
76 RAMBUT YANG DIACAK-ACAK, MENGAPA HATI YANG BERANTAKAN?
“Ade ga tau maz, ade ga tau, ade ga tau” jawab Dini sambil terisak. Dia masih trauma atas kegagalannya, walau dia tau Anto ga akan berlaku seperti Harry, tapi tetap aja keraguan itu ga bisa ditepisnya
Anto berpindah ke kursi panjang yang diduduki Dini, dia memeluk bahu perempuan idamannya itu. Mengecup puncak kepalanya “Lepaskan keraguanmu, menangislah sepuasmu agar kau bisa lapang” bujuk Anto
Lama Dini terisak didada Anto, sesudah tangisan Dini terhenti Anto memegang dagunya dan mendongakan wajah Dini agar bisa menatapnya. “Kamu yakin maz akan berperilaku yang kamu ga suka dan membuat kamu kembali gagal?” tanya Anto meminta kepastian Dini.
“Apa serendah itu maz dimatamu?” Anto merasa kecewa dan sedih. Dia sangat merasakan kehancuran Dini sehingga trauma menjalin hubungan dengan siapapun, bahkan dengan orang yang dia sangat kenal sekalipun. Dia kecewa, karena ga bisa melindungi Dini sehingga bisa mengalami tragedi pemerkosaan yang membuatnya jatuh. Dia sedih karena kekasihnya harus mengalami kepahitan yang teramat menyakitkan.
Dini ga menjawab pertanyaan Anto, dia hanya kembali menyembunyikan wajahnya didada Anto, dia merasakan kedamaian dalam dekap lelaki yang sampai saat ini sangat dia cintai itu
“Sekarang kamu tidur, istirahatkan badan dan pikiranmu” kata Anto sambil membimbing Dini untuk masuk ke dalam. “Biar maz yang ngeberesin gelasnya dan ngunci pintunya, kamu masuk aja ya?” perintahnya
***
“Kamu masuk sampai jam berapa?” tanya Anto saat sarapan pagi ini
“Aku hari Senin ga ada jam maz, hanya wajib datang upacara. Jadi biasanya pak Narto nunggu, daripada dia pulang pergi, cape di jalan. Aku ada kuliah jam 1 siang sampai jam 4 sore” kata Dini sambil melihat Amora yang sedang meminum susu coklatnya
“Gimana kalau maz dan Amora yang kali ini nunggu kamu? Habis itu kita jalan sebentar sebelum kamu kuliah?”
“Maz mau nunggu aku gitu?” tanya Dini ragu namun senang karena Amora akan ikut ke sekolahnya
“Kalau boleh, why not? Katanya ga lama, dia kan ga bakal bosan menunggu 1 jam dimobil denganku” jawab Anto
“Ok, bawa buku cerita aja, jadi dia ga bosan” jawab Dini senang. “Amora mau ikut bunda kerja?” tanya Dini. “Aku siapin baju gantinya dulu ya maz” seru Dini karena antusias.
“Mbak tolong Amora pakaikan diapers ya” perintahnya pada pengasuh Amora, karena kalau dirumah Amora sudah diajarkan toilet training, sudah diajarkan bilang bila merasa kebelet pipis atau pup. Jadi di rumah Amora tidak menggunakan diapers.
***
“Pagi Din, tumben bawa mobil tapi ga nyetir sendiri, biasa Senin kan dtungguin pak Narto” sapa Herry ketika bertemu di pintu gerbang saat melihat Dini turun dari mobilnya, namun bukan dari pintu driver.
“Iya, karena aku ikut Om E’i” kata Dini sambil menurunkan Amora dari gendongannya, lalu mendudukkannya di kursi depan. Sebelum dia menutup pintu dia membuka jendela lebih dulu. “Bunda kerja sebentar, Amora duduk manis dengan daddy ya” perintahnya
__ADS_1
“Wah ada yang dianter gacoannya nih” goda Iwan Lubis
“Abang,jangan sembarangan dong, nanti rame deh.” Kata Dini tersipu malu
Anto yang merasa ada kesempatan langsung turun dari mobil, lalu membuka pintu tempat Amora duduk, menggendongnya keluar mendekati Dini.
“Mommy masuk sana, Moya tunggu disini ama daddy” kata Anto. Dia seakan bikin pengumuman pada teman Dini disana
Aduuuh, ngapain juga dia turun batin Dini. ”Iya ini bunda masuk” jawab Dini
“Abang mau kenalan dulu dong ama daddy nya Amora” goda Iwan Lubis sambil memberi salam pada Anto. Herrypun mengambil langkah yang sama, menjabat tangan Anto sambil menyebut namanya
“Ayo ah, nanti telat absent” ajak Dini sambil menarik tangan kedua sahabatnya itu. Anto memperhatikan kelakuan Dini, dia yakin dua orang itu pasti dekat dengan Dini seperti Steve, karena Dini ga akan gampang touch dengan sembarang laki-laki kalau hubungannya ga dekat. Anto senang, artinya Dini mempunyai teman bertukar pendapat. Lebih-lebih sekarang ada Steve di Jogja. Anto merasa agak tenang berjauhan dengan Dini
***
“Mau kemana?” tanya Anto saat Dini masuk ke mobil.
“Maz ada yang ingin dituju?” tanya Dini “Guide kan ngikutin touris aja” lanjutnya
“Di hotel Inna Garuda, ada travel disana maz, habis itu bisa cari tempat main di mall aja, karena Amora masih belum ngerti kita bawa ke taman pintar” kata Dini sambil memberikan biskuit sayuran pada Amora
“Ok mom, kita kesana” jawab Anto lalu melajukan mobil kearah jalan Malioboro, tempat hotel Inna Garuda berada
Anto memesan tiket penerbangan pertama di hari Rabu. Dini tidak berkomentar di kantor travel itu, dia hanya mengernyitkan alisnya saja saat mendengar Anto memesan untuk schedule Rabu pagi.
“Kita ga bisa maksi diluar lho maz, kan jam 12 aku harus berangkat dari rumah, ga mungkin kan dari mall aku langsung berangkat kuliah, nanti kamu ga bisa bawa pulang Amora sendirian dari kampusku” kata Dini
“Siap nyonya, habis Moya main kita pulang, nanti maz antar kamu ke kampus ya” jawab Anto tanpa beban
“Berasa punya driver kalau begini” jawab Dini sambil masuk mobil
“Berasa punya driver, bukan berasa punya suami?” goda Anto
“Embuh…” sahut Dini sambil melengos karena malu
__ADS_1
***
Di arena bermain, Anto mendampingi Amora bermain sementara Dini duduk manis melihat mereka sambil sesekali dia mengabadikan moment itu dengan camera digitalnya yang memang selalu ada di tas nya
Joko yang baru saja selesai mengecek outlet batiknya di mall itu melihat sosok Rahdini dari jauh. Dia melihat Dini sedang memperhatikan suami dan anaknya yang sedang bermain. Hari Senin Joko juga tidak ada jam mengajar disekolahnya, dia gunakan hari itu untuk keliling di semua outlet batiknya. Joko semakin yakin untuk mulai menghindari Dini, agar dia tidak semakin sakit hatinya
***
Saat ini Dini sedang menuju kampusnya, tentu saja diantar Anto. “Kenapa pulang hari Rabu pagi sih maz? Kan cape langsung ke kantor” tanya Dini
“Kalau bisa aku ga pengen balik ke Jakarta de, pengennya disini terus. Karena hatiku ada disini” jelas Anto
“Kalau aku pulang maksimal hari Selasa malam aja, kan masih ada beberapa jam terbuang waktuku dengan kalian, mending aku tuntaskan sampai hari Rabu subuh aku berangkat dari sini. Lagi cape apanya sih? Kan di pesawat ga lari-lari? Duduk manis 40 menit sudah sampe Jakarta koq” jawab Anto.
“Lagian kalau mau protes tu tadi waktu pesan tiket, langsung aja kamu minta penerbangan hari ini buat usir aku” jawab Anto
“Tuh kan gitu, malah galakan dia kalau dibilangin” jawab Dini
“Hehehe, ga galak koq, udah jinak” goda Anto, dia menghindari bertengkar dengan Dini saat menjelang berpisahnya mereka kali ini, dia mengacak-acak puncak kepala Dini dengan tangan kirinya
“Iiih, maz, berantakan dong rambutku, nanti bisa turun pasaranku” kata Dini sambil cemberut dan memonyongkan bibirnya
“Kamu ngegodain maz de, tu bibir minta di sun?” goda Anto
“Yeee, siapa yang godain, wong lagi kesel karena rambut acak-acakan koq,” ketus Dini. Oh my God, rambut yang diacak-acak, kenapa hati yang berantakan? pikir Dini bingung.
“Emang di kampus kamu tepe-tepe gitu, sampe bilang pasaran turun? Kalau orang naksir mah ga perduli ama penampilan” kata Anto balik mencibir
“Ye sendirinya monyong gitu” kata Dini
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini
Jangan lupa like dan vote nya ya
jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR
__ADS_1