CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
143 SHOCK THERAPY BAGI ULET BULU


__ADS_3

Halloooooooooo……..


Anto tak ingin rumah tangganya oleng. Dia memperjuangkan mendapat balasan cinta Dini saja sudah sangat susah payah. Maka dia akan memperjuangkan keutuhan rumah tangganya.. Gimana kelanjutan kisahnya? Ikutin terus di bab ini ya


Yanktie mohon sehabis baca BAB langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….


Maturnuwun.


-------------


Steve langsung teringat pada diamnya Sari saat Jelita mengganggu rumah tangganya hampir tiga tahun lalu. Tiba-tiba Steve menerima tamu yang ternyata lawyer Sari untuk mengurus perceraian. Diamnya perempuan yang tersakiti memang sepadan dengan diamnya gunung berapi. Tak terlihat pergerakan dipermukaan, tiba-tiba duaaar, meledak dan membuat kehancuran! Tentu saja Steve tak ingin kakaknya mengalami hal tersebut. Dia akan berupaya membantu agar rumah tangga Dini dan Anto adem ayem seperti dulu.


“Trus mau mas bagaimana? Aku harus berbuat apa buat membantu masalah ini?” Steve langsung to the poin agar kakaknya tidak makin galau.


“Aku mau tanya saat kamu melaporkan ulet bulu yang membuat Sari marah. Step-stepnya bagaimana? Siapa pengacara yang kamu pakai karena aku tidak punya waktu untuk banyak keluar kantor. Yang pasti aku mau anak itu membusuk di penjara tidak ada kompromi anak siapa pun dia. Ini bukan hanya soal hati dan perasaan Dini. Ini juga berkaitan dengan hati dan perasaan mama serta tiga anakku. Aku enggak bisa kalau lima orang itu harus hancur bila pernikahanku hancur. Dini belum pernah marah padaku. Aku sangat takut. Aku memperjuangkan hidup bersamanya sangat sulit. Aku tidak ingin kami hancur karena seekor ulet bulu yang mengganggu.


Steve langsung menghubungi kantor pengacara yang biasa membantu semua urusan berkaitan hukum yang dia hadapi. “Ini ada bang Fredy Hutabarat, dia sedang mengarah kesini, mas berkenan bertemu enggak, kalau yang lain sedang banyak job!” tanya Steve karena yang sedang kosong dan dekat dengan lokasi mereka dari team advokat adalah bang Fredy.


“Aku manut wae, yang penting mereka terbiasa menangani kasusmu jadi kita terbantu, karena waktu kita kan sedikit.” Anto menjawab pasti. Dia ingin masalah ini langsung di adukan ke ranah hukum tanpa negosiasi.


Tak lama, hanya butuh waktu sepuluh menit bang Fredy pengacara yang akan membantu mas Anto sudah duduk bersama mereka. Karena sudah jam makan siang, Anto mengajak mereka semua pesan makan sebelum membahas persoalan yang di hadapinya.


“Data anak tersebut selengkapnya ada pak?” tanya bang Fredy saat Anto mulai bercerita masalah yang di hadapinya. “Kalau ada, saat ini juga kita bisa langsung melaporkan, tak perlu menunda waktu,” bang Fredy ternyata bergerak sangat cepat.

__ADS_1


Anto meminta pada sekretarisnya membawakan berkas berisi data Hapsari, bukan Apsari seperti Sari adiknya. Dia minta semua data di copy saat itu juga dan diantarkan ke cafe tempat mereka menunggu. Sang sekretaris pun segera menyebrang jalan menyerahkan berkas yang diminta pimpinan cabangnya itu. Bang Fredy memperhatikan data Hapsari. Dia juga meminta dikirim nomor yang digunakan untuk menghubungi Anto serta mencatat semua kelakuan yang dikerjakan oleh Ari terhadap Anto khususnya dan para petinggi kantor pada umumnya.


“Sejak pagi Ari mencari Bapak, dia menanyakan Bapak pada saya dan pada PR di lobby,” info terkini dari mas Pujo sekretaris Anto yang datang menyerahkan berkas.


“Baik ada berita lagi mas?” tanya Anto.


“Ketua yayasan Prambanan tempat sekolah Ari juga ingin minta waktu bertemu,” lapor Pujo.


“Tunggu sampai saya punya nomor aduan di kepolisian baru atur waktu bertemu dengan ketua yayasan dan guru pembimbing. Saya rasa sore ini saya punya nomor aduan. Besok atur waktu agar mereka menemui saya lusa pagi jam 9 agar tidak menunda waktu,” Anto memberi perintah pada sekretarisnya.


Anto dan Steve meluncur satu mobil, sedang bang Fredy lebih dulu berjalan dengan mobilnya. Anto sangat bersyukur mendapat bantuan Steve sehingga semua akan segera teratasi. Yang pasti sore nanti dia pulang ke rumah sudah membawa surat pengaduan kasus Ari. Sehingga dia harap Dini tidak keterusan marah padanya dan mengambil keputusan yang tidak diinginkannya.


“Aku langsung balik ke show room ya mas, kasihan Sari harus menungguku kelamaan bila aku mampir lagi,” Steve memberitahu Anto saat mereka baru saja keluar dari kantor polisi. Anto sudah mem foto copy surat laporan pengaduannya. Diberikan pada Steve dan untuk dirinya juga untuk berkas di kantornya. Dia sungguh tak main-main bila menyangkut kelangsungan hidup rumah tangganya. Anto sangat senang terbantukan dengan gerak cepat bang Fredy.


“Pujo langsung ke ruangan saya,” perintah Anto datar saat melewati ruangan Pujo yang kebetulan sedang terbuka karena ada satu anak magang minta tanda tangan untuk laporan ke sekolahnya.


“Baik Pak,” sahut Pujo cepat. Dia menanda tangani berkas dari sekolah, lalu segera beranjak untuk melakukan apa yang diminta oleh pimpinannya.


“Panggil juga mbak Ndari,” perinta Anto saat Pujo baru saja masuk setelah dipersilahkan Anto.


‘Kenapa enggak tadi sekalian sih memerintahnya,’ keluh Pujo di batinnya. ‘Atau Bapak kan bissa panggil mbak Ndari via intercom di meja Bapak,’  rupanya Pujo masih ngedumel di batinnya. Pak Anto memang tidak pernah memanggil sekretaris resminya secara langsung. Dia selalu memanggil lewat Pujo, tangan kanan yang dia tentukan sendiri. Dia tidak pernah mau bekerja hanya berdua dengan perempuan. Dan Pujo sudah mendengar hal itu dari teman-temannya di kantor lama pak Anto di Jakarta. Padahal menurut rumor, saat di Jakarta pak Anto duda. Namun tetap tidak pernah mau punya sekretaris perempuan. Sesungguhnya sekretaris pak Anto bukan Pujo tapi mbak Ndari.


Pujo berlari ke ruangannya, menghubungi mbak Ndari via intercom, dan mengambil buku tulis kecil serta alat tulis agar semua yang akan diperintah pak Anto bisa dia catat tanpa terlewat.

__ADS_1


Pujo dan mbak Ndari masuk ruangan Anto bersamaan. Anto memberikan selembar kertas copy-an pada kedua asistennya. Pujo dan Ndari yang duduk di kursi seberang meja Anto terbelalak membaca laporan pengaduan Anto terhadap anak magang bernama Hapsari Chandradewi. “Saya minta Ndari segera hubungi sekarang juga ketua yayasan dan guru pembimbing anak tersebut untuk bertemu saya besok jam 9 pagi.” perintah Anto.


“Baik Pak,” jawab Ndari.


“Sekarang mbak Ndari, pakai telepon ini,” perintah Anto sambil menunjuk telepon kantor di meja kerjanya. Ndari agak gugup, dia mencoba memencet nomor sekolah yang tertulis di data Hapsari.


“Bisa bicara dengan pak Samuel Lukas?” tanya Ndari pada penerima di nomor yang dia hubungi.


“Pak Lukas sedang mengajar, apa ada hal penting yang bisa saya sampaikan?” tanya petugas di ujung telepon.


“Saya ingin pak Samuel Lukas menghubungi saya, Ndari sekretaris pak Anto dari Bank tempat anak-anak didiknya magang.” Ndari meminta di hubungi saat itu juga lalu dia menutup pembicaraan setelah petugas menjanjikan akan menghubungi pak Lukas di kelas yang sedang diajarnya.


Sedang ketua yayasan langsung bisa dihubungi dan berjanji besok akan datang tepat waktu sesuai dengan permintaan pak Prasetyanto.


-----------------------------


Terima kasih sudah selesai membaca BAB ini, semoga tidak mengecewakan. Makin seru, bagaimana ya tanggapan ketua yayasan melihat pengaduan yang Anto ajukan?  Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.


Sambil nunggu yanktie update, kita baca cerita menarik milik teman yanktie ini ya, judulnya  GAIRAH CINTA CEO BASTARD karya KISSS


Ceritanya seru abis.


------------------

__ADS_1



__ADS_2