
Leo menghisap rokoknya dalam-dalam baru menjawab “Gue ga perlu jelasin, lu tau semua dari fakta tadi kan. Apa gunanya lo tanya ke gue hal yang udah jelas gitu” jawab Leo sarkas. Dia sendiri ga ngerti kenapa Harry ga bisa jadi laki-laki dewasa kalau udah didepan mama mereka, Harry selalu jadi anak laki-laki penurut, malah seperti kerbau dicocok hidungnya. “Gue capek bertindak jadi abangnya Harry sejak dia kecil. Dari dulu gue yang harus buka mata dia buat ngebantah maunya mama, tapi dia tetap aja begitu” Leo kembali mengisap rokoknya dalam-dalam.
“Waktu Harry mau bunuh diri, gue udah bongkar kelakuan Harry depan bonyok ( bokap nyokap = papa mama ), gue kasih tau bejadnya Harry yang tukang main perempuan, nge gele, kebut-kebutan sampe hampir DO, bokap sih mulai kebuka, tapi nyokap ga percaya ama cerita gue. Waktu dia perkosa lo, gue juga kasih tau nyokap, karena Reyhan cerita ke gue sebelum lo hamil, nyokap lagi-lagi ngatain gue ngiri ama Harry makanya gue fitnah dia. Jadi sekarang gue diem. Gue cuma berharap Harry ga kecebur sumur aja. Gue ga akan yakin lo mau ngangkat dia lagi kalau dia kecebur” kata Leo ketus karena sebagai adik dia malah yang bertindak melindungi Harry seakan dialah kakaknya.
“Hehehe lo ada-ada aja ah doanya” jawab Dini terkekeh, saat itu dia melihat Amora berjalan masuk diikuti Harry dari belakang. “Cantiknya bunda udah puas main ayunannya?” tanya Dini dengan intonasi yang manis, tak terdengar nada marah atau ketus ditelinga Harry, namun dia menangkap kerling setajam pedang disudut pandang istrinya.
“Om, dong” pinta Amora pada Leo.
“No, no, no” sahut Dini cepat “Om lagi ngerokok, ga boleh digendong om” lanjutnya lagi.
“Huaaa ... huaaa ... huaaa ... dong Om” tangis Amora menjawab penolakan bundanya. Leo langsung mematikan rokoknya dan berjalan ke wastafel sambil bilang mau kumur dan cuci tangan untuk segera menggendong keponakannya itu.
***
Sehabis makan malam Harry mengajak Dini pamit pulang, namun mamanya menahannya dengan alasan besok adalah hari Minggu. Harry menjawab semua ga da yang bawa baju ganti, dan baju bersih Amora juga sudah habis karena ga niat nginap, jadi bawa baju pas saja.
Akhirnya mereka bisa pamit. Dan mama mertuanya wanti-wanti hari Selasa jangan sampai telat, dia meminta Harry sudah datang sejak sore.
__ADS_1
Di mobil Dini melakukan GTM ( gerakan tutup mulut ) dia ga mau bicara apalagi berdebat karena ada mbak Yanti. Sesekali Harry mengusap kepala Amora dipangkuan Dini, Harry juga mengelus lengan Dini dan mengusap kepalanya. Namun Dini tetap tak beraksi sama sekali.
Dikamar Dini masih tak bicara apapun, dia sudah mematikan emosinya untuk tidak terbakar. Dia sudah mati rasa. Dia sudah menganggap Harry bukan lagi siapa-siapa. “Yank, koq diem aja sih?” tanya Harry. Harry memeluk Dini dan menciumi seluruh wajahnya, tapi perempuan di depan lebih mirip mayat hidup. Wajah didepannya tanpa ekspresi marah, sedih atau bahagia. Sangat datar!
Harry mencoba mengguncang pelan bahu istrinya. “Yank, please maafin ayah, jangan diem gini dong, marahin aja ayah seperti biasa” rengeknya.
Wanita didepannya tidak menangis atau bereaksi apapun, Harry mencoba ******* bibir mungil istrinya, tak ada perlawanan sama sekali. Putus asa Harry mencoba membuat Dini marah dengan cara mencumbunya dengan nafsu dan melakukan hubungan suami istri, namun Dini tetap diam tanpa ekspresi, semakin keraspun Harry memompa badannya Dini hanya diam tanpa memandangnya dengan benci atau marah, Dini hanya membuang pandangannya ke samping. Kesal dan takut akhirnya Harry berteriak keras saking dia bingung atas kondisi istrinya saat ini. Disatu sisi Harry sedang nanggung karena belum mencapai *******, disisi lain dia sangat takut Dini stress karena tanpa ekspresi apapun.
Amora menjerit kencang karena mendengar teriakan Harry didekatnya. Dini berupaya membujuknya dan memberikan asinya hingga Amora kembali tidur. Harry duduk ditepi ranjangnya sambil menatap Dini dengan nanar, air mata keluar dari matanya, dia sangat menyesal telah melukai Dini.
Minggu malam dikamar Harry kembali mencoba membujuk Dini, dia memeluk Dini lembut dan membisikan kata-kata maaf serta kata-kata cinta ditelinga Dini. Namun ternyata Dini sudah menutup pintu hatinya. Dia sangat terluka dibohongi dan dibodohi Harry. Saat Dini berdiri untuk mengambil minum dimeja belajar mereka dikamar, Harry menjatuhkan dirinya dikaki Dini dan memohon ampun. Namun Dini menepis tangan Harry dan berlalu kembali ke kasur Amora.
“Yank, semarah itukah sampai ayah ga bisa minta maaf ke kamu? Apa seburuk itu ayah dimata kamu sehingga tidak termaafkan?” rengek Harry.
Dini tetap bungkam dan berupaya tidur. Harry keluar kamar, dia nyalakan TV mencari tontonan yang bisa membuang gundah hatinya. Mau keluar beli rokok dia ingat kemarahan Dini ketika dia kembali memulai merokok dulu, dia ga mau membuat masalah bertambah rumit. Cukup kesalahan ini aja yang dia buat pikirnya.
Senin pagi, Harry bersiap ke kantornya, pagi ini Dini ga nyiapin baju gantinya, namun masih ada segelas kopi dan sepiring nasi uduk serta ayam goreng untuk sarapannya. Dini sedang libur semester, dia didepan sedang menyuapi Amora makan. Amora dibiasakan makan duduk, bukan dibawa jalan-jalan seperti ibu-ibu muda pada umumnya. Sambil menyuapi Dini menceritakan apa yang dilihat Amora. Pagi ini Dini memperkenalkan kucing. “Itu kucing sayang, namanya kucing! Bukan empus atau meong, itu kucing” kata Dini saat melihat seekor kucing melintas halaman mereka. “Kucing sudah maem belum ya, Amora lagi maem lho” kata Dini lagi.
__ADS_1
“Ayah berangkat dulu ya, salimnya mana?” tanya Harry pada Amora sambil menyodorkan tangannya untuk dicium Amora. “Anak ayah makin pinter aja ya, cium dulu” kata Harry sambil mencium pipi tembem anaknya.
“Ayah berangkat ya bund,” sapa Harry, Dini tak menjawab hanya mencium tangan Harry tanpa kata. Harry membalasnya dengan mengecup kening dan puncak kepala istrinya seperti biasa, namun pagi ini dia menambahkan bisikan ditelinga istrinya, “Please forgive me honey, I love you so much” dan sebelum dia menuju mobil dia menyempatkan memeluk erat istrinya walau hanya sesaat
Selasa pagi, dering HP milik Harry membangunkan tidur Dini dan Harry, dengan malas Harry turun dari ranjang dan mengambil HP nya di meja. “Hallo ma” sapa Harry menjawab si penelpon diujung sana. “Harry masuk kerja ma, ga bisa ijin, sampai rumah sekitar jam 5 sore, mandi sebentar lalu langsung berangkat lah. Jam setengah tujuh lah sampe sana” jawab Harry. Dini yang mendengar jawaban Harry bisa menduga apa perintah mama mertuanya pada anak kesayangannya itu. “Ga bisa ma, Dini berangkat bareng Harry, ga usah Leo jemput, lagi Leo juga ga bakal mau disuruh njemput Dini “ lanjut Harry lagi.
“Mama mau Harry dateng kan? Mama tunggu aja Harry datang bareng Dini sehabis Harry pulang kerja, kalau Dini dijemput duluan,jangan harap Harry akan datang” ancam Harry. Dini mendengarnya dengan mencibir bibirnya, telaaaaaaaaat bung, dari kemaren kemana aja lo? ejek Dini dalam hatinya.
***
Simak terus lanjutan cerita ini di bab selanjutnya ya
Makasih yanktie ucapkan buat yang selalu setia baca kisah ini
Jangan lupa kasih like dan vote serta komen ya
Salam manis dari Jogja
__ADS_1