuh Dini terhadap anak usia 4 tahun itu
“Wah cantiknya daddy pintar banget ya” pujinya. Dia tulus memuji karena memang untuk anak usia 4 tahun hasil kerja Amora sangat bagus. “Sekarang bobo ya, sudah jam 9, besok kita beli buku cerita” kata Anto memerintah agar Amora rehat
__ADS_1
“Maz langsung dari kantor?” tanya Dini.
“Iya, pulang kerja, mandi dan ganti baju di kantor langsung ke bandara” kata Anto sambil mengambil martabak manis
“Koq ga bilang mau kesini?” tanya Dini mengintrogasi Anto
“Kamu kaya polisi nanya ke maling deh de” jawab Anto. Dia duduk di karpet, badannya disandarkan ke kursi yang diduduki Dini. Dia sengaja duduk disela kaki Dini, mengambil tangan Dini lalu meletakkannya di keningnya. “Pijet dikit deh de, agak pening nih” pintanya manja
“Maz pulang kantor langsung ke bandara, artinya maz belum makan kan, makanya pening, pasti telat makan kan?” omel Dini walau dia mengikuti permintaan Anto memijat keningnya
“Sudah makan, tadi di bandara Jakarta makan koq sebelum take off” jelasnya
“Serius maz?” Ade ga mau lho maz sakit karena pergi kesini” protes Dini lagi
“Serius cintaku, maz udah makan koq, cuma dari kemaren tu keqi. Puspita adik sepupunya Shinta datang ke kantor minta ketemu maz. Maz ga temuin, cuma bilang Yadi suruh usir dan bilang maz ga mau urusan pribadi dibahas dikantor. Nah karena hal itu dia sesorean ini telpon terus. Awalnya telpon pas maz lagi makan di bandara. Mungkin karena dengar suara pesawat dia tanya posisi, maz jawab lagi di bandara mau ke rumah tunangan maz. Dia ndesak terus jadi HP maz matiin. Itu bikin maz lupa jam absent pacar maz pk 19.10 karena alarm kan ikut ga aktive. Padahal jam 18.40 maz sudah sampai bandara Jogja, karena malas terima telpon dari dia jadi maz baru inget nyalain HP pas depan rumah tadi” kata Anto menjelaskan mengapa dia ga menghubungi Amora seperti biasa.
“Maz pasang alarm buat telpon Amora?’” tanya Dini
“Iya, maz takut kelewatan, bisa-bisa ga dapat muah muah dari dia” jawab Anto sambil tersenyum membayangkan tiap hari menerima cium jauh dari kekasih kecilnya
“Ya sudah sekarang bobo sana, biar ga pusing. Mau minum obat sakit kepala?” tanya Dini
“Engga lah, ga usah minum obat, dapat kiss dari mommy nya Moya juga langsung sembuh” pinta Anto
Dini mencubit punggung Anto. “Aduh sakit de, kenapa sih sekarang rajin nyubit?” tanya Anto
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini
Jangan lupa like dan vote nya ya
jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya
__ADS_1