CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
36 TELPON DINI HARI


__ADS_3

“Dari Dini, sudah ga ada permasalahan koq pa, Dini minta papa sampaikan ke Harry, ajukan gugat cerai saja. Agar ga ada lagi yang terluka, baik mama, Dini maupun Harry. Sejak Dini hamil, Dini ga ingin nikah dengan Harry, karena Dini ga lihat kedewasaan Harry untuk memimpin biduk rumah tangga, apalagi mimpin kapal. Dini ga lihat Harry bisa menjadi imam bagi Dini dan anak Dini, namun saat itu Dini diminta 1x aja ga ngebantah, Dini diminta nurut, yaitu menikah demi kebaikan calon anak Dini dalam kandungan saat itu” Dini terdiam sesaat, karena dia tau kata-katanya akan melukai maminya.


“Dini melakukan hal itu demi hati seorang perempuan yang melahirkan Dini. Seiring perjalanan rumah tangga, Dini senang Harry banyaaaaak banget berubah ke arah yang lebih baik, dia bisa melakukan hal-hal positif. Disitu Dini mulai menyukai Harry karena sikap baiknya. Namun suatu malam Harry menjerit karena mimpi, Dini desak agar dia cerita, ternyata mama meminta Amora untuk segera di baptis, itu terjadi sebelum Harry sidang skripsi. Dia jadi sering pulang malam alasannya cari data, namun Dini sering mencium bau alkohol dan bau rokok di baju Harry. Suatu hari Dini menemukan 1 bungkus ****** disela diktat kuliah Harry” sampai sini Dini mulai terisak.


“Dini mencoba sabar, karena Dini ga ingin konsentrasi Harry untuk skripsi terganggu, sampai sini apa Dini masih kurang sabar? Mama menekan Harry terlalu berat membuatnya kembali cari pelarian, karena Harry itu introvert, dia ga mau cerita, dia telan sendiri dukanya, Dini yang disebelahnya susah payah mompa Harry menyelesaikan skripsinya. Ibarat Harry anak kecil, Dini yang usap-usap kepalanya agar dia tenang dan bisa tidur, apa kalian ada yang tau hal ini? Gimana dia ga bisa tidur sepanjang malam, karena sudah ga ngerokok dia hanya melotot memandang langit-langit. Kalian ga tau tersiksanya Harry dibawah tekanan mama” keluh Dini.


“Itu semua ditambah dengan kebohongan dia dan mama yang bikin acara diam-diam tanpa Dini tau, apa kalau Dini tau Dini akan larang? Kan engga. Saat tau itu harga diri terasa terkoyak. Dan saat itu juga Dini memutuskan mencoret Harry dari hati ini. Walau dia belum Dini cintai, tapi dia kan ada dihati Dini sebagai suami. Sejak hari Sabtu waktu Dini dikasih baju Amora yang mami beli berdua Harry, Dini langsung tau, sampai kapanpun Harry ga bisa jadi suami Dini sepenuhnya. Apalagi pas hari Selasa dengan manisnya mami menyuruh agar Sarah dan Harry kembali bersama, itu sama aja menjadikan Dini keset kaki” Dini mulai terisak.


“Maaf, apapun yang papa mau, Dini sudah ga bisa menerima Harry. Apapun kondisinya dia sekarang, jalan kami sudah terpisah” lanjut Dini tegas.


Diskusi alot terus terjadi, banyak saran ditawarkan papi, mami, Leo dan papa agar Dini mau memberi kesempatan ke dua pada Harry. Bahkan sampai ide membuat surat pernyataan dari mama Sandra di atas kertas bermaterai bahwa ga akan intervensi rumah tangga Harry pun tercetus. Namun kali ini Dini tetap pada pendiriannya.


Satu-satunya kesepakatan yang mereka dapat adalah besok Dini kembali ke rumah Rawasari, agar lebih dekat kembali ke kampus mengingat 3 semester lagi waktu yang dibutuhkan Dini untuk mencapai gelar sarjana.


***


2 bulan sudah Dini meninggalkan Harry, 2 bulan sudah Harry makin terpuruk. Malam ini tiba-tiba alarm Hpnya berbunyi nyaring, dilihatnya penanda ulang tahun Amora. Besok bidadari kecilnya berulang tahun yang pertama, seperti apa dia sekarang pikir Harry, sebuncah kerinduan membuat dadanya sesak, dia menjambak rambutnya dan berteriak.

__ADS_1


“Aaarrrrghhhh ... .”


Sandra masuk ke kamar Harry, dan memberinya minum air putih untuk menenangkannya. “Besok ulang tahun pertama Amora ma, Harry harus cari dia sampai ketemu” jelas Harry.


“Jangan Harr, sudah malam, besok aja ya” bujuk Sandra. Padahal jam baru menunjukan angka 8 malam. Harry terlihat menurut sehingga Sandra keluar dari kamar anaknya.


Waktu masih pukul 4 pagi ketika telpon rumah keluarga Peter berbunyi nyaring. Peter keluar kamar menuju ruang tengah, dimana telpon rumah berada.


“Selamat pagi” sapa seseorang di sebelah sana.


“Pagi, dengan siapa ya pak dan ada perlu apa pagi-pagi telpon ke rumah saya”.


“Benar, saya papanya” sahut Peter, dia mulai was-was karena orang diujung sana menyebut nama lengkap anaknya.


“Kami dari polsek Kemayoran pak, anak bapak ada disini, dia ketangkap saat sedang pesta narkoba dan sedang berbuat mesum dengan pasangannya dalam kamar tempat kami melakukan penggerebegan” jelas suara diujung sana.


Peter berupaya kuat, dan berjanji akan segera datang ke polsek tersebut. Leo yang juga mendengar telpon tadi sudah berdiri dibelakangnya.

__ADS_1


Sandra bangun tanpa tau ada musibah. Dia memang selalu bangun jam 5 pagi lalu menyiapkan sarapan, tapi pagi ini dia kaget karena saat bangun dia melihat suaminya serta Leo sedang duduk di ruang keluarga, mereka duduk dalam diam seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Nonae, mari sini dudu jua” panggil Peter pada istrinya. Sandra merasakan hal yang ganjil, kalau Peter sudah memanggilnya dengan kata nona atau nonae, artinya ada yang akan dibahas serius. Sandra duduk didepan Leo disebelah Peter. Terlihat Peter menarik nafas panjang sebelum memulai bicara. “Harry ada di kantor polisi” jelas Peter, belum sampai Peter melanjutkan bicara Sandra sudah jatuh terkulai.


Peter mencoba menyadarkan Sandra, namun tadi dia dan Leo sudah membuat keputusan kali ini mereka ga akan membantu menyelesaikan masalah Harry lagi seperti ketika Harry diamankan satpam di daerah Sentiong. Mereka merasa batas toleransi mereka terhadap Sandra sudah sangat lunak sehingga Sandra merasa selalu benar.


Sandra sadar dan menangis histeris, putra kebanggaannya sekarang di kantor polisi, walau belum tentu dia dihukum tapi pandangan masyarakat pasti sudah jelek. Dan dia juga memikirkan masa depan anaknya tersebut pasti akan suram karena pernah berkelakuan tidak baik.  Semakin dipikirkan semakin kencanglah tangisnya. Sandra sadar semua karena keegoisannya, dia ga suka dan ga siap Harry menjadi milik orang lain walau orang tersebut adalah menantunya sendiri. Saat ini dia sangat merasa menyesal. Menyesal itu selalu datang dibelakang. Dan sedihnya lagi sekarang dia harus bertanggung jawab mengurus sendiri masalah Harry karena suami dan anak keduanya tidak mau membantunya.


“Yo, temani mama lah” pintanya pada anaknya nomor dua.


“Ma, selama ini Yo sudah banyak ngalah, selama ini mama ga anggap Leo ada. Selama ini mama ga pernah dengar kalau Yo kasih tau fakta tentang Harry, jadi sekarang Yo angkat tangan, mama urus aja tu anak emas mama dengan penuh kasih dan kebanggan seperti yang selama ini mama lakukan” sahut Leo sambil bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Lebih baik dia bersiap untuk berangkat kerja.


Simak terus lanjutan cerita ini di bab selanjutnya ya


Makasih yanktie ucapkan buat yang selalu setia baca kisah ini


Jangan lupa kasih like dan vote serta komen ya

__ADS_1


Salam manis dari Jogja


__ADS_2