CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
82 AKU MERINDUKANNYA, SANGAAAAAAAAAAAAT MERINDUNYA


__ADS_3

“Anak cantiknya daddy ga rewel ya, Moya pinter kan? Sekarang pulang dulu dengan mommy, nanti daddy nyusul ke rumah Moya” bisik Anto pada Amora digendongnnya. Kulihat dia menciumi pipi serta kening Amora sambil tetap dipeluk erat. “Daddy janji nanti main ama Moya, kita baca cerita lagi, sekarang nurut mommy ya?” kata Anto lagi.


Wait …mengapa dia menyebutku mommy?  Biasanya dia masih menyebutku bunda. Apa dia sengaja membiasakan menyebut mommy sebagai pasangan daddy? Aku mengernyitkan alisku yang aku tau dia jelas melihatnya


“Daddy nda bo’on?” tanya Amora ragu


“Daddy ga pernah bohong kan? Daddy sayang Moya, tapi kalau Moya ga nurut mommy, daddy ga akan datang ke rumah Moya” jawab Anto. “Sekarang turun dan salim, lalu pulang sama mommy” pinta Anto pada Amora


Saat itu aku sedang salim dengan mami dan papi kulihat Amora memberikan tangannya meminta salim pada Anto, menciumi pipi Anto sambil mengucap muaah. Anto terkekeh melihat aksi muah gadis kecil itu, dia lalu menurunkan Amora dari gendongannya.


Anto memelukku saat aku hendak memberinya salam perpisahan, sungguh dia ga malu melakukan hal ini didepan mami papiku, dan dia juga mengecup puncak kepalaku, lalu kudengar bisikan mesranya : “I love you so much de, angkat telpon maz ya”


Aku segera melepaskan pelukannya dan mengangguk menjawab permintaannya


 ***


Harry baru saja mendapat kiriman photo-photo ulang tahun Amora yang dikirim Dini via pos. Dia merasa bahagia bisa hadir di ulang tahun ke empat Amora, dia juga memperhatikan photo bertiga Amora, Dini dan dirinya yang sengaja dicetak besar oleh Dini, dia yakin Dini mempersiapkan itu agar bisa langsung dipasang di pigura. Dia merasa sangat beruntung pernah mengenal perempuan sebaik Dini, dan masih aja merasa bodoh dan menyesal menyia-nyiakan bidadari sebaik Dini. Dia tau ada beberapa gadis di kantornya yang mencoba mendekatinya, namun dia benar-benar tidak dapat membuka hati untuk perempuan lain


Dia belum bisa move on dari sosok Dini yang baginya sangat sempurna. Sepulang kerja Harry mengunjungi toko pigura. Dia membeli 1 pigura besar dan 3 pigura kecil. Pigura besar dia letakan didinding kamarnya, sedang 2 pigura kecil dia letakan di meja dikamar tidurnya, 1 pigura kecil sengaja akan dia letakan di meja kantornya. Dia ingin teman-teman di kantor barunya ini mengetahui dirinya punya keluarga. Photo yang dia letakkan di meja kerjanya adalah photo dia,Dini dan Amora.


Harry juga sempat menanyakan hubungan Dini dengan Steve pada Leo. Namun jawaban Leo tidak sesuai dengan yang dia lihat,  Leo menerangkan panggilan papa dari Amora pada Steve bukan menunjukkan sesuatu hubungan yang special antara Dini dan Steve.


Namun dia pun sadar sudah tidak boleh memiliki rasa cemburu karena dia sudah bukan suami Dini, hanya rasa tidak relalah yang membuatnya bertanya-tanya hal tersebut.


***


Dini baru saja memasuki kamarnya hendak ganti baju ketika HP nya berbunyi, terpampang nama Anto disana “Assalamu’alaykum maz” sapanya saat mengangkat panggilan dari Anto


“Sudah sampai mana de?” Anto mulai menginterogasi Dini


“Alhamdulillah sudah sampai rumah. Maz sendiri dimana” Dini balas menanyakan posisi Anto


“Maz malah baru keluar bandara de, tadi briefing dengan direktur malah lama karena pesawat beliau delay sehingga kami menemani dia dulu” Anto menerangkan kondisinya


“Ya wis, maz nikmati perjalanan menuju rumah ya, langsung istirahat. Ade mau mandi dulu. Assalamu’alaykum” Dini langsung menyudahi pembicaraan itu

__ADS_1


Anto bingung harus merasa apa, bahagia karena secara ga sengaja ketemu di bandara dan membuat mereka bisa berkomunikasi, apa kesal karena Dini begitu saja menyudahi pembicaraan mereka. Namun dia masih bisa menyunggingkan seulas senyum karena bahagia bisa memeluk dua perempuan tercintanya walau sekejap


***


Kriiing kriiing, telpon rumah Dini berbunyi pagi ini, simbok yang kebetulan terdekat dengan pesawat telepon mengangkatnya


“Assalamu’alaykum” salam si penelpon


“Wa alaykum salam” jawab simbok


“Mbok, mbak Dini ada? Dari mas Anto mbok” jelas suara diujung sana


“Ada mas, sedang ditaman belakang, sebentar, mbok panggilkan.” jawab simbok, lalu meletakkan gagang telpon dan menghampiiri Dini


“Mbak, ada telpon dari mas Anto” lapornya pada Dini yang sedang menemani Amora belajar mewarnai


Dini berdiri dan meminta mbok menunggui Amora sebentar selama dia menerima telpon karena pengasuh Amora sedang keluar membeli pembalut Dini yang kehabisan stock


“Assalamu’alaykum” sapa Dini saat memulai bicara


“Engga maz, aku lagi nemani Amora belajar mewarnai” jawab Dini


“Wah pintarnya gadisku, sudah mulai belajar mewarnai. Tadi maz telpon ke HP mu tapi kamu ga angkat, jadi maz telpon kesini” lanjut Anto


“HP di kamar, jadi ga ada yang dengar, kalau di luar lalu bunyi biasanya simbok atau mbak pasti kasih ke ade koq” kilah Dini, dia ga enak bila Anto masih mengira dia menghindarinya


“Maz boleh ngobrol ama Amora ga de?” tanya Anto. “Maz kangeeeen banget ama dia, udah dua hari kebayang-bayang dia terus” pinta Anto


“Boleh lah maz, maz matiin telpon ini ya, 10 menit lagi maz telpon ke HP ade, ade kan harus ambil dulu di kamar lalu ke gazebo belakang, karena Amora disana” jelas Dini


“OK, assalamu’alaykum” jawab Anto


“Wa alaykum salam”


Dini mengambil HP nya dikamar, dia melihat 4x panggilan tak terjawab dari Anto dan 1x panggilan tak terjawab dari Harry

__ADS_1


Prasetyanto pov


Sudah 2 hari aku merindukannya, sangaaaaaat merindunya, aku ingin memeluknya, menciuminya sepuas hati dan merasakan ciumannya dipipiku. Aku benar-benar tak bisa menahan rindu ini


Aku yakin hari Sabtu jam 10 dia pasti bisa kuhubungi, ku pencet nomor HP untuk berbicara dengan sosok yang kurindu. Namun sayang 4x kuhubungi, nomor tersebut tak merespon. Akhirnya aku menghubungi nomor rumahnya


“Assalamu’alaykum” salamku


“Wa alaykum salam” kudengar simbok yang menjawab salamku


“Mbok, mbak Dini ada? Dari mas Anto mbok” kataku


“Ada mas, sedang ditaman belakang, sebentar, mbok panggilkan.” jawab simbok. Pantas saja panggilanku di nomor HPnya ga diangkat, ternyata dia sedang ditaman belakang rumah


Setelah beberapa saat menunggu kudengar salam dari ujung sana “Assalamu’alaykum” sapa Dini saat memulai bicara


“Wa alaykum salam, maz ganggu kamu ya de?” tanyaku


“Engga maz, aku lagi nemani Amora belajar mewarnai” jawab Dini


“Wah pintarnya gadisku, sudah mulai belajar mewarnai. Tadi maz telpon ke HP mu tapi kamu ga angkat, jadi maz telpon kesini” lanjutku


“HP di kamar, jadi ga ada yang dengar, kalau di luar lalu bunyi biasanya simbok atau mbak pasti kasih ke ade koq” jawab Dini


“Maz boleh ngobrol ama Amora ga de?” tanyaku. “Maz kangeeeen banget ama dia, udah dua hari kebayang-bayang dia terus”


“Boleh lah maz, maz matiin telpon ini ya, 10 menit lagi maz telpon ke HP ade, ade kan harus ambil dulu di kamar lalu ke gazebo belakang, karena Amora disana” jelas Dini


“OK, assalamu’alaykum” jawabku lalu memutus sambungan telpon itu. Belum sampai 10 menit aku sudah menghubungi HP Dini


Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini


Jangan lupa like dan vote nya ya


jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya

__ADS_1


__ADS_2