
Hai hai para kesayangan yanktie, sehat semua kan? Bagaimana puasa kalian sampai hari ini?
Terima kasih sudah selalu setia mengikuti cerita sederhana ini. Kenapa yanktie selalu menyampaikan terima kasih untuk yang selalu setia membaca dan memberi like saat kalian selesai membaca bab cerita ini? Karena ada notif siapa aja yang kasih like.
Harry sudah memaafkan mamanya, dia juga memintakan maaf atas nama mamanya pada Dini yang sudah sangat sering disakliti perempuan yang melahirkannya itu. Semoga tidak bosan menunggu cerita selanjutnya ya. Sekarang kita ikutin terus keseruan bab ini. Selamat membaca!
Yanktie mohon sehabis baca bab langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….
Maturnuwun.
--------
Sehabis melemaskan ototnya, menjelang siang Dini mulai melihat isi kulkas juga stock bahan baku di dapur. “Mbak, Mommy mau ke supermarket, Mbak mau ikut atau mau titip apa?” tanya Dini pada Amora yang juga masih malas bangkit. Putrinya membaca komik donal bebek di karpet depan televisi.
“Malas Mom, titip apa juga bingung, lagi enggak ada yang dikepengenin,” balas Amora.
“Ya sudah, Mommy pergi dulu ya, Mas Arya ikut Mommy,” Dini pun bergegas ke mobilnya karena Arya sudah tak sabar menunggu di dekat pintu mobil.
“Janji enggak rewel ya Mas, enggak minta mainan,” Dini mewanti-wanti jagoannya sebelum mereka berangkat.
“Keep my promise Mom,” balas Arya tenang.
***
__ADS_1
Vionne masih tak bisa melepas kepergian sang mama, walau hampir 7 tahun mereka tak berinteraksi, tapi sebagai anak dia tetap saja kehilangan. Belum lagi lusa Leo kakaknya akan berangkat pindah ke Jogja. Dan Harry tetap tak mau kembali tinggal di rumah ini menemani dirinya dan papa. Kalau pun nanti dia akan menikah dengan Ferry, rumah ini tetap tak akan ceria karena Ferry tak akan pernah bisa memberinya anak. Sudah sejak mama sakit, papa minta Harry kembali tinggal di sini, entah ada trauma apa, Harry tetap tak mau. Dia bingung akan minta bantuan siapa agar Harry mau membuka hatinya dan pindah kembali ke rumah ini.
“Sorry, gue enggak bisa Yo, apa pun alasannya, gue enggak bakal pernah mau lagi tinggal di sini. Elo paling tahu alasan gue.” Itu yang Vionne sempat dengar saat ia menyajikan minuman untuk papa, Leo dan Harry seminggu sebelum mama meninggal. Vionne tidak tahu, sehabis mama meninggal ketiga lelaki itu mengambil keputusan akan menjual rumah ini. Hal itu selain membuang trauma Harry akan dominasi mama yang membuat hidupnya hancur, juga membuang memory papa akan setiap sudut yang terisi oleh hela napas istri tercintanya. Harry berjanji dia akan hidup dengan sang papa bila mereka pindah rumah baru.
Akhirnya hari ini Leo mengambil semua barangnya di rumah papa, tadinya sebelum ada planning akan menjual rumah ini, sebagian barang Leo sengaja dia tinggal, agar bila menginap di Jakarta, dia tidak kebingungan. Sekarang semua barang dia packing dan kirim ke Jogja, hari ini motornya juga sudah dia kirim ke alamat Steve. “Maaf enggak bisa bantu pas pindahan nanti ya Pa. Papa pakai jasa pindah rumah aja, nanti Leo yang tanggung biayanya,” kata Leo. Memang Papa sudah membeli rumah baru di daerah Rawamangun. Sesudah rumah ini kosong, baru papa akan promosikan. Papa tidak ingin pindah terburu-buru bila pembeli minta cepat mereka keluar. Jadi untuk amannya papa memilih pindah dulu baru akan pasang iklan.
Harry sudah pindah ke rumah baru, karena kost nya pas habis, jadi dia pindah lebih dulu. Papa sengaja memindahkan semua koleksi anggreknya dulu. Dia takut bila orang lain yang memindahkannya akan rusak. Nanti bila semua tanamannya sudah aman pindah ke rumah baru. Papa baru akan memanggil jasa pindah rumah yang di sarankan oleh Leo.
***
Sari baru 2 bulan lalu melahirkan anak kedua berjenis kelamin laki-laki. Saat ini Moya sedang asyik berburu hadiah untuk adik kecilnya. Dini membiarkan Moya mengambil apa yang dia mau. “Mbak, belikan hadiah juga untuk dibungkus atas nama mas Arya dan mas Abbhie. Jadi nanti adik-adikmu enggak ngiri. Kasihan kalau mereka ingin kasih kado, tapi tidak kita siapkan.” setiap belanja memang Moya senang membelikan hadiah untuk adiknya. Jadi hadiah bukan diberikan ketika saat si baby lahir saja. Besok mbak Rina dan keluarga dari Malang memang baru bisa menjenguk Sari, makanya Dini berbelanja untuk masak bagi keluarga kakak iparnya itu.
“Yes Momm,” Amora tambah senang mencari barang-barang kebutuhan baby Dwipa. Ya anak lelaki Sari diberi nama Indra Dwipa Lumowa. Dipanggil Dwipa. Kalau keluarga Anto semua anaknya di awali huruf A, anak Steve bukan awal nama yang sama , tapi panggilannya di awali huruf D.
***
Besok Dini mempersiapkan lontong opor dan sambal goreng kentang. Dia sudah minta mama mertua membuat sambal matang dan menggoreng kerupuk udang atau emping. Risye bilang dia akan bawa puding dan buah. Walau tak diminta, Risye terbiasa membawa buah tangan bila berkunjung. Dini dan Sari sangat senang, teman yang menjadi sahabat malah berasa menjadi saudara dan mereka setype dalam hal kegemaran. Sekarang dalam berpakaian Risye juga sudah tidak kekurangan bahan lagi.
Malam ini simbok akan membuat lontong, sedang opor akan Dini masak sendiri besok pagi sehabis salat subuh. Malam ini semua bumbu sudah dia haluskan. Kentang sudah di potong dan akan di goreng oleh asisten rumah tangga. Hati sapi sudah di rebus nanti tinggal dipotong kecil. Jadi besok pagi Dini juga tinggal masak karena tadi dia sudah memilah bumbu dan menyuruh asisten menghaluskannya.
***
“Mbak Ajeng, Mbak Putri,” Moya langsung berlari begitu sampai rumah mama Yai, dia kangen dengan kedua kakaknya yang subuh tadi datang dari Malang.
__ADS_1
Mama Rahma tersenyum bahagia melihat 3 gadis kecil itu saling peluk dan cium, tak pernah terlintas 3 putri cantik itu salah satunya bukan cucunya. Sejak sebelum Anto menikahi Dini, Moya adalah cucunya.
“Koq Bude enggak di peluk?” mbak Rina menggoda Moya. “Enggak kangen ama Bude?”
“Moya kangen Bude dan Pakde, tapi enggak sekangen seperti kangennya Moya ke Mbak Ajeng dan Mbak Putri,” balas Moya sambil berlari memeluk budenya.
Leo dan Risye datang pukul 11.00, saat hampir makan siang. Maklum lah pengantin baru. Pasti sulit turun dari ranjang. Tak ada kesenjangan antara pasangan Leo denga keluarga besar itu. Karena bagi mereka agama dan suku bukan hambatan. Anto dan Dini menganggap semua saudara. Leo yang pernah menjadi adik ipar Dini tahu betul bagaimana pandangan moderat keluarga Papi dan Mami Dini. Walau dalam hal tertentu mereka memegang teguh adat, namun di sisi lain mereka sangat fleksibel.
***
“Jadi rumah di Kramat bakal di jual?” tanya Steve. Mereka sedang ngopi sore bertiga di teras depan, karena para ibu dan anak-anak di kebun belakang. Leo masih merokok, jadi dia tak ingin asap rokoknya mencemari anak-anak.
“Iya, Harry sama sekali enggak mau lagi tinggal di Kramat, buat nginep aja enggak mau. Papa juga kasihan, karena setiap sudut rumah mengingatkan pada sosok mama. Minggu lalu Harry mulai masuk ke rumah baru di Rawamangun. Angrek-anggrek papa juga mulai dipindah. Mungkin minggu depan baru semua barang akan dipindah. Hari ini barang di kamar papa dan kamar Vionne sudah di pindah. Jadi bertahap besok atau lusa papa dan Vionne bisa beres-beres kamarnya,” jelas Leo.
“Syukurlah kalau Harry mau kembali dalam lingkaran keluarga, semoga dia dan Vionne bisa jaga papa dan mereka bisa dapat jodoh terbaik,” cetus Anto, dia tahu Harry masih terluka pada mamanya.
“Sedihnya, Harry bilang ama gue, dia enggak niat nikah lagi,” Steve mengatakan apa yang Harry ucapkan saat mereka ngobrol berdua ketika mamanya meninggal.
“Iya, Dini juga cerita, Harry bilang ke dia, Harry enggak akan menikah lagi. Tapi kami tetap berdoa, dia mendapat jodoh terbaiknya,” balas Anto.
“Ke papa dia juga bilang gitu. Dia bilang sekarang mau hidup hanya untuk Amora,” Leo memperjelas keputusan Harry yang dia ucapkan ke papanya.
-----------------------
__ADS_1
Terima kasih sudah selesai membaca bab ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.
Salam manis dari Jogja