
60 MEMASUKAN GUGATAN CERAI
Dibaliknya tubuh Sari, di tatapnya mata bak bintang kejora yang saat ini penuh air mata terluka. “Anak abang tu Amora, kamu tau kan? Dan kamu kenal dekat ama bundanya Amora kan? Sejak Dini SMA, abang panggil dia sayangku, Anto pun ga cemburu, bahkan Harry yang jadi suaminya aja ga bisa ngelarang abang panggil dia yayang atau sayangku. Karena buat Abang Dini itu adik abang yang abang cinta karena adik abang meninggal di usia 7 tahun akibat kecelakaan“Dini tadi telpon, ngasih tau pagi ini dia akan serahkan gugatan cerainya ke Pengadilan Agama, dia minta abang support dia, dia minta abang doain dia” jelas Steve
Sari menatap mata Steve dalam-dalam, tak terlihat ada kebohongan disana. “Masih ga percaya?” tanya Steve, dikecupnya kening gadis kecil didekapannya. Steve sendiri ga percaya hanya hitungan jam, dia jatuh cinta pada gadis kecil ini dan bisa segera menggenggam cintanya. Sensasi rasa yang ga pernah dia rasakan pada pacar-pacar sebelumnya bahkan pada first love nya sekalipun. Walau dia yakin akan banyak sandungan bila dia ingin melegalkan cintanya ini, mengingat mereka beda keyakinan
“Mau berangkat kuliah atau nemani abang ke Pengadilan Agama?” tanya Steve
“Abang mau ke PA?” tanya Sari
“Ya, abang janjian disana 09.30. kalau kamu mau kuliah, abang akan drop lalu abang ke PA. Tapi kalau kamu mau nemani, ya kita langsung ke PA” kata Steve
“Ade kuliah aja. Ga usah ikut abang” kata Sari
“Pulang jam berapa?” tanya Steve, sambil mereka berjalan ke mobil, tangan Steve dipinggang Sari
“Jam 1 sih selesai, tapi mau ke perpus dulu” jawab Sari
“Ya sudah, nanti telpon aja ya, kan abang juga ga tau di PA sampai jam berapa” kata Steve
***
Pagi ini Dini sudah tiba di Pengadilan Agama ( PA ) Jakarta Pusat. Dia janjian dengan pengacaranya langsung ketemu disini pukul 10. Oleh karena itu dia meminta bertemu Steve pk 09.30
Saat ini baru pk 09.20 namun Steve sudah lebih dulu sampai di PA. Dini sangat bersyukur memiliki teman-teman yang sangat perhatian pada dirinya. Sambil menunggu pengacaranya datang, mereka ngobrol di kantin sambil ngopi. Dini berupaya mengusir gundahnya, dia mendengar cerita Steve tentang musibah kebakaran rumah Anto
__ADS_1
HP Steve berdering, terlihat caller id nya adalah Anto “Hallo bro, kenapa?” tanya Steve
“Lo dimana? Katanya ga ngantor?” tanya Anto
“Di PA, ama Dini, dia masukin gugatan cerai hari ini, Leo ga bisa nemanin dia karena lagi di Singapore” jelas Steve “Gimana info terakhir?” tanya Steve lagi
“Gue nunggu polisi, katanya mau kesini ngobrol ma gue, barusan gue di telpon, mau ngobrol soal kebakaran. Harusnya gue diminta ke kantor polisi, tapi ga ada orang disini jadi akhirnya mereka yang mau ke rumah sakit” jelas Anto “Salam aja buat Dini deh” lanjut Anto
“Eh tunggu, nih lo langsung ngomong aja biar enakan” kata Steve sambil menyerahkan HP ke Dini
“Assalamu’alaykum maz, turut prihatin ya” sapa Dini
“Wa’alaykum salam de, makasih ya supportnya, kamu juga yang kuat, jangan lupa makan, jangan sampai drop, inget ada Amora yang sangat butuh kamu” jawab Anto, balik memberi support pada Dini
“Ya wis ya maz, ni pengacara ade udah dateng, doain ade ya maz” kata Dini
***
Anto menghubungi bu Gita, dia ingin bu Gita atau salah satu keluarga Dini hadir saat polisi datang menemuinya, dia ga ingin mereka mendengar info darinya, takutnya ada yang terlewat
Bu Gita dan suaminya serta ART yang disuruh mengantar barang-barang oleh Shinta ke rumah orang tuanya datang bersamaan dengan polisi yang menyelidiki sebab kebakaran di rumah Anto.
“Selamat pagi pak, bu” sapa polisi saat tiba di depan ICU. “Bagaimana kondisi bu Shinta siang ini?” tanyanya lagi sambil menyalami semua yang hadir disana.
“Belum ada perkembangan, sejak masuk ruang rawat kemarin siang belum sadarkan diri” sahut Anto yang berjaga disana sejak Shinta masuk rumah sakit
__ADS_1
“Bapak ibu, saya masih banyak tugas yang menanti, maka saya tidak akan buang waktu, mohon kerja samanya agar kita bisa mendapat hasil yang akurat. Kata polisi yang kemungkinan besar ketua rombongan dari 4 orang polisi yang hadir saat itu. “Kamu catat semua keterangan yang akan kita dapat” lanjutnya sambil menunjuk salah satu orang di belakangnya”
“Siap Ndan!” jawab anak buahnya lalu mengeluarkan notes dan alat tulis
“Bapak dan ibu, hasil investigasi kami, kebakaran kemarin adalah bukan karena arus pendek, namun lebih mendekati dengan dibakar atau terbakar. Dibakar maksud saya adalah ada orang lain yang membakar korban, sedang terbakar maksud saya sengaja dilakukan oleh korban. Itu yang kami dapat dari pemeriksaan TKP. Bisa bapak jelaskan dimana bapak saat kejadian?” tanya polisi pada Anto
“Kamis malam sepulang saya dari kantor, istri saya meminta agar bisa kerumah ibu saya di hari Minggu, dia bilang sudah kangen, dan saya menyetujuinya” jelas Anto mengawali keterangannya
“Minggu pagi tiba-tiba istri saya membatalkan ikut ke Rawasari pak bu, padahal dia yang sudah atur waktu minta ke Rawasari, dia juga sudah beli kue untuk di bawa. Dia memaksa saya pergi mengantar kue tersebut pagi-pagi sekali. Lalu saat habis makan siang saya mendapat telpon dari tetangga yang mengabarkan rumah saya kebakaran, saya sampai dirumah saat ambulans hendak berangkat ke rumah sakit, jadi saya kesini ikut ambulans” jelas Anto selanjutnya
“Saat anda pergi korban dengan siapa di rumah?” tanya polisi
“Sa..saya pak” sahut ART takut
“Santai aja mbak, kalau ga salah ga perlu takut, kami hanya ingin membuat data!” jelas polisi untuk membuat ART tidak ketakutan. “Sehabis pak Anto pergi, apa yang terjadi?”
“Saya diminta untuk mengeluarkan motor pak Anto ke depan rumah seberang, lalu mbak Shinta mengeluarkan mobil miliknya juga ke depan rumah seberang, dia bilang ingin menyiram garasi biar adem. Sesudah itu dia meminta saya mengantarkan buku-buku didalam dus ke rumah ibu sepuh. Dan disuruh di letakan di meja belajar di kamarnya dan dipesankan tidak boleh diberikan kepada siapapun. Saya melihat kunci mobil dan motor juga dimasukan dalam dus tersebut lalu dia lakban. Saya juga dipesankan tidak boleh cepat-cepat kembali ke rumah, paling cepat pulang jam 4 sore katanya. Saya pergi jam 9.30. pak Anto pergi jam 8.30” jelas ART tersebut
“Jam berapa si mbak sampai ke rumah ibu?” tanya polisi pada bu Gita
“Sekitar jam 11 saya baru tau dia ada di rumah saya, saat saya ke dapur untuk memerintah ART saya menyiapkan makan siang. Saya tidak tau pastinya dia sampai di rumah saya, karena saya dikamar saya diatas, sejak pagi” jawab bu Gita
“Jam berapa pak Anto mendapat telpon dari tetangga yang mengabarkan kebakaran?” tanya polisi
Anto melihat HP nya dan mencari data panggilan agar jawabannya lebih akurat. “Jam 13.42 pak” kata Anto sambil memperlihatkan layar HP nya kepada polisi tersebut
__ADS_1
“Saya rasa keterangan yang disini sudah cukup. Apa bisa kita melihat kardus yang diminta korban untuk dibawa ke kamarnya di rumah bu Gita?” tanya polisi tersebut
“Bisa pak, mari kita kesana bersama” jawab bu Gita.