CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
159 ADA SOMETHING WRONG ANTARA MEREKA


__ADS_3

Hai hai para kesayangan yanktie, sehat semua kan?  Bagaimana puasa kalian sampai hari ini?


Terima kasih sudah selalu setia mengikuti cerita sederhana ini. Kenapa yanktie selalu menyampaikan terima kasih untuk yang selalu setia membaca dan memberi like saat kalian selesai membaca bab cerita ini? Karena ada notif siapa aja yang kasih like.


Mbak Dini beneran marah nih. Sekarang kita ikutin terus keseruan bab ini. Selamat membaca!


Yanktie mohon sehabis baca bab langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….


Maturnuwun.


- - -


“Njih Bu,” sahut mbak Warni. Dia hanya sedih memikirkan anak asuhan yang dia sayangi sakit. Saat sedang ditinggal ibu majikannya ke laboratorium, ponsel di kantong Warni bergetar. Terlihat panggilan dari nomor rumah majikannya. Warni segera mengangkat sambungan telepon itu. “Assalamu’alaykum Mbok,” sapanya. Dia mengira yang menghubungi adalah simbok, karena semua asisten rumah tangga tidak ada yang berani menggunakan telepon rumah majikannya, kecuali simbok.


“Wa’alaykum salam. Kalian dimana?” tanya Anto tanpa basa basi.


‘Ups Bapak yang telepon,’ batin Warni, dia jadi gugup. “Kami di rumah sakit Bhakti Ibu, Pak. Mas Abbhie di rawat di ruang Cempaka 3. ibu sedang keluar untuk ambil hasil lab darah mas Abbhie,” jawab Warni gugup.


Anto segera menutup sambungan telepon. Dia meminta simbok membawakan baju ganti mbak Warni dan Abbhie. Dia sendiri yang mempersiapkan apa yang dibutuhkan istrinya. Anto sangat sedih, bahkan Abbhie sakit sampai di rawat, Dini tak mau memberi khabar padanya karena marah. Sejak tadi ponsel Dini aktif, namun sementara dia memblokir nomor Anto. Dia sudah mengabari mama dan mami kalau Abbhie di rawat dan meminta doa mereka agar Abbhie cepat sembuh. “Assalamu’alaykum Ma,” sapa Anto saat sang mama menghubunginya.


“Wa’alaykum salam. Kamu dimana? Masih di kantor? Mama mau ke rumah sakit sekarang. Ada yang di butuhkan enggak?” tanya sang mama. Tanpa tahu kalau Anto tidak diberitahu soal Abbhie di rawat.


Anto terkesiap mendengar kata-kata mamanya. Artinya ponsel Dini aktif karena dia sudah memberi khabar mamanya. Apa dirinya sendiri yang tidak diberi tahu? Bukankan Abbhie adalah anaknya? Anak mereka? Mengapa Dini semarah itu karena dia terlambat menjawab sapa nya? “Aku lagi di rumah Ma, ambil baju Dini dan Abbhie. Mama mau di jemput atau gimana?” tanya Anto. Walau harus sedikit berbalik arah, tapi bila mamanya minta jemput tentu dia akan melakukannya.


“Ora usah, aku ama Steve. Dia sedang menuju rumah buat jemput mama koq. Cuma mau tahu aja apa yang kurang biar mama bawakan.” Itulah mama. Persis dengan Dini yang selalu perhatian pada semua orang.


“Niki Den,” simbok memberikan dua buah tas pada Anto. Dia juga membawakan selimut serta bantal dan sandal jepit untuk digunakan di ruang rawat rumah sakit.


“Masukan semua langsung ke mobil Mbok, juga tas Ibu. Apa ada makan siang yang mau di bawakan? Kalau tidak nanti saya beli saja.” Anto memerintah simbok, karena dia sedang menyiapkan baju gantinya juga. Dia akan menginap di rumah sakit menemani Dini. Mungkin nanti mbak Warni yang akan di suruh pulang. Namun dia juga menyiapkan baju kantor dan sepatu. Bila harus berangkat ke kantor dia tetap siap.

__ADS_1


***


Anto sampai di ruang rawat Abbhie. Disana sudah ada mama dan Steve. Dia mencium tangan mamanya dan berjabat tangan dengan Steve. Dia mendekati Dini yang sedang membujuk Abbhie makan bubur dari rumah sakit. Dia cium kening Dini sambil di pegangnya kepala istrinya lembut. Karena istrinya ingin berontak menolak kecupan dikeningnya. “Assalamu’alaykum jagoan daddy, kamu kenapa sayang?” tanya Anto lembut pada Abbhie sambil mengecup puncak kepala anak bungsunya itu. Karena tak ada reaksi dari Abbhie dan Dini, maka Anto segera berpaling pada adik ipar dan mamanya. “Sudah lama Ma?”


“Baru.” Jawab mama sambil mengeluarkan makanan yang dia bawa. Mama juga mengeluarkan beberapa snack yang biasa Abbhie makan. Selain snack untuk Dini.


“Mau itu,” rengek Abbhie melihat eyangnya mengeluarkan aneka snack dan mengaturnya di meja kecil samping bed nya.


“Boleh maem itu, kalau buburmu sudah habis!” Jelas Dini. Dia memaksa anaknya makan menu dari rumah sakit agar segera sembuh. Tadi mama juga sudah membawakan aneka buah yang Abbhie suka dan sudah di simpan di lemari pendingin ruangan itu.untuk jenis buah dan sayuran, Abbhie tidak serewel Arya dan Anto. Abbhie yang mendengar janji mommynya segera fokus pada buburnya. Dia ingin wafer coklat yang eyang bawakan.


“Pintar, sekarang minum air putih dulu yang banyak ya,” Dini memuji putranya yang sudah menghabiskan jatah makan dari rumah sakit. Tiga puluh menit jadwal Abbhie minum obat. Sesudah selesai mengurusi makan Abbhie, Dini baru ikut nimbrung dengan Steve dan mama mertuanya. Tadi saat mama datang dan membawakan makan siang, dia menyuruh mbak Warni makan lebih dulu. Mereka harus gantian agar ada yang bisa menemani Abbhie.


“Aku makan dulu ya Steve, Ma.” Tanpa pamit pada suaminya Dini mengambil makan siang untuknya. Steve menyadari ada something wrong antara suami istri panutannya itu. Dia mengajak Anto mencari tissue basah, hanya untuk mengorek ada apa antara kakak iparnya dengan istrinya.


“Ma, aku mau kopi dan beli tissue basah. Mama mau titip apa?” tanya Steve pada mama mertuanya.


“Ayo Mas, ngopi dulu.” Ajak Steve, dia kasihan terhadap kakak iparnya yang hanya terdiam sejak tadi. Dini dan Anto terkenal sangat hangat terhadap pasangannya. Maka melihat sudah lebih dari satu jam Anto berada dalam ruangan tanpa di tegur Dini. Steve tentu bisa tahu ada yang tidak beres. Di cafetaria rumah sakit Steve memberanikan diri untuk bertanya. “Ada apa Mas? Kenapa Dini bersikap dingin seperti itu?”


“Aku juga enggak tahu. Tadi malam sepulang dari rumahmu Abbhie panas. Dia rewel dan maunya tidur dalam gendonganku. Akhirnya aku ngantuk dan tertidur di kantor. Saat sadar ada banyak panggilan tak terjawab dari nomor Dini. Panggilan terakhir sempat aku angkat, namun karena masih kaget terbawa mimpi buruk, aku tidak langsung membalas perkataannya. Dia langsung marah dan memblokir nomorku. Bahkan dia tidak mengabariku kalau Abbhie dirawat. Dia urus sendiri dan dia mengabari mama serta mami tapi tidak mengabariku!” Jelas Anto sedih. Dia bingung harus berbuat apa. Anto menyeruput kopi pahit yang dimintanya. Dia sangat sedih dan bingung akan sikap Dini. Sejak kasus anak magang memang Dini lebih cepat marah, walau dia bilang sudah memaafkannya. Dini juga lebih sering curiga. Bukan lagi seperti Dini yang dia kenal sejak lama.


“Aku pernah merasakan. Saat kepercayaan Sari tidak langsung berubah baik ke kita. Terlebih habis kasus Jelita, Sari malah dapat kejutan dari Paula di butik. Jadi agak lama Sari bisa kembali percaya padaku.” Jelas Steve mengingatkan kasus dua tahun lalu saat Sari bertubi-tubi terpaksa didera cemburu oleh para penggoda.


“Itu kamu, yang memang banyak punya mantan! Aku ini apa? Tidak pernah sekali pun punya pacar selain Dini. Aku nikah dengan Shinta juga bukan karena cinta dan tidak lewat pacaran. Dan Shinta sudah tidak ada. Mengapa Dini masih enggak percaya kalau sejak mengerti cinta, hanya ada nama dia di hatiku? Aku belum pernah sekalipun suka perempuan lain selain dirinya.” Sesal Anto, dia tak habis pikir sampai Dini semarah itu. Dini yang rasional sampai tidak mengabari saat anak mereka sakit. Itu artinya Dini sangat terluka. Anto tentu sangat takut Dini akan meninggalkannya. Mungkin mimpi tentang Dini meninggal hanya perlambang, kalau Dini akan meninggalkannya. Bukan jasadnya, namun hatinya.


***


Hiks hiks, yanktie aja sebagai author ikutan sedih karena mas Anto di cuekin mbak Dini.


Terima kasih sudah selesai membaca bab ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.

__ADS_1


Salam manis dari Jogja


Sambil nunggu yanktie update bab baru esok hari, coba deh mampir ke karya teman yanktie yang super keren ini, ga bakal nyesel baca ceritanya, judulnya  TUAN MAFIA    karya   SELVI_19


Alex hanya seorang anak jalanan, untuk memenuhi hidupnya Alex terpaksa mencuri hingga suatu hari Alex bertemu dengan mafia dan di besarkan di


lingkungan mafia, hingga di umurnya yang ke 30 tahun Alex di angkat untuk mengantikan ayah angkatnya sebagai ketua mafia.


Suatu hari Alex mengetahui siapa kedua orang tuanya dan penyebab


kematiannya, ternyata Alex adalah keturuna dari D’devil, D’devil adalah


anggota mafia yang sudah berdiri puluhan tahun. Sehingga Alex berniat


membalas dendam atas kematian kedua orang tuanya dengan menikahi putri dari pembunuh tersebut.


Laura gadis yang kurang beruntung karena hidup sebagai anak angkat dari


keluarga Gunawan dan lebih menyedihkan lagi ia harus mau menikah dengan


Alex sebagai balas budi karena telah menyelamatkan gunawan


Apakah Alex akan berhasil membalas kematian kedua orang tuanya?


Apakah akan ada cinta di antara Alex dan Laura?


Bagaimana reaksi Alex jika tau Laura bukan putri dari Gunawan?


__ADS_1


__ADS_2