CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
93 DIJEBAK


__ADS_3

93 DIJEBAK


“Tu kan, malah gitu omongannya” kata Anto


“Mangkane, wis tho gek mangkato” usir Dini. Mangkanya cepat berangkat begitu yang Dini ucapkan barusan


“Sun sik sekali lagi baru maz berangkat” kata Anto lalu kembali ******* bibir Dini


***


Senin sepulang kantor, Puspita mencegat Anto di lobby kantornya. “Mas, saya mau bicara” kata Puspita, hari ini dia mengenakan kemeja ketat yang kancing atasnya tidak terpasang, dipadankan dengan mini skirt ketat


Anto ga habis pikir, ini perempuan apa ga punya malu berpakaian kurang bahan ke kantornya dan menjadi tontonan karena saat ini jam pulang kerja, otomatis lobby sedang ramai. “Ada perlu apa ya? Saya sudah minta bu Gita untuk memberhentikan pembahasan renovasi rumah itu, saya akan menempati rumah istri saya saja di Jogja. Sehingga sudah tidak ada yang perlu kita bahas lagi” jawab Anto


“Iya saya sudah diberitahu bude Gita, sebagai perpisahan saya ingin ngajak mas ngopi 1 kali ini aja“ pinta Puspita


“Oh gitu, ok tapi ga bisa lama ya, saya janji pulang cepat ke ibu saya, kebetulan dia sedang kurang sehat” kata Anto. “Mau ngopi daerah mana?” tanya Anto


“Daerah Rawamangun aja ya mas” kata Puspita senang


“Ya kamu duluan aja, saya ikuti mobilmu” kata Anto


Begitu memasuki mobil Anton menghubungi Yadi : “Kamu dan temanmu tolong ikuti mobil saya, saya punya perasaan ga enak, tolong jangan sendirian, 2-3 orang, sekarang ya.


Yadi yang sedang di area parkir motor hendak pulang mengajak beberapa temannya untuk mengikuti mobil Anto, salah satu temannya adalah satpam kantor yang selesai dinas sehingga belum ganti seragam, hanya ditutup jacket saja


Tiba di café tujuan Puspita menunggu Anto memarkir mobilnya lalu mengajak Anto masuk


“Minum apa mas?” tanya Puspita, “Ngopi atau apa?”


“Saya vanilla late aja” kata Anto


“Vanilla late 1, moccacino 1 dan 2 croissant ya mbak, pesan Dini pada pramusaji yang berdiri disisi meja mereka


“Saya ke toilet sebentar ya mas,” pamit Puspita

__ADS_1


“Silahkan” jawab Anto


“Jadi mas sudah dapat arsitek yang akan menghandle rumah itu?” tanya Puspita ketika dia kembali dari toilet


“Sementara sih belum pengen mbangun, nanti aja kalau nyonya sudah siap pindah ke Jakarta lagi, sekarang dia tinggal di Jogja karena sedang melanjutkan kuliah S2 nya” jawab Anto. Kopi dicangkirnya sudah hampir habis, Anto merasakan kepalanya sangat pusing. Kepalanya terasa sangat berat dan akhirnya dia pingsan


“Papah dia kemobilku, kata Puspita kepada 2 orang laki2 yang sejak tadi duduk dekat meja Puspita, sepertinya memang mereka sudah siap sejak tadi


Yadi dan satpam yang menunggu Anto di luar melihat Anto keluar café dengan dipapah oleh 2 orang laki-laki.  “Pak Anto kenapa tuh!” kata pak Irhan, satpam di kantor Anto, “Gini aja, kita berempat nyamperin pak Anto, dan elo Di, ambil kopi sisa pak Anto dan makanan yang pak Anto makan, nanti gue bawa ke kantor polisi” jelasnya memimpin teman-temannya


Pak Irhan membuka jaket motornya, agar terlihat dia memakai seragam satpam. Dia dan teman-temannya berjalan kearah Anto. “Ada apa dengan boss kami?” tanya pak Irhan


“Eh, eh..eh.. kami ga tau, tiba-tiba dia pingsan lalu mbak ini meminta kami membantunya untuk mengantar dia pulang” jawab salah satu dari yang memapah Anto


“Anda tahu alamat pak Anto?” tanya pak Irhan tenang


“Mbak itu yang akan mengantarkan, kami hanya diminta membantunya sampai naik ke mobilnya, kata orang yang satunya, rupanya dia tidak mau terlibat masalah lebih besar


“Rud, dan Afgan, ambil kunci mobil pak Anto disakunya, bawa dia ke mobil lalu tunggu saya disana. Dendi minta KTP mbaknya. Yadi, kamu sudah dapat sisa minum dan makanan pak Anto?” perintah pak Irhan kepada semua team yang terlibat sore ini


Puspita hendak lari namun Dendi memegang kedua tangannya dan pak Irhan mengambil KTP dan kunci mobil dari dompet di tas Puspita


***


Pukul 19.30, Dini menunggu telpon rutin Anto seperti biasa, kali ini dia merasa tidak enak hati, dia tidak menunggu sampai pk 20.00. dia memencet nomor Anto. 1 x dering panjang tidak diangkat. Dini makin kalut, bila 3 x tidak diangkat dia akan menghubungi telpon rumah Anto


Sementara itu di IGD RS Persahabatan, Yadi sedang mengisi data pasien, dia sebagai sekretaris Anto hafal nama serta tanggal kelahiran Anto karena sering memesan tiket bagi boss nya itu


Saat itu dia mendengar HP Anto berdering, “Gimana nih Gan, HP boss bunyi” kata Yadi meminta pendapat Afgan.


“Angkat aja pak Yadi, kali aja penting. Dari siapa?” tanya Afgan


“Dari ibu” jawab Yadi melihat nama tertera dilayar HP Pak Anto my wife.


“Apalagi dari ibu, pasti dia cemas nyari boss, udah angkat aja, saya saksinya” kata Rudi

__ADS_1


Di sambungan berikutnya Yadi mengangkat telpon dari Dini “Assalamu’alaykum bu” sapa Yadi lebih dulu


“Wa alaykum salam, ini siapa ya? Pak Antonya kemana?” jawab orang diujung sana


“Saya Yadi bu, sekretaris Bapak di kantor, Bapak sedang tidak sadar, sekarang masih diperiksa dokter” jawab Yadi


“Pingsan kenapa pak? Di rumah sakit mana?” tanya Dini cemas


“Kami di RS Persahabatan bu, bapak pingsan sepertinya mau dijebak perempuan bu” lapor Yadi


“Pak Yadi tau siapa perempuan itu?” tanya Dini


“Tau bu, itu yang ngejar-ngejar Bapak, yang arsitek itu bu” jawab Yadi lagi


“Pak Yadi saya titip bapak ya, saya akan hubungi adiknya serta mamanya. Maximal besok pagi saya sudah ada disana” kata Dini lalu dia memutus hubungan telpon


“Mbak Inah, tolong bersiap ya, kita berangkat ke Jakarta sekarang atau besok pagi tergantung tiket, mbak Inah ikut jadi bawa pakaian ganti juga” perintah Dini pada pengasuh Amora sambil dia memencet nomor Sari


“Assalamu’alaykum de” salam Dini pada Sari. “De, maz Anto sekarang di IGD RS Persahabatan karena dijebak sepupunya Shinta, tolong kamu kasih tau mama dan mbak Rina ya” kata Dini tanpa memberi waktu bagi Sari menjawab salamnya


“Mbak Rina sudah pindah ke Malang mbak, mas Imron dipindah ke RSUD sana” jawab Sari. “Aku kasih tau mama dan langsung kesana deh ya mbak” lanjut Sari lemas mendengar khabar ini


“Khabari aku setiap step yang terjadi ya de” pinta Dini


“Iya mbak, Assalamu’alaykum” jawab Sari, dia kagum mbak Dini bisa tahu lebih dulu kondisi kakaknya padahal mereka beda kota


Selanjutnya Dini menghubungi Steve, belum sempat dia memberi salam Steve sudah bicara : “Hallo sayangku, sepertinya kita sehati ya, aku baru mau telpon kamu kalau besok jam 8 aku ngedadak berangkat ke Jakarta, tapi lusa sudah balik koq”


“Steve,” isak Dini


“Sayang kamu kenapa? Mau aku ke rumahmu sekarang?” tanya Steve panik


“Anto Steve, Anto” isak Dini


Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini. untung Maz Anto punya feeling so good ya, sehingga bisa ada Yadi CS yang stanb=dby. ga kebayang kalau dia bisa dibawa ama ondel-ondel sawah itu

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote nya ya


jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul  KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR  ya


__ADS_2